JANGAN SALAH PILIH TEMAN

TemanOleh : Sukahar Ahmad Syafi’i
Manusia adalah makhlus sosial, yaitu makhluk yang tidak dapat hidup sendiri, tapi dia hidup secara bersama atau bermasyarakat. Mengapa demikian, karena manusia tidak akan bisa memenuhi kebutuhan dan urusanya sendiri, sehebat dan setangguh apapun manusia, pasti memerlukan uluran bantuan orang lain, ketika manusia sakit, dia membutuhkan dokter untuk membantu mengobatinya, ketika manusia ingin belajar, dia membutuhkan seorang pembimbing (guru) untuk mengajarinya, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, interaksi (bergaul) sesama manusia sangat diperlukan agar terjalin hubungan yang harmonis diantara mereka, sekalipun demikian aspek bergaul yaitu memilih teman benar-benar harus diperhatikan, karena sekali salah dalam menentukan pillhan, maka akibatnya pun akan fatal.
Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab-adab serta batasan-batasan dalam pergaulan. Pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dampak buruk akan menimpa seseorang akibat bergaul dengan teman-teman yang berprilaku buruk, sebaliknya manfaat yang besar akan didapatkan dengan bergaul dengan teman yang memiliki perangai baik.
Mengenai dampak pergaulan Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Telah menceritakan kepadaku Mūsa bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid, telah menceritakan kepada kami Abû Burdah bin Abdullah dia berkata : Aku mendengar Abû Burdah bin Abi Mûsa dari ayahnya ra berkata, Rasulullah saw bersabda :Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari )
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya (4/2026), terdapat pula dalam Shahih Ibnu Hibban (2/320) dan terdapat dalam kitab Kanzul amal fî sunan al-Aqwal wa al-Af’al (9/44). Menurut Su’aib al-Arnauth sanad hadis ini Shahih berdasarkan kriteria Bukhari dan Muslim, Nashiruddin al-Albani juga mengatakan bahwa hadis ini tergolong hadis Shahih sehingga bisa dijadikan hujjah (Silsilah al-Ahadis ash-Shohihah 7/26)
Mengenai makna hadis ini, Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan : “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”( Fathul Bāri 4/324). Abu Hatim ar-Raziy juga berkomentar , bahwa hadis ini adalah dalil untuk memilih teman yang baik dalam hal yang berkaitan dengan agama. Menurut Imam an-Nawawiy Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim 4/227). Dari makna hadis dan komentar para ulama’ diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Islam sangat menganjurkan kita untuk selektif dalam memilih teman bergaul dan lebih menekankan untuk memilih teman yang memberikan dampak positif dan manfaat bagi agama maupun dunia.
Perilaku seseorang bisa dilihat dari temannya
Salah satu alat ukur yang bisa digunakan untuk menjast (memastikan) baik dan buruk perilaku seseorang adalah dari teman bergaulnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw :
أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ فُورَكٍ رَحِمَهُ اللهُ , ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْأَصْبَهَانِيُّ , ثنا يُونُسُ بْنُ حَبِيبٍ , ثنا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ , ثنا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ , أَخْبَرَنِي مُوسَى بْنُ وَرْدَانَ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “
“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Hasan bin Fûrak ra, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja’far al-Asbahaniy, telah menceritakan kepada kami Yûnus bin Jayyib, telah mencertikan kepada kami Abu Dāwud ath-Thoyalisi, telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad, telah mengkhabarkan kepadaku Mûsa bin Wardān dari Abî Hurairah berkata : Rasulullah saw bersabda “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. at-Turmudzi)
Hadis ini juga disebutkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (12/44) nomor. 8990. Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad (4/299), terdapat pula dalam Mu’jam Ibnu Asākir (2/241). Imam Turmudzi menilai hadis ini adalah hadis hasan gharib, an-Nawawiy memberikan komentar bahwa sanad hadis ini shahih, Nashiruddin al-Albani menshahihkan hadis ini (Misykātul Mashabih. 3/87). Menurut Ibnu Taimiyah hadis ini tergolong hadis hasan sehingga bisa dijadikan hujjah (al-Imān li Ibni Taimiyah. Hlm,55). Sabda Rasulullah saw di atas memperkuat anjuran pentingnya menentukan teman bergaul Oleh karena selektif dalam memilih teman sangat dibutuhkan dalam hal ini agar hal-hal yang tidak diinginkan dan penyesalan di masa depan tidak akan terjadi. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt :
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً
“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)
Ayat ini menjadi gambaran dan renungan yang jelas bagi diri kita, betapa tidak bergunanya penyesalan di akhirat, hanya karena salah dalam memilih teman bergaul.
Akhlak yang mulia adalah ukuran keimanan
Ketika kita hendak memilih seseorang menjadi teman kita, secara umum, kita harus memilih teman yang benar-benar memberikan manfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat – sebagaimana perkataan Ibnu Hajr dan an-Nawawiy- , terlepas dari keumuman hal tersebut ada kriteria penting (urgen) yang harus dimiliki teman tersebut, yaitu akhlak yang terpuji (mulia) karena akhak adalah cerminan dan tolak ukur keimanan seseorang, secara dhahir (eksplisit) keimanan seseorang dapat dilihat dari akhlak (tabi’at)nya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun sosial. Rasulullah saw menegaskan hal ini dalam sabdanya :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِى سَلَمَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: « أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ».
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hambal, telah menceritakan kepada kami yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Amr dari Abi Salamah dari abu Hurairah berkata : Rasulullah saw bersabda : ” Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah orang mu’min yang paling baik akhlaknya diantara mereka” ( HR. Imam Ahmad )
Hadis ini juga diriwayatkan ole hath-Thahawiy dalam Syarhu Musykil Atsar (11/260), al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (1/128), Sunan al-Kubra (10/192), ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (4/356), Abu Dāwud dalam Sunannya (4/354), at-Turmudzi dalam Sunannya (3/466), ad-Dārimiy dalam Sunannya (2/415) dan Ibnu Hibban dalam Shohihnya (2/227). Menurut Syu’aib al-Arnauth dalam Shahih Ibnu Hibban sanad hadis ini hasan, Nashiruddin al-Albani menshahihkan hadis ini (Silsilah ash-Shohihah . 2/378) dan Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadis ini memenuhi standar shahih jadi bisa dijadikan hujjah (al-Imān li Ibni Taimiyah. Hlm,132).
Jika dilihat dari sudut sejarah, ternyata salah satu faktor diutusnya Rasulullah saw adalah berkenaan dengan masalah akhlak, yang ketika itu penduduk (masyarakat) Arab memiliki perangai (akhlak) yang buruk, bahkan bisa dikatakan bejat tak bermoral, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw :
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حُكَيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ.
“Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Mansûr berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Muhammad bin ‘Ajlan dari al-Qa’qai bin Hukaim dari Abi Shālih dari Abu Hurairah RA berkata : Rasulullah saw bersadda : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. (HR. Ahmad dan ditashih oleh Baihaqi menurut syarat Muslim).
Kesimpulan
Inti (natijah) dari semua apa yang telah dipaparkan diatas adalah anjuran untuk selektif dalam memilih teman bergaul, karena besarnya efek dari pergaulan itu, jika salah dalam memilih, maka fatal pula akibatnya dan penyesalan tiada gunanya, oleh karena itu Islam sangat menganjurkan kita untuk selektif dalam memilih teman, sebisa mungkin pilihlah teman yang banyak memberikan manfaat dari pada teman yang memberikan madharat (keburukan). Karena orang yang memiliki sifat buruk dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan dari segala aspek bagi orang yang bergaul bersamanya. Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik mereka sadari maupun tidak.

Wallahu ‘alam bi ash-shawab.

– See more at: http://persada.uad.ac.id/jangan-salah-pilih-teman.asp#sthash.n0QgFQdw.dpuf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s