Pada Akhirnya Kejayaan Adalah Milik Kita (Tafsir Ayat-55 Surat an-Nuur)

 

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥

Terjemah Surat An Nur Ayat 55

55. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

cropped-cahayawahyu.jpgIbnu Jarîr ath-Thabari rahimahullâh (wafat: 310-H) mengatakan:

 وذُكر أن هذه الآية نزلت على رسول الله صلى الله عليه وسلم من أجل شكاية بعض أصحابه إليه في بعض الأوقات التي كانوا فيها من العدوّ في خوف شديد مما هم فيه من الرعب والخوف، وما يلقون بسبب ذلك من الأذى والمكروه

“Disebutkan bahwa ayat ini turun kepada Rasulullâh r dikarenakan keluh kesah sebagian sahabat beliau pada beberapa kejadian memilukan yang menimpa mereka dari pihak musuh, berupa rasa takut yang mencekam dan menteror, berupa gangguan dan hal-hal menyusahkan yang mereka jumpai karena kejadian-kejadian memilukan tersebut.” [Tafsîr ath-Thabari: 19/209[3]]

Imâm as-Sam’âni asy-Syâfi’i rahimahullâh (wafat: 489-H) mengatakan:

وَذكر بعض أهل التَّفْسِير: أَن أَصْحَاب رَسُول الله تمنوا أَن يظهروا على مَكَّة، فَأنْزل الله تَعَالَى هَذِه الْآيَة

“Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa para Sahabat Rasulullâh r berangan-angan untuk menguasai Makkah (yang saat itu tengah dikuasai oleh orang-orang musyrik), maka Allah menurunkan ayat ini.” [Tafsîr as-Sam’âni: 3/544[4]]

Tafsir Ayat Secara Ringkas

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dalam ayat yang mulia ini, sebenarnya terdapat sumpah Allah yang tersirat dari ungkapan “layastakhlifannahum….dst” yang diistilahkan oleh pakar bahasa al-Qur’an sebagai jawâbul-qasm (jawaban sumpah). Lalu apa sumpah Allah tersebut? Dia bersumpah akan menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi yang akan mengatur dunia dengan syari’at-Nya[5].

Dia telah membuktikan sumpah tersebut pada umat-umat sebelumnya, saat Dia menganugerahkan kekuatan dan kekuasaan kepada Sulaiman dan Daud ‘alaihimassalâm, dankepada Bani Isrâîl saat mereka berhasil mengambil alih kekuasaan dari tangan-tangan Raja yang zalim di Mesir dan Syam[6]. Dia juga bersumpah akan menjadikan Islam sebagai agama yang kokoh dan mengungguli agama-agama lainnya[7]. Rasa aman akan tercipta, dan akan menggantikan ketakutan yang menyelimuti kaum muslimin.

Namun janji Allah tersebut ada syaratnya. Dalam ayat yang agung ini, setidaknya disebutkan ada 3 syarat yang harus terpenuhi agar janji-janji Allah di atas bisa terwujud: pertama; iman dan amal shalih, kedua; beribadah hanya untuk Allah (tauhid), dan ketiga; menjauhi syirik dengan segala ragamnya, termasuk beramal dengan maksud selain Allah.

Kemudian barangsiapa yang kufur nikmat (dengan meninggalkan syarat-syarat di atas) setelah anugrah kejayaan dan keamanan umat tersebut diraih, maka merekalah orang-orang yang fasik, yang telah keluar dari ketaatan kepada Allah dan telah berbuat kerusakan[8].

Janji Tersebut, Sudahkah Terwujud?

An-Nahhâs rahimahullâh menjelaskan bahwa janji Allah dalam ayat tersebut sudah ditunaikan di masa hidup Rasulullâh. Terbukti dengan penaklukan kota Makkah dan berbondong-bondongnya manusia di jazirah Arab memeluk Islam [lih. Tafsîr al-Qurthubi: 12/297].

Mufassir yang lain mengatakan bahwa ayat ini adalah dalil atas kekhalifahan Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsmân, dan ‘Ali radhiallâ’anhum jamî’an. Dengan kata lain, janji Allâh dalam ayat ini terwujud dan eksis pada masa kekhalifahan mereka. Karena merekalah kaum yang telah beriman kepada Allâh dengan sebenar-benar Iman, merekalah generasi terbaik dalam menegakkan ibadah dan amal shalih, menyembah hanya kepada Allâh secara totalitas lahir dan batin. Demikianlah pendapat adh-Dhahhâk rahimahullâh Sehingga tidak salah jika Abul ‘Âliyah rahimahullâh mengatakan, ketika menafsirkan siapa orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini:

هُمْ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Mereka adalah para Sahabat Nabi Muhammad r.” [Tafsir Ibnu Abi Hatim: 8/2627, no. 14760]

‘Abdurrahmân bin ‘Abdilhamîd al-Mishri rahimahullâh mengatakan:

عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْمِصْرِيَّ، يَقُولُ: أَرَى وِلايَةَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ الآيَةَ.

