Menjalani Kehidupan di Dunia yang Sementara

الحمد لله, الحمد لله الذى افتتح أشهر الحجّ بشهر شوّال. وجعله متجرا لنيل الفضائل والإ فضال. فسبحان الّذى انفرد بصفات الكمال. أحمده سبحانه وتعالى حمدا كثيرا مباركا كما يحبّ ويرضى غير مستغنى عنه فى حال من الأ حوال. واشكره وأياده على شاكره دوال. واشهد انّ لا اله ا لاّ الله وحده لا شر يك له الكبير المتعال. وأشهد انّ محمّدا عـبده ورســوله الصّــادق الــمقال. اللّهــمّ صلّى وســلّم على عبدك ورسولك سيّدنا محمّد وعلى اله وصحبه خير صُحب وال. (امّا بعد) فيا ايّهاالنّاس. إتّقو الله تعالى واحذرو المعاصى فإنّها موجيبات للخسر ان .

world life

Hadirin sholat jum’at yang kami hormati.

Hiruk pikuk kehidupan manusia dengan segala aktifitas yang terus bergulir tanpa henti adalah yang sering menimbulkan hambatan yang melahirkan berbagai macam problema dan permasalahan bagi manusia di muka bumi ini, dan kadang pada akhirnya menimbulkan perasaan yang tidak tenang, ada yang terasa sempit dan menyebabkan seseorang hilang rasa tenang dan bahagia di dalam kehidupannya.

Karena itulah kelapangan dada dan ketenangan hati merupakan salah satu nikmat dan merupakan dambaan setiap insan yang ingin hidup di dunia dalam keadaaan baik dan penuh anugrah serta kebarokahan dari Allah.

Sungguh di dalam syriat islam telah diterangkan oleh Allah sebab-sebab yang menyebabkan seorang hamba memiliki hati yang lapang dan bersinar dan akhirnya dada seorang hamba menjadi lapang, sunguh Allah telah menyebutkan hal ini sebagai nikmat yang besar yang Allah ingatkan kepada NabiNya bahwa itu adalah anugrah dan nikmat yang diberikan kepadanya,Allah berfirman:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah aku telah melapangkan dadamu(wahai rosul/muhamad)” (QS. Al insyiroh:1)

Yaitu bukankah Kami telah membuat di dalamnya lapang, terus bercahaya dan bersinar penuh dengan ketenangan dan kesejukan dan ini adalah nikmat yang sangat agung dan luar biasa karena pentingnya nikmat ini dalam kehidupan, bahkan ini adalah permohonan Nabi Musa kepada Allah setelah beliau diangkat menjadi rosul yang diutus menuju Fir’aun, beliau berdoa yang diterangkan dalam surat Thaha:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (25) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (26

“Wahai tuhanku, lapangkanlah dadaku dan jadikanlah perkaraku menjadi mudah”

Maka kita bisa memahami besarnya nikmat ini, dan Alqur’an serta Sunah menjelaskan sejumlah sebab yang mengantarkan hamba kedalam ketenangan hati kelapangannya dan bersinarnya hati tersebut, diantaranya Allah berfirman:

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإِسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّن رَّبِّه

“Bukankah seseorang yang yang hatinya lapang di dalam menerima islam maka hati itu terus menerus berada dalam cahaya dari robbnya.” (QS. Zumar: 22)

Juga firmanNya:

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُون

“Barang siapa yang dikehendaki Allah mendapat petunjuk maka Allah melapangkan dadanya menerima islam, dan barang siapa yang Allah kehendaki kesesatan maka Allah akan menjadilkan hatinya berat dan sempit seakan-akan seolah dia mendaki langit, dan demikianlah Allah menjadikan kehinaan kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am: 125) Continue reading

Meraih Keberkahan Hidup

sujud“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf [7]: 96).

Siapa yang tidak menginginkan keberkahan? Hampir setiap hari; ketika makan, shalat, bahkan ketika memberikan doa untuk rekan yang akan melangsungkan pernikahan, doa keberkahan yang kita panjatkan. Demikian pula pada aktivitas yang lain, kita kerap bermohon limpahan keberkahan

Lantas apa itu berkah? Al-Barakah arti asalnya adalah ziyadatul khair (tambahan kebaikan). Ilmu yang berkah adalah ilmu bermanfaat yang membela pemiliknya di hari akhir (hujjatun lahu). Jika diamalkan dan diajarkan kepada orang lain, kemudian orang pertama mengajak orang lain untuk beramal, maka pengajar pertama akan selalu mendapat kiriman pahala dari orang-orang yang diajar. Dan semakin banyak orang yang mengikuti jejaknya, semakin berlimpah pula pahala yang akan diterima. Continue reading

Qadha’ dan Takdir dari Sisi Kehendak Allah Swt.

bahteraQadha’ dan takdir dari sisi kehendak Allah Swt. terbagi menjadi dua sudut pandang. Yang pertama, kehendak yang telah tertuang di dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sesungguhnya kalimat Syâ-a, Yasyâ-u, Masyî-atan mempunyai makna kehendak, dan redaksi ini banyak disebutkan melalui firman Allah Swt. di dalam Al-Qur’an. Adapun hubungan kata kehendak Allah Swt. dengan takdir sangatlah erat kaitannya.

Sesungguhnya kehendak Allah Swt. adalah asal mula terjadinya atau timbulnya segala sesuatu. Ayat Al-Qur’an banyak menyebutkan hakikat tersebut di dalam beberapa firman Allah Swt. berikut ini, “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini esok pagi, kecuali –dengan menyebut– insya Allah.[1] Dan segera ingatlah kepada Rabbmu jika engkau lupa, lalu katakanlah, ‘Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini,’” (QS Al-Kahfi [18]: 23-24).

Maksud dari firman Allah Swt. di atas adalah, siapa saja yang berencana melakukan sesuatu esok hari, maka janganlah ia hanya mengandalkan keinginannya saja tanpa bersandar kepada kekuatan dan izin dari sisi Allah. Sebab, kita semua tidak dapat berbuat sesuatu apa pun jika tidak dikehendaki oleh Allah Swt.. Oleh karena itu, setiap orang harus mengerti bahwa segala sesuatu yang dikehendakinya sangat erat hubungannya dengan ketetapan Allah Swt.. Sehubungan dengan masalah ini, Rasulullah Saw. pernah mengajarkan kepada kita, seperti yang disebutkan dalam sabda beliau berikut ini, “Abu Hurairah ra. menuturkan, Sulaiman bin Daud as. pernah mengatakan, ‘Pada malam ini aku akan menggauli seratus orang istriku, agar setiap orang di antara mereka melahirkan seorang anak yang dapat berperang di jalan Allah.’ Malaikat pun berujar kepada beliau, ‘Katakanlah Insya Allah.’ Akan tetapi, Nabi Sulaiman tidak mengatakannya, karena beliau terlupa. Maka beliau menggauli seratus orang istri beliau satu per satu pada malam itu, akan tetapi tidak seorang pun dari istri beliau yang berhasil melahirkan keturunan, kecuali seorang istri yang melahirkan seorang anak dalam kondisi cacat. Nabi Saw. pun mengatakan, ‘Andaikata beliau (Sulaiman) mengucapkan kalimat Insya Allah, maka apa yang ia rencanakan (kehendaki) akan terpenuhi.”[2] Continue reading

Karakteristik Orang Bertaqwa, Kajian Al-Baqarah 1-5

petunjuk

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الٓمٓ (١) ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ (٢) ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ (٣) وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ (٤) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ عَلَىٰ هُدً۬ى مِّن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (٥)

Artinya: “Alif Laam Miim (1); Kitab ini tidak ada yang diragukan, petunjuk bagi mereka yang bertakwa (2); Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, menegakkan shalat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan (3); Mereka juga beriman kepada kitab yang Kami turunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelum kamu, mereka juga yakin akan datangnya hari Akhirat (4); Mereka itulah yang berada pada petunjuk Allah dan merekalah orang-orang yang berbahagia”. (5) (Q.S. Al-Baqarah [2]: 1-5)

Ayat pertama diawali dengan kalimat “Alif lam mim” (الٓمٓ), adalah huruf abjad yang terletak pada permulaan surat, karena itulah huruf-huruf tersebut dinamakan juga fawatihus-suwar (pembuka surat-surat).

Dalam Al-Quran terdapat beberapa jenis fawatihus-suwar yang berbeda-beda. Di antaranya terdiri dari satu huruf, seperti terdapat pada permulaan surat-surat : SadQaf, Nun (Al-Qalam). Ada juga yang terdiri dari dua huruf, seperti : Ha Mim, Ya Sin, Ta Ha. Ada pula yang tiga huruf yaitu ‘Ain Sin, Qaf. Alif Lam Ra,Ta Sin Mim, termasuk Alim Laf Mim. Ada yang empat huruf: Alif Lam Mim Sad, Alif Lam Mim Ra. Dan lima huruf: Kaf Ha Ya A’in Sad.

Huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al-Quran seperti itu, di antara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah, karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya.

Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar, supaya memperhatikan Al-Quran itu, atau untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad.

Ibnu Abbas berpendapat bahwa ketiga huruf itu adalah isyarat kepada tiga nama: Alif untuk nama Allah; Lam untuk Jibril dan Mim untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Syaikh As Sa’diy berpendapat bahwa yang lebih selamat adalah tidak mencari-cari maksudnya, yang pasti Allah tidaklah menurunkan begitu saja tanpa ada hikmah di balik itu, hanya saja kita tidak mengetahui.

As-Sa’di, pakar tafsir kontemporer menyimpulan, “ Tidak perlu dibahas lebih lanjut karena tidak adanya berita valid dengan menyakinkan bahwa Allah tidak mungkin bergurau dan pasti ada hikmah di balik itu.”

Imam Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa huruf-huruf tersebut mempunyai makna tanbih (peringatan), untuk membangkitkan perhatian orang, sehingga mudah dipahami apa yang akan disampaikan kepadanya.

Al-Kitab (ٱلۡڪِتَـٰبُ), adalah bentuk masdar, dengan arti al-Maktub (yang tertulis). Ini merupakan isim isyarah (kata petunjuk). Dzalika (itu), yang biasanya dipergunakan untuk benda, waktu atau hal yang jauh, padahal Kitab yang ditunjuk adalah dekat, mengandung makna pengagungan dan pemuliaan terhadap al-Kitab tersebut adalah suci yang diterima dari Allah.

Dimaksudkan dengan al-Kitab pada ayat tersebut, ialah al-Kitab yang dikenal oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu Al-Quran. Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.

Pada ayat tersebut ditegaskan bahwa tidak diragukan baik tentang diturunkannya dari Allah maupun tentang hidayahnya bagi seluruh manusia, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

تَنزِيلُ ٱلۡڪِتَـٰبِ لَا رَيۡبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ

Artinya: “Turunnya Al-Qur’an yang tidak ada keraguan di dalamnya, (adalah) dari Tuhan semesta alam”. (Q.S. As-Sajdah [32]: 2). Continue reading

Memahami Allah Maha Pemberi Rizki

asmaul-husna arrazzaq

Kita telah mengetahui bahwa Allah satu-satunya pemberi rizki. Rizki sifatnya umum, yaitu segala sesuatu yang dimiliki hamba, baik berupa makanan dan selain itu. Dengan kehendak-Nya, kita bisa merasakan berbagai nikmat rizki, makan, harta dan lainnya. Namun mengapa sebagian orang sulit menyadari sehingga hatinya pun bergantung pada selain Allah. Lihatlah di masyarakat kita bagaimana sebagian orang mengharap-harap agar warungnya laris dengan memasang berbagai penglaris. Agar bisnis komputernya berjalan mulus, ia datang ke dukun dan minta wangsit, yaitu apa yang mesti ia lakukan untuk memperlancar bisnisnya dan mendatangkan banyak konsumen. Semuanya ini bisa terjadi karena kurang menyadari akan pentingnya aqidah dan tauhid, terurama karena tidak merenungkan dengan baik nama Allah “Ar Rozzaq” (Maha Pemberi Rizki).

Allah Satu-Satunya Pemberi Rizki

Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya pemberi rizki, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu. Karena Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24)

Tidak ada yang berserikat dengan Allah dalam memberi rizki. Oleh karena itu, tidak pantas Allah disekutukan dalam ibadah, tidak pantas Allah disembah dan diduakan dengan selain. Dalam lanjutan surat Fathir, Allah Ta’ala berfirman,

لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah; maka mengapakah engkau bisa berpaling (dari perintah beribadah kepada Allah semata)?” (QS. Fathir: 3)

Selain Allah sama sekali tidak dapat memberi rizki. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ شَيْئًا وَلَا يَسْتَطِيعُونَ

Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun).” (QS. An Nahl: 73)

Continue reading

Jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu

alhadid22_23Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat dan menakdirkan segala sesuatu dengan penuh hikmah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Di pagi yang berbahagia, di bulan penuh berkah dan bulan semangat untuk mentadabburi Al Qur’an, ada sebuah ayat yang patut direnungkan oleh kita bersama. Ayat tersebut terdapat dalam surat Al Hadid, tepatnya ayat 22-23. Inilah yang seharusnya kita gali hari demi hari di bulan suci ini. Karena merenungkan Al Qur’an, meyakini dan mengamalkannya tentu lebih utama daripada sekedar membaca dan tidak memahami artinya.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 22-23)

Continue reading

Berhias dengan Akhlak Mulia Bagian dari Prinsip Beragama

akhlaq

Bila menelisik perjalanan sejarah umat manusia di masa jahiliah, niscaya akan didapati potret kehidupan yang multikrisis. Sebuah tatanan kehidupan di mana umat manusianya dirundung kegalauan spiritual dan kepincangan intelektual.

Tingkah polahnya sangat jauh dari norma-norma agama yang luhur dan fitrah suci. Sementara corak kehidupannya adalah kebejatan akhlak dan dekadensi moral. Sehingga kesyirikan –yang merupakan dosa paling besar di sisi Allah swt– merajalela. Demikian halnya dengan pembunuhan, kezaliman, perzinaan dan berbagai macam bentuk perbuatan amoral (kemaksiatan) lainnya. Semuanya berjalan mengiringi derap langkah kehidupan mereka. Tak ayal bila masa itu kemudian dikenal dengan masa jahiliah.

Di kala umat manusia berada dalam kebingungannya, norma agama dan fitrah suci hanya sebatas fatamorgana, datanglah Muhammad bin Abdullah saw seorang Nabi dan Rasul yang didamba, membawa petunjuk ilahi dan agama yang benar (Islam) serta kitab suci Al-Qur`an yang mulia. Dengan sebuah misi utama; mengentaskan umat manusia dari jurang kejahiliahan yang gelap gulita menuju cahaya Islam yang terang benderang dengan seizin-Nya. Tak heran, bila risalah beliau saw kemudian menjadi rahmat bagi alam semesta. Allah swt berfirman:

“Dialah (Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar Allah memenangkan agama tersebut atas semua agama yang ada, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (Ash-Shaff: 9)
“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari Al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (Al-Qur`an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma`idah: 15-16)
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta.” (Al-Anbiya`: 107)
Beruntunglah orang-orang yang mendapatkan hidayah ilahi dengan dilapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam secara sempurna, dengan meniti jejak Rasulullah saw dan para sahabatnya. Allah swt berfirman:“Barangsiapa dikehendaki Allah untuk mendapatkan hidayah-Nya, niscaya Allah melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. Dan inilah jalan Rabb-mu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) di sisi Rabb mereka dan Dialah pelindung mereka disebabkan amalan-amalan shalih yang selalu mereka kerjakan.” (Al-An’am: 125-127)
Islam Selalu Memerhatikan Prinsip Keilmuan dan Tazkiyatun Nufus (Penyucian Jiwa)
Islam yang dibawa Rasulullah n ini adalah agama yang sempurna dan paripurna. Syariatnya yang senantiasa relevan sepanjang masa benar-benar menyinari segala sudut kehidupan umat manusia. Tak hanya wacana keilmuan semata yang dipancarkannya, misi tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dari berbagai macam akhlak tercela (amoral) pun berjalan seiring dengan misi keilmuan tersebut dalam mengawal umat manusia menuju puncak kemuliaannya. Allah swt berfirman:
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur`an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Jumu’ah: 2-3)
Dalam haditsnya yang mulia, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ
“Sungguh aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak (budi pekerti) umat manusia.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Ahmad, dan Al-Hakim, dari sahabat Abu Hurairah ra. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 45)

HIDUP BERMANFAAT

Akhlaqul-Karimah

MANUSIA TERBAIK DALAM ISLAM ?

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. (QS. Al Bayyinah: 7)

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285).

Muqaddimah

Menarik sekali, banyak tulisan yang membahas pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat. Mengapa banyak orang yang tertarik tentang bahasan ini, sebab ini salah satu perintah Rasulullah saw kepada umatnya. Sabda beliau:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Seorang Muslim lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain. Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi.

Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta’ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imran: 110)

Continue reading

MEMOHON PERLINDUNGAN DAN PERTOLONGAN ALLAH

kemudahanUst. DR. Attabik Lutfi, MA

Kemuliaan seseorang adalah manakala Allah Ta’ala memberikan kemudahan dan taufiq kepadanya untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya. Selanjutnya, kita akan membahas sebuah ikrar yang selalu kita lafadzkan dalam setiap shalat kita, yaitu ayat:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ{5}

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. (Al Fatihah: 5)

Apa Perbedaan Antara Pertolongan Dan Perlindungan?

Pertolongan adalah sesuatu yang Allah anugerahkan ditengah-tengah kita mendapatkan masalah. Sedangkan perlindungan adalah sebelum terjadinya sesuatu, kita memohon perlindungan.

Kita jadikan shalat malam sebagai media agar Allah memberikan perlindungan untuk esok hari sebelum menjalankan aktivitas. Dan saat kita beraktivitas lalu mendapatkan problem atau masalah maka Allah turunkan pertolongan-Nya. Tetapi yang ditekankan disini adalah perintah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga mendapatkan jaminan-Nya. Dan tidak serta merta ketika sudah meminta perlindungan Allah, seluruh urusan kita lancar dan tidak ada masalah, namun terkadang kita mendapatkan masalah untuk menguji kesungguhan iman. Saat itulah kita membutuhkan pertolongan Allah Ta’ala.

Continue reading

Ruqyah – Spiritual Healing

al-quranRuqyah is commonly translated in English as “incantation” which carries a negative meaning, since the word incantation is usually associated with magic, spells, and witchcraft. However, Ruqyah in Islam is the recitation of Qur’an, seeking of refuge, remembrance and supplications that are used as a means of treating sicknesses and other problems.)

Ruqyah are of two types:

1) Ruqyah Ash Shar’eeya
2) Ruqyah Ash Shirkiyah

Ar-Ruqyah Ash Shar’eeyah : mentioned above, it has three conditions. Ibn Hajar (rahimuhullah) said there is a consensus on the using of Ruqyah if three conditions are met:

1) It must be with the speech of Allah (Qur’aan) and his names and attributes.

2) It must be in the Arabic language, or what is known to be its meaning in other languages.

3) To believe that Ruqyah has no benefit by itself, but the benefits are from Allah.

This type of Ruqyah is permissible and is the main subject of this topic.

Ar Ruqyah Ash Shirkiyah: this contradicts the conditions of Ruqyah Ash Shar’eeyah and has in it Shirk, associating partners with Allah. It leads a person to his destruction in this life and the next and increases calamities and sicknesses. This type of Ruqyah is prohibited, from the statement of the Prophet (saws) This type includes: Magic (whether learning, practicing, or teaching it), Fortune telling, Horoscopes, superstitious belief, and at-Tameemah ( charms and amulets).

Conditions of a person who treats with Ruqyah:

1) He must have the right belief in Allah (Based on Qur’aan, Sunnah, and keep away form Shirk, etc)

2) He must have sincerity in worshipping Allah and have a good intention in treating people

3) He must be firm in his obedience to Allah, and keep away form all that is forbidden

4) He must keep far away from all unlawful places and situations that canlead to what is forbidden, for example isolating himself with a female, etc.

5) He must guard the affairs of his patients and protect their secrets.

6) he must propagate the religion of Allah. Give the Patient advice and admontitions on the rights of Allah with regards to His commandments and prohibitions.

7) He should have knowledge about the affairs of the patient and sicknesses

8) He should have knowledge about the reality of Jinns (so as not to have them harm or threaten him while curing the patient)

Ibn Teen (Rahimuhullah) said:

“Treating with Muawwizaat, (Surah An-Naas, Al-Falaq, etc) and other forms, such as the names of Allah are medicine for the soul. So if these forms of treatment are on the tongueof the righteous, cure will be achieved bythe will of Allah.”

Conditions for the person (patient) recieving Ruqyah:

1) He must have complete belief that harm and benefit are only from Allah.

2) He must be patient. Continue reading