Tolong Menolong dalam Kebajikan dan Takwa

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah: 2).

tolong-menolongMengomentari ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim berkata, “Ayat al-Quran ini mengandung semua mashlahat untuk hamba, baik maslahat di kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Ayat ini juga mengandung aturan berinteraksi antara sesama manusia (horisontal) dan hubungan antara hamba dengan Tuhan mereka (vertikal). Sebab setiap hamba tidak akan pernah terpisah dari kedua interaksi ini. Hal itu merupakan dua buah kewajiban bagi mereka: kewajiban antara manusia dengan Allah Swt. dan kewajiban antara sesama makhluk.

Continue reading

BERSATULAH PILIH PEMIMPIN YANG BERTAQWA

memilih pemimpinOleh: Dr. Adian Husaini

(Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor)

 

“Andaikan penduduk suatu negeri mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri” (QS Al A’raf:96).

“Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai (ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”(HR Al-Hakim).

Al-Quran Surat al-A’raf  ayat 96 tersebut dengan sangat gamblang memberi kabar gembira, bahwa jika suatu bangsa mau mendapatkan kucuran rahmat dan dijauhkan dari berbagai musibah, maka iman dan taqwa harus dijadikan sebagai nilai tertinggi dalam pengambilan kebijakan dan keputusan. Tentu saja, itu termasuk dalam penentuan pemimpin, baik pada tataran keluarga,  kelompok, atau pun pada tataran kenegaraan. 

Pemimpin yang beriman dan bartaqwa adalah pemimpin yang bertauhid, yang berkomitmen menegakkan misi utama kenabian, yaitu menegakkan Tauhid. (QS 16:36). Pemimpin semacam ini yakin bahwa hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tiada sekutu, tiada anak atau diperanakkan. Hanya Allah yang berhak disembah. Ia pun yakin, bahwa Allah telah mengutus para Nabi — mulai Adam a.s. sd Muhammad saw – yang diberi tugas menyampaikan ayat-ayat-Nya dan mensucikan jiwa mereka. Ia pun yakin, bahwa semua amal perbuatannya akan diminta pertanggung jawaban di Hari Akhir nanti.

Continue reading

Tanda-Tanda Takut Kepada Allah

taqwa2Takut kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah yang tidak terlalu diperhatikan oleh sebagian orang-orang mukmin, padahal itu menjadi dasar beribadah dengan benar. Firman Allah Ta’ala:
“Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kalian kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.(Ali ‘Imran 175).

Tanda-tanda takut kepada Allah:

1.Pada lisannya

Seseorang yang takut kepada Allah mempunyai kekhawatiran atau ketakutan sekiranya lisannya mengucapkan perkataan yang mendatangkan murka Allah. Sehingga dia menjaganya dari perkataan dusta, ghibah dan perkataan yang berlebih-lebihan dan tidak bermanfaat. Bahkan selalu berusaha agar lisannya senantiasa basah dan sibuk dengan berdzikir kepada Allah, dengan bacaan Al Qur’an, dan mudzakarah ilmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Barangsiapa yang dapat menjaga (menjamin) untukku mulut dan kemaluannya, aku akan memberi jaminan kepadanya syurga”.(HR. Al Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
“Tanda sempurnanya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu (perkataan) yang tidak berguna”. (HR. At Tirmidzi).

Kemudian dalam riwayat lain disebutkan, artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berbicara yang baik, atau (kalau tidak bisa) maka agar ia diam”.(HR. Al Bukhari dan Muslim).

Begitulah, sesungguhnya seseorang itu akan memetik hasil ucapan lisannya, maka hendaklah seorang mukmin itu takut dan benar-benar menjaga lisannya.

Continue reading

Pengaruh Takwa Terhadap Kehidupan Seorang Muslim

Khutbah Pertama

      Sebagai pembuka, khatib mengajak kepada segenap kaum Muslimin untuk senantiasa memperkuat dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,  karena hanya dengan ketakwaan kepada Allah seseorang dapat menghimpun segala kebaikan, takwa juga  merupakan sifat dan karakter yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Dengan berbekal takwa seseorang memperoleh kebahagiaan, kebaikan dan keselamatan di  dunia maupun akhirat, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Sebaliknya, ketakwaan juga merupakan benteng dan pelindung serta baju besi kokoh yang dapat menghalau segala bentuk keburukan, di dunia maupun akhirat, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Continue reading