“Saya melihat kekhilafahan Abu Bakar dan ‘Umar radhiallâhu’anhumâ ada termaktub dalam Kitâbullâh ‘azza wa jallâ, yaitu dalam ayat: ‘Wa’adallâhulladzîna âmanû minkum….dst” [Tafsir Ibnu Abi Hatim: 8/2628, no. 14764[9]]

Ibnul ‘Arabî rahimahullâh mengatakan:

وَإِذَا لَمْ يَكُنْ هَذَا الْوَعْدُ لَهُمْ نَجَزَ، وَفِيهِمْ نَفَذَ، وَعَلَيْهِمْ وَرَدَ، فَفِيمَنْ يَكُونُ إِذًا؟ وَلَيْسَ بَعْدَهُمْ مِثْلُهُمْ إِلَى يَوْمِنَا هَذَا، وَلَا يَكُونُ فِيمَا بَعْدَهُ

“Jikalau janji (dalam ayat) ini bukan untuk mereka (para Sahabat), tidak tertunaikan pada mereka, dan tidak datang untuk mereka, maka kepada siapa lagi kalau begitu? Sementara tidak ada satupun yang mampu menyamai mereka sampai hari ini, dan tidak pula di masa depan.” [Tafsîr al-Qurthubi: 12/297]

Janji Tersebut, Masihkah Berlaku?

Para ulama ahli tafsir seperti al-Qurthubi rahimahullâh (wafat: 671-H) berpendapat bahwa janji Allâh dalam ayat tersebut berlaku umum untuk seluruh umat Muhammad r. Dalam tafsirnya berliau mengatakan:

هَذِهِ الْحَالُ لَمْ تَخْتَصَّ بِالْخُلَفَاءِ الْأَرْبَعَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ حَتَّى يُخَصُّوا بِهَا مِنْ عُمُومِ الْآيَةِ، بَلْ شَارَكَهُمْ فِي ذَلِكَ جَمِيعُ الْمُهَاجِرِينَ بَلْ وَغَيْرُهُم… فَصَحَّ أَنَّ الْآيَةَ عَامَّةٌ لِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ مَخْصُوصَةٍ.

“Janji Allâh ini tidak terbatas hanya untuk Khulafâ-ur Râsyidîn radhiallâhu’anhum saja, sampai harus dikhususkan dari keumuman ayat. Bahkan segenap Muhâjirîn dan kaum muslimin yang lain juga masuk dalam janji-janji ayat ini (tentu saja jika syarat-syaratnya terpenuhi-pen)… sampai pada ucapan beliau… Maka pendapat yang shahih adalah bahwa ayat ini berlaku umum untuk umat Muhammad r , tidak bersifat khusus (untuk generasi tertentu dari umat ini-pen).” [Tafsîr al-Qurthubi: 12/299]

Al-Imâm as-Sa’di rahimahullâh (wafat: 1376-H) mengatakan:

ولا يزال الأمر إلى قيام الساعة، مهما قاموا بالإيمان والعمل الصالح، فلا بد أن يوجد ما وعدهم الله، وإنما يسلط عليهم الكفار والمنافقين، ويُديلهم في بعض الأحيان، بسبب إخلال المسلمين بالإيمان والعمل الصالح.

“(Janji Allâh dalam ayat ini) akan senantiasa berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allâh, adalah sebuah kepastian. Kemenangan orang-orang kafir dan munafik pada sebagian masa, serta berkuasanya mereka di atas kaum muslimin, tidak lain disebabkan oleh pelanggaran kaum muslimin dalam iman dan amal shalih.” [Tafsîr as-Sa’di hal. 573]

Makna “Wa’amilush shâlihât…”

Ibnu Jarîr ath-Thabari menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “wa’amilush shâlihât” dalam ayat ini adalah; (وأطاعوا الله ورسوله فيما أمراه ونهياه); “mereka menaati Allah dan Rasul-Nya pada perkara yang diperintahkan dan perkara yang dilarang oleh keduanya.” [lih. Tafsîr ath-Thabari: 19/209][10]

