Islam dan Perdamaian

Melihat ketidaknyamanannya bumi dengan banyaknya perselisihan, pertikaian, perpecahan, pertengkaran dsb. yang terjadi di mana-mana, menggerakkan kita untuk mengetahui dan memahami kembali tentang bagaimana perdamaian dalam Islam? Karena hanya Islam lah agama yang mengatur dunia ini.

Konsep assalam (Perdamaian) dalam Islam dan Hubungannya

Dimulai dari kata Islam sendiri, yang diambil dari kata “aslama, yuslimu”, yang berarti Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian, mengajak pada kehidupan yang harmonis, ketentram tanpa ada suatu pertikaian atau percekcokan. Islam selalu mengajarkan umatnya untuk saling menghormati, berdamai tanpa ada rasa cemburu dan dendam, karena Islam agama fitrah, dan tabiat manusia (fitrahnya) lebih suka dengan rasa damai, saling menyayangi antar manusia, saling menghormati antar umat beragama, dan saling tolong menolong.

Perdamaian adalah hal yang asasi atau terunggul dalam Islam, sebagaimana sabda Nabi saw:

ليس منا من دعا إلي عصبية وليس منا من قاتل علي عصبية وليس منا من مات علي عصبية

Bukan dari golongan kami orang yang menyeru pada ‘asabiyah (fanatic), dan bukan dari golongan kami orang yang berperang atas ‘asabiyah, dan bukan golongan kami orang yang mati atas ‘asabiyah.”

Sabda Rasulullah saw di atas menunjukkan bahwa beliau tidak ingin terdapat sifat ‘asabiyah (fanatic) dalam umatnya, melainkan tawassut (sedang).

وما أرسلناك إلا كافة للناس بشيرا ونذيرا

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.” (QS. Saba’: 28)

Islam adalah rahmat yang dibawa oleh Rasulullah saw. Allah SWT juga telah berfirman:

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya’: 107)

Jadi, sekarang kita tahu bahwa Islam memerintahkan kita untuk tawassut dalam hal apapun termasuk dalam bersosialisasi, tidak membenarkan secara mutlak juga tidak menyalahkan secara mutlak.

Perdamaian adalah persatuan umat dan bangsa, Allah berfirman:

وإن جنحوا للسلم فاجنح لها وتوكل على الله إنه هو السميع العليم

Dan jika mereka condong pada perdamian maka condonglah padanya dan bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal: 61)

Ayat di atas menjelaskan bahwa, kita diperintahkan untuk selalu berdamai satu sama lainnya, enjalin ukhuwah tanpa ada sekat dan batasan di dalamnya. Kemudian apa sebenarnya hikmah dari perintah berdamai dalam Islam? Yaitu karena dalam perdamaian tercipta dinamika yang sehat, suatu keharmonisan, humanis dalam interaksi sesama manusia, begitu pula dalam suasana kehidupan yang menjadi aman tenteram dan damai.

Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup tanpa ada ketenangan dan ketentraman, bahkan berbagai perintah untuk berbuat baik dalam syariat Islam juga berbentuk sikap perdamaian. Sebagaimana Rasulullah saw memberikan pelajaran kepada kita dalam sebuah kisah, yaitu as sulhu al hudaibiyah, yang mana Rasulullah saw memilih jalan damai dan penuh keadilan.

Keadilan merupakan kunci pokok dalam menjalin hubungan sesama manusia, sedangkan perang atau pertikaian adalah sumber malapetaka, kerusakan sosial (hubungan sesama manusia). Jelas sekali bahwa Islam ingin menyatukan umatnya, melalui keadilan persaudaraan, dan kebajikan.

Kesimpulannya bahwa, konsep Assalam dalam Islam adalah bentuk suatu keamanan, keselamatan dan keadilan bagi seluruh makhluk, yang sesuai dengan namanya, “Islam” yang berarti keselamatan

Penyebab Kerusakan:

1. Kurang memahami suatu perbedaan, yang mana kita, umat muslim harus memahami suatu perbedaan, karena sesungguhnya perbedaan itu adalah sunnatul basyar, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Wahai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Di sini jelas sekali bahwa, perbedaan adalah sunnah kehidupan. Jadi, jika ada yang menyatukan selera, warna, jenis, maka itu tidak akan bisa bahkan itu merupakan usaha yang sia-sia, maka jalan keluarnya adalah bagaimana kita supaya memahami perbedaan tersebut.

Kemudian dengan jalan apa kita agar saling memahami perbedan? Yaitu dengan berkomunikasi, yang membantu saling memahami antara satu sama lainnya. Contoh sederhana dalam suatu keluarga, seorang anak dan ibu apabila ibu tak mau berkomunikasi di saat anaknya keluar malam misalnya, maka akan timbul curiga, bahkan sampai ke jenjang salah paham dan pertengkaran, dan ini tidak akan terjadi apabila seorang ibu tadi mau bertanya pada anaknya, sehinga tahu apa yang dilakukan atau diinginkan oleh si anak.

Contoh lain dalam lingkungan masyarakat dan agama, yaitu dalam masalah doa qunut, apakah sunnah ataukah makruh? Masalah ini adalah masalah furu’ (cabang ibadah), akan tetapi sebagian kelompok membesar-besarkannya, padahal jika kita mau berdiskusi, kita bisa sampaikan dalil kita, dasar kita dalam mengatakn kesunnahan qunut atau kemakruhannya, karena masing-masing pasti memiliki dalil yang kuat menurut mereka.

Rasulullah saw memberikan contoh bagaimana menghadapai perebedaan antara 2 kelompok sahabat. Yaitu ketika beliau bersabda kepada para sahabat: “Janganlah kalian sholat asar kecuali setelah sampai di perkampungan bani Quraidzoh.” Tapi kenyataanya waktu sholat asar hampir habis dan mereka belum sampai di Quraidzoh, sebagian dari mereka berijtihad dan memilih untuk sholat meski belum sampai di Quraidzoh, dan sebagian lagi ikut sabda Rasulullah saw dan sholat di Quraizoh meskipun waktu sholat asar telah lewat. Setelah mereka kembali mereka mengadukan hal tersebut pada Rasulullah saw, beliau tidak menyalahkan salah satu dari mereka, bahkan membenarkan keduanya, karena mereka juga telah berijtihad. Sikap Rasulullah saw diatas menunjukkan bagaimana menghadapi perbedaan, sehingga tidak terjadi pertikaian.

2.Keegoisan dan ke-takabbur-an, padahal sebenarnya mereka tahu adanya perbedaan, akan tetapi mereka tidak mau mengalah dan ingin menang sendiri. Seringkali mereka membela diri atau golongannya sampai menghalalkan yang haram.

3.Hasad dan iri dengki, sebagaimana hasad merupakan sumber dari segala keburukan, karena hasad bisa menimbulkan keegoisan dan selalu ingin di atas dan menang sendiri. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya hasad menghapus kebaikan sebagaimana api itu melahap kayu.”

Mengembalikan kembali persatuan umat:

Obat yang paling ampuh dalam mempertahankan perdamaian adalah toleransi atau tasamuh. Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya, dan agama, yang berarti “sikap yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda”. Seperti dalam agama misalnya, toleransi Islam dalam menghadapi suatu perbedaan tentang masalah agama. Perlu kita ketahui bahwa masalah agama ada yang namanya masalah usul dan furu’, dalam masalah usul tidak boleh adanya toleransi dalam perbedaan, contohnya: jika ada yang meyakini adanya nabi setelah Rasululullah saw. Sedangkan furu’, semisal perbedaan antar empat mazhab, karena mereka tidak mengambil dari pikiran mereka begitu saja, tetapi dari nas-nas juga ijtihad. Kemudian sama halnya perbedaan dalam sisi sosial sangatlah dibutukan toleransi.

Bagaimana menanamkan perdamaian dalam kehidupan?

Menanamkan Assalam  harus mulai dari diri sendiri terlebih dahulu, seperti sabda Rasulullah “Mulailah dari dirimu.” Karena perdamaian tidak butuh banyak kata tapi harus dengan pekerjaan.

Setelah damai dengan diri sendiri, kemudian pada Allah, dan kemudian kepada sesama. Satu hal yang harus kita ingat bahwa dalam perdamaian ada batas-batasannya, tidak asal-asalan karena akan lebih parah jika tidak menggunakan ajaran Islam.

Menyikapi pertikaian:

  1. Jika kita ingin mengembalikan citra Islam, maka kita harus melihat diri kita sendiri, apakah kita sudah menjalankan perintah Allah juga perintah Rasul-Nya. Sebenarnya kita tidak akan bisa sempurna, akan tetapi jika kita sudah bisa kendalikan diri sendiri, maka insyaAllah kita bisa tegakkan keadilan sesama manusia dan lingkungan.
  2. Seperti halnya obat untuk orang sakit harus dengan mengetahui penyakitnya, maka dengan mengetahui penyebab pertikaian tadi kita akan bisa mengatasinya, misalkan perbedaan pendapat, dsb.
  3. Kemudian langkah yang lain, secara berurutan: Ta’aruf, saling mengenal, kemudian tahabbub, saling menyayangi, dan tanassur, saling tolong menolong.

Wallahu a’alam bissowab

Semoga bermanfaat!

(Tulisan ini adalah hasil kajian keputrian Himmah Fm, yang disusun oleh: Dina Prasetyowati, mahasiswi, tingkat 4, fak. Dirosah Islamiyah, universitas Al Ahgaff)

Sumber: http://www.himmahfm.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s