HIDUP BERMANFAAT

Akhlaqul-Karimah

MANUSIA TERBAIK DALAM ISLAM ?

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. (QS. Al Bayyinah: 7)

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285).

Muqaddimah

Menarik sekali, banyak tulisan yang membahas pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat. Mengapa banyak orang yang tertarik tentang bahasan ini, sebab ini salah satu perintah Rasulullah saw kepada umatnya. Sabda beliau:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Seorang Muslim lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain. Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi.

Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta’ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imran: 110)

Continue reading

MEMOHON PERLINDUNGAN DAN PERTOLONGAN ALLAH

kemudahanUst. DR. Attabik Lutfi, MA

Kemuliaan seseorang adalah manakala Allah Ta’ala memberikan kemudahan dan taufiq kepadanya untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya. Selanjutnya, kita akan membahas sebuah ikrar yang selalu kita lafadzkan dalam setiap shalat kita, yaitu ayat:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ{5}

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. (Al Fatihah: 5)

Apa Perbedaan Antara Pertolongan Dan Perlindungan?

Pertolongan adalah sesuatu yang Allah anugerahkan ditengah-tengah kita mendapatkan masalah. Sedangkan perlindungan adalah sebelum terjadinya sesuatu, kita memohon perlindungan.

Kita jadikan shalat malam sebagai media agar Allah memberikan perlindungan untuk esok hari sebelum menjalankan aktivitas. Dan saat kita beraktivitas lalu mendapatkan problem atau masalah maka Allah turunkan pertolongan-Nya. Tetapi yang ditekankan disini adalah perintah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga mendapatkan jaminan-Nya. Dan tidak serta merta ketika sudah meminta perlindungan Allah, seluruh urusan kita lancar dan tidak ada masalah, namun terkadang kita mendapatkan masalah untuk menguji kesungguhan iman. Saat itulah kita membutuhkan pertolongan Allah Ta’ala.

Continue reading

Ruqyah – Spiritual Healing

al-quranRuqyah is commonly translated in English as “incantation” which carries a negative meaning, since the word incantation is usually associated with magic, spells, and witchcraft. However, Ruqyah in Islam is the recitation of Qur’an, seeking of refuge, remembrance and supplications that are used as a means of treating sicknesses and other problems.)

Ruqyah are of two types:

1) Ruqyah Ash Shar’eeya
2) Ruqyah Ash Shirkiyah

Ar-Ruqyah Ash Shar’eeyah : mentioned above, it has three conditions. Ibn Hajar (rahimuhullah) said there is a consensus on the using of Ruqyah if three conditions are met:

1) It must be with the speech of Allah (Qur’aan) and his names and attributes.

2) It must be in the Arabic language, or what is known to be its meaning in other languages.

3) To believe that Ruqyah has no benefit by itself, but the benefits are from Allah.

This type of Ruqyah is permissible and is the main subject of this topic.

Ar Ruqyah Ash Shirkiyah: this contradicts the conditions of Ruqyah Ash Shar’eeyah and has in it Shirk, associating partners with Allah. It leads a person to his destruction in this life and the next and increases calamities and sicknesses. This type of Ruqyah is prohibited, from the statement of the Prophet (saws) This type includes: Magic (whether learning, practicing, or teaching it), Fortune telling, Horoscopes, superstitious belief, and at-Tameemah ( charms and amulets).

Conditions of a person who treats with Ruqyah:

1) He must have the right belief in Allah (Based on Qur’aan, Sunnah, and keep away form Shirk, etc)

2) He must have sincerity in worshipping Allah and have a good intention in treating people

3) He must be firm in his obedience to Allah, and keep away form all that is forbidden

4) He must keep far away from all unlawful places and situations that canlead to what is forbidden, for example isolating himself with a female, etc.

5) He must guard the affairs of his patients and protect their secrets.

6) he must propagate the religion of Allah. Give the Patient advice and admontitions on the rights of Allah with regards to His commandments and prohibitions.

7) He should have knowledge about the affairs of the patient and sicknesses

8) He should have knowledge about the reality of Jinns (so as not to have them harm or threaten him while curing the patient)

Ibn Teen (Rahimuhullah) said:

“Treating with Muawwizaat, (Surah An-Naas, Al-Falaq, etc) and other forms, such as the names of Allah are medicine for the soul. So if these forms of treatment are on the tongueof the righteous, cure will be achieved bythe will of Allah.”

Conditions for the person (patient) recieving Ruqyah:

1) He must have complete belief that harm and benefit are only from Allah.

