Islam Agama Damai

Muslims Hold Day Of Prayer On Capitol HillOleh: Sholih Hasyim
(Anggota Dewan Syura Hidayatullah)

Sepuluh hari berlalu dari bulan Ramadhan tahun 8 Hijriah. Sepuluh ribu pasukan Islam, dipimpin oleh panglima tertinggi kaum Muslim, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), bergerak meninggalkan Madinah menuju Makkah. Mereka ingin membebaskan Makkah dari penguasaan kaum kafir.

Ketika sampai di Marru Zahran, hari sudah masuk malam. Sang panglima memerintahkan pasukannya untuk menyalakan obor. Dalam sekejap lembah itu terang benderang.

Kebetulan saat itu tiga anggota pasukan kafir Quraisy, Abu Sufyan bin Harb (yang belum memeluk Islam), Hakim bin Hizam, dan Budail bin Warqo’, sedang mengintai lembah tersebut untuk mencari berita. Manakala ribuan obor tiba-tiba menyala, terkejutlah mereka. “Siapa yang menyalakan obor-obor tersebut?” begitu pikir mereka.

Ketiga orang tersebut langsung mengetahui bahwa pasukan Muslim lah yang menyalakan obor-obor itu, ketika melihat Abbas bin Abdul Muthalib. Abbas pun memergoki dan mengenali ketiganya.
Terjadilah dialog antara Abbas dan ketiga orang tersebut. Dari dialog tersebut tahulah Abu Sufyan bahwa Makkah sedang berada dalam ”ancaman” akan diduduki musuh.

Lalu, Abu Sufyan bertanya kepada Abbas. “Apa yang harus saya lakukan?”
“Naiklah ke punggung hewan tungganganku ini. Aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah (SAW) dan minta jaminan untukