Ilmu Ikhlas

ikhlasSuatu amal kebajikan yang dilakukan dengan semata-mata mengharap ridha dan karena Allah SWT, itu adalah beramal dengan ikhlas. Sedangkan ikhlas itu sendiri adalah merupakan ruh dari suatu amal, dan amal kebajikan yang diamalkan oleh seseorang yang tidak disertai dengan ikhlas adalah amal yang tidak mempunyai ruh, yakni suatu amal yang ditolak oleh Allah SWT. Sesuai dengan firman Allah SWT di dalam Kitab Suci Al- Qur’an yang berbunyi :
Artinya : “Dan mereka tidak diperintah, kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan Agama-Nya”. (QS. Al-Bayyinah : 5).
Dalam tindakan apapun, maka ikhlas itu semata-mata karena Allah SWT, menurut pendapat Al-Junaid, menurut pendapat dari Ruwaim ikhlas itu adalah menganggap perbuatan tersebut bukanlah dari diri sendiri, pendapat Prof. Dr. Hamka, yakni mengatakan bahwa arti ikhlas itu adalah bersih, tidak ada campuran apapun, ibarat emas yaitu emas murni bukan bercampur perak.
Telah berkata Dzun Nun Al-Misri : “Kecuali dengan kebenaran dan sabar di dalam ikhlas, maka ikhlas itu tidak akan sempurna”. Di samping itu juga Dzun Nun Al-Misri menambahkan keterangannya mengenai ikhlas, ada tiga tanda yang menunjukkan keikhlasan pada seseorang, antara lain adalah:
-Ketiadaan perbedaan antara pujian dan celaan.
-Lupa memandang amal perbuatan di dalam amal perbuatannya sendiri.
-Lupa menuntut pahala atas amal perbuatannya di dalam kampung akhirat.
Ikhlas itu adalah ketiadaan bagian atas suatu hal bagi dirinya, ikhlas semacam ini adalah ikhlasnya orang-orang kebanyakan (menurut pendapat Abu Utsman Al-Maghribi).
Adapun ikhlas kelompok orang-orang yang khusus ialah apa yang terjatuh atau tertimpa pada mereka, bukan yang bersama dengan mereka, sebab itulah dari mereka muncul ketaatan dan mereka sendiri telah terpisah dari ketaatan itu. Sebab mereka sama sekali tidak memandang akan ketaatan dan menghitung akan suatu ketaatan yang telah terlimpahkan pada dirinya.
Telah berkata Khudzaifah Al-Mar’isi: “Ikhlas itu adalah penyamaan perbuatan-perbuatan hamba di dalam aspek lahir dan batinnya”. Di katakan lagi bahwa ikhlas apa yang telah dikehendaki oieh Al-Haqq juga yang dimaksudkan tujuan Shiddiq (kebenaran).
“Barangsiapa menghiasi dirinya untuk manusia, dengan sesuatu yang tidak ada pada manusia, maka dia telah gugur dari pandangan Allah SWT.”. Begitulah yang dikatakan oleh As-Siriy As-Saqthi.
Telah banyak sekali definisi mengenai kata ikhlas dan shiq, namun semua itu adalah tujuannya sama, ada yang berpendapat bahwa ikhlas itu artinya ialah menyendirikan Allah SWT. sebagai tujuan di dalam ketaatan. Di samping itu pendapat lain yang mengatakan bahwa ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk. Serta pendapat lain mengatakan bahwa ikhlas itu mempunyai arti bahwa menjaga…… dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Orang yang ikhlas itu tidak riya’.
Al~Junaid telah berkata bahwa : “Ikhlas itu adalah merupakan rahasia antara Allah dengan hamba, yang tidak bisa diketahui kecuali oleh Malaikat, sehingga dia telah menulisnya, tidak diketahui oleh syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui oleh hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya”.
Menurut pengarang Manazilus Sa’irin Ikhlas itu ada tiga derajat yakni : Tidak melihat amal itu sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal dan tidak puas terhadap amal.
Di samping itu pula ada tiga penghalang atau perintang bagi orang yang beramal di dalam amalnya, pertama : pandangan dan perhatiannya, kedua : keinginan akan imbalan dari amal tersebut, ketiga: puasdan senang kepadanya.
Malu terhadap amal sambil tetap berusaha, yakni berusaha dengan sekuat tenaga guna untuk membenahi amal dengan tetap menjaga suatu kesaksian, memelihara akan cahaya taufiq yang telah dipancarkan oleh Allah SWT.. Oleh karenanya hamba yang merasa bahwa amal itu belumlah layak untuk dilakukan karena Allah, akan tetapi dengan amal itu masih tetap diupayakannya, Allah berfirman yang berbunyi :
Artinya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tau bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka”. (QS. Al-Mukminun : 60).
Memurnikan amal dengan cara memurnikannya dan amal, membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allah SWT., Artinya adalah menjadikan amal mengikuti ilmu, menyesuaikan diri dengannya, berhenti menurut pemberhentiannya, bergerak menurut gerakannya, melihat hukum Agama dan membatasi dengan suatu batasan-batasannya, memperhatikan jm hala dan juga siksa di kemudian hari.