2) He must be patient. Continue reading

Konsep Syariat Tentang Jihad Memerangi Orang Kafir

kesatriaJihad sebagai satu amalan besar dan penting dalam islam dengan keutamaannya yang sangat banyak sekali tentunya menjadi harapan dan cita-cita seorang muslim. Oleh karena itu, sangat penting sekali setiap muslim mengetahui pengertian, ketentuan dan hukum-hukum serta syarat-syarat jihad yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar para salaf umat ini. Hal–hal ini menjadi penentu kesempurnaan jihad fi sabilillah dan diterimanya amalan tersebut, sehingga kita terhindari dari celaan Allah dalam firmanNya,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

“Katakanlah, apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)

Menganggap dirinya mati syahid padahal amalannya jauh dari kebenaran dan jauh dari aturan syariat Allah. Padahal sudah dimaklumi, amalan tidak diterima Allah sebagai amal sholih kecuali dengan dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti syariat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Renungkan kembali wahai orang yang berakal, agar kalian beruntung!!

Pengertian Jihad

Kata Jihad berasal dari kata Al Jahd (الجَهْد) dengan difathahkan huruf jim-nya yang bermakna kelelahan dan kesusahan atau dari Al Juhd (الجُهْد) dengan didhommahkan huruf jim-nya yang bermakna kemampuan. Kalimat (بَلَغَ جُهْدَهُ) bermakna mengeluarkan kemampuannya. Sehingga orang yang berjihad dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan untuk dzat Allah dan meninggikan kalimatNya yang menjadikannya sebagai cara dan jalan menuju surga. Dibalik jihad memerangi jiwa dan jihad dengan pedang, ada jihad hati yaitu jihad melawan syetan dan mencegah jiwa dari hawa nafsu dan syahwat yang diharamkan. Juga ada jihad dengan tangan dan lisan berupa amar ma’ruf nahi mungkar.[1]

Sedangkan Ibnu Rusyd (wafat tahun 595 H) menyatakan: Jihad dengan pedang adalah memerangi kaum musyrikin atas agama, sehingga semua orang yang menyusahkan dirinya untuk dzat Allah maka ia telah berjihad dijalan Allah, namun kata jihad fi sabilillah bila disebut begitu saja maka tidak terfahami kecuali untuk makna memerangi orang kafir dengan pedang sampai masuk islam atau memberikan upeti dalam keadaan rendah dan hina.[2]

Continue reading

TAFSIR : AL-KAHFI Ayat 1-10

Assalamu’alaikum Warrohmatulloh Wabarrokatuh.

1. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;(QS. 18:1)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Kahfi 1
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (1)
Dalam ayat ini Allah SWT memuji dirinya, sebab Dialah yang menurunkan Kitab Suci Alquran kepada Rasul saw, sedang Alquran itu adalah nikmat yang besar yang dianugerahkan Nya kepada umat manusia penghuni bumi ini. Bukankah Alquran itu yang mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang cerah? Alquran dijadikan Nya sebagai pedoman lurus dan jelas, lagi tidak terdapat padanya kesimpang siuran yang meragukan bahwa dia memberi petunjuk kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Bagian yang satu dari Alquran itu membenarkan dan mengukuhkan bagian yang lainnya, sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan. Nabi Muhammad saw sebagai seorang yang diserahi tugas untuk menerima amanat Nya membawa Alquran itu kepada umat manusia, disebut dalam ayat ini dengan kata “hamba Nya” adalah untuk menunjukkan kehormatan yang besar kepadanya, sebesar amanat yang dibebankan ke pundaknya, dan mengandung pula pengertian bahwa Muhammad yang menjadi utusan Allah Rabbul Alamin, tidak sebagaimana pandangan orang Nasrani terhadap Nabi Isa as.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Kahfi 1

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (1)
(Segala puji) Memuji ialah menyifati dengan yang baik, yang tetap (bagi Allah) Maha Tinggi Dia. Apakah yang dimaksud dengan Alhamdulillah ini bersifat pemberitahuan untuk diimani, atau dimaksudkan hanya untuk memuji kepada-Nya belaka, atau dimaksudkan untuk keduanya. Memang di dalam menanggapi masalah ini ada beberapa hipotesis, akan tetapi yang lebih banyak mengandung faedah adalah pendapat yang ketiga, yaitu untuk diimani dan sekaligus sebagai pujian kepada-Nya (yang telah menurunkan kepada hamba-Nya) yaitu Nabi Muhammad (Al-Kitab) Alquran (dan Dia tidak menjadikan padanya) di dalam Alquran (kebengkokan) perselisihan atau pertentangan. Jumlah kalimat Walam yaj’al lahu ‘iwajan berkedudukan menjadi Hal atau kata keterangan keadaan daripada lafal Al-Kitab.

