Tanda-Tanda dan Ciri-ciri Orang Beriman Berdasarkan Dalil Al-Quran

Iman merupakan pokok penting dalam hidup beragama. Tanpa iman hidup ini akan sia-sia. Orang-orang yang beriman memiliki tanda atau cirinya tersendiri.  Tidak semua orang islam itu beriman tapi semua orang yang beriman sudah pasti islam. Sangat banyak tanda-tanda atau ciri-ciri orang beriman di dunia ini. Maka marilah kita simak satu persatu tentang tanda-tanda tersebut. Sebelum itu marilah kita simak firman Allah berikut ini:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًۭا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّۭا ۚ لَّهُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌۭ وَرِزْقٌۭ كَرِيمٌۭ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (Qs. Al-Anfal ayat 2-4)
۞ لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۦنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَٰهَدُوا۟ ۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Qs. Al-baqarah ayat 177)

Baca juga : Rukun iman dan penjelasannya

Berdasarkan ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa tanda-tanda orang yang beriman adalah:

1.    Orang bergetar hati ketika mendengar nama Allah SWT.

Salah satu tanda beriman adalah orang-orang yang bergetar hatinya ketika mendengar nama Allah. Adapaun kenapa dia bergetar hati adalah karena dia takut kepada Allah, dia tahu siapa dia (sebagai hamba) dan siapa Allah (sebagai Tuhan), dia takut akan azab Allah, dia takut karena Allah melihat apapun yang dia kerjakan dan juga karena dia kagum karena keagungan Allah SWT. sehingga membuat bergetar hatinya. Sangat jarang orang-orang begini di zaman yang seraba canggih ini, karena banyaknya pengaruh jahiliah yang membuat terperosotnya moral dan rusaknya aqidah.

2.    Bertambah imannya ketika mendengar ayat Allah SWT (mengimani kitab Allah yaitu Al-quran)

Bertambahnya iman seseorang yang mendengar ayat-ayat Allah karena dia tahu akan kebenaran ayat-ayat Allah dan keluhurannya. Ketika dia mendengar ayat-ayat Allah maka dia akan menyimak kandungannya untuk menjadi pedoman dia hidup dan menjadikannya bertambah yakin kepada Allah sebagi Tuhan Semesta Alam. Bukan hanya sekedar menyimak dan mendengar karena dia akan melaksankan atau mengamalkan apapun yang dia dengar berdasarkan ilmu yang dia miliki. Karena sesunggunya sangat banyak pelajaran dan peringatan yang terkandung di dalam Al-quran.

3.    Orang yang bertawakal kepada Allah SWT.

sifat sifat orang beriman, tanda tanda orang beriman dalam surah al baqarah ayat 177, ciri ciri orang beriman dan bertakwa, pengertian orang beriman, ciri ciri orang beriman menurut al quran, 8 ciri ciri orang beriman,
Bertawakal adalah berserah diri kepada Allah atau bersandar pada yang ditentukan Allah dengan iringan usaha. Bertawakal dengan artian seseorang percaya penuh bahwa Allah akan memberikan yang terbaik setelah apa yang di usahakan kepadanya. Karena sesunggunya mereka tahu bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Bijaksana dalam segala hal sehingga semua yang Allah berikan adalah yang terbaik. Lagi pula semua ketentuan dan kejadian di dunia ini adalah semua beradasarkan ketentuan Allah.
Tawakal merupakan tingkat keimanan yang tinggi yang mana menempatkan Allah di posisi pertama sebagai penolong dan tempat memohon. Iringan usaha adalah suatu komponem utama dalam bertawakal. Karena doa tanpa usaha itu bohong dan usaha tanpa doa itu sombong.

4.    Orang yang mendirikan shalat dengan kusyu’

Sangat banyak orang islam yang mengerjakan shalat siang dan malam dan bahkan shalat sunat sekalipun. Bukan hanya sekedar shalat akan tetapi harus kusyu’ didalam shalatnya. Tidak semua orang yang dapat kusyuk didalam shalatnya karena hanya orang yang benar-benar beriman sajalah yang mampu melakukannya seperti yang difrimankan Allah dalam Al-quran:
قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَٰشِعُونَ
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, (Qs. Al-Mu’minum ayat 1-2)
Kusyuk bukan hanya sekedar kata-kata, tapi memang kita mengerjakan shalat dengan kusyu’. Shalat kusyu’ adalah shalat yang dapat menghilangkan pemikiran yang di luar shalat. Apakah kita sudah kusyu’ dalam shalat? Kekusyukan memang sangat sulit dikerjakan, namun apasalahnya kita berusaha untuk kusyu’ dan menjadi salah satu orang yang benar-benar beriman.

Baca juga : Mengapa Shalat Kita tidak Kusyu

5.    Orang yang mengeluarkan zakat dan memberi sedekah (infaq) dengan ikhlas

Dalam ayat lain Allah berfirman:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَوٰةِ فَٰعِلُونَ
Dan orang-orang yang menunaikan zakat, (Qs. Al-Mu’minum ayat 4)
Zakat dan sedekat merupakan kewajiban bagi kita yang mampu. Tidak banyak dari orang yang mampu mengeluarkan zakat dan sedekah akan melakukannya karena mereka kikir dan takut miskin. Padahal zakat atau sedekah tidak akan mengurangi harta kita bahkan Allah akan memberikan keberkatan kepada harta yang kita miliki.
Daripada Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya : “ Sedekah tidak mengurangkan harta. Allah tidak melebihkan seseorang hamba dengan kemaafan-Nya melainkan kemuliaan dan tidak merendahkan diri seseorang melainkan Allah mengangkatnya.” (Muslim, ad-Darimi dan Ahmad)
Dan Allah SWT. juga berfirman:
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍۢ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍۢ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al Baqarah Ayat 261)
Selain itu, sedekah merupakan amalan yang tidak akan putus-putus pahalanya selama kita melakukannnya dengan ikhlas. Inilah tanda orang yang beriman yaitu orang yang suka menfkahkan hartanya di jalan Allah secara ikhlas.

6.    Orang-orang yang menepati janji

Allah SWT. juga berfirman:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, (Qs. Al-Mu’minum ayat 8)
Seperti yang disebutkan dalam surat Al-baqarah ayat 177 dan Surat Al-mu’minun diatas bahwa orang yang menepati janji adalah termasuk orang yang beriman. Orang yang menepati janji adalah orang yang takut akan azzab Allah di akhirat nanti dan akan di minta pertanggungjawaban. Selain itu, orang yang mengikiri janji dikategorikan sebagi orang yang munafik. Maka jadilah kita orang yang menepati janji dan memelihara amanat sehingga menjadi orang yang beriman. apalagi menjadi pemimpin, karena setiap apa yang di pimpin akan diminta  pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpin.

7.    Orang-orang yang menjauhi perbuatan yang tidak berguna

Allah berfirman:
وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُو
Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (Qs. Al-Mu’minum ayat 3)
Orang-orang yang beriman akan menjauhi perkataan dan perbuatan yang tidak berguna karena perbuatan itu akan mengundang dosa yang menyebabkan dia menjadi ahli neraka. Perkataan dan perbuatan yang tidak berguna selain mengundang dosa juga akan mengundang permusuhan dan konflik. Dalam haditsnya rasulullah SAW. pernah bersabda:
Hadis riwayat Abu Syuraikh Al-Khuza’i ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (Shahih Muslim No.69)
Perbuatan dan perkataan baik merupakan anjuran, acuan dan perintah yang akan memicu kita menjadi orang yang beriman karena itu semua adalah perbuatan orang-orang yang benar-benar ta’at kepada Allah SWT.. Perkara iman memang didasari pada amal perbuatan manusia yang baik sehingga pantas mendapatkan kasih sayang Allah dan menjadi ahli syurga.

8.    Orang-orang yang menjaga kemaluan

Allah SWT. berfirman:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَٰفِظُونَ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزْوَٰجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ
Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.  (Qs. Al-Mu’minum ayat 5-6)
Menjaga kemaluan adalah menjaga kemaluan terhadap orang yang tidak halal. Contohnya pel4curan atau pr0stitusi, zina dan lainnya. Seberapa banyak pelacuran atau prostitusi yang telah marak di dunia ini, seberapa banya perzinahan yang terpampang di dunia ini, ketahuilah bahwa semua itu adalah ulah orang yang tidak beriman. terlebih lagi pemimpin yang menghalalkan perbuatan zina, maka itu merupakan sebuah kemungkaran yang nyata. Mereka tidak memperdulikan dosa yang menimpa mereka apabila melakukannya. Yang mereka fikirkan hanyalah kenikmatan sesaat dan harta kekayaan. Karena kebanyakan pemicu pelacuran adalah faktor ekonomi yang membuat seseorang terjerumus kedalah perzinahan tersebut. Orang-orang yang benar-banar beriman akan menjauhkan hal tersebut karena meraka takut akan azab dan dosa.
Sebenarnya tanda-tanda orang yang beriman itu sangatlah banyak. Namun itulah delapan tanda-tanda orang yang beriman versi beriman Blog. Yang mana tanda-tanda inilah yang mencerminkan seseorang itu beriman. Harus digaris bawahi bahwa semua itu harus di lakukan dengan ikhlas. Jika sesuatu dilakuakn dengan tidak ikhlas baik karena riya, ujub, takabur, dan lain sebagainya maka semua akan sia-sia. Semoga kita mendapatkan kenikmatan iman dan menjadi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT.. aamiin aamiin yaaa rabbal ‘alamiin.

