Utamakan Ridha Allah saja, Kebahagiaan Pasti Kita Rengkuh!

Sumber KebahagiaanAPA yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini? Semua orang, termasuk kita pasti akan menjawab sama,  kebahagiaan. Semua aktivitas yang dilakukan oleh umat manusia, dari Nabi Adam hingga manusia akhir zaman kelak, semuanya hanya ingin mendapat kebahagiaan.

Namun demikian, hanya sedikit atau bahkan mungkin sangat langka manusia yang benar-benar memahami makna dari kebahagiaan itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat dalam panggung kehidupan manusia di zaman ini, di mana dunia dipenuhi dengan berbagai macam persoalan besar, yang sebenarnya bersumber dari masalah kecil yang tidak segera diatasi.

Sebagai contoh, manusia hari ini lebih suka dengan hal-hal yang bersifat instan. Padahal, alam ini memiliki hukum proses di dalamnya. Seperti itu pula dalam kehidupan manusia. Tidak ada keberhasilan melainkan mensaratkan usaha, ikhtiar dan do’a bahkan pengorbanan di dalamnya. Sayang,  manusia selalu ingin serba cepat.

Mengapa kasus penipuan sangat marak di era modern ini? Sampai urusan-urusan ibadah saja masih sempat-sempatnya disusui penipuan. Semua tidak lain karena telah terjadi kerusakan cara berpikir. Umumnya orang ingin kaya secepat kilat. Ibaratnya, kalau bisa tanpa usaha (bahkan kalau perlu tanpa pengorbanan) kenapa tidak dilakukan?

Perilaku hidup seperti itu pula yang mendorong praktik korupsi dan kolusi di negeri ini sulit dibereskan. Akhirnya, prinsip persaudaraan, saling mengasihi, saling menolong (ta’awun), sudah sulit lagi kita temukan. Semua diukur dengan dunia (uang).

JIka ada orang mengalami musibah kecelakaan, kemudian diantar ke tempat berobat, pertanyaan pertama dari pihak pengelola tempat berobat adalah; Apakah yang bersangkutan  memiliki jaminan uang atau tidak? Jarang sekali yang langsung sigap memberi pertolongan, kecuali secara kasat mata terlihat sebagai manusia berduit. Jika tidak,maka pelayanan pun akan diberikan asal-asalan.

Beberapa kasus kita saksikan,  orang berebut menjarah truk atau mobil yang sedang ditimpa musibah kecelakaan. Bukan menolong penumpangnya agar selamat dari musibah, justru masyarakat ‘menari-nari’ di atas penderitaan yang terkena musibah.

Di sisi lain, masyarakat saat ii mulai banyak terseret pada pola hidup mubadzir dan sia-sia. Betapa banyak, masyarakat disibukkan dengan jadwal orang lain, ibaratnya, hidupnya digerakkan dan didekte oleh industri?

Anak remaja dan para pamuda sibuk  dengan smart phone-nya, hingga lupa jadwal kehidupan nya yang jauh lebih penting. Mereka asyik berkomunikasi via on-line, seolah lupa hal-hal penting lain.  Ibu putri mereka sibuk jadwal sinotron, sementara ayahnya  sibuk mengikuti jadwal pertandingan bola, hingga lupa shalat dan duduk bersimpuh di hadalan Allah Subhanahu wata’ala.

Pertanyaannya, mengapa manusia modern sekarang berpola pikir dan berpola hidup seperti itu? Tiada lain karena orientasi hidupnya yang sangat dekat (dunia dan segala kesenangan di dalamnya), sehingga tidak mampu melihat perkara-perkara penting yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan asasinya. Inilah akar dari materialisme, cinta dunia lupa akhirat.

Utamakan Akhirat

Jika cara-cara hidup mayoritas manusia modern sebagaimana terpapar di atas ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan, lantas bagaiamana agar kebahagiaan itu bisa terwujud?

Tiada lain kecuali dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw, yakni dengan mengutamakan akhirat dengan tidak melupakan dunia.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS: Al-Qashashash [28] : 77).

Jadi, kebahagiaan itu akan benar-benar kita rengkuh apabila kita mengutamakan akhirat (menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya) sembari terus berusaha memperbaiki kondisi ekonomi keluarga dengan cara yang halal, tekun dan penuh kesungguhan.

Pada saat yang sama, kita berusaha berbuat baik terhadap sesama dengan penuh kesungguhan hati, sehingga tercipta kehidupan yang rukun, damai dan indah. Petuah dari tanah Sunda mengatakan, dalam hidup ini kita harus saling asah, asih dan asuh. Jadi, tidak boleh kita saling benci, saling bermusuhan, dan saling menjelekkan.

Kesengsaraan

Siapa yang lebih suka membenci saudara seimannya daripada mencintai, menyayangi dan mengasihinya, maka kecelakaan besar akan menjumpainya. Apalagi, jika semua itu dilakukan semata-mata hanya karena urusan dunia, sungguh kebinasaan akan menghampirinya. Sebagaimana telah dialami oleh Fir’aun, Qarun, Haman, Abu Jahal, Abu Lahab, termasuk Tsa’labah.

Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. 

Barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan menceraiberaikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi).

Berkenaan dengan hadits tersebut, Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani memberi uraian tentang orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya sebagai orang yang akan mengalami kerugian dan kesengsaraan.

Syeikh Al-Albani menjelaskan bahwa arti ‘menceraiberaikan urusannya’ yaitu urusan-urusannya yang sudah tersusun rapi justru menjadi berantakan.

Dengan demikian, kita harus berusaha membebaskan diri dari ancaman kesengsaraan tersebut dengan mencintai akhirat tanpa lupa dunia. Atau dengan bahasa lain; kuasai dunia jangan cintai, melainkan akhirat. Niscaya Allah akan memberikan kebahagiaan di dunia dan surga di akhirat.

Terhadap orang yang seperti itu, Allah memerintahkan kita untuk menjauhinya, karena orang yang hanya cinta dunia adalah orang yang pengetahuannya tidak menambah apapun, melainkan terus menambah kesesatan dan kesengsaraan (QS. Al-Najm [53] : 29 – 30).

Hakikat Dunia

Untuk mengutamakan akhirat atas dunia maka kita perlu merenungkan sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah ra.

Dunia ini adalah tempat tinggal orang yang tidak mempunyai rumah, harta bagi orang yang tidak mempunyai harta benda. Dan karenanya (dunia) orang-orang yang tidak berakal berlomba-lomba untuk mengumpulkannya.” (HR. Ahmad).

Disamping itu Rasulullah juga memberikan anjuran kita untuk berdoa seperti ini; “Allahumma latajaliddunya akbara hammina, wala mablaga ilmina” (Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai puncak cita-cita dan tujuan akhir pengetahuan kami).

Jadi, siapa yang hidup untuk harta, maka dia akan menjadi pewaris Qarun. Siapa yang hidup untuk tahta maka ia akan menjadi pewaris Fir’aun. Dan, siapa yang cinta hawa nafsu, dia akan menjadi bagian dari tentara setan.

Dan, tidaklah semua pewaris dunia itu kecuali berakhir di dalam neraka yang menyala-nyala. Na’udzubillahi min dzalik. Lantas, masihkah kita akan menyandarkan kebahagiaan hidup kita pada dunia dan mengorbankan akhirat yang sangat kita butuhkan? Padahal, ridha Allah yang merupakan sumber kebahagiaan terindah, hanya untuk hamba-Nya yang mengutamakan akhirat di atas dunia.*/Imam Nawawi

Sumber: http://hidayatullah.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s