Menjalani Kehidupan di Dunia yang Sementara

الحمد لله, الحمد لله الذى افتتح أشهر الحجّ بشهر شوّال. وجعله متجرا لنيل الفضائل والإ فضال. فسبحان الّذى انفرد بصفات الكمال. أحمده سبحانه وتعالى حمدا كثيرا مباركا كما يحبّ ويرضى غير مستغنى عنه فى حال من الأ حوال. واشكره وأياده على شاكره دوال. واشهد انّ لا اله ا لاّ الله وحده لا شر يك له الكبير المتعال. وأشهد انّ محمّدا عـبده ورســوله الصّــادق الــمقال. اللّهــمّ صلّى وســلّم على عبدك ورسولك سيّدنا محمّد وعلى اله وصحبه خير صُحب وال. (امّا بعد) فيا ايّهاالنّاس. إتّقو الله تعالى واحذرو المعاصى فإنّها موجيبات للخسر ان .

world life

Hadirin sholat jum’at yang kami hormati.

Hiruk pikuk kehidupan manusia dengan segala aktifitas yang terus bergulir tanpa henti adalah yang sering menimbulkan hambatan yang melahirkan berbagai macam problema dan permasalahan bagi manusia di muka bumi ini, dan kadang pada akhirnya menimbulkan perasaan yang tidak tenang, ada yang terasa sempit dan menyebabkan seseorang hilang rasa tenang dan bahagia di dalam kehidupannya.

Karena itulah kelapangan dada dan ketenangan hati merupakan salah satu nikmat dan merupakan dambaan setiap insan yang ingin hidup di dunia dalam keadaaan baik dan penuh anugrah serta kebarokahan dari Allah.

Sungguh di dalam syriat islam telah diterangkan oleh Allah sebab-sebab yang menyebabkan seorang hamba memiliki hati yang lapang dan bersinar dan akhirnya dada seorang hamba menjadi lapang, sunguh Allah telah menyebutkan hal ini sebagai nikmat yang besar yang Allah ingatkan kepada NabiNya bahwa itu adalah anugrah dan nikmat yang diberikan kepadanya,Allah berfirman:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah aku telah melapangkan dadamu(wahai rosul/muhamad)” (QS. Al insyiroh:1)

Yaitu bukankah Kami telah membuat di dalamnya lapang, terus bercahaya dan bersinar penuh dengan ketenangan dan kesejukan dan ini adalah nikmat yang sangat agung dan luar biasa karena pentingnya nikmat ini dalam kehidupan, bahkan ini adalah permohonan Nabi Musa kepada Allah setelah beliau diangkat menjadi rosul yang diutus menuju Fir’aun, beliau berdoa yang diterangkan dalam surat Thaha:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (25) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (26

“Wahai tuhanku, lapangkanlah dadaku dan jadikanlah perkaraku menjadi mudah”

Maka kita bisa memahami besarnya nikmat ini, dan Alqur’an serta Sunah menjelaskan sejumlah sebab yang mengantarkan hamba kedalam ketenangan hati kelapangannya dan bersinarnya hati tersebut, diantaranya Allah berfirman:

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإِسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّن رَّبِّه

“Bukankah seseorang yang yang hatinya lapang di dalam menerima islam maka hati itu terus menerus berada dalam cahaya dari robbnya.” (QS. Zumar: 22)

Juga firmanNya:

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُون

“Barang siapa yang dikehendaki Allah mendapat petunjuk maka Allah melapangkan dadanya menerima islam, dan barang siapa yang Allah kehendaki kesesatan maka Allah akan menjadilkan hatinya berat dan sempit seakan-akan seolah dia mendaki langit, dan demikianlah Allah menjadikan kehinaan kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am: 125) Continue reading

Qadha’ dan Takdir dari Sisi Kehendak Allah Swt.

bahteraQadha’ dan takdir dari sisi kehendak Allah Swt. terbagi menjadi dua sudut pandang. Yang pertama, kehendak yang telah tertuang di dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sesungguhnya kalimat Syâ-a, Yasyâ-u, Masyî-atan mempunyai makna kehendak, dan redaksi ini banyak disebutkan melalui firman Allah Swt. di dalam Al-Qur’an. Adapun hubungan kata kehendak Allah Swt. dengan takdir sangatlah erat kaitannya.

Sesungguhnya kehendak Allah Swt. adalah asal mula terjadinya atau timbulnya segala sesuatu. Ayat Al-Qur’an banyak menyebutkan hakikat tersebut di dalam beberapa firman Allah Swt. berikut ini, “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini esok pagi, kecuali –dengan menyebut– insya Allah.[1] Dan segera ingatlah kepada Rabbmu jika engkau lupa, lalu katakanlah, ‘Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini,’” (QS Al-Kahfi [18]: 23-24).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, siapa saja yang berencana melakukan sesuatu esok hari, maka janganlah ia hanya mengandalkan keinginannya saja tanpa bersandar kepada kekuatan dan izin dari sisi Allah. Sebab, kita semua tidak dapat berbuat sesuatu apa pun jika tidak dikehendaki oleh Allah Swt.. Oleh karena itu, setiap orang harus mengerti bahwa segala sesuatu yang dikehendakinya sangat erat hubungannya dengan ketetapan Allah Swt.. Sehubungan dengan masalah ini, Rasulullah Saw. pernah mengajarkan kepada kita, seperti yang disebutkan dalam sabda beliau berikut ini, “Abu Hurairah ra. menuturkan, Sulaiman bin Daud as. pernah mengatakan, ‘Pada malam ini aku akan menggauli seratus orang istriku, agar setiap orang di antara mereka melahirkan seorang anak yang dapat berperang di jalan Allah.’ Malaikat pun berujar kepada beliau, ‘Katakanlah Insya Allah.’ Akan tetapi, Nabi Sulaiman tidak mengatakannya, karena beliau terlupa. Maka beliau menggauli seratus orang istri beliau satu per satu pada malam itu, akan tetapi tidak seorang pun dari istri beliau yang berhasil melahirkan keturunan, kecuali seorang istri yang melahirkan seorang anak dalam kondisi cacat. Nabi Saw. pun mengatakan, ‘Andaikata beliau (Sulaiman) mengucapkan kalimat Insya Allah, maka apa yang ia rencanakan (kehendaki) akan terpenuhi.”[2] Continue reading

Jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu

alhadid22_23Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat dan menakdirkan segala sesuatu dengan penuh hikmah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Di pagi yang berbahagia, di bulan penuh berkah dan bulan semangat untuk mentadabburi Al Qur’an, ada sebuah ayat yang patut direnungkan oleh kita bersama. Ayat tersebut terdapat dalam surat Al Hadid, tepatnya ayat 22-23. Inilah yang seharusnya kita gali hari demi hari di bulan suci ini. Karena merenungkan Al Qur’an, meyakini dan mengamalkannya tentu lebih utama daripada sekedar membaca dan tidak memahami artinya.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 22-23)

Continue reading

HIDUP BERMANFAAT

Akhlaqul-Karimah

MANUSIA TERBAIK DALAM ISLAM ?

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. (QS. Al Bayyinah: 7)

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285).

Muqaddimah

Menarik sekali, banyak tulisan yang membahas pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat. Mengapa banyak orang yang tertarik tentang bahasan ini, sebab ini salah satu perintah Rasulullah saw kepada umatnya. Sabda beliau:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Seorang Muslim lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain. Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi.

Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta’ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imran: 110)

Continue reading

MEMOHON PERLINDUNGAN DAN PERTOLONGAN ALLAH

kemudahanUst. DR. Attabik Lutfi, MA

Kemuliaan seseorang adalah manakala Allah Ta’ala memberikan kemudahan dan taufiq kepadanya untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya. Selanjutnya, kita akan membahas sebuah ikrar yang selalu kita lafadzkan dalam setiap shalat kita, yaitu ayat:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ{5}

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. (Al Fatihah: 5)

Apa Perbedaan Antara Pertolongan Dan Perlindungan?

Pertolongan adalah sesuatu yang Allah anugerahkan ditengah-tengah kita mendapatkan masalah. Sedangkan perlindungan adalah sebelum terjadinya sesuatu, kita memohon perlindungan.

Kita jadikan shalat malam sebagai media agar Allah memberikan perlindungan untuk esok hari sebelum menjalankan aktivitas. Dan saat kita beraktivitas lalu mendapatkan problem atau masalah maka Allah turunkan pertolongan-Nya. Tetapi yang ditekankan disini adalah perintah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga mendapatkan jaminan-Nya. Dan tidak serta merta ketika sudah meminta perlindungan Allah, seluruh urusan kita lancar dan tidak ada masalah, namun terkadang kita mendapatkan masalah untuk menguji kesungguhan iman. Saat itulah kita membutuhkan pertolongan Allah Ta’ala.

Continue reading

Ruqyah – Spiritual Healing

al-quranRuqyah is commonly translated in English as “incantation” which carries a negative meaning, since the word incantation is usually associated with magic, spells, and witchcraft. However, Ruqyah in Islam is the recitation of Qur’an, seeking of refuge, remembrance and supplications that are used as a means of treating sicknesses and other problems.)

Ruqyah are of two types:

1) Ruqyah Ash Shar’eeya
2) Ruqyah Ash Shirkiyah

Ar-Ruqyah Ash Shar’eeyah : mentioned above, it has three conditions. Ibn Hajar (rahimuhullah) said there is a consensus on the using of Ruqyah if three conditions are met:

1) It must be with the speech of Allah (Qur’aan) and his names and attributes.

2) It must be in the Arabic language, or what is known to be its meaning in other languages.

3) To believe that Ruqyah has no benefit by itself, but the benefits are from Allah.

This type of Ruqyah is permissible and is the main subject of this topic.

Ar Ruqyah Ash Shirkiyah: this contradicts the conditions of Ruqyah Ash Shar’eeyah and has in it Shirk, associating partners with Allah. It leads a person to his destruction in this life and the next and increases calamities and sicknesses. This type of Ruqyah is prohibited, from the statement of the Prophet (saws) This type includes: Magic (whether learning, practicing, or teaching it), Fortune telling, Horoscopes, superstitious belief, and at-Tameemah ( charms and amulets).

Conditions of a person who treats with Ruqyah:

1) He must have the right belief in Allah (Based on Qur’aan, Sunnah, and keep away form Shirk, etc)

2) He must have sincerity in worshipping Allah and have a good intention in treating people

3) He must be firm in his obedience to Allah, and keep away form all that is forbidden

4) He must keep far away from all unlawful places and situations that canlead to what is forbidden, for example isolating himself with a female, etc.

5) He must guard the affairs of his patients and protect their secrets.

6) he must propagate the religion of Allah. Give the Patient advice and admontitions on the rights of Allah with regards to His commandments and prohibitions.

7) He should have knowledge about the affairs of the patient and sicknesses

8) He should have knowledge about the reality of Jinns (so as not to have them harm or threaten him while curing the patient)

Ibn Teen (Rahimuhullah) said:

“Treating with Muawwizaat, (Surah An-Naas, Al-Falaq, etc) and other forms, such as the names of Allah are medicine for the soul. So if these forms of treatment are on the tongueof the righteous, cure will be achieved bythe will of Allah.”

Conditions for the person (patient) recieving Ruqyah:

1) He must have complete belief that harm and benefit are only from Allah.

2) He must be patient. Continue reading

Konsep Syariat Tentang Jihad Memerangi Orang Kafir

kesatriaJihad sebagai satu amalan besar dan penting dalam islam dengan keutamaannya yang sangat banyak sekali tentunya menjadi harapan dan cita-cita seorang muslim. Oleh karena itu, sangat penting sekali setiap muslim mengetahui pengertian, ketentuan dan hukum-hukum serta syarat-syarat jihad yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar para salaf umat ini. Hal–hal ini menjadi penentu kesempurnaan jihad fi sabilillah dan diterimanya amalan tersebut, sehingga kita terhindari dari celaan Allah dalam firmanNya,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

“Katakanlah, apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)

Menganggap dirinya mati syahid padahal amalannya jauh dari kebenaran dan jauh dari aturan syariat Allah. Padahal sudah dimaklumi, amalan tidak diterima Allah sebagai amal sholih kecuali dengan dua syarat yaitu ikhlas dan mengikuti syariat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Renungkan kembali wahai orang yang berakal, agar kalian beruntung!!

Pengertian Jihad

Kata Jihad berasal dari kata Al Jahd (الجَهْد) dengan difathahkan huruf jim-nya yang bermakna kelelahan dan kesusahan atau dari Al Juhd (الجُهْد) dengan didhommahkan huruf jim-nya yang bermakna kemampuan. Kalimat (بَلَغَ جُهْدَهُ) bermakna mengeluarkan kemampuannya. Sehingga orang yang berjihad dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan untuk dzat Allah dan meninggikan kalimatNya yang menjadikannya sebagai cara dan jalan menuju surga. Dibalik jihad memerangi jiwa dan jihad dengan pedang, ada jihad hati yaitu jihad melawan syetan dan mencegah jiwa dari hawa nafsu dan syahwat yang diharamkan. Juga ada jihad dengan tangan dan lisan berupa amar ma’ruf nahi mungkar.[1]

Sedangkan Ibnu Rusyd (wafat tahun 595 H) menyatakan: Jihad dengan pedang adalah memerangi kaum musyrikin atas agama, sehingga semua orang yang menyusahkan dirinya untuk dzat Allah maka ia telah berjihad dijalan Allah, namun kata jihad fi sabilillah bila disebut begitu saja maka tidak terfahami kecuali untuk makna memerangi orang kafir dengan pedang sampai masuk islam atau memberikan upeti dalam keadaan rendah dan hina.[2]

Continue reading

Makna Sabar

gambar sabar dan shalat sbg penolongDari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Sekilas Tentang Hadits

Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh :
– Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa’iq, Bab Al-Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999.
– Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits no 18455, 18360, 23406 & 23412.
– Diriwayatkan juga oleh Imam al-Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al-Riqaq, Bab Al-Mu’min Yu’jaru Fi Kulli Syai’, hadits no 2777.

Makna Hadits Secara Umum

Continue reading

TANDA-TANDA KEIKHLASAN

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Image

Ikhlash adalah perkara hati, dan sulit dilihat oleh orang lain. Orang lain bisa menduga namun bisa juga salah paham. Dari luar bisa jadi perilakunya nampak ikhlas, namun bisa jadi perilakuk ikhlash itu ternyata sengaja dinampakkan agar disangka sebagai orang yang ikhlash. Sebaliknya, bisa jadi perillaku zhahirnya seolah seperti tidak ikhlash namun ternyata orang itu hatinya sangat ikhlash. Hanya diri sendiri dan Allah saja yang mengetahui apakah dirinya ikhlash atau tidak. Namun bukan berarti ikhlash itu sama sekali tidak ada tanda-tandanya dan berikut ini adalah tanda-tandanya :

1.       Tidak Terkecoh Dengan Pujian

Orang yang ikhlash tidak akan berusaha mencari pujian bahkan menghindari pujian karena khawatir akan mengotori hatinya dan merusak amal-amalnya.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : “Berbuatlah baik bukan kaena ingin dipuji, sebab siapa saja yang berbuat sesuatu selain untuk Allah, maka Allah akan menyerahkan nasibnya kepada apa atau siapa yang diharapkan pujian darinya”. (Nahjul Balaghoh Hal 45)

Oleh karena itu Rasulullah SAW memperingatkan agar kita tidak berlebihan memuji seoseorang  karena hal itu dapat merusak keikhlasan orang yang dipuji. Ini artinya kita menjerumuskan saudara kita ke dalam keburukan

Berhati-hatilah dalam memuji (yang berlebihan) sesungguhnya itu adalah penyembelihan (H.R. Bukhari)

Abu Bakar r.a. ketika mendapat pujian , ia menjadi takut akan apa yag dikatakan orang tentang dirinya. Lalu  ia pun segera berkata : “Aku lebih mengerti mengenai diriku dan Tuhanku lebih mengerti akan hal itu daripada diriku. Ya Allah, Ya Tuhanku jangan kau hukum aku disebabkan apa ya mereka katakan tentang diriku.Jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangka, dan ampunilah aku dari segala yang mereka tidak ketahui” (Atsar Riwayat Imam Ahmad Hal 40)

Ali bin Abi Thalib r.a. ketika mendapat pujian maka beliau berkata : “Sesungguhnya diriku berada di bawah apa yang Anda katakan dan di atas apa yang Anda sembunyikan dalam hati Anda “ (Nahjul Balaghoh Hal 126)

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (Q.S. Al-Insaan [76] : 9)

2.       Menjauhi Ketenaran

Para sahabat dan tabiin pada jaman dahulu sangat membenci ketenaran dan berusaha menghindar dari situasi yang bisa memberi peluang setan untuk meniupkan rasa ujub dan sombong.

Ibnu Mas’ud r.a. berkata : “Jadilah kalian nara sumber ilmu, pelita petunjuk, penerang rumah, obor di waktu malam dan pembaharu hati yang diketahui penduduk langit namun tidak dikenal penduduk bumi”.

Ibnu Muhairiz berkata : “Jika bisa hendaklah engkau mengenal tapi tidak dikenal, berjalan sendiri dan jangan mau diikuti, bertanyalah (menegur duluan) dan jangan ditanya (ditegur duluan)”.

Demikianlah para sahabat Rasulullah jaman dahulu lebih menyukai terkenal di kalangan penduduk langit ketimbang terkenal di kalangan penduduk bumi .

Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan di hadapan para ulama dan untuk diperdebatkan di kalanganorang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majleis dan untuk menarik perhatian orang kepadamu. Barang siapa seperti itu maka baginya neraka.. neraka” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ayyub As-Sakhtiyani melakukan suatu perjalanan, lalu ada beberapa orang yang mengelu-elukannya, maka Ayyub pun berkata : “seseorang tidak berniat secara benar karena Allah kecuali jika dia suka tidak merasakan kedudukan menjadi terkenal”.

Bisyr Al Hafy berkata : “Saya tidak mengenal orang yang suka ketenaran melainkan agama menjadi sirna dan dia menjadi hina

Berkata Imam Ahmad bin Hambal : “Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Jika tidak maka aku akan ditimpa musibah ketenaran”. (As-Siyar 11/210).

Al Hasan Al Bashri pernah menceritakan mengenai Ibnul Mubarok. Suatu saat Ibnul Mubarok pernah datang ke tempat sumber air di mana orang-orang banyak yang menggunakannya untuk minum. Tatkala itu orang-orang pun tidak ada yang mengenal siapa Ibnul Mubarok. Orang-orang pun akhirnya saling berdesakan dengan beliau dan saling mendorong untuk mendapatkan air tersebut. Tatkala selesai dari  mendapatkan minuman, Ibnul Mubarok pun mengatakan pada Al Hasan Al Bashri, “Kehidupan memang seperti ini. Inilah yang terjadi jika kita tidak terkenal dan tidak dihormati.” Lihatlah Ibnul Mubarok, dia lebih senang kondisinya tidak tenar dan tidak menganggap hal itu sebagai masalah.( Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 284 dan 288) Continue reading

Tatsabbut dan Tabayyun

tabayyunTatsabbut sangat dibutuhkan di zaman yang penuh fitnah ini, Allah telah memerintahkan kita untuk tatsabbut, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian orang fasiq dengan membawa berita, maka periksalah dahulu dengan teliti, agar kalian tidak menuduh suatu kaum dengan kebodohan, lalu kalian menyesal akibat perbuatan yang telah kalian lakukan.” (QS. Al Hujurat : 6).

Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata,  “Yang dimaksud dengan tabayyun adalah memeriksa dengan teliti dan yang dimaksud dengan tatsabbut adalah berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, melihat dengan keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa dan kabar yang datang, sampai menjadi jelas dan terang baginya.” (Fathul Qadir, 5:65).

Ia adalah konsekwensi sikap Al Anah yang disebutkan dalam hadis: “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai oleh Allah yaitu Al Hilmu dan Al Anah.” (HR Muslim).

Continue reading