TOLONG MENOLONG (TA’AWUN)  MENURUT PANDANGAN AL-QUR’AN

390886_2266081053091_324691233_nOleh:

Hasnan Adip Avivi

  1. Pendahuluan

Sikap tolong menolong adalah ciri khas umat muslim sejak masa Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam. Pada masa itu tak ada seorang muslim pun membiarkan muslim yang lainnya kesusahan, hal ini tergambar jelas ketika terjadinya hijrah umat muslim Mekkah ke Madinah, kita tahu bahwa kaum ansor atau Muslim Madinah menerima dengan baik kedatangan mereka yang seiman dengan sambutan yang meriah, kemudian mempersilahkan segalanya bagi para muhajirin. Hal ini juga banyak ditegaskan dalam al-Qur’an,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan  shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah Subḥānahu wa Ta’ālā: sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana..[1]

Ayat tersebut menerangkan bahwa setiap muslim adalah sama di mata Allah Subḥānahu wa Ta’ālā  kecuali karena perbuatan mereka dan keimanan mereka.

Dalam makalah kami, kami hanya membahas tentang ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan tolong menolong (Ta’awun) dalam hal kebaikan, dan tidak membahas tentang tolong menolong (ta’awun) dalam hal kemungkar atau kebathillan (Hal yang tidak baik).

  1. Ayat Yang Menerangkan Tolong Menolong (Ta’awun) Dalam Kebaikan
  2. Pengertian Tolong Menolong (Ta’awun)

Tolong menolong (Ta’awun) dalam al-Qur’an disebut beberapa kali, diantaranya yaitu 5:2, 8:27, 18:19, 3:110, dan juga dalam beberapa ayat lainya.

  1. Ayat Yang menerangkan (Ta’awun) Tolong Menolong Dan Penjelasanya
  2. a. al-Maidah Ayat 2

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿المائدة: ٢﴾

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. Continue reading

14 Sikap dalam Menyikapi Suatu Perbedaan (Khilafiyah)

Oleh: Ahmad Mudzoffar Jufri (Dewan Syariah Radio Suara Muslim)

14-Sikap-dalam-Menyikapi-Suatu-Perbedaan-Khilafiyah-696x464

Suaramuslim.net – Jika Anda telah mengetahui hakikat dan sebab-sebab suatu perbedaan atau ikhtilaf, yang terpenting kemudian adalah bagaimana Anda menyikapi perbedaan itu. Berikut ini beberapa sikap yang dapat Anda ambil dalam menghadapi fenomena ikhtilaf.

1. Membekali diri dan mendasari sikap sebaik-baiknya dengan ilmu, iman, amal dan akhlaq secara proporsional. Karena tanpa pemaduan itu semua, akan sangat sulit sekali bagi seseorang untuk bisa menyikapi setiap masalah dengan benar, tepat dan proporsional, apalagi jika itu masalah ikhtilaf atau khilafiyah.

2. Memfokuskan dan lebih memprioritaskan perhatian dan kepedulian terhadap masalah-masalah besar umat daripada perhatian terhadap masalah-masalah kecil seperti masalah-masalah khilafiyah misalnya. Karena tanpa sikap dasar seperti itu, biasanya seseorang akan cenderung ghuluw (berlebih-lebihan) dan tatharruf (ekstrem) dalam menyikapi setiap masalah khilafiyah yang ada. Continue reading

Haruskah Kedokteran Modern dan Thibbun Nabawi Dipertentangkan?

berobat-810x500Yang mendorong kami mengangkat tema ini adalah kami menemukan langsung beberapa orang yang salah paham mengenai pengobatan khususnya thibbun nabawi dan kedokteran barat modern. Kesalahpahaman tersebut berdampak timbul angapan bahwa kedokteran barat modern bertentangan semua dengan thibbun nabawi, sikap anti total terhadap pengobatan barat modern, kemudian jika memilih pengobatan selain thibbun nabawi berarti tidak cinta kepada sunnah serta dipertanyakan keislamannya. Padahal kedokteran barat modern bisa dikombinasikan dengan thibbun nabawi atau dipakai bersamaan. Dan juga ada beberapa tulisan-tulisan mengenai hal ini yang menyebar melalui dunia nyata dan dunia maya. Oleh karena itu, dengan mengharap petunjuk dari Allah Ta’ala kami mencoba mengangkat tema ini.

