Meraih Keberkahan Hidup

sujud“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf [7]: 96).

Siapa yang tidak menginginkan keberkahan? Hampir setiap hari; ketika makan, shalat, bahkan ketika memberikan doa untuk rekan yang akan melangsungkan pernikahan, doa keberkahan yang kita panjatkan. Demikian pula pada aktivitas yang lain, kita kerap bermohon limpahan keberkahan

Lantas apa itu berkah? Al-Barakah arti asalnya adalah ziyadatul khair (tambahan kebaikan). Ilmu yang berkah adalah ilmu bermanfaat yang membela pemiliknya di hari akhir (hujjatun lahu). Jika diamalkan dan diajarkan kepada orang lain, kemudian orang pertama mengajak orang lain untuk beramal, maka pengajar pertama akan selalu mendapat kiriman pahala dari orang-orang yang diajar. Dan semakin banyak orang yang mengikuti jejaknya, semakin berlimpah pula pahala yang akan diterima.

Ilmu yang tidak berkah adalah ilmu yang tidak bermanfaat, yang menggugat pemiliknya di mahkamah Ilahi (hujjatun ‘alaihi). Semakin banyak ilmu yang diperoleh, tidak menambah kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Bertambah banyak ilmu yang tidak bermanfaat diberikan pada diri seseorang, semakin menjauhkannya dari Allah SWT.

Harta yang berkah adalah harta yang digunakan untuk meringankan beban orang lain. Menolong orang yang membutuhkannya. Harta yang tidak berkah adalah harta yang disimpan, seperti air yang tidak mengalir, sehingga menjadi sarang berbagai kuman (penyakit). Pemiliknya menjadi serakah dan orang di sekitarnya mendengkinya.

Kekuasaan yang berkah adalah kekuasaan yang digunakan untuk menuntun si buta, melindungi kalangan bawah, membela orang yang tertindas, memperkuat kaum yang lemah. Selain itu, juga menegakkan keadilan, menciptakan keamanan dan menghilangkan kelaparan.

Sedangkan kekuasaan yang tidak berkah adalah kekuasaan yang difungsikan untuk memperkaya diri dan keluarga serta memperkuat pengaruh. Berbuat kerusakan di bumi. Membela yang kuat dan menindas yang lemah serta memutuskan silaturahim.

Umur yang berkah adalah semakin bertambah usia, ia menyadari sebenarnya umur semakin berkurang, sehingga peluang itu digunakan untuk memperbanyak amal saleh. Umur seperti ini akan berlanjut kepada kehidupan akhirat.

Ahli sastra Arab Mesir, Syauqi Beik berkata, ”Jagalah dirimu sebelum kematianmu dengan menjaga sebutan baik, sesungguhnya sebutan baik bagi manusia adalah umur kedua.”

Pernikahan yang berkah adalah pernikahan yang mendatangkan kebaikan. Menyempurnakan sebagian keislaman (ketaatan) kepada Allah SWT. Semua anggota keluarga sebagai pendukung jihad fi sabilillah. Suasana keluarga diliputi oleh kehangatan mawaddah (cinta) sejuknya rahmah (kasih) dan sakinah (tenteram).

Kebalikan Berkah
Berkah merupakan kebalikan dari laknat. Kalau berkah dilipatkan kebaikannya baik secara material dan immaterial, maka laknat adalah dijauhkan dari kebaikan baik hissi (fisik) maupun ma’nawi (non- fisik). Berkah memperoleh kebaikan lahir dan batin, laknat dijauhkan dari kebaikan lahir dan batin.

Dalam hal makanan, maka yang dimaksud ‘tha’amun bariikun’ adalah pada makanan itu diberikan keberkahan. Sekalipun secara lahiriyah sedikit, tetapi bisa memberikan kecukupan kepada orang banyak. Hal semacam itu mungkin saja, bila Allah SWT menghendaki

“Para malaikat itu berkata: ’Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Hud [11]: 73).

Al-Farra’ dan Abu Mansur mengatakan, yang dimaksud dengan ‘keberkahan’ dalam kalimat tasyahud yang berbunyi, ‘assalamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh’ adalah kebahagiaan.

Orang yang diberikan kebahagiaan oleh Allah SWT seperti kebahagiaan para nabi, syuhada, shiddiqun, sholihun, berarti memperoleh kebahagiaan yang permanen. Sebab, telah menemukan jalan yang lurus (shirathul mustaqim). Itu berarti orang yang bersangkutan telah terlimpahi keberkahan. Hal itu merupakan buah dari permohonannya yang senantiasa ia ucapkan setiap kali shalat.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.“ (Al-Fatihah [1]: 6-7].

Dua Syarat Meraih Keberkahan
Untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup dibutuhkan dua persyaratan:

Pertama, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya yang dikutip di atas (Al-A’raf [7]: 96). Ayat ini menunjukkan balasan Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yakni keberkahan dari langit dan bumi. Sebaliknya, atas tersebut juga sekaligus menjadi penjelas bahwa orang yang kufur kepada Allah SWT, niscaya tidak akan pernah merasakan keberkahan dalam hidup.

Kedua, amal saleh. Yang dimaksud dengan amal saleh ialah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan syariat yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Inilah hakikat ketakwaan yang menjadi syarat datangnya keberkahan sebagaimana ditegaskan pada surat Al-A’raf ayat 96 tadi.

Tatkala Allah SWT menceritakan tentang Ahlul Kitab yang hidup pada zaman Nabi SAW, Allah SWT berfirman. “Dan sekiranya mereka benar-benar menjalankan Taurat, Injil dan (al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka…” (Al-Ma’idah [5]: 66).

Para ulama tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan “mendapatkan makanan dari atas dan dari bawah kaki”, ialah Allah SWT melimpahkan kepada mereka rezeki yang sangat banyak dari langit dan dari bumi, sehingga mereka akan mendapatkan kecukupan dan berbagai kebaikan tanpa susah payah, letih, lesu, dan tanpa adanya tantangan atau berbagai hal yang mengganggu ketenteraman hidup mereka (Tafsir Ibnu Katsir, 2/76).

Penutup
Keberkahan adalah sesuatu hal yang sangat bernilai. Wujud nyatanya nampak susah diukur, akan tetapi sejatinya dapat dirasakan dalam bentuk pencitraan, derajat, dan kemuliaan. Maka, seseorang yang memperoleh keberkahan akan menjadi manusia yang memiliki tambahan nilai, baik di mata manusia maupun di sisi Allah SWT.

Masyarakat seperti itulah yang akan mengundang perkenan Ilahi melimpahkan karunia-Nya, dari langit dan bumi. Inilah komunitas yang beruntung, karena terbimbing dalam nilai-nilai wahyu (tauhid).

Sebaliknya, masyarakat yang kufur akan dijauhkan dari kebaikan dan didekatkan dengan bencana. Masyarakat seperti ini ingkar terhadap petunjuk al-Qur`an, dan ikut pada petunjuk hawa nafsu. Semoga kita dilimpahkan keberkahan dalam segala aspek kehidupan kita, dan dijauhkan dari laknat atas kekhilafan kita. Aamiin.

*Sholeh Hasyim, pengasuh Pesantren Hidayatullah Kudus Jawa Tengah.

SUARA HIDAYATULLAH, JUNI 2009

Sumber: http://majalah.hidayatullah.com/2010/06/meraih-keberkahan-hidup/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s