BAHAYA KEKUASAAN TANPA IMAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

kekuasaan“Kekuasaan” merupakan godaan terbesar bagi manusia, sehingga menarik untuk diraih, atau diperebutkan,. Tidakpun dapat meraihnya minimal menjadi pembicaraan sehari-hari, merasa berkuasa(psikologis). Kekuasaan mempunyai otoritas, wewenang yang bisa dipergunakan sesuai kesepakatan atau tanpa kesepakatan, tergantung pribadi orang yang berkuasa.

Sebagai contoh kecil seorang tukang ketik di kantor yang tugasnya hanya menerima instruksi dari atasannya mengetik apa yang diperlukan kantornya, bisa berbuat melampaui batas-batas tugasnya. Bila seorang juru ketik itu curang, pekerjaan yang seharusnya siap dalam waktu 10 menit bisa sehari atau lebih baru dia siapkan. Juga bisa memperlambat kerja atau mempercepatnya, memanipulasi data, membuat kuitansi fiktif, proposal siluman dll sesuai keinginannya. Seorang kepala seksi yang tugasnya sangat terbatas bisa lebih dominant dari atasannya, karena faktor-faktor tertentu. Misalnya karena lebih senior dari atasannya, atau karena hubungan kekerabatan kepada otoritas kekuasaan/ pemilik perusahaan. Sering terjadi di dalam kekuasaan, kesalahan bukan pada pemegang kekuasaan tertinggi, tapi pada orang-orang dibawahnya, sehingga banyak penguasa jadi korban bawahannya.

Di Negara-negara barat, sekarang telah tumbuh kesadaran apabila terjadi kesalahan oleh bawahannya, maka mereka lebih baik mengundurkan diri, karena merasa tidak mampu memimpin. Misalnya terjadi tabrakan kereta api, atau kecelakaan pesawat terbang, menteri perhubungannya mengundurkan diri dari jabatannya. Mereka punya tanggung jawab moral terhadap kepemimpinannya. Sikap seperti ini sangat kontras dengan kekuasaan yang terjadi di Indonesia, sudah berkali-kali terjadi kecelakaan, menterinya berlindung dibalik baju presiden dengan mengatakan; “yang mengangkat saya jadi menteri kan presiden, jadi mundur atau tidaknya saya tergantung presidennya. Dari ucapannya sudah terbaca bahwa dia tidak mau mundur. Mengapa berat meninggalkan kekuasaan? Karena kekuasaan adalah godaan, yang menarik , menyelera setiap penguasa untuk mempertahankannya, walau kekuasaan itu hanya sebagai juru ketik, tentu bila tanpa iman.

Bahaya kekuasaan tanpa iman.

1. Orang akan berbuat melampaui batas/ diluar hukum Allah, yang berakibat merugikan dirinya dan masyarakat, baik kerugian material maupun moral. Ekonomi biaya tinggi (high cost economic), merajalelanya kejahatan dan maksiat tidak terlepas dari pengaruh kekuasaan yang korup, tidak efisien, kurang trampil dll.

2. Merusak hubungan persaudaraan, karena kekuasaan tanpa iman hanyalah hubungan atasan dan bawahan (dinas) selama berkuasa.

3. Dan karena tidak ada persaudaraan sejati tanpa ikatan iman. Qs. 49:10, maka berpotensi membinasakan.

4. Kekuasaan tanpa iman, bila telah hilang akan seperti kehilangan nyawa, kehilangan harga diri sehingga hilang keseimbangan diri. Di Negara-negara maju ada istilah penyakit “Post Power Sindrom” yaitu orang yang merasa kehilangan kekuatan/ kekuasaan, seperti banyak dialami oleh pensiunan atau karena dipecat, atau karena kecelakaan, kemudian sakit-sakitan, terkena gangguan jiwa, stress, strok bahkan sampai kematian atau bunuh diri.