Continue reading

Adakah Bid’ah Hasanah?

ulama-300x204Diskusi tentang pembagian ini telah mejadi perdebatan hangat antara ulama kita sejak dahulu hingga sekarang. Di antara mereka ada yang membagi bid’ah menjadi dua, yakni bid’ah hasanah dan dhalalah, sebagaimana pandangan Imam Asy Syafi’i dan pengikutnya, seperti Imam An Nawawi, Imam Abu Syamah.. Bahkan Imam Al ‘Izz bin Abdussalam  dan Imam An Nawawi membagi bid’ah menjadi lima, sebagaimana pembagian dalam ketentuan syara’, yakni bid’ah wajib, bid’ah sunah, bid’ah makruh, bid’ah haram, dan bid’ah mubah. Selain itu juga Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu Hazm, Imam Al Qarrafi dan Imam Az Zarqani.

Namun, tidak sedikit ulama yang menolak keras  pembagian itu, bagi mereka tidak ada bid’ah hasanah, apalagi hingga lima pembagian. Bagi mereka semua bid’ah adalah sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat). Mereka adalah Imam Malik, Imam Asy Syatibi, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Abu Bakar At Thurtusy, Imam al Baihaqi, Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Imam Al Aini, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Rajab, dan umumnya para ulama kontemporer, termasuk ulama moderat Syaikh Yusuf Al Qaradhawy.

Kelompok pertama, Para Ulama yang Mengakui adanya Bid’ah Hasanah

Para ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, bukan tanpa alas an. Di antara hujjah mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagai berikut:

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahaala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim, No. 1017, At tirmidzi No. 2675, An Nasa’i No. 2554, Ibnu Majah No. 203)

Imam Asy Syafi’i dan Imam As Suyuthi Rahimahumallah Continue reading

Sholat itu Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar

hakekat sholat
إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
sungguh, sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar

Lebih lengkapnya adalah sebagai berikut :

اتْلُ مَآ أُو حِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَاتَصْنَعُونَ {العنكبوت45}
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 29:45)


Segala puji bagi Allah Ta’ala, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in serta kepada siapa saja yang mengikuti jejak mereka sampai hari Qiyamat.
Qurthubi menyebutkan, dalam teks ayat tersebut Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW. dan kaum Muslimin, untuk membaca Al Qur’an dan berhukum dengannya. Kemudian menegakkan sholat dengan memperhatikan waktu, wudhu, bacaan, rukuk-sujud, tasyahud dan seluruh syarat-syarat sahnya sholat. Maksud sholat di situ adalah sholat wajib lima waktu yang Allah akan ampuni dosa-dosa hamba-Nya bila menegakkannya. Sebagaimana hadist Nabi yang dikeluarkan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah. Nabi bersabda : Apa pendapat anda jika ada orang mandi di sungai depan anda sebanyak lima kali sehari ? Apakah masih menempel di badanya itu kotoran ? Jawab para Sahabat, Tidak, tidak ada lagi kotoranya ( bersih betul ). Jawab Nabi, itulah contoh sholat lima waktu. Allah menghapus dosa dan kesalahan-kesalahan hamba-Nya. Continue reading

Makna Sabar

gambar sabar dan shalat sbg penolongDari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Sekilas Tentang Hadits

Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh :
– Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa’iq, Bab Al-Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999.
– Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits no 18455, 18360, 23406 & 23412.
– Diriwayatkan juga oleh Imam al-Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al-Riqaq, Bab Al-Mu’min Yu’jaru Fi Kulli Syai’, hadits no 2777.

Makna Hadits Secara Umum

Continue reading

TANDA-TANDA KEIKHLASAN

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Ikhlash adalah perkara hati, dan sulit dilihat oleh orang lain. Orang lain bisa menduga namun bisa juga salah paham. Dari luar bisa jadi perilakunya nampak ikhlas, namun bisa jadi perilakuk ikhlash itu ternyata sengaja dinampakkan agar disangka sebagai orang yang ikhlash. Sebaliknya, bisa jadi perillaku zhahirnya seolah seperti tidak ikhlash namun ternyata orang itu hatinya sangat ikhlash. Hanya diri sendiri dan Allah saja yang mengetahui apakah dirinya ikhlash atau tidak. Namun bukan berarti ikhlash itu sama sekali tidak ada tanda-tandanya dan berikut ini adalah tanda-tandanya :

1.       Tidak Terkecoh Dengan Pujian

Orang yang ikhlash tidak akan berusaha mencari pujian bahkan menghindari pujian karena khawatir akan mengotori hatinya dan merusak amal-amalnya.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : “Berbuatlah baik bukan kaena ingin dipuji, sebab siapa saja yang berbuat sesuatu selain untuk Allah, maka Allah akan menyerahkan nasibnya kepada apa atau siapa yang diharapkan pujian darinya”. (Nahjul Balaghoh Hal 45)

Oleh karena itu Rasulullah SAW memperingatkan agar kita tidak berlebihan memuji seoseorang  karena hal itu dapat merusak keikhlasan orang yang dipuji. Ini artinya kita menjerumuskan saudara kita ke dalam keburukan

Berhati-hatilah dalam memuji (yang berlebihan) sesungguhnya itu adalah penyembelihan (H.R. Bukhari)

Abu Bakar r.a. ketika mendapat pujian , ia menjadi takut akan apa yag dikatakan orang tentang dirinya. Lalu  ia pun segera berkata : “Aku lebih mengerti mengenai diriku dan Tuhanku lebih mengerti akan hal itu daripada diriku. Ya Allah, Ya Tuhanku jangan kau hukum aku disebabkan apa ya mereka katakan tentang diriku.Jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangka, dan ampunilah aku dari segala yang mereka tidak ketahui” (Atsar Riwayat Imam Ahmad Hal 40)

Ali bin Abi Thalib r.a. ketika mendapat pujian maka beliau berkata : “Sesungguhnya diriku berada di bawah apa yang Anda katakan dan di atas apa yang Anda sembunyikan dalam hati Anda “ (Nahjul Balaghoh Hal 126)

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (Q.S. Al-Insaan [76] : 9)

2.       Menjauhi Ketenaran

Para sahabat dan tabiin pada jaman dahulu sangat membenci ketenaran dan berusaha menghindar dari situasi yang bisa memberi peluang setan untuk meniupkan rasa ujub dan sombong.

Ibnu Mas’ud r.a. berkata : “Jadilah kalian nara sumber ilmu, pelita petunjuk, penerang rumah, obor di waktu malam dan pembaharu hati yang diketahui penduduk langit namun tidak dikenal penduduk bumi”.

Ibnu Muhairiz berkata : “Jika bisa hendaklah engkau mengenal tapi tidak dikenal, berjalan sendiri dan jangan mau diikuti, bertanyalah (menegur duluan) dan jangan ditanya (ditegur duluan)”.

Demikianlah para sahabat Rasulullah jaman dahulu lebih menyukai terkenal di kalangan penduduk langit ketimbang terkenal di kalangan penduduk bumi .

Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan di hadapan para ulama dan untuk diperdebatkan di kalanganorang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majleis dan untuk menarik perhatian orang kepadamu. Barang siapa seperti itu maka baginya neraka.. neraka” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ayyub As-Sakhtiyani melakukan suatu perjalanan, lalu ada beberapa orang yang mengelu-elukannya, maka Ayyub pun berkata : “seseorang tidak berniat secara benar karena Allah kecuali jika dia suka tidak merasakan kedudukan menjadi terkenal”.

Bisyr Al Hafy berkata : “Saya tidak mengenal orang yang suka ketenaran melainkan agama menjadi sirna dan dia menjadi hina

Berkata Imam Ahmad bin Hambal : “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Jika tidak maka aku akan ditimpa musibah ketenaran”. (As-Siyar 11/210).

Al Hasan Al Bashri pernah menceritakan mengenai Ibnul Mubarok. Suatu saat Ibnul Mubarok pernah datang ke tempat sumber air di mana orang-orang banyak yang menggunakannya untuk minum. Tatkala itu orang-orang pun tidak ada yang mengenal siapa Ibnul Mubarok. Orang-orang pun akhirnya saling berdesakan dengan beliau dan saling mendorong untuk mendapatkan air tersebut. Tatkala selesai dari  mendapatkan minuman, Ibnul Mubarok pun mengatakan pada Al Hasan Al Bashri, “Kehidupan memang seperti ini. Inilah yang terjadi jika kita tidak terkenal dan tidak dihormati.” Lihatlah Ibnul Mubarok, dia lebih senang kondisinya tidak tenar dan tidak menganggap hal itu sebagai masalah.( Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 284 dan 288) Continue reading

Tatsabbut dan Tabayyun

tabayyunTatsabbut sangat dibutuhkan di zaman yang penuh fitnah ini, Allah telah memerintahkan kita untuk tatsabbut, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al Hujurat : 6).

Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata,  “Yang dimaksud dengan tabayyun adalah memeriksa dengan teliti dan yang dimaksud dengan tatsabbut adalah berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, melihat dengan keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa dan kabar yang datang, sampai menjadi jelas dan terang baginya.” (Fathul Qadir, 5:65).

Ia adalah konsekwensi sikap Al Anah yang disebutkan dalam hadis: “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai oleh Allah yaitu Al Hilmu dan Al Anah.” (HR Muslim).

Continue reading