Dalam konteks kekuasaan, ada 4 jenis amalan lahiriyah yang dijadikan indikasi oleh para ulama atas kekhalifahan Islam yang termasuk dalam janji ayat ini. Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullâh mengatakan:

وَصَلَاحُ أَمْرِ السُّلْطَانِ بِتَجْرِيدِ الْمُتَابَعَةِ لِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ وَنَبِيِّهِ وَحَمْلِ النَّاسِ عَلَى ذَلِكَ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ جَعَلَ صَلَاحَ أَهْلِ التَّمْكِينِ فِي أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: إقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَر

“Kebaikan seorang penguasa adalah dengan memurnikan ittibâ’ pada Kitabullâh dan Sunnah Rasul-Nya, serta menjadikan orang-orang untuk melakukan hal yang sama. Karena Allâh telah menjadikan kebaikan bagi Ahlut Tamkîn[11] dengan adanya 4 perkara; penegakan shalat, penunaian zakat, amar ma’ruf dan nahi munkar.” [Majmû’ al-Fatâwa: 28/242]

Apa yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyyah tersebut, didasarkan pada firman Allah:

الَّذِينَ إنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar…” [QS. Al-Hajj: 41]

Bilamana Amal Dikatakan Shalih?

Perlu digarisbawahi bahwa suatu amalan harus memenuhi dua syarat agar bisa dikategorikan sebagai “amal yang shâlih”; pertama, amal tersebut harus dilakukan ikhlas karena Allâh, dan kedua, amal tersebut punya landasan syar’i dari sunnah Rasulullâh r yang shahîh. Dengan demikian, amalan-amalan bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullâh r dan Khulafâ-ur Râsyidîn, tidak termasuk dalam lingkup definisi “amal yang shâlih”.

Amalan bid’ah yang banyak merebak di tengah-tengah kaum muslimin sedikitpun tidak memberikan saham dalam membangun kekuatan umat Islam. Justru sebaliknya, amalan bid’ah adalah racun yang melemahkan persatuan kaum muslimin. Tidaklah umat Islam berpecah belah dari masa ke masa menjadi sekian banyak sekte dan aliran, melainkan bid’ah—khususnya dalam bentuk ideologi dan pemikiran—, pasti telah mengambil peran yang besar di dalamnya.

Amalan yang bisa mewujudkan janji-janji Allah dalam ayat di atas adalah amalan yang benar, amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullâh r. Bukan amalan-amalan bid’ah, sekalipun mayoritas manusia menganggapnya sebagai amalan yang baik.

Makna “Ya’budûnanî…”

Dalam Tasîr ath-Thabari disebutkan bahwa makna (يَعْبُدُوْنَنِيْ) adalah (يخضعون لي بالطاعة ويتذللون لأمري ونهيي); “Mereka menundukkan diri pada-Ku dengan ketaatan, dan mereka menghinakan diri di bawah perintah-Ku dan larangan-Ku.” Mujahid rahimahullâh mengatakan: (يَعْبُدُوْنَنِيْ) yaitu (لا يخافون غيري); “Mereka tidak takut kepada selain-Ku.”

Sedangkan makna (لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا) adalah (لا يشركون في عبادتهم إياي الأوثان والأصنام ولا شيئا غيرها، بل يخلصون لي العبادة فيفردونها إليَّ دون كل ما عبد من شيء غيري); “Mereka tidak menyekutukan Aku dalam peribadatan mereka kepada-Ku dengan sesuatu apapun seperti berhala dan patung-patung, akan tetapi mereka memurnikan peribadatan hanya untuk-Ku. Mereka mengkhususkan ibadah tersebut hanya untuk-Ku, tidak untuk segala macam sesembahan selain-Ku.”

Nah, jika kita renungkan hakikat makna “Ya’budûnani” lalu kita bandingkan dengan realita umat Islam saat ini, maka mau tidak mau kita akan mengakui bahwa umat di zaman ini masih jauh dari kemurnian tauhid. Masih banyak di antara saudara-saudara kita yang terjerembab dalam kubangan lumpur kesyirkan; mereka thawaf di kuburan, meminta-meminta di kuburan orang shalih (berharap agar shâhibul kubur bisa memberikan “uluran tangan” dari alam ghaib, sebagai mediator untuk mereka kepada Sang Khâlik atas segala hajat sekaligus musibah dan kesedihan mereka). Belum lagi maraknya praktek klenik-perdukunan, menjamurnya orang-orang yang terbuai oleh janji-janji ramalan bintang, trend Feng-shui, dan kepercayaan akan kekuatan alam yang mandiri dan lepas dari Qudrâtullâh (kuasa Allâh).