5. Banyak sudah orang yang mencoba meraih kekuasaan, dengan mengerahkan segala kemampuannya(kemampuan keuangan, kekuasaan, retorika, pengikut sampai kemampuan dukun dan paranormal, mendatangi kuburan), tapi kandas di tengah jalan. Seperti pemilihan legislatif dan eksekutif (pilpres) baru-baru ini. Yang tidak kebagian kue kekuasaan ini juga tidak kalah berbahayanya, karena walau mereka tidak sampai berkuasa, tapi dalam angan-angan (jiwa) mereka dibayang-bayangi oleh kekuasaan, itulah makanya ada kita baca di media masa seorang caleg yang tidak terpilih bangun jam 03 dini hari, kemudian mandi, lalu dia berpakaian, pakai dasi dan sepatu layaknya seorang anggota DPR, ketika ditanya oleh sang isteri; mau kemana abang? Dijawab, mau ke kantor DPR, orang-orang sudah menunggu saya di kantor, katanya. Juga seorang calon Bupati yang gagal sampai telanjang di jalan. Dan banyak kasus-kasus serupa di tanah air ini.

Kekuasaan bagi Mukmin.

Bagi mukmin, kekuasaan bukan sesuatu yang perlu diperebutkan, tapi bila ia datang bukan sesuatu yang haram ditolak. Yang penting kesiapan diri (zahir batin). Ketika kekuasaan itu datang, kita sudah siap. Kesiapan diri mengemban amanah Allah, mewakili kekuasaan Yang Maha Kuasa di muka bumi, tentu jauh lebih terhormat daripada kekuasaan yang diperebutkan dengan harta, dusta, fitnah dan rekayasa serta manipulasi. Rasulullah saw berkali-kali dibujuk untuk menduduki kekuasaan tertinggi di kota Makkah, namun beliau menolak, karena ada syarat mutlak bagi Abu Sofyan cs agar nabi Muhammad meninggalkan dakwahnya, sehingga beliau mengatakan, “Demi Allah, andaikan matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, untuk menghentikan dakwah/ perjuangan ini maka niscaya akan aku tolak. Inilah prinsip seorang mukmin sejati dalam memandang kekuasaan.

Umat Islam sekarang sebagian besar pemikirannya tidak demikian, yang penting rebut kekuasaan dulu, nanti kita robah dari dalam. Apa bisa, kalau memang bisa mengapa nabi saw tidak melakukannya?. Apakah nabi tidak fathanah/cerdas melihat peluang ini? Kenyataannya sudah banyak terbukti orang-orang jujur, baik dan pintar masuk ke lingkaran kekuasaan yang tidak dilandasi iman (kekuasaan Thagut) akhirnya terpelanting dari kekuasaan, karena kekuasaan sudah punya system, budaya dan aturan-aturan baku(protokoler) yang wajib dipatuhi oleh setiap orang yang masuk ke lingkaran kekuasaan, bila tidak maka dia akan terpental dari kekuasaannya. Itulah sebabnya nabi saw tidak mau menerima kekuasaan dari Abu Sofyan cs. Andaikata nabi mau maka sejarah Islam tidak akan pernah terukir di muka bumi dan kita akan sesat semuanya.

Penutup.

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُواْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Apa (yang ada) di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.  An-Nahl, 16:96.

Sumber: http://ghanyhamid.wordpress.com

Bahaya Cinta Kekuasaan

Hubbur riyasah (cinta kekuasaan) adalah salah satu syahwat yang sering menimpa manusia. Bagi orang yang terkena penyakit ini, kekuasaan, jabatan dan segala yang mengiringinya berupa popularitas dan ketenaran merupakan tujuan hidupnya. Berkenaan dengan bahaya cinta kekuasaan ini Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah bersabda yang diriwayatkan oleh Ka’ab bib Malik Radhiallaahu anhu ,
“Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor domba tidak lebih parah kerusakannya bagi domba itu, bila dibandingkan ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan dalam merusak agamanya.” (dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan mengatakan, “hadits hasan shahih”)

Al-Hafidz Ibnu Rajab tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memberitahukan bahwa ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan akan merusak agamanya, dan kerusakan itu tidak lebih kecil daripada kerusakan akibat keberingasan dua serigala terhadap seekor domba. Bisa jadi sepadan atau mungkin lebih besar. Ini mengisyarat kan bahwa tidak akan selamat agama seseorang jika dia tamak terhadap harta dan kedudukan dunia, kecuali sangat sedikit (yang bisa selamat darinya). Sebagaimana pula halnya seekor domba tidak akan selamat dari keberingasan dua ekor serigala yang sedang lapar, kecuali sangat sedikit sekali.

Perumpamaan yang agung ini mengandung peringatan yang keras tentang keburukan sikap rakus terhadap harta dan kedudukan dunia, hingga beliau mengatakan, “Adapun tamaknya seseorang terhadap kedudukan maka itu lebih membinasa kan daripada ketamakannya terhadap harta. Karena ambisi mencari kedudukan, kekuasaan dan kemuliaan dunia untuk mengungguli (merasa tinggi) di atas sekalian manusia lebih berbahaya bagi seseorang daripada ambisi terhadap harta. Menahan diri dari hal tersebut sangatlah lebih sulit, karena untuk mencari kedudukan dan kekuasaan biasanya seseorang rela mengorbankan harta yang amat banyak.” (Syarah hadits, ma dzi’baani jaai’aani hal 7,13 secara ringkas)

Al Imam Ibnu Rajab kemudian menyebutkan metode setiap orang dalam meraih kedudukan dunia. Beliau mengatakan,” Tamak terhadap kemuliaan dunia ada dua macam;

Pertama, mencari kemuliaan dunia dengan kekuasaan, sulthan (power), dan harta. Ini semua sangat berbahaya karena pada umumnya akan menghalangi pelakunya untuk mendapatkan kebaikan dan kemuliaan di akhirat. Allah  berfirman, artinya,
“  Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.،¨ (QS. 28:83)

Hingga beliau mengatakan, “Di antara bentuk cinta kedudukan dunia yang jelas bahayanya adalah berupa tamak terhadap pemerintahan (yakni tamak ingin menjadi penguasa, red). Ini merupakan masalah yang sangat pelik yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang berilmu, mengenal Allah Subhannahu wa Ta’ala dan mencintai-Nya. Perlu diketahuai bahwa cinta kemuliaan dengan cara tamak terhadap kekuasaan agar dapat memerintah dan melarang serta mengatur urusan manusia (menurut kehedaknya), jika hanya dimaksudkan semata-mata untuk tujuan memperoleh kedudukan yang tinggi di atas sekalian orang, merasa lebih besar daripada mereka dan agar orang terlihat membutuhkan dirinya, selalu merendah kepadanya serta menghinakan diri ketika ada hajat dan kebutuhan terhadapnya, maka bentuk seperti ini telah mengusik rububiyah dan uluhiyah Allah .

Kedua; Mencari kemuliaan dunia dan kedudukan dengan hal-hal yang terkait dengan agama, seperti ilmu, amal ibadah dan kezuhudan. Ini lebih buruk dari yang pertama serta lebih besar bahaya dan kerusakannya. Karena ilmu, amal dan semisalnya hanyalah untuk mencari derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi di sisi Allah , juga untuk bertaqarrub dan mendekatkan diri kepada-Nya. (Syarh hadits ma dzi’baani jaai’aani, hal 7, 13 secara ringkas)

Di antara yang menambah besar bahaya ini adalah bahwasanya manusia memiliki kecenderungan dan cinta yang besar terhadap kekuasaan dan popularitas. Sebagaimana yang ditegaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Sesungguhnya manusia jika merenungkan dan mengenali dirinya dan manusia yang lain, maka seseorang akan melihat bahwa dirinya selalu ingin ditaati dan ingin berada di atas sedapat mungkin. Dan jiwa itu dipenuhi dengan rasa cinta terhadap kedudukan yang tinggi dan kekuasaan setinggi-tingginya. Maka anda dapati dia akan memberikan loyalitas kepada orang yang cocok dengan hawa nafsunya, dan memusuhi orang yang menyelisihi hawa nafsunya. Maka akhirnya dia menjadi hamba hawa dan keinginannya.”

