HATI-HATI TERHADAP PERBUATAN ZALIM

berlindung-kaum-zalimKezaliman terbagi dua, yaitu menzalimi diri sendiri, dan menzalimi orang lain. Menzalimi diri sendiri ada dua bentuk yaitu syirik dan perbuatan dosa atau maksiat. Menzalimi orang lain adalah menyakiti perasaan orang lain/ aniaya, mensia-siakan atau tidak menunaikan hak orang lain yang wajib ditunaikan.  Zalim  secara istilah mengandung pengertian “berbuat aniaya/celaka terhadap diri sendiri atau orang lain dengan cara-cara bathil yang keluar dari jalur syariat Agama Islam”.

Diantara perbuatan-perbuatan zalim yang  mengotori hati yaitu, sombong, dengki (tidak suka terhadap kebahagian orang lain), ghibah (membicarakan keburukan orang lain), fitnah (menuduh tanpa bukti yang kuat), adu domba (bermuka dua), dusta (bohong), ujub (bangga diri dengan merendahkan orang lain), dan lain sebagainya.  Dalam pergaulan dan interaksi kita dengan orang lain, sebaiknya benar-benar menjaga perkataan dan sikap kita agar tidak menyinggung dan menyakiti persaan orang lain, apalagi sampai berbuat zalim. Kalau kita tidak sengaja melakukan kesalahan kepada orang lain saja, kita harus segera minta maaf, terlebih lagi bila kita dengan sengaja melakukannya.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al Qur’an bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan akan mendapat balasan dari-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al Zaljalah : 7-8  “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar  dzarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya juga“.

Yang lebih berbahaya lagi, apabila kita menyakiti seseorang dan orang tersebut tidak ikhlas, serta berdoa memohon kepada Allah, mengadukan kezaliman yang menimpanya dan memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah. Serta dalam doanya, ia menyatakan bahwa ia tidak ikhlas atas perbuatan zalim yang dilakukan seseorang, maka tunggu saja, keadilan dari Allah, pasti akan mendatangi orang yang telah menzaliminya, entah itu didunia ini atau diakhirat kelak. (lihat hadits No. 4 di bawah, tentang perbuatan zalim yang tidak dibiarkan oleh Allah SWT, yaitu kezaliman yang dilakukan seorang terhadap orang lain).

Allah SWT tidak suka terhadap perbuatan zalim, perhatikan firman-Nya berikut ini : “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS Ali Imran [3] : 57).

Dan perhatikan juga firman-Nya yang lain: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS. Asy Syuura [42] ; 40) Continue reading

Zalim, Sumber Kebangkrutan di Hari Kiamat!

kezalimanAL-DZAHABI radhiyallahu anhu menuturkan dalam kitabnya Al-Kaba’ir, seperti dikutip oleh Dr. Abdul Aziz Al-Fauzan dalam bukunya Fiqih Sosial (Terj). “Aku telah melihat seorang lelaki yang tangannya terpotong mulai bagian pundaknya dan dia menyeru, “Barangsiapa yang melihatku, maka janganlah pernah menganiaya seorang pun.”

Aku pun mendekatinya dan bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, bagaimana ceritanya hal ini bisa terjadi?” Dia berkata, “Kisah yang aneh. Dahulu aku adalah orang yang sering berbuat zalim. Pada suatu hari, aku melihat seorang nelayan yang mendapatkan ikan yang sangat besar dan aku pun tertarik akan ikan tersebut.

Kemudian aku datang kepadanya dan berkata, “Berikanlah ikan itu kepadaku!” Dia menjawab, “Aku tidak akan memberikannya kepadamu, aku akan menjualnya untuk makan keluargaku”.
Kemudian aku memukulnya dan mengambil ikan tersebut secara paksa, lalu aku pergi. Ketika aku berjalan membawa ikan rampasan, ikan itu menggigit ibu jari tanganku dengan gigitan yang sangat kuat. Ketika aku sampai ke rumah, aku lemparkan ikan itu.

Ibu jariku terasa sangat sakit sampai aku tidak dapat tidur, tanganku pun menjadi bengkak. Ketika tiba waktu pagi, aku pergi kepada seorang dokter. Kemudian ia berkata, “Racun gigitan ini mulai merambat, potonglah telapak tanganmu”.

Aku pun memotongnya. Tetapi rasa sakit masih terus menjalar bahkan semakin kuat, hingga akhirnya ku potong sampai siku. Tetapi tetap saja, rasa sakit itu makin menjadi. Kemudian orang-orang bertanya, “Apa yang menyebabkanmu mengalami hal ini?” Lalu aku ceritakan kisah ikan tadi.

Mereka berkata kepadaku, “Seandainya engkau meminta maaf kepada orang yang punya ikan ketika rasa sakit pertama menimpamu dan meminta keikhlasannya, niscara engkau tidak akan memotong satu bagian pun dari anggota tubuhmu. Pergilah sekarang kepadanya danmintalah keikhlasannya sebelum sakit itu menjalar ke seluruh tubuhmu.

Akun mencarinya dan bertemu. Aku langsung tersungkur di kakinya, menciumnya lalu menangis dan aku katakan padanya, “Wahai tuan, demi Allah, ampunilah diriku”. Kemudian aku bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendoakan buruk atasku akibat ikan yang telah aku ambil?”

Dia menjawab, “Ya aku berdoa, Ya Allah, dia telah menganiayaku dengan kekuatannya, maka tunjukkanlah kekuasaan-Mu dalam hal itu”. Lalu aku berkata, “Wahai tuan, Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya terhadap diriku dan aku bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Imam Al-Maraghi menjelaskan bahwa al-Zalim adalah perbuatan yang menyimpang dari jalan yang wajib ditempuh untuk mencari kebenaran. Sementara itu dalam Mu’jam dikatakan bahwa yang dimaksud dengan al-Zalim adalah perbuatan yang melampaui batas atau meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. (Lihat Ensiklopedia Makna al-Qur’an Syarah Alfaazhul Qur’an Karya M. Dhuha Abdul Jabbar & N. Burhanudin).

Selain itu al-Zalim juga bermakna kegelapan. Seperti yang Allah firmankan dalam al-Qur’an;
قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِـي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِـي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 258).

Orang yang zalim dalam ayat tersebut adalah orang yang tidak mau menggunakan dalil-dalil yang bisa mengantarkan dirinya tunduk mengetahui kebenaran dan tidak mau menerima hidayah.

Artinya orang itu berada dalam kegelapan iman, sehingga tidak bisa melihat kekuasaan Allah Ta’ala. Apalagi, menaati segala aturan atau hukum yang telah Allah tetapkan.

“Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 229).

Continue reading

Kezaliman Dan Orang-Orang Zalim Sifat Dan Akibatnya

damai-yes-perang-no

“Kalian akan tahu siapa yang akan mendapat tempat terbaik di akhirat dan sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak akan beruntung.” (QS. al-An’am: 135)

Kezaliman adalah kerusakan di dalam fitrah manusia, karena Allah SWT menciptakan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Tapi, karena fitrah dapat menjadi lemah dikarenakan rusaknya pendidikan yang diterima seseorang, hawa nafsu, kepentingan, dan sebab-sebab yang lain, maka manusia tidak jarang menuju ke arah yang tidak benar dan bertentangan dengan fitrah, meskipun fitrah orang ini masih dapat menampakkan diri pada waktu-waktu tertentu.

Penyebab seseorang melakukan kezaliman:

1. Merasa ada kekurangan dan kelemahan di dalam diri.

Karena orang yang zalim tidak memiliki sifat-sifat yang baik, dan dia mengetahui hal ini, maka dia justru mengkompensasinya dengan melakukan perbuatan zalim. Karena itulah Allah tidak mungkin berbuat zalim, karena Dia Mahasempurna dalam segala aspek dan tidak membutuhkan apa pun. Karena itu, untuk apa Dia berbuat zalim.

Di dalam hadits diterangkan,

إنما يحتاج إلى الظلم الضعيف

Yang merasa perlu berbuat zalim hanyalah orang yang lemah.

2. Tidak dapat mengendalikan syahwat.

Allah hanya menciptakan yang baik-baik saja. Syahwat Dia berikan kepada manusia demi kebaikan manusia. Cinta pada diri sendiri membuat orang mau memperhatikan dan menjaga dirinya. Cinta pada harta membuat orang mau bekerja untuk memperolehnya. Cinta pada lawan jenis membuat orang dapat menjaga kelangsungan umat manusia. Dst.

Tapi, jika syahwat ini melewati batasannya, maka itu karena perbuatan manusia semata-mata dan itu akan menjadi penyebab kesengsaraannya. Orang yang tidak dapat mengendalikan syahwat boleh jadi akan berbuat zalim, merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain, menyusahkan orang lain, bahkan membunuh orang lain, karena dia menyangka hal itu akan memuaskan syahwatnya.

Allah SWT berfirman:

واتبع الذين ظلموا ما أترفوا فيه وكانوا مجرمين

“Dan orang-orang zalim hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan, dan mereka itu adalah orang-orang yang berdosa/pelaku kejahatan.” (Hud: 116)

3. Mempertahankan kekuasaan

Cinta pada kekuasaan adalah salah satu nafsu manusia yang paling berbahaya. Orang yang terkena penyakit cinta pada kekuasaan akan berusaha mempertahankan jabatan dan kedudukannya dengan berbagai cara, hingga dengan membunuh, memberangus suara orang lain, dan menelantarkan orang lain sekalipun karena dia menyangka bahwa hal ini akan melanggengkan kursinya. Padahal, keadilanlah yang melanggengkan seseorang pada kedudukan dan jabatannya, dan bukannya kezaliman.

Nabi saw bersabda:

إن الملك يبقى مع الكفر ولا يبقى مع الظلم

“Kekuasaan itu dapat langgeng sekalipun sang penguasa kafir kepada Allah, tapi tidak akan langgeng jika sang penguasa berbuat zalim.” Continue reading

Islam Membenci Kezaliman

Umar Mukhtar5a.jpgIslam sangat membenci kezaliman dan kekuasaan yang dilaksanakan dengan cara diktator dan ‘kuku besi’. Oleh itu, kita disarankan agar tidak memilih pemimpin yang berpotensi untuk melakukan kezaliman dan bersikap ‘kuku besi’.

Dakwah Rasulullah saw sentiasa menentang setiap bentuk kezaliman kerana risalah keadilan yang dibawa baginda adalah musuh bagi semua bentuk kezaliman. Oleh kerana intipati syari’at Islam adalah keadilan maka semua penguasa yang zalim pasti akan membenci tertegaknya ajaran ini di muka bumi yang dikuasainya.

Mari kita dengar antara ucapan Utbah bin Rabi’ah, seorang utusan kafir Quraisy kepada Rasulullah saw :

“…Kalau dengan dakwah yang kamu lakukan itu kamu menginginkan kedudukan sebagai raja, kami bersedia menobatkan kamu menjadi raja kami ..” (HR Ibnu Ishaq)

Ini adalah tawaran yang sangat bijak kerana jika Rasulullah saw mahu mengambil kekuasaan dengan meninggalkan dakwah, maka berkemungkinan pemerintahan yang akan ditegakkan itu akan terpalit dengan unsur-unsur kezaliman. Namun, pada kenyataannya, Rasulullah saw tidak mengambil kedudukan itu.

Orang-orang kafir Quraisy Makkah sangat memahami bahwa jika iklim kebebasan mereka buka selebar-lebarnya maka dakwah Islam akan mengancam kepentingan dan kedudukan mereka. Oleh kerana itu, mereka pun melakukan tindakan-tindakan kezaliman terhadap kaum muslimin dengan alasan yang dicari-cari untuk menutup ruang interaksi dan simpati manusia dengan kaum muslimin.

Maka konflik dalaman berlaku di antara tokoh-tokoh jahiliyah yang “radikal” seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Utbah bin Rabi’ah dan lain-lain dengan tokoh-tokoh jahiliyah yang lebih “moderat” dan bersikap “demokratik” seumpama Abu Talib, Muth’am bin Adi, Hisyam bin Amir dan lain-lain.

Muth’am bin Adi umpamanya memberikan perlindungan kepada Rasulullah saw tatkala baginda pulang dari berdakwah ke Thaif manakala orang-orang kafir Quraisy tidak membenarkan baginda untuk dapat masuk semula ke kota Makkah.