Di sisi yang lain, manusia-manusia moderen yang skeptis (tidak percaya) pada hal-hal yang berbau klenik dan mistik, malah jatuh pada bentuk kesyirikan yang lain, yaitu ketidakpercayaan terhadap perkara-perakara ghaib yang termaktub dalam al-Qur’ân dan hadits-hadits yang shahih[12]. Sehingga lahirlah keangkuhan atheisme yang mengingkari eksistensi Allâh (padahal fitrah mereka meyakini keberadaan-Nya)[13].

Penyebab Utama Rasa Takut & Ketidakamanan

Al-Qur’ân menegaskan bahwa penyebab utama rasa takut yang merasuki orang-orang yang tidak beriman kepada Allâh adalah semata-mata karena kesyirikan mereka. Allâh berfirman:

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ

“Kami akan campakkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, disebabkan mereka telah berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak pernah menurunkan keterangan tentangnya. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang zhalim.” [QS. Ali ‘Imran: 151]

نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ عَلَى الْعَدُوِّ

“Aku (Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam) ditolong (oleh Allah dengan dicampakkannya rasa takut di hati) musuh-musuhku.” [Shahih Muslim no. 523]

Maka jangan sampai kondisi tersebut berbalik justru menimpa kita, gara-gara kesyirikan yang tumbuh marak di tengah-tengah kaum muslimin.

Kalimat Penutup

Artikel ini kami tulis saat “Bandit Dunia” berlabel “Yahudi” kembali menghujani Gaza-Palestina dengan rudal-rudal pembunuh. Tanpa pandang bulu. dan tanpa Bayi-bayi suci tanpa dosa diangkat dalam keadaan bertabur debu dari balik puing reruntuhan. Darah saudara-saudara kita di sana kembali bersimbah. Yang hidup di antara mereka, tidur dalam tangis dan rasa takut yang mencekam. Seolah berbagai himpitan hidup tidak ditemukan berkumpul di satu tempat kecuali di sana. Inikah “nasib malang” yang akan senantiasa menemani kita umat Islam? Dan inikah “nasib mujur” yang senantiasa bersama mereka (Yahudi dan Kuffâr)?

Husnus-zhân billâh (prasangka baik terhadap ketentuan Allâh) dan optimisme haruslah senantiasa tertanam di dada-dada kaum muslimin. Karena pada akhirnya roda kejayaan akan berhenti berputar tepat saat Islam dan kaum muslimin berada di titik puncak.

Renungkanlah sabda Rasulullâh r berikut ini:

عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ، قَالَ: بَيْنَا أَنَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَشَكَا إِلَيْهِ الفَاقَةَ، ثُمَّ أَتَاهُ آخَرُ فَشَكَا إِلَيْهِ قَطْعَ السَّبِيلِ، فَقَالَ: «يَا عَدِيُّ، هَلْ رَأَيْتَ الحِيرَةَ؟» قُلْتُ: لَمْ أَرَهَا، وَقَدْ أُنْبِئْتُ عَنْهَا، قَالَ «فَإِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ، لَتَرَيَنَّ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنَ الحِيرَةِ، حَتَّى تَطُوفَ بِالكَعْبَةِ لاَ تَخَافُ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ، – قُلْتُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِي فَأَيْنَ دُعَّارُ طَيِّئٍ الَّذِينَ قَدْ سَعَّرُوا البِلاَدَ -، وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ لَتُفْتَحَنَّ كُنُوزُ كِسْرَى» ، قُلْتُ: كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ؟ قَالَ: ” كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ، وَلَئِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ، لَتَرَيَنَّ الرَّجُلَ يُخْرِجُ مِلْءَ كَفِّهِ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ، يَطْلُبُ مَنْ يَقْبَلُهُ مِنْهُ فَلاَ يَجِدُ أَحَدًا يَقْبَلُهُ مِنْهُ … قَالَ عَدِيٌّ: فَرَأَيْتُ الظَّعِينَةَ تَرْتَحِلُ مِنَ الحِيرَةِ حَتَّى تَطُوفَ بِالكَعْبَةِ لاَ تَخَافُ إِلَّا اللَّهَ [ص:198]، وَكُنْتُ فِيمَنِ افْتَتَحَ كُنُوزَ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ وَلَئِنْ طَالَتْ بِكُمْ حَيَاةٌ، لَتَرَوُنَّ مَا قَالَ النَّبِيُّ أَبُو القَاسِمِ: صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخْرِجُ مِلْءَ كَفِّه