Hingga pada ucapan beliau, “Dan kalau dia ditaati, maka dia ingin segala yang menjadi keinginannya terus ditaati, meskipun berupa dosa dan kemaksiatan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala. Sehingga orang yang taat kepadanya lebih dia cintai dan lebih mulia baginya daripada orang yang taat kepada Allah dan menyelisihi keinginannya. Ini merupakan bagian dari keadaan Fir’aun dan seluruh orang yang mendustakan rasul-rasul.،¨ (majmu’ al-Fatawa 8/18, secara ringkas)

Sesungguhnya gila kekuasaan tidak akan terlepas dari berbagai kerusakan dan bermacam-macam keburukan. Sebagiannya disampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, beliau berkata, “Ketahuilah bahwa tamak terhadap kedudukan akan menyebabkan kerusakan yang besar, sebelum orang tersebut meraihnya, ketika orang tersebut sedang berusaha meraihnya dan lebih-lebih setelah berhasil mendapatkannya dengan penuh ambisi, yakni dapat menjerumuskannya ke dalam kezhaliman, takabbur dan kerusakan-kerusakan yang lain.،¨ (syarh hadits ma dzi’baani jaai’aani)

Dan dalam kesempatan yang lain beliau berkata, “Sesungguhnya cinta harta dan kedudukan, serta tamak terhadapnya akan merusak agama seseorang sehingga agama itu tidak tersisa kecuali apa yang dikehendaki Allah Subhannahu wa Ta’ala. Hawa nafsu itu senang kepada kedudukan yang tinggi di atas manusia lainnya, dan dari sinilah tumbuh kesombongan dan kedengkian.”

Telah jelas bagi kita bahaya dan tercelanya cinta kekuasaan serta penjelasan kerusakan yang ditimbulkan olehnya. Namun ada hal lain berkaitan dengan masalah kekuasaan ini, bahwa ada perbedaan antara cinta kekuasaan dan menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk da’wah kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala Tujuan seseorang dalam memegang kekuasan di sini adalah untuk mengangungkan Allah dan ajaran-ajaran Nya, sedangkan tujuan orang yang cinta kekuasaan adalah agar orang lain mengagungkan dan menyanjung dirinya. Pemimpin pemimpin yang adil dan hakim hakim yang lurus tidak akan mengajak orang lain untuk mengagungkan diri mereka sama sekali, namun mereka mengajak manusia agar selalu mengagungkan Allah semata dan mengesakan-Nya dalam beribadah. Dan di antara mereka ada yang tidak menginginkan jabatan kecuali hanya sekedar sebagai sarana untuk dakwah di jalan Allah Subhannahu wa Ta’ala .

Maka orang yang memohon kepada Allah agar menjadikan dirinya sebagai imam yang selalu dijadikan contoh oleh orang-orang yang bertakwa, sebagaimana dia juga mencontoh orang-orang yang bertakwa, maka hal ini tidak apa-apa. Bahkan layak untuk dipuji karena dia telah menjadi penyeru ke jalan Allah Subhannahu wa Ta’ala, senang jika Allah Subhannahu wa Ta’ala diibadahi dan ditaati. Maka dia menyintai apa saja yang dapat menolong dan mengantarkan pada tujuan tersebut.

Merupakan kewajiban para ahli ilmu dan penunutut ilmu untuk menjauhi dan berhati-hati dari syahwat jabatan, kekuasaan dan popularitas, karena ia merupakan penyakit yang membahayakan. Selayaknya orang yang terjangkit penyakit ini segera berobat dengan cara bertaubat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, melakukan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dan muhasabah (introspeksi) terhadap dirinya.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Riyasah (kekuasaan) lebih disukai oleh para Qurra’ (ahli ilmu) daripada emas merah.” (kitab al Wara’, Imam Ahmad bin Hanbal, hal 91)

Abul Farraj Ibnul Jauzi juga telah memberikan nasehatnya, “Wahai saudaraku hendaklah kalian selalu perhatian terhadap lurusnya niat, tinggalkan berhias (berbuat kebaikan) karena ingin disanjung orang, jadikan tiang penyanggamu adalah istiqamah bersama yang haq. Dengan itu para salaf menjadi tinggi dan berbahagia.” (Shaidul Khathir hal 227, periksa juga akhlaqul ‘ulama’ oleh al-Ajuri hal 157).

Sumber: http://cakrawalamuslim.wordpress.com

Bahaya Kekuasaan

CINTA kekuasaan adalah salah satu syahwat yang sering menimpa manusia. Bagi orang yang terkena penyakit ini, kekuasaan, jabatan, dan segala yang mengiringinya berupa popularitas dan ketenaran merupakan tujuan hidupnya.
Lihatlah fenomena bagaimana kita berlomba-lomba dan haus kekuasaan untuk mendapatkan jabatan dan menjadi pemimpin. Padahal, para salaf terdahulu menjauhi dan menghindarinya.
Segala cara ditempuh, tanpa peduli lagi dengan halal-tidaknya. Tengoklah gambar-gambar mereka terpampang di setiap sudut jalan dengan kata-kata yang menggoda berharap agar mereka dipilih oleh masyarakat. Mulai dari orang kaya sampai guru mengaji, yang tua maupun yang muda, semua berebut kursi jabatan. Sungguh sial para pengemis kekuasaan tersebut, mereka telah menghamburkan harta untuk meraih kekuasaan.
Para salaf terdahulu sangat takut jika mereka diberikan kekuasaan. Sebab, mereka tahu dan paham besarnya konsekuensi dan pertanggungjawaban kekuasaan.

“Ingatlah, setiap orang di antara kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang amir (pemimpin masyarakat) yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kekuasaan adalah amanah yang amat berat di pundak dan tanggung jawab yang amat besar di sisi Allah. Sebab, ia harus menunaikan hak orang banyak dan berbuat adil kepada mereka sebagaimana halnya mereka ingin agar rakyat menunaikan tugasnya di hadapan dirinya. Sungguh tugas ini amat berat digenggam dan amat berbahaya.
Panutan kita, Nabi Muhammad saw. mengingatkan kita tentang bahayanya kekuasaan dan orang yang memintanya. Kekuasaan bukan sesuatu yang perlu diperebutkan, tetapi bila ia datang bukan sesuatu yang haram ditolak, yang penting kesiapan diri (lahir batin). Ketika kekuasaan itu datang, kita sudah siap. Kesiapan diri mengemban amanah Allah, mewakili kekuasaan Yang Maha Kuasa di muka bumi, tentu jauh lebih terhormat daripada kekuasaan yang diperebutkan dengan harta, dusta, fitnah, rekayasa, dan manipulasi.
Seorang yang meminta kekuasaan dan rakus terhadapnya akan mengalami penyesalan karena ia bukan ahlinya. Kekuasaan menjadi sebuah kenikmatan sementara, sedangkan kesusahan dan tanggung jawab akan menanti kelak di kemudian hari (akhirat).

“Barang siapa yang ditugaskan untuk memikul suatu pekerjaan yang dia tahu dirinya bukanlah orang yang ahli atau pantas dalam pekerjaan tersebut, bersiap-siaplah ia masuk neraka,” kata Rasulullah.

Dalam salah satu poin dari sepuluh poin nasihat Al-Ghazali terhadap seorang penguasa Saljuq, bahwa kekuasaan ibarat pisau bermata dua; di satu sisi bisa menjadi bekal yang sangat bernilai untuk kehidupan di akhirat kelak bagi pemegangnya jika ia sanggup menggunakan untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan bagi agama dan rakyat. Sebaliknya, hal itu juga bisa menjadi sebuah malapetaka yang besar bagi pemegangnya jika disalagunakan apalagi untuk kepentingan pribadinya serta tidak untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. Terlebih jika dalam memegang kekuasaan itu, seorang penguasa justru melakukan perbuatan yang berlawanan dengan nilai-nilai agama.
Oleh sebab itu, seorang penguasa, menurut dia, harus mengetahui betul bahaya dan manfaat sebuah kekuasaan. Sebab, jika hal itu tidak dicermati dengan sungguh-sungguh akan menjadi sebuah musibah dan penyesalan tiada akhir di akhirat kelak. Berkaitan dengan masalah itu, tidak ada pilihan lain selain mempergunakan kekuasaan itu untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi warga negara.

Sumber: http://lampost.co/berita/bahaya-kekuasaan

Bahaya Kekuasaan

Oleh Dr Mahmudi Asyari

Dalam salah satu poin dari sepuluh poin nasehat al-Ghazali terhadap seorang penguasa Saljuq adalah bahwa kekuasaan menurutnya ibarat pisau bermata dua; di satu sisi bisa menjadi bekal yang sangat bernilai untuk kehidupan di akhirat kelak bagi pemegangnya jika ia sanggup menggunakan untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan bagi agama dan rakyat. Sebaliknya, hal itu juga bisa menjadi sebuah malapetakan yang besar bagi pemegangnya jika disalagunakan apalagi untuk kepentingan pribadinya serta tidak untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat. Terlebih jika dalam memegang kekuasaan itu, seorang penguasa justru melakukan perbuatan yang berlawanan dengan nilai-nilai agama.

Oleh sebab itu, seorang penguasa menurutnya, harus mengetahui betul bahaya dan manfaat sebuah kekuasaan. Sebab, jika hal itu tidak dicermati dengan sungguh-sungguh akan menjadi sebuah musibah dan penyesalan tiada akhir di akhirat kelak. Berkaitan dengan masalah itu, tidak ada pilihan lain menurut al-Ghazali selain mempergunakan kekuasaan itu untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi warganegara.

Ketika menekankan masalah itu, Hujjah al-Islam tersebut dalam kitabnya, al-Tibar mengambil sebuah cerita yang menurutnya berasal dari negeri Cina. Berdasarkan sebuah kisah seorang Kaisar Cina tidak pernah mendengar keluhan dan penderitaan rakyatnya. Suatu ketika tiba-tiba ia hilang pendengarannya. Ketika terkena masalah itu ia pun sadar bahwa hal itu adalah balasan atas kezalimannya dan tindakannya yang tidak pernah mendengar jeritan rakyatnya. Sadar oleh tindakannya yang tidak terpuji itu ia kemudian memberikan maklumat agar rakyat yang tertindas mengenakan pakaian tertentu atau tanda tertentu. Ketika sang Kaisar berkeliling dan melihat tanda atau pakaian itu ia pun berusahan menyelesaikan masalah yang diderita rakyatnya itu. Dan, atas upaya tobatnya itu ia menurut cerita yang didapat al-Ghazali bisa mendapatkan pendengarannya kembali.

Kisah itu, menurut al-Ghazali merupakan nasehat yang sangat berharga dan layak diambil sebagai i`tibar. Ia kemudian berkomentar, jika seorang penguasa muslim justru berbuat zhalim jauh lebih buruk derajatnya sebab mereka mempunyai pedoman berupa al-Quran dan Sunnah. Kaisar Cina yang tidak mempunyai keduanya saja mengetahui bahwa sebuah kekuasaan harus dipergunakan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Apalagi, seorang penguasa muslim yang mempunyai al-Quran dan Sunnah yang secara nyata kedua pedoman itu menegaskan bahwa perbuatan dzalim harus dihindari dan keadilan harus diwujudkan.

Nasehat Rasulullah Selaku orang beragama (Islam), kekuasaan sebagaimana ditegaskan Nabi adalah amanah. Tidak hanya amanat rakyat, tapi jauh lebih tinggi dari itu adalah amanah Allah dan Rasul-Nya. Dan, kita sudah tahu orang yang tidak menjalankan amanah dalam Islam disebut khianat yang sudah tentu tidak hanya kepada pemilih, tapi juga kepada Allah dan Rasulnya. Oleh sebab itu, cermatilah arahan Nabi Muhammad saw dan sikap sahabat berkaitan dengan masalah itu.