Hisyam bin Amir adalah orang pertama yang merasa prihatin dengan tiga tahun pemboikotan kepada kaum Muslimin dan Bani Muthalib. Ketika Rasulullah saw merasa perlu mencarikan tempat perlindungan bagi kaum muslimin dari tindakan kezaliman orang-orang kafir Makkah, baginda terfikir tentang wilayah Habsyah, bukannya Romawi atau negeri lainnya. Bukan sekadar wilayah ini lebih dekat dengan Makkah tetapi juga iklim politik negeri itu yang lebih kondusif bagi dakwah Islam.

Berkait dengan Habsyah, Rasulullah saw berkata :

“Alangkah baiknya jika kamu dapat berhijrah ke negeri Habsyah, kerana di sana terdapat seorang raja yang adil sekali. Di bawah kekuasaannya tidak seorang pun boleh dianiaya ..”

Continue reading

Pemimpin yang Adil

Pemimpin yang adil

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan memberikan karunia iman dan Islam. Semoga kita bisa senantiasa meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wata’ala.

Hampir dua minggu ramadhon berlalu. Semoga kita semua istiqomah dalam ketaatan dan bisa meraih tujuan dari puasa tersebut, yaitu menjadi orang yang bertakwa.

Jika saja semua atau sebagian besar masyarakat kita merupakan orang-orang yang taat dan bertakwa, maka insyaAllah keberhakaan dan kasih sayang Allah akan menyelimuti kehidupan kita semuanya.

Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُوْنَ

Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami bukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka malah mendustakan maka Kami pun menyiksa mereka disebabkan apa yang dulunya mereka upayakan (Al-A’raf:96)

Meskipun demikian, yang juga patut kita waspadai kerusakan akhlak suatu kaum akan menyebabkan kerusakan pula pada langit dan bumi. Allah berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan/ulah manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Rum: 41)

Membaca kedua ayat tersebut, kami teringat dengan ucapan para ulama yang mengatakan, “Jika Allah menghendaki kehancuran suatu negeri, maka dikirim kepada mereka para pemimpin yang dholim.”

Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun baik komunitas suatu masyarakat, akan tetapi jika para pemimpin mereka adalah orang-orang yang dholim, maka hal tersebut merupakan pertanda suatu kehancuran. Continue reading

Menerjang perkara haram karena seret rezeki

Ada kalanya, seseorang menerjang cara-cara yang haram karena merasa rezeki-nya “seret”.. Ketahuilah cara yang haram tersebut TIDAKLAH AKAN mempercepat rizkimu…

Rasuulullaah bersabda:

لاَ تَسْتَبْطِئُوْاالرِّزْقَ, فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوْتَ العَبْدُ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ رِزْقٍ هُوَ لَهُ, فَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ, أَخْذِ الحَلاَلِ وَ تَرْكِ الحَرَامِ

“Janganlah menganggap rezki kalian lambat turun. Sesungguhnya, tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezkinya. Carilah rezki dengan cara yang baik (dengan) mengambil yang halal dan meninggalkan perkara yang haram

(HR Ibnu Hibbaan, al Haakim, Bayhaqiy, dan selainnya; dishahiihkan syaikh al albaaniy)

Dan ini memang telah diisyaratkan beliau, sebagaimana sabda beliau:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram”.

[HR Bukhari].

Akan tetapi ada yang lebih perlu kita perhatikan… Karena sungguh Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya”.

[HR Ahmad, Ad Darimiy, dan selainnya; dishahihkan oleh al-Albâni dalam Shahîhut Targhîb]

Continue reading

Zalim, Sumber Kebangkrutan di Hari Kiamat!

AL-DZAHABI radhiyallahu anhu menuturkan dalam kitabnya Al-Kaba’ir, seperti dikutip oleh Dr. Abdul Aziz Al-Fauzan dalam bukunya Fiqih Sosial (Terj). “Aku telah melihat seorang lelaki yang tangannya terpotong mulai bagian pundaknya dan dia menyeru, “Barangsiapa yang melihatku, maka janganlah pernah menganiaya seorang pun.”