Contoh Kesalahpahaman

Salah satunya yaitu mengangap bahwa jika sakit seseorang harus bahkan wajib berobat dengan thibbun nabawi, kemudian ditambah lagi dengan adanya anggapan yang kurang benar mengenai kedokteran modern misalnya,

– Berasal dari orang kafir

– Menggunakan bahan kimia yang HANYA berbahaya bagi tubuh

-Jika tidak menggunakan pengobatan nabawi berarti tidak memilih

pengobatan nabawi dan tidak mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Continue reading

Bisakah Pers Netral?

Media-massa-33vm0ioyki23hdcbu2kb9c

Oleh: Beggy Rizkiyansyah

BISAKAH pers netral? Pertanyaan itu mungkin menggelayuti benak masyarakat hingga saat ini. Kita saat ini memang dipertontonkan keberpihakan yang telanjang tanpa malu-malu dari banyak media saat ini. Musim politik semakin menyuburkan praktek keberpihakan media hingga bukan saja terkesan partisan, tapi tanpa sungkan berpolitik praktis menjadi juru propaganda dalam pilkada atau pilpres.

Fenomena ini jika ditelisik lebih jauh menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Di satu sisi pers seringkali mengklaim independen, netral atau objektif. Tetapi keberpihakan pada satu kelompok atau partai dilakukan semakin telanjang. Jika demikian, apakah pers bisa netral?

Media massa atau tepatnya perusahaan pers sesungguhnya adalah kumpulan manusia dengan jurnalis sebagai ujung tombaknya. Ketika bersentuhan dengan fakta di lapangan, ia bukanlah perekam pasif, tetapi terjadi interaksi antara dirinya dengan realitas. Para jurnalis ini tentu saja bukan robot yang tak memiliki seperangkat nilai, kepercayaan, pandangan hidup atau ideologi dalam dirinya. Malah disadari atau tidak, hal-hal tadi turut membentuk dirinya menilai sebuah realitas.

Continue reading

DISALOKASI KETAATAN

66. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”.‎
‎67. Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).‎
68. Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”.‎
(QS. Al Ahzab)

Ini adalah penyesalan ahli neraka akibat salah meletakkan (disalokasi) ketaatan.

59. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kmudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. an-Nisaa’)

Ini adalah perintah untuk mentaati para ulama dan umara. Untuk itu Allah berfirman: athii’ullaaHa (“Taatlah kepada Allah”), yaitu ikutilah Kitab-Nya. Wa athii’ur rasuula (“Dan taatlah kepada Rasul”), yaitu peganglah Sunnahnya. Wa ulil amri minkum (“Dan Ulil Amri di antara kamu,”) yaitu pada apa yang mereka perintahkan kepada kalian dalam rangka taat kepada Allah, bukan dalam maksiat kepada-Nya. Karena, tidak berlaku ketaatan kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Allah. Sebagaimana dalam hadits shahih dikatakan : “Ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf.”

Ar-Rifq (Sifat Lemah Lembut) Perhiasan Seorang Muslim

Buletin Islam AL ILMU Edisi: 13/III/VIII/1431

Ar-Rifq adalah sifat lemah lembut di dalam berkata dan bertindak serta memilih untuk melakukan cara yang paling mudah. (Fathul Bari syarh Shahih Al Bukhari)

Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhias dengan sifat yang sangat mulia tersebut, karena ia merupakan bagian dari sifat-sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dengannya pula merupakan sebab seseorang dapat meraih berbagai kunci kebaikan dan keutamaan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat lemah lembut, maka ia tidak akan bisa meraih berbagai kebaikan dan keutamaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan hal ini kepada ‘Aisyah-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ

Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana disebutkan pula dalam sebuah hadits:

مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ

“Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan.” (HR.Muslim)

Keutamaan sifat Ar-Rifq

Sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa sifat Ar-Rifq (lemah lembut) merupakan sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan juga dengannya akan bisa meraih segala kebaikan dan keutamaan. Dengannya pula akan melahirkan sikap hikmah, yang juga merupakan sikap yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam berkata dan bertindak.

Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya. Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut:

Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (seperti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim)

Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati ‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya:

Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)

(Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa doa Arab badui tersebut diucapkan sebelum ia buang air kecil. Wallahu a’lam) Continue reading