TANDA-TANDA KEIKHLASAN

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Ikhlash adalah perkara hati, dan sulit dilihat oleh orang lain. Orang lain bisa menduga namun bisa juga salah paham. Dari luar bisa jadi perilakunya nampak ikhlas, namun bisa jadi perilakuk ikhlash itu ternyata sengaja dinampakkan agar disangka sebagai orang yang ikhlash. Sebaliknya, bisa jadi perillaku zhahirnya seolah seperti tidak ikhlash namun ternyata orang itu hatinya sangat ikhlash. Hanya diri sendiri dan Allah saja yang mengetahui apakah dirinya ikhlash atau tidak. Namun bukan berarti ikhlash itu sama sekali tidak ada tanda-tandanya dan berikut ini adalah tanda-tandanya :

1.       Tidak Terkecoh Dengan Pujian

Orang yang ikhlash tidak akan berusaha mencari pujian bahkan menghindari pujian karena khawatir akan mengotori hatinya dan merusak amal-amalnya.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : “Berbuatlah baik bukan kaena ingin dipuji, sebab siapa saja yang berbuat sesuatu selain untuk Allah, maka Allah akan menyerahkan nasibnya kepada apa atau siapa yang diharapkan pujian darinya”. (Nahjul Balaghoh Hal 45)

Oleh karena itu Rasulullah SAW memperingatkan agar kita tidak berlebihan memuji seoseorang  karena hal itu dapat merusak keikhlasan orang yang dipuji. Ini artinya kita menjerumuskan saudara kita ke dalam keburukan

Berhati-hatilah dalam memuji (yang berlebihan) sesungguhnya itu adalah penyembelihan (H.R. Bukhari)

Abu Bakar r.a. ketika mendapat pujian , ia menjadi takut akan apa yag dikatakan orang tentang dirinya. Lalu  ia pun segera berkata : “Aku lebih mengerti mengenai diriku dan Tuhanku lebih mengerti akan hal itu daripada diriku. Ya Allah, Ya Tuhanku jangan kau hukum aku disebabkan apa ya mereka katakan tentang diriku.Jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangka, dan ampunilah aku dari segala yang mereka tidak ketahui” (Atsar Riwayat Imam Ahmad Hal 40)

Ali bin Abi Thalib r.a. ketika mendapat pujian maka beliau berkata : “Sesungguhnya diriku berada di bawah apa yang Anda katakan dan di atas apa yang Anda sembunyikan dalam hati Anda “ (Nahjul Balaghoh Hal 126)

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (Q.S. Al-Insaan [76] : 9)

2.       Menjauhi Ketenaran

Para sahabat dan tabiin pada jaman dahulu sangat membenci ketenaran dan berusaha menghindar dari situasi yang bisa memberi peluang setan untuk meniupkan rasa ujub dan sombong.

Ibnu Mas’ud r.a. berkata : “Jadilah kalian nara sumber ilmu, pelita petunjuk, penerang rumah, obor di waktu malam dan pembaharu hati yang diketahui penduduk langit namun tidak dikenal penduduk bumi”.

Ibnu Muhairiz berkata : “Jika bisa hendaklah engkau mengenal tapi tidak dikenal, berjalan sendiri dan jangan mau diikuti, bertanyalah (menegur duluan) dan jangan ditanya (ditegur duluan)”.

Demikianlah para sahabat Rasulullah jaman dahulu lebih menyukai terkenal di kalangan penduduk langit ketimbang terkenal di kalangan penduduk bumi .

Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan di hadapan para ulama dan untuk diperdebatkan di kalanganorang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majleis dan untuk menarik perhatian orang kepadamu. Barang siapa seperti itu maka baginya neraka.. neraka” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ayyub As-Sakhtiyani melakukan suatu perjalanan, lalu ada beberapa orang yang mengelu-elukannya, maka Ayyub pun berkata : “seseorang tidak berniat secara benar karena Allah kecuali jika dia suka tidak merasakan kedudukan menjadi terkenal”.

Bisyr Al Hafy berkata : “Saya tidak mengenal orang yang suka ketenaran melainkan agama menjadi sirna dan dia menjadi hina

Berkata Imam Ahmad bin Hambal : “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Jika tidak maka aku akan ditimpa musibah ketenaran”. (As-Siyar 11/210).

Al Hasan Al Bashri pernah menceritakan mengenai Ibnul Mubarok. Suatu saat Ibnul Mubarok pernah datang ke tempat sumber air di mana orang-orang banyak yang menggunakannya untuk minum. Tatkala itu orang-orang pun tidak ada yang mengenal siapa Ibnul Mubarok. Orang-orang pun akhirnya saling berdesakan dengan beliau dan saling mendorong untuk mendapatkan air tersebut. Tatkala selesai dari  mendapatkan minuman, Ibnul Mubarok pun mengatakan pada Al Hasan Al Bashri, “Kehidupan memang seperti ini. Inilah yang terjadi jika kita tidak terkenal dan tidak dihormati.” Lihatlah Ibnul Mubarok, dia lebih senang kondisinya tidak tenar dan tidak menganggap hal itu sebagai masalah.( Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 284 dan 288) Continue reading

Tiga Ciri Orang Ikhlas

pagiJika ada kader dakwah merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Butuh solusi tepat dan segera.

Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”

Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.

Kedudukan Ikhlas Continue reading

IKHLAS

Ikhlas itu gampang!
Ikhlas itu mudah!
Ikhlas itu bikin hati tenang!
Ikhlas itu INDAH!

ikhlas

Kenapa sih dengan kata-kata diatas? Hehe
Mungkin menurut sebagian orang, ikhlas itu sulit. Ikhlas itu bikin hati nyesek & ikhlas itu bikin susah tidur. Sebenarnya ikhlas itu juga butuh waktu sih. Ya pengalaman gue sih meng-ikhlas-kan sesuatu itu butuh perjuangan & waktu  yang cukup lama. Bener-bener lama. Dan emang sulit, TAPI!!! setelah hati & jiwa kita dilatih dengan ikhlas secara terus menerus, InsyaAllah seterusnya bakal jadi gampang! Trust me! Dan ikhlas itu butuh “PEMIKIRAN YANG SEHAT & JERNIH”

Continue reading

INGINKAH MENJADI PRIBADI YANG IKHLAS ?

ikhlas-inside-penting-3Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata,

“Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak.

Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah? Continue reading

Ikhlas Sumber Kebahagiaan

ikhlasOleh: Komaruddin Hidayat
Gurubesar dan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

IKHLAS itu ruh kehidupan dan sumber kebahagiaan. Ikhlas hanya bisa keluar dari pribadi yang bekerja dengan semangat memberi dan melayani, bukan dari pribadi yang mengejar upah dan tepuk tangan. Orang yang bekerja semata karena mengejar upah, maka durasi kesenangannya hanya sesaat, yaitu ketika menerima uang. Begitu uang dibelanjakan dan habis dibagi, maka kesenangannya pun menghilang.

Ada nasihat klasik, ikhlas itu ibarat burung yang bernyanyi. Dia menyanyi karena bisanya dan hobinya menyanyi, tidak mengharapkan pujian dan tepuk tangan dari pendengarnya. Ada lagi yang mengibaratkan melayani dan menolong orang dengan ikhlas itu bagaikan orang membuang hajat. Dia merasa lega dan bahagia setelah mengeluarkannya dan tak ingin mengingat-ingat kembali. Continue reading