“Dari ‘Ady bin Hâtim dia menceritakan: ‘Suatu ketika aku berada di sisi Nabi r tiba-tiba seorang pria menghampiri beliau seraya mengeluhkan kefakiran yang menimpanya. Kemudian datang pria lain mengeluhkan maraknya perampokan di jalan (tidak ada rasa aman)’. Lantas beliau r berkata: ‘Wahai ‘Ady, pernahkah engkau melihat Hîrah (sebuah tempat di Iraq, dekat Kûfah)’. Aku katakan: ‘Aku belum pernah melihatnya, namun aku pernah dikabari tentangnya’. Beliau r berkata: ‘Jika umurmu panjang, sungguh engkau akan melihat seorang wanita akan melakukan perjalanan dari Hîrah untuk thawaf di Ka’bah, dia tidak merasa takut kepada siapapun kecuali hanya pada Allâh’. Aku berkata dalam hati: ‘Lantas kemana perginya, orang-orang bejat yang membuat fitnah dan huru-hara di negeri-negeri?’ Beliau r berkata: ‘Jika usiamu panjang, sungguh suatu saat akan dibuka perbendaharaan Raja Kisrâ’. Aku berkata: ‘Kisrâ bin Hurmuz’? Beliau r berkata: ‘Ya, Kisrâ bin Hurmuz. Andaikata umurmu masih panjang, engkau akan menyaksikan seorang mengeluarkan segenggam penuh emas atau perak di tangannya, dia mencari orang yang sudi menerimanya, namun ia tidak mendapatkan seorangpun yang mau menerimanya’… … ‘Ady berkata: ‘Aku telah menyaksikan ada seorang wanita yang bepergian dari Hîrah sampai ia thawaf di Ka’bah, tidak ada seorangpun yang ia takuti kecuali hanya Allah. Dan aku (kata ‘Ady) adalah termasuk orang yang menaklukkan Kerajaan Kisrâ dan membuka perbendaharaannya[14]. Sungguh jika umur kalian panjang, kalian akan menyaksikan kebenaran sabda Rasulullâh r tentang laki-laki yang mencari-cari orang yang sudi menerima pemberian emasnya (inilah gambaran betapa makmur, aman dan tentramnya kehidupan umat Islam saat itu, dan ini merupakan janji yang bersifat pasti -pen).” [Shahîh al-Bukhâri: 3595]

Abu Hurairah radhiallâhu’anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullâh r pernah bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ، فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ، إِلَّا الْغَرْقَدَ، فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Kiamat tidak akan terjadi sampai kaum muslimin memerangi Yahudi. Kaum muslimin membinasakan mereka sampai-sampai mereka bersembunyi di balik batu dan pepohonan, maka saat itulah batu dan pohon berkata: ‘Wahai muslim, wahai hamba Allâh, ini Si Yahudi bersembunyi di balikku, kemari! Bunuhlah dia! Kecuali pohon Gorqod, karena ia adalah pohon Yahudi.” [Shahîh Muslim: 2922]

Dalil-dalil di atas, sangat lugas dan jelas dalam menegaskan bahwa masa depan dunia ada di tangan Islam. Kemenangan, toh pada akhirnya milik Islam dan kaum muslimin. Namun yang menjadi inti permasalahan adalah: ‘Kapankah kita berupaya menggolongkan diri ke dalam Ahlut Tamkîn yang dipuji dalam ayat-55 Surat an-Nûr ini?’.[15]

Wallâhuta’âla A’lam

***


[1] Dalam kitab beliau ash-Shahîhul Musnad min Asbâbin Nuzûl hal. 151, Cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah – Kairo, 1408-H.

[2] Menurut al-Hâkim (wafat: 405-H) riwayat ini shahih, dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Lih. Al-Mustadrak no. 3512, Tahqîq: Musthafa Abdul Qâdir ‘Athâ.

[3]Cet. Mu-assasah ar-Risâlah, 1420-H, Tahqiq: Ahmad Muhammad Syâkir.

[4]Cet.-1 Dârul Wathan – Riyâdh, 1418-H, Tahqîq: Yâsir Ibrâhîm & Ghunaim ‘Abbâs Ghunaim.

