Muslim Selektif Produktif

Muslim ProduktifRasulullah SAW bersabda dalam satu hadits yang sangat singkat, yang oleh Ibnu ’Abdil Bar dikatakan, “Inilah hadis paling singkat kata, tapi padat makna. Belum ada ucapan sesingkat dan sepadat itu sebelum Nabi SAW”. Inilah hadisnya :

Abu Hurairah r.a berkata, Rasululah SAW bersabda, ”Salah satu tanda sempurnanya keagamaan (Islam) seseorang adalah kesediaan meninggalkan sesuatu yang tidak bernilai baginya” (HR. At Tirmidzi dan lainnya)

Islam membuat skala nilai perbuatan manusia, mulai dari yang wajib (keharusan), sunnah (anjuran), mubah (netral nilai), makruh (anjuran untuk ditinggalkan) sampai yang haram (terlarang). Allah telah memberi kita akal, kitab suci al-Qur’an dan hadis Nabi sebagai alat untuk memilih di antara semua nilai tersebut. Sabda Nabi di atas memberi petunjuk, bagaimana kita seharusnya memilih di antara banyak nilai perbuatan tersebut. Kerjakan yang benar-benar bernilai, dan tinggalkan yang tidak bernilai sekalipun tidak terlarang.

Sesuatu disebut bernilai, jika ia dibutuhkan untuk kelangsungan hidup dan keselamatannya di akhirat. Terhadap hadis ini, Al Fasyani berkata, “Jika Anda membatasi diri untuk hal-hal yang penting dalam segala hal, Anda dijamin selamat dari penderitaan dunia dan akhirat. Jika Anda sadar bahwa semua kata dan tindakan selalu direkam dan dipertanggung-jawabkan di akhirat, pasti Anda tidak berbicara kecuali yang bernilai, dan tidak mendengarkan kecuali yang ada gunanya.” Hadis ini juga megandung perintah berhati-hati dalam setiap kata dan tindakan, agar tidak ada orang yang terganggu ketenangannya atau tersakiti hatinya. Termasuk pula kata tak bernilai adalah kata yang diucapkan hanya untuk mengundang tawa orang.

Dalam Kitab al-Muwatha’, Imam Malik mengutip nasehat Luqman, ”Ada tiga pangkal kebajikan, yaitu berbicara yang benar, memegang teguh amanah dan meninggalkan hal yang tidak berguna”.

Imam Al-Hasan berkata, ”Salah satu tanda orang yang dibenci Allah adalah jika ia menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bernilai.” (QS. Al Mukminun [23]:1-3)

Dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan kita tidak selektif dalam berucap dan bertindak. Kita sering melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Menghibur diri itu boleh dan perlu, tapi jika lebih dari cukup, itu sudah termasuk tak bernilai. Bergurau antar teman itu juga diijinkan untuk mengurangi ketegangan, tapi jika lebih dari cukup, maka itu termasuk tidak bernilai, bahkan seringkali menjadi sumber permusuhan. Apalagi sampai hanyut dalam gurauan yang berbau pornografi. Cobalah pegang prinsip ini ketika kita memegang telpon seluler, di depan internet, di depan televisi, di meja makan, dan dalam segala hal. Semakin selektif terhadap ucapan dan tindakan, Anda semakin produktif, dan semakin jelas kemuliaan karakter Anda. Sebaliknya, semakin tidak selektif, semakin tampak kekeredilan dan kerapuhan iman Anda.

Al-Fasyani berpesan, ”Sibukkan dirimu dengan hal-hal yang berguna dan berpahala. Setan amat senang jika Anda menyia-nyiakan usia. Setan tahu bahwa setiap tarikan nafas dalam hidup ini amat mahal harganya. Muslim yang bijaksana akan menggunakan setiap detik usianya untuk mencari bekal menuju di akhirat.”

Setiap muslim harus menjauhi perkataan yang tidak baik. Jika tidak hati-hati, bisa saja orang mengalami penderitaan beruntun di akhirat hanya karena satu kata yang pernah diucapkannya. Ketika ia mati, setiap kali ada orang yang mengikuti ucapan buruk itu, ia mendapat siksa dalam kuburnya.

Ibnu Umar r.a berkata, ”Jangan memperbanyak bicara kecuali yang bisa mendorong ingatan kepada Allah. Jika tidak, hatimu akan membatu dan Anda terjauh dari Allah.”

Hidup adalah amanah (QS. An-Nisa [4]:58). Oleh sebab itu, setiap anggota badan adalah amanah. Amanah lisan adalah berbicara yang benar dan berguna. Pesan orang bijak, ”Berlebihlah dalam sedekah, tapi berhematlah dalam kata”. Amanah mata adalah menjauh dari pandangan yang dosa. Amanah tangan adalah berkarya terbaik untuk umat manusia. Amanah pemimpin adalah kesejahteraan dan keadilan untuk rakyat. Amanah ulama adalah mengarahkan umat ke jalan yang benar dan menjauhkannya dari kemaksiatan dengan fatwa dan ketauladanan. Amanah budak adalah tidak mengurangi pengabdiannya kepada tuan dan tidak curang terhadap harta yang dipercayakan kepadanya. Perlu diingat, kita adalah budak dalam hubungannya dengan Allah SWT.

Ketinggian iman seseorang ditentukan sikap selektifnya terhadap segala ucapan dan tindakan. Ada dua pedoman untuk seleksi kata dan tindakan. Pertama, ucapan atau tindakan itu diperbolehkan agama atau tidak?. Kedua, jika diperbolehkan, kita harus mempertimbangkan, ada gunanya atau tidak. Jika tidak, maka tinggalkan, dan inilah tanda kesempurnaan iman Anda. Anda telah menjadi muslim produktif sebab semua kata dan tindakan Anda membuahkan kedekatan kepada Allah dan kehangatan persaudaraan sesama manusia.

Pesan Rasulullah SAW tersebut sangat mendalam cakupannya. Ucapkan dan kerjakan hanya yang benar-benar penting. Tinggalkan yang tidak seberapa penting, sekalipun diperbolehkan agama, apalagi tidak ada gunanya sama sekali. Jadilah muslim selektif dan produktif. Badan Anda dijamin lebih sehat, rumah tangga Anda dijamin lebih bahagia, ekonomi Anda dijamin lebih stabil, dan tidak banyak orang di sekeliling Anda yang sinis atau bermusuhan dengan Anda.

Sumber: http://www.masjidalakbar.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s