Cara Kerja 3D TV dan Perbedaannya — Antara Passive 3D dan Active 3D

Cara Kerja 3D

Semua teknologi 3D, termasuk cara kita melihat dunia dalam kehidupan nyata, bekerja dengan prinsip untuk mengelabui otak kita dalam melihat 3 dimensi dengan cara memberikan gambar yang berbeda melalui masing-masing mata. Dengan melihat gambar yang sedikit berbeda untuk setiap mata dari perspektif yang berbeda, otak kita secara otomatis merekonstruksi hal itu dan menjadikan 3 dimensi.
3 Dimensi Sebenarnya


Click here to view the original image of 739x473px.

Dalam kehidupan nyata, ketika kita melihat sebuah objek, kita melihat dengan 3 dimensi karena mata kita melihat objek tersebut dari perspektif yang berbeda. Kurang lebih jarak 7.5cm antara mata kita dapat memberikan 2 gambar berbeda yang sudah memberikan informasi cukup untuk membuat suatu objek menjadi 3 dimensi.
Ilustrasi diatas menjelaskan bahwa mata kiri melihat sedikit sisi kubus sebelah kiri, sedangkan mata kanan melihat sedikit sisi kanan. Otak kemudian membuat model 3 dimensi dengan cara membandingkan dan mencocokan perbedaan kedua gambar yang diberikan oleh masing-masing mata.
Tipe 3D TV

Bagaimana jika anda mempunyai satu sisi 2 dimensi (seperti layar TV) dan ingin menampilkan konten 3 dimensi? Cara termudah adalah menggunakan kacamata yang membuat apa yang dilihat mata kiri dan mata kanan berbeda. Dua cara yang paling umum untuk kacamata 3D adalah Active Shutter (memberi gambar bergantian pada masing-masing mata) dan Passive 3D (menggunakan polarisasi cahaya yang berbeda untuk masing-masing mata).
Active Shutter 3D


Click here to view the original image of 739x604px.

Active Shutter 3D (atau biasa disebut Active 3D) bekerja dengan cara memberikan gambar yang bergantian pada layar, dan lensa pada kacamata juga bergantian antara warna hitam dan transparan untuk mengontrol apa yang dilihat oleh mata kiri dan mata kanan. Hal ini dilakukan dengan sinkronisasi yang tepat antara kacamata dan TV secara sangat cepat.
Cara ini dikatakan sebagai aktif karena kacamata 3D menggunakan baterai dan secara aktif mengontrol apa yang dilihat oleh mata kiri atau mata kanan. Karena kacamata 3D ini harus singkronisasi dengan tepat, maka kacamata ini biasanya jauh lebih mahal di banding dengan Passive 3D. Selain itu, terkadang user juga merasa lelah ketika menonton TV karena pergantian lensa pada kacamata dan juga karena benda lain terasa flickering (berkedip), misalnya lampu atau layar ponsel.
Flickering pada dikurangi jika panel televisi Anda mempunyai refresh rate 200Hz, dan bukan 100Hz. Karena semakin cepat kacamata “berkedip” semakin kita tidak bisa melihatnya, sehingga akan meringankan flickering.

Kelebihan Kelemahan
Resolusi TV tidak berkurang Kacamata lebih mahal
  Flickering membuat kurang nyaman, terutama ketika tidak melihat ke televisi

Passive 3D


Click here to view the original image of 739x604px.

Metode ini sangat mirip dengan metode yang di pakai di bioskop. Tidak seperti Active 3D yang menampilkan satu gambar secara bergantian pada layar, Passive 3D menampilkan kedua gambar secara bersamaan dengan filter polarisasi yang berbeda, sehingga masing-masing sisi kacamata hanya dapat melihat gambar yang polarisasinya sama dengan yang ada di layar. Kacamata pada Passive 3D tidak memerlukan baterai yang membuat mereka menjadi lebih murah di banding Active 3D.
Bagaimana caranya 2 gambar yang berbeda ditampilkan secara bersamaan ke layar dengan polarisasi yang berbeda? Bioskop menggunakan 2 proyektor dan kedua gambar saling menimpa satu sama lain. Namun, hal ini tidak mungkin dilakukan dengan layar TV, karena pixel pada layar TV tidak bisa saling menimpa.
Untuk mengatasi hal ini, susunan baris pixel horizontal di televisi harus menampilkan 2 gambar yang berbeda. Ketika anda mempunyai TV dengan resolusi 1920×1080 yang mempunyai 1080 baris horizontal, maka 540 baris horizontal digunakan untuk memproyeksikan gambar untuk mata kiri dan 540 baris lainnya untuk mata kanan (Contoh: Baris1–Mata Kanan, Baris2–Mata Kiri, Baris3–Mata Kanan, Baris4–Mata Kiri, dst.). Ini menyebabkan berkurangnya kualitas gambar, sehingga membuat TV terasa seperti 1920×540 pixel (hanya baris horizontal yang terpengaruh, baris vertical tetap sama).
Banyak perusahaan yang sedang bekerja untuk menghilangkan problem tersebut dan ini menunjukkan 2 gambar full HD 1080p dengan polarisasi yang berbeda. Namun teknologi ini masih dalam pengembangan dan belum siap untuk konsumen.

Kelebihan Kelemahan
Harga kacamata lebih murah Resolusi menjadi kecil (1920×1080 menjadi 1920×540)
Lebih nyaman untuk dipakai  

Masalah Umum pada 3D TV

Brightness berkurang

Ketika menggunakan kacamata 3D, Anda akan merasakan bahwa brightness akan berkurang, pada metode aktif dan pasif. Ini dikarenakan hanya setengah dari cahaya yang masuk ke mata. Pada Active 3D, hanya satu lensa yang terbuka setiap saat (kiri dan kanan bergantian), karena itu brightness akan berkurang. Pada Passive 3D, masing-masing mata hanya melihat setengah dari cahaya TV (pada 1080p, hanya 540p pada masing-masing mata yang terlihat). Kebanyakan TV akan secara otomatis meningkatkan brightness ketika menonton 3D, untuk mengkompensasi kekurangan cahaya.
Flickering

Flickering (kesan bahwa layar berkedip), adalah sebuah problem pada saat pertama kali 3D TV diluncurkan. Problem ini masih bisa ditemukan pada tipe Active 3D TV yang low-end, terutama dengan refresh rate 120Hz. Passive 3D tidak mempunyai problem ini, karena mata selalu menerima cahaya yang konstan, berbeda dengan Active 3D karena kacamata bergantian menutup mata kiri dan kanan.
3D Crosstalk (Gambar berbayang)

Gambar berbayang, seperti ketika Anda melepaskan kacamata 3D di bioskop, memang jarang terjadi pada 3D TV yang modern. Gambar yang berbayang dapat dikarenakan oleh 2 hal, yang pertama adalah karena TV itu tidak dapat memberikan gambar 3D yang sesuai untuk masing-masing mata. Contohnya adalah ketika Active 3D TV dengan Kacamata Active tidak tersinkron dengan pas. TV 3D keluaran tahun 2012 keatas sudah hampir tidak mempunyai masalah ini, karena pengelolaan software 3D yang sudah maju.
Alasan kedua adalah gambar asli pada film yang diputar mempunyai problem berbayang. Hal ini dapat terjadi pada film yang awalnya tidak di filmkan secara 3D, namun di buat 3D setelah film itu jadi (post-production 3D).

Artikel ini diambil dari:LINK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: