Kezaliman dan Malapetaka

Cepat atau lambat, kezaliman akan dibalas Allah dengan malapetaka, karena kezaliman merupakan tindakan melanggar sunatullah.

“Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya, dan mereka tak akan bisa melepaskan diri” (Q.S. Azzumar(39) : 51)

Malapetaka –dan sumber malapetaka– bagi umat manusia adalah kezaliman, yaitu perbuatan melanggar hukum-hukum Allah. Diterangkan,

“Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim “. (Q.S. Al Baqarah(2) : 229)

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.(Q.S. Al Maidah(5) : 45).

Kezaliman merupakan perilaku yang tidak lagi dibangun atas dasar kebenaran, melainkan didasarkan pada kepentingan hawa nafsu ; perilaku yang tidak lagi mengacu pada batasan halal dan haram. Allah swt pencipta alam semesta dan segala isinya tak akan pernah menzalimi ciptaan-Nya. Sejak dini Allah menegaskan hal ini, namun manusialah yang sebenarnya menzalimi dirinya sendiri.

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat Zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri sendiri”. (Q.S. Yunus(10) : 44)

Allah mengatur segala wujud di alam ini sedemikian rapi, teratur, dan bersistem yang disebut dengan sunatullah. Tak ada satu makhluk ciptaan-Nya yang terbebas dari sunatullah ini ; bumi, matahari, dan galaksi bergerak pada porosnya yang telah ditetapkan oleh Allah.

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”.(Q.S. Yaasin(36) : 40)

Bila semua benda di galaksi tadi keluar sedikit saja dari porosnya, niscaya dunia akan hancur. Sebuah aturan yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia. Demikian pula, Allah telah menetapkan aturan untuk kepentingan umat manusia : aturan bagaimana manusia menjalani hidupnya. Allah, untuk itu, mengutus nabi-nabi pembawa risalah untuk mengajarkan pedoman hidup. Muhamad (saw) nabi akhir zaman, Allah mewahyukan-nya Qur’an sebagai pedoman kehidupan di setiap tempat dan zaman. Dengannya, Allah hendak menunjukkan keadilan kepada ciptaanNya yang bernama manusia. Namun, kebanyakan manusia menzalimi dirinya : mengabaikan pedoman hidup yang sudah Allah berikan ; tak ada aturan kecuali hukum rimba, siapa yang kuat memangsa yang lemah. Perlahan manusia menjadi binatang, dan ketika manusia telah menjadi binatang, maka kerusakan dunia sedang dimulai. Hari-hari ini, semakin sering dan semakin banyak kita menyaksikan kezaliman di muka bumi ini. Semakin sulit dan kabur untuk melihat mana yang benar dan mana yang salah, termasuk di bumi Iraq kita menyaksikan kezaliman yang tak terbantahkan. Cepat atau lambat, kezaliman akan dibalas Allah dengan malapetaka, karena kezaliman merupakan tindakan melanggar sunatullah.

“Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya, dan mereka tak akan bisa melepaskan diri” (Q.S. Azzumar(39) : 51)

“Apakah kamu tak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Aad ?. Penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. Dan kaum Tsamud yang mampu menembus batu-batu besar di lembah (untuk dibuat rumah-rumah mereka). Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak militer yang banyak yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat kerusakan di negeri itu. Karena itu tuhanmu menempakan cemeti azab kepada mereka. Sungguh Tuhanmu benar-benar mengawasi”. (Q.S. Al Fajr(89) : 6-14).

Sumber: http://www.pesantrenvirtual.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s