Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah

ahlussunnahSalah satu karakteristik agama Islam adalah keadilan, bersikap pertengahan antara sikap melampaui batas dan sikap terlalu meremehkan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا… {143}

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….” (QS. Al Baqarah: 143)

Demikian pula keadaan Ahlus sunnah wal jama’ah di tengah firqah-firqah yang ada, mereka bersikap adil. Berikut di antara sikap adil Ahlus sunnah dalam memahami agama ini.

Dalam Keimanan Terhadap Nama dan Sifat Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “ Termasuk iman kepada Allah adalah beriman terhadap seluruh sifat  yang Allah sifatkan bagi diri-Nya yang telah ditetapkan dalam kitab-Nya dan juga yang disifatkan oleh Rasul-Nya tanpa melakukan tahrif dan ta’thil serta tanpa melakukan takyif dan tamsil[1], bahkan wajib beriman bahwa Allah Ta’ala :

… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ {11}

“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syuura: 11)[2]

Inilah keyakinan Ahlus sunnah wal jama’ah. Mereka bersikap adil, berada pertengahan antara Ahlu ta’thil dan Ahlu tamsil. Ahlu ta’thil mengingkari seluruh nama dan sifat yang wajib bagi Allah. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menafikan semuanya, seperti keyakinan Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Sedangkan kelompok yang kedua menafikan sebagiannya, seperti  Asy’ariyyah dan Maturidiyyah.Sedangkan  Ahlu tamsil menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, seperti yang diyakini oleh  kelompok Karomiyyah dan Husyaamiyyah.[3]

Continue reading