Nabi Muhammad bernah memberikan nasehat kepada Abu Dzarr RA berkaitan dengan masalah imarah (kekuasaan atau pemerintahan). Beliau mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya (`imarah) merupakan amanat dan ia akan menjadi sumber kesedihan dan penyesalan di hari kiamat, kecuali bagi orang yang mengambil amanat karena ia berhak dan menyampaikan kepada yang berhak pula” (HR Muslim). Menurut suatu riwayat, hadis itu keluar atas dasar permintaan Abu Dzarr agar beliau menunjuknya sebagai pejabat di suatu tempat. Namun anggapan itu ditolak oleh sebagian kalangan, karena menurut mereka mustahil Abu Dzarr, seorang sahabat yang dikenal alim untuk meminta jabatan kepada Rasulullah. Terlepas dari masalah itu, yang jelas masalah kekuasaan merupakan amanat Allah, Rasul-Nya, dan umat yang harus dijalankan dengan baik oleh orang yang tepat berdasarkan penilaian bahwa yang bersangkutan mempunyai kemampuan untuk menjalankannya.

Masih dalam soal amanat, dalam kesempatan lain Nabi Muhammad saw juga bersabda, “Jika amanat disalahgunakan, maka tunggulah saat kehancuran! Sahabat bertanya, Apa bentuk penyelewengannya Ya Rasullullah? Beliau menjawab, Jika suatu urusan diserahkan kepada yang tidak berkompeten (tidak ahli dibidangnya), maka tunggulah saat kehancurannya” (HR Bukhari).
Perihal kekuasaan pemerintahan sebagai amanat telah ditunjukkan oleh sahabat Abu Bakar dan Umar ketika mereka menerima predikat sebagai penerus Nabi (khalifah). Bahkan Umar secara elegan telah menunjukkan lapang dadanya ketika ia menyampaikan pidata saat dibaiat menerima peringatan dari yang hadir bahwa apabila tidak berjalan lurus akan diluruskan dengan pedanynya begitu juga ketika ia dituduh mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Khalifah kedua itu, ketika mendengar hal itu justru bersyukur, karena masih ada orang yang mau memberikan peringatan (nasehat) kepadanya.

Di samping itu, sahabat Nabi telah memberikan contoh bahwa dalam rangka menjalankan amanat, mereka tidak mau mengangkat saudara atau orang-orang yang masih mempunyai kedekatan dengan mereka, karena mereka sadar bahwa jika itu dilakukan berarti telah mengkhianati amanat Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagaimana ditegaskan Nabi dalam sabdanya, “Barangsiapa yang memberikan kepercayaan kepada seseorang perihal urusan orang Islam sedangkan ia masih bisa mendapatkan orang yang lebih baik darinya, sesungguhnya telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya,dan orang-orang beriman. Barangsiapa memperkerjakan seseorang karena unsur kedekatan (kerabat) sedangkan ia bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman” (HR Al-Hakim).

Mendengar hadis itu, Umar bin Khattab kemudian menegaskan tekadnya untuk menganggkat orang-orang yang tidak ada hubungan kekerabatan dan hubungan like dan dislike dengannya. Ia kemudian berkata, Barangsiapa memberikan kepercayaan urusan orang Islam kepada seseorang didasarkan rasa suka atau hubungan kekerabatan, sesungguhnya telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.

Penguasa muslim yang masih berikrar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya semestinya ketika memerintah berpedoman kepada apa yang Nabi gariskan dan apa yang telah dicontohkan oleh sahat-sahabatnya dalam rangka mengemban amanat dan menyampaikan kepada yang berhak. Bukankah Allah telah berfirman, Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan jangan mengkhianati amanat yang diberikan kepada kamu sedangkan kalian mengetahui”. (Al anfal:27). Wa Allah a`lam bi al-shawab.

Berkaitan dengan hal itu, tepatlah kiranya, jika al-Ghazali protes kepada penguasa Mamluk ketika itu yang cenderung zhalim dan despot padahal mereka mempunyai al-Quran dan Sunnah. Sementara seperti Kaisar Cina yang tidak mempunyai keduanya bisa berbuat adil.

Sumber: http://kabarsumatera.com/2013/06/bahaya-kekuasaan/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s