Rasulullah saw. pernah menggambarkan mengenai suatu malam yang ikhlas, di dalam haditsnya yang paling panjang, yang mana intinya ialah sebagai berikut: “Besok di hari kiamat itu ada tiga orang yang pertama-tama akan diberi pertanyaan oleh .Allah, dia itu adalah pertama seseorang yang diberi ilmu pengetahuan, namun dengan ilmu tersebut dia ajarkan kepada manusia dengan tujuan agar dia diberi julukan sebagai seseorang yang ‘Alim, yang kedua adalah seorang yang diberi oleh Allah harta benda, dengan harta tersebut dia sedekahkan agar dia mendapat julukan sebagai seorang yang dermawan, dan yang ketiga adalah seseorang yang telah ikut dalam peperangan dan dalam peperangan tersebut mati terbunuh, tujuan ikut di dalam peperangan tersebut adalah agar mendapatkan julukan sebagai seorang gagah pemberani. Dan ternyata dari ketiga orang tersebut di atas adalah dusta belaka, semua perbuatannya itu hanyalah riya’ bukan didasari atas hati ikhlas.
Nabi Muhammad saw. bersabda pula setelah berkata demikian, adapun sabdanya itu ialah : “Hai Abu Hurairah mereka itu adalah makhluk yang mula-mula sekali akan merasakan dan menderita di dalam api neraka jahannam besok di hari kiamat”.
Nyatalah kita bahwa yang menjadi dasar atau sendi dan pokok suatu amalan itu adalah ikhlas, sebab kalau beramal tidak disertai dan didasari dengan hati ikhlas, maka akan menjadi percuma saja apa yang telah dikerjakan oleh seseorang tersebut berdasarkan pada keterangan hadits Rasulullah saw. tersebut lawan dari ikhlas adalah isyrak, artinya bercampur dengan yang lain atau berserikat. Sebab antara ikhlas dengan Isyrak tak dapat dipertemukan, sebagaimana tidak dapat dipertemukanya antara gerak dengan diam.
… ikhlas itu telah bersarang di dalam hati, maka isyrak tidak dapat masuk kecuali bila ikhlas itu tidak ada. Demikian sebaliknya. Dan ikhlas itu baru mendapat tempat di dalam bila isyrak tidak ada di dalam hati.sebuah contoh lagi mengenai perbuatan amal yang tidak lari atas hati ikhlas, sekelompok orang munafiqtelah …… kepada Rasulullah dan mengakui bahwa Rasulullah itu adalah seorang Nabi dan juga utusan Allah SWT. , maka nurunkan wahyu:
Artinya: ” Apabila orang-orang munafiq telah datang kepadamu, mereka berkata: Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah SWT. mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah pun mengetahui bahwa orang-orang munafiq ilu benar-benar orang pendusta”. (QS. Al-Munafiqun)
Munafiq adalah lain di mulut lain pula di dalam hati, dan berdasarkan pada ayat tersebut di atas, maka telah menjadi jelas bahwa yang berdusta itu adalah bukan mulut akan tetapi hati mereka tidak mengakui.pengakuan mereka itu hanya tidak sesuai antara mulut dan hati mereka, seandainya antara mulut dan hati itu sesuai dengan apa yang diucapkan maka itulah yang disebut ikhlas.
Istilah ikhlas dan jujur itu sebenarnya tidak dapat …, oleh sebab itu orang jawa menyebutnya dengan istilah tulus Ikhlas”.Islam cukup besar perhatiannya terhadap niat atau perasaan yang menyertai amal perbuatan manusia, sebab niat amal seseorang itu pada hakekatnya akan kembali kepada si pemiliknya, juga akan tergantung pada niat seseorang tersebut. Hadits Nabi yang menerangkan tentang niat seseorang «i. dalam beramal, yang artinya adalah sebagai berikut :……
“Sesungguhnya sah atau tidaknya amal seseorang, tergantung pada niat, dan yang teranggap bagi tiap orang yang ia niatkan. Maka siapa berhijrah (mengungsi dari daerahy kafir ke daerah Islam) semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrah itu diterima oleh AIIah dan Rasulullah. Dan siapa yang berhijrah karena keuntungan dunia yang dikejarnya, atau karena perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya terhenti pada apa yang ia niat hijrah kepadanya”. (HR. Bukhari-Muslim).
“Selama empat puluh hari tidaklah seorang hamba …. untuk berbuat ikhlas kecuali dengan sumber-sumber hikmah itu akan keluar dari dalam hatinya melalui lidahnya”, menurut perkataan dari Makhlul. Dan menurut pendapat dari Yusuf bin Husein : “Paling mulianya seseorang di dunia ini adalah ikhlas, betapa beratnya menggugurkan perbuatan riya di hati, namun seakan-akan riya itu telah tumbuh dan mewarnai di dalam corak yang lain”. Rasa was-was dan juga riya itu akan terputus dari diri kita apabila seorang hamba itu telah ikhlas (menurut pendapat Sulaiman Ad-Darani).

 

Sumber: http://islamiwiki.blogspot.com

 

One thought on “Ilmu Ikhlas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s