[5] Lihat makna “istakhlafa” dalam Mu’jamul Alfaazhil Qur’ânil Karîm: 1/369, disusun oleh sekumpulan ulama yang diketuai oleh DR. Ibrahîm Madkûr, Cet. 1409-H, Jumhûriyyah Mishr al-Arabiyyah.

[6] Sebagaimana tafsiran Qatadah yang disebutkan dalam Tafsîr al-Baghawi (3/425, Cet.-1 Dâr Ihyâ’ at-Turâts, 1420-H, Tahqîq: Abdurrazzâq al-Mahdi).

[7] Sebagaimana tafsiran Ibnu Abbâs yang disebutkan dalam Tafsîr al-Baghawi (3/425).

[8] Lih. Tafsîr as-Sa’di hal. 573, Cet. Mu-assasah ar-Risâlah, 1420-H.

[9]Cet.-3 Nizâr Musthafâ al-Bâz, 1419-H, Tahqîq: As’ad Muhammad Thayyib.

[10] Adapun makna (لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ) adalah (ليورثنهم الله أرض المشركين من العرب والعجم، فيجعلهم ملوكها وساستها); “Allah akan mewariskan kepada mereka (orang-orang yang beriman dan beramal shaleh) negeri orang-orang musyrik dari kalangan Arab maupun Non-Arab, lantas mereka menjadi penguasa-penguasa di negeri tersebut.”

Sedangkan makna (وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ) adalah (وليوطئنّ لهم دينهم، يعني: ملتهم التي ارتضاها لهم، فأمرهم بها); “Allah akan mengokohkan pijakan agama mereka, yaitu agama mereka yang diridhai Allah untuk mereka, yang diperintahkan oleh Allah untuk beragama dengannya (yaitu Islam).”

Dan makna (وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ) adalah (وليغيرنّ حالهم عما هي عليه من الخوف إلى الأمن); “Dan Allah akan menggantikan keadaan mereka dari ketakutan menjadi aman.”

[11] Orang-orang yang dianugerahi kekuasaan oleh Allâh lantas mereka menegakkan syari’at Allâh.

[12] Sehingga muncullah agama sesat baru bernama Sciencetology yang dibuat oleh L. Ron Hubbard (1911-1986). Dianut oleh mereka yang mengaku sebagai manusia-manusia hi-tech. Mereka beranggapan bahwa Iptek adalah tokoh utama yang menentukan takdir manusia dan alam semesta. Dalam bahasa yang lebih sederhana, sejatinya mereka telah menjadikan Iptek sebagai “Tuhan”. [lih. http://id.wikipedia.org/wiki/Scientology]

[13] Guru kami al-Ustadz al-Fâdhil Masyhuri Badran hafizhahullâhuta’âla menambahkan: “Ini dikarenakan mereka berpaling dari ayat-ayat kauniyyah Allâh (bukti-bukti keberadaan dan kekuasaan-Nya) di alam semesta, sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Shâlih Fauzan dalam Kitâbut Tauhid jilid yang pertama.”

[14] Syaikhul Islâm menyebutkan bahwa penaklukan Kisrâ ini (termasuk Qaishar Romawi) terjadi pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Khath-thab radhillâhu’anhu, dan harta-harta Kisrâ serta Qaishar diinfakkan oleh ‘Umar di jalan Allâh. [Majmû’ al-Fatâwa: 25/304]

[15] Sebagai tambahan silahkan membaca tulisan kami yang berjudul “Bantulah Palestina dengan Taqwamu”  di bawah ini, Tulisan ini membahas amalan (yang tampak sepele) namun justru menjadi kunci kemenangan Islam di masa lampau. Dibawakan juga penjelasan ulama salaf bahwa bantuan Bala Tentara Malaikat untuk tentara Rasulullâh dan para Sahabat, akan senantiasa ada untuk kaum muslimin sampai hari kiamat. Hanya saja, bagaimana meraihnya?

BANTULAH PALESTINA DENGAN TAQWAMU

KATA KUNCINYA; “TAQWA” & “SABAR DI ATAS TAQWA”

Allah menjanjikan kepada kita:

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“…Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” [QS. Ali ‘Imran: 120]

Imam Ibnu Jarir ath-Thobari dalam tafsirnya (Tafsir ath-Thobari: 7/159, Cet. Maktabah Ibnu Taimiyah) menegaskan bahwa yang dimaksud “tipu daya mereka” dalam ayat di atas adalah “tipu daya Yahudi”. Selanjutnya dalam tafsir ayat berikutnya, beliau mengucapkan kalimat emas yang memperjelas makna “bersabar” dan “bertaqwa”:

وإن تصبروا وتتقوا لا يضرُّكم، أيها المؤمنون، كيد هؤلاء الكفار من اليهود شيئًا، ولكن الله ينصرُكم عليهم إن صبرتم على طاعتي واتباع أمر رسولي، كما نصرتكم ببدر وأنتم أذلة. وإن أنتم خالفتم، أيها المؤمنون، أمري ولم تصبروا على ما كلفتكم من فرائضي، ولم تتقوا ما نهيتكم عنه وخالفتم أمري وأمر رسولي، فإنه نازل بكم ما نزل بكم بأحُد

“Jika kalian bersabar dan bertaqwa wahai orang-orang mukmin, niscaya tidak akan memudharatkan kalian sedikitpun, tipu daya mereka orang-orang kafir dari kalangan Yahudi. Hanya saja Allah akan menolong kalian atas mereka, jika kalian tetap bersabar di atas ketaatan kepada-Ku dan mengikuti perintah Rasul-Ku, sebagaimana Aku telah menolong kalian pada Perang Badr padahal saat itu kalian dalam keadaan lemah (sedikit). Namun jika kalian, wahai orang-orang yang beriman, menyelisihi perintah-Ku dan kalian tidak bersabar pada apa-apa yang telah Aku wajibkan atas kalian, dan kalian tidak bertaqwa dari apa-apa yang Aku larang, dan kalian menyelisihi perintah-Ku dan perintah Rasul-Ku, maka akan turun kepada kalian (bencana kekalahan) sebagaimana yang telah menimpa kalian pada Perang Uhud”.

Pada Perang Uhud kaum muslimin ditimpa oleh bencana yang memilukan. Allah menegaskan bahwa bencana tersebut disebabkan oleh tergelincirnya sebagian kaum mukminin pada saat itu dari jalan taqwa. Mereka tidak bersabar dalam menaati perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam yang menyuruh pasukan pemanah untuk tetap siaga di atas Uhud sebagai benteng pertahanan utama dari serangan musuh dari arah belakang. Mereka tidak bisa bersabar melihat kemenangan yang telah di depan mata dan ghanimah yang mulai dikumpulkan. Akibatnya, turunlah teguran Allah berupa pukulan telak dari musuh yang datang menyerbu dari balik punggung mereka.

Dalam ayat yang lain Allah menegaskan:

بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آَلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ

“Ya. Jika kalian bersabar dan bertaqwa, dan mereka menyerang kalian dengan seketika, niscaya Allah akan menolong kalian dengan (menurunkan) lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” [QS. Ali ‘Imran: 125]

Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengomentari ayat di atas dengan kalimat yang sungguh-sungguh memberikan optimisme dahsyat bagi kita semua yang mencita-citakan kemenangan Islam:

وَهَؤُلاَءِ الْخَمْسَةُ آلاَفٌ رِدْءُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“(Pertolongan Allah yang mengutus) Lima ribu (bala tentara) Malaikat ini, merupakan pertolongan bagi orang-orang mukmin (yang akan tetap ada) hingga hari kiamat.” [Dinukil dari tafsir Imam al-Baghowi, Ma’aalimut Tanziil: 1/412, Cet. Daarut Thayyibah 2002].

Lebih lanjut Imam al-Baghowi (wafat 516 H) menukil ucapan para ulama yang berpendapat bahwa pertolongan Allah dalam wujud bala tentara Malaikat ini merupakan janji Allah bagi kaum muslimin dalam setiap jihad (peperangan) mereka, dan telah menjadi kenyataan pada Perang Badr dan Perang Ahzaab. Tentu saja pertolongan dari bala tentara Malaikat tersebut mempersyaratkan 2 hal; taqwa dan sabar di atas taqwa, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.