Menegakkan Keadilan, Merobohkan KezalimanAku pun mendekatinya dan bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, bagaimana ceritanya hal ini bisa terjadi?” Dia berkata, “Kisah yang aneh. Dahulu aku adalah orang yang sering berbuat zalim. Pada suatu hari, aku melihat seorang nelayan yang mendapatkan ikan yang sangat besar dan aku pun tertarik akan ikan tersebut.

Kemudian aku datang kepadanya dan berkata, “Berikanlah ikan itu kepadaku!” Dia menjawab, “Aku tidak akan memberikannya kepadamu, aku akan menjualnya untuk makan keluargaku”.
Kemudian aku memukulnya dan mengambil ikan tersebut secara paksa, lalu aku pergi. Ketika aku berjalan membawa ikan rampasan, ikan itu menggigit ibu jari tanganku dengan gigitan yang sangat kuat. Ketika aku sampai ke rumah, aku lemparkan ikan itu.

Ibu jariku terasa sangat sakit sampai aku tidak dapat tidur, tanganku pun menjadi bengkak. Ketika tiba waktu pagi, aku pergi kepada seorang dokter. Kemudian ia berkata, “Racun gigitan ini mulai merambat, potonglah telapak tanganmu”.

Aku pun memotongnya. Tetapi rasa sakit masih terus menjalar bahkan semakin kuat, hingga akhirnya ku potong sampai siku. Tetapi tetap saja, rasa sakit itu makin menjadi. Kemudian orang-orang bertanya, “Apa yang menyebabkanmu mengalami hal ini?” Lalu aku ceritakan kisah ikan tadi.

Mereka berkata kepadaku, “Seandainya engkau meminta maaf kepada orang yang punya ikan ketika rasa sakit pertama menimpamu dan meminta keikhlasannya, niscara engkau tidak akan memotong satu bagian pun dari anggota tubuhmu. Pergilah sekarang kepadanya dan mintalah keikhlasannya sebelum sakit itu menjalar ke seluruh tubuhmu. Continue reading

Kezaliman Dan Orang-Orang Zalim Sifat Dan Akibatnya

“Kalian akan tahu siapa yang akan mendapat tempat terbaik di akhirat dan sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak akan beruntung.” (QS. al-An’am: 135)

Kezaliman Kezaliman adalah kerusakan di dalam fitrah manusia, karena Allah SWT menciptakan fitrah manusia senantiasa cenderung kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Tapi, karena fitrah dapat menjadi lemah dikarenakan rusaknya pendidikan yang diterima seseorang, hawa nafsu, kepentingan, dan sebab-sebab yang lain, maka manusia tidak jarang menuju ke arah yang tidak benar dan bertentangan dengan fitrah, meskipun fitrah orang ini masih dapat menampakkan diri pada waktu-waktu tertentu.

Penyebab seseorang melakukan kezaliman: Continue reading

Kezaliman adalah Kegelapan pada Hari Kiamat

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Rasul yang mulia pernah bersabda:

“Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

KezalimanUlama kita menerangkan dengan berpatokan pada hadits di atas bahwa kezaliman merupakan sebab kegelapan bagi pelakunya hingga ia tidak mendapatkan arah/jalan yang akan dituju pada hari kiamat atau menjadi sebab kesempitan dan kesulitan bagi pelakunya. (Syarhu Shahih Muslim 16/350, Tuhfatul Ahwadzi kitab Al-Birr wa Shilah ‘an Rasulillah, bab Ma Ja`a fizh Zhulum)

Mungkin ada di antara kita yang masih bertanya-tanya, apa sih yang dimaksudkan dengan zalim? Dalam bahasa Arab, zalim bermakna meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Asal kata zalim adalah kejahatan dan melampaui batas, dan juga menyimpang dari keseimbangan. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, bab Azh-Zha’ ma‘a Al-Lam).
Sadar ataupun tidak, kita sering berbuat zalim. Padahal kezaliman bukanlah perkara remeh. Hukumnya haram dalam syariat Allah. Bahkan Allah SWT mengharamkannya bagi diri-Nya. Dia Yang Maha Suci berfirman dalam hadits qudsi:

“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian maka janganlah kalian saling menzalimi…” (HR. Muslim)
Mengingat hal di atas, dalam rubrik ini kita coba membahas tentang kezaliman, semoga dapat menjadi peringatan yang bermanfaat. Continue reading