Tolong Menolong dalam Kebajikan dan Takwa

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah: 2).

tolong-menolongMengomentari ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim berkata, “Ayat al-Quran ini mengandung semua mashlahat untuk hamba, baik maslahat di kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Ayat ini juga mengandung aturan berinteraksi antara sesama manusia (horisontal) dan hubungan antara hamba dengan Tuhan mereka (vertikal). Sebab setiap hamba tidak akan pernah terpisah dari kedua interaksi ini. Hal itu merupakan dua buah kewajiban bagi mereka: kewajiban antara manusia dengan Allah Swt. dan kewajiban antara sesama makhluk.

Sesuatu yang terjalin antara sesama hamba, apakah itu berupa pergaulan sehari-hari, saling tolong-menolong dan persahabatan, maka semuanya wajib didasarkan pada niat untuk mencari ridha Allah dan taat kepada-Nya. Sebab hanya itulah tujuan kebahagiaan hamba. Jika mereka tidak mendasarkan semua hubungannya dengan sesama hamba untuk mencari ridha dan untuk taat kepada Allah, maka dia tidak akan pernah meraih kebahagiaan.” (Dalam kitab Zaad al-Muhajir Ilaa Rabbihi).

Setidaknya ada dua pelajaran berharga yang dapat kita peroleh dari penjelasan di atas: Pertama, segala sesuatu yang kita kerjakan diawali dari niat. Kita tidak pernah lepas dari dua hal: taat kepada Allah atau berbuat maksiat. Tidur adalah kebajikan (birr) jika diniatkan untuk mencari ridha Allah, yaitu agar tubuh kita semakin sehat dan kuat ketika beribadah kepada Allah. Sebaliknya, tidur menjadi maksiat jika tidak diniatkan untuk mencari ridha Allah, yaitu hanya sekadar tidur saja tanpa memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Apalagi jika tidurnya berlama-lamaan tak kenal waktu. Contoh yang lain, berpolitik dapat dijadikan sarana kebajikan (birr) apabila kita niatkan untuk mencari ridha Allah, yaitu tidak korupsi, mengutamakan kepentingan umat, tidak lalai dari beribadah kepada Allah, dan selalu menjaga kejujuran. Dan, masih banyak contoh-contoh yang lainnya. Jika kita akan berbuat sesuatu, maka bertanyalah kepada hati kita masing-masing, untuk apa kita melakukannya. Jika kita sudah menemukan jawabannya dan jika jawabannya ternyata tidak sesuai dengan yang seharusnya, maka kita harus meluruskan niat. Katakanlah, sesungguhnya aku melakukan ini dan itu karena Allah, yaitu mencari ridha Allah dan beribadah kepada-Nya.

Kedua, hendaknya setiap muslim menyadari bahwa Islam tidak mengenal pemisah-misahan dunia dan agama (sekularisme), seperti halnya yang didengung-dengungkan dunia Barat. Islam adalah satu kesatuan yang utuh (integral), menyeluruh dan sempurna (syamil mutakamil). Paduan kata kebajikan (birr) dan ketakwaan (taqwa), sebagaimana diungkapkan ayat di atas, dengan jelas-jelas menggambarkan hal ini. Keduanya tidak bisa lepaskan satu dengan yang lainnya, seperti halnya iman-Islam, iman-amal saleh, fasik-maksiat, maksiat-keji, dan masih banyak lagi pasangan kata yang lainnya.

Marilah kita tambatkan ayat di atas dalam hati kita, dan menjadikannya sebagai bekal pengetahuan dalam menempuh perjalanan di dunia yang singkat ini, agar kita senantiasa tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, bukan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran.

Sumber: http://abu-farras.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s