Lebih khusus berbicara tentang pertolongan Allah bagi kaum muslimin terhadap orang-orang Yahudi, adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3808) dari ‘Aisyah radhiallahu’anha:

لَمَّا رَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْخَنْدَقِ وَوَضَعَ السِّلَاحَ وَاغْتَسَلَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ قَدْ وَضَعْتَ السِّلَاحَ وَاللَّهِ مَا وَضَعْنَاهُ فَاخْرُجْ إِلَيْهِمْ قَالَ فَإِلَى أَيْنَ قَالَ هَا هُنَا وَأَشَارَ إِلَى بَنِي قُرَيْظَةَ

“Tatkala Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam kembali dari Khandaq (Perang Ahzaab), dan beliau menanggalkan persenjataannya kemudian mandi. Kemudian datanglah Jibril ‘alaihissalam kepada beliau seraya berkata: ‘Engkau telah meletakkan senjata, sementara—demi Allah—kami (para Malaikat) tidak meletakkannya. Keluarlah kembali menuju mereka (untuk berperang)! Nabi r berkata: ‘Keluar ke mana?’ (karena tentara kafir Quraisy yang mengepung Madinah pada saat itu telah mundur berkat pertolongan Allah melalui para Malaikat-Nya-red), Jibril ‘alaihissalam menjawab: ‘Ke sini’. Jibril ‘alaihissalam mengisyaratkan ke arah (perkampungan Yahudi) Bani Quraizhoh (karena mereka telah membatalkan perjanjian secara sepihak, dengan bersekutu bersama tentara kafir Quraisy dalam mengepung Madinah-red).

TAQWA YANG PALING AGUNG; SENJATA TERAMPUH MELAWAN YAHUDI

Bentuk ketaqwaan banyak sekali ragamnya dan bertingkat-tingkat kedudukannya di sisi Allah. Dari sekian banyak ragam ketaqwaan, taqwa yang paling agung nilainya di sisi Allah adalah Tauhidullah, yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan tujuan segenap peribadatan hamba yang disyari’atkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Dalilnya adalah firman Allah tatkala mensifatkan kesyirikan:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“…Sungguh kesyirikan merupakan kezhaliman yang teramat besar.” [QS. Luqman: 13]

Kita tahu bahwa kesyirikan adalah lawan daripada Tauhidullah, dan kezhaliman adalah lawan daripada ketaqwaan. (Maka mafhum mukholafah-nya adalah) Jika kesyirikan merupakan bentuk kezhaliman yang besar, maka Tauhidullah sudah pasti merupakan ketaqwaan yang besar pula.

Jika demikian halnya, maka harus dipahami oleh seluruh kaum muslimin di manapun mereka berada, bahwa Tauhidullah adalah senjata terampuh kita dalam melawan musuh-musuh Islam. Firman Allah adalah bukti mutlak tentang hal ini:

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ

“Kami akan campakkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, disebabkan mereka telah berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak pernah menurunkan keterangan tentangnya. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang zhalim.” [QS. Ali ‘Imran: 151]

Inilah karomah umat Muhammad r yang sebenarnya telah dijanjikan oleh Allah melalui lisan Nabi-Nya:

نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ عَلَى الْعَدُوِّ

“Aku (Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam) ditolong (oleh Allah dengan dicampakkannya rasa takut di hati) musuh-musuhku.” [Shahih Muslim no. 523, asy-Syamilah]

Kesyirikan—sebagaimana ditegaskan dalam ayat tersebut—adalah sumber ketakutan yang sudah barang tentu melahirkan kelemahan. Allah akan berlepas tangan dan tidak akan menolong kaum muslimin jika mereka berbuat syirik kepada-Nya. Kenyataan pahit inilah yang sejak dulu hingga kini menimpa kita kaum muslimin. Sungguh kesyirikan dan kekufuran telah mewabah di tengah-tengah kaum muslimin di seluruh dunia tanpa terkecuali, baik disadari maupun tidak disadari.

Penderitaan kaum muslimin di Palestina bisa kita akhiri bersama dengan taqwa, karena Allah telah berfirman:

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“…Barangsiapa bertaqwa, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar.” [QS. ath-Tholaq: 2]

Taqwa adalah hadiah yang bisa diberikan oleh segenap kaum muslimin untuk menolong Palestina, khususnya bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan menolong secara materi maupun fisik. Jangan pernah menyangka bahwa Palestina hanya akan terbebas dari penindasan Yahudi, jika disokong oleh persenjataan dan bantuan materi yang hebat, atau dengan teriakan unjukrasa yang keras. Boleh jadi Allah akan mengangkat penderitaan Palestina, dikarenakan do’a dari seorang hamba-Nya yang bertaqwa, yang bermunajat dan beribadah penuh ketulusan, demi kebaikan muslimin Palestina. ***

Sumber: http://alhujjah.com/

Advertisements

3 thoughts on “Pada Akhirnya Kejayaan Adalah Milik Kita (Tafsir Ayat-55 Surat an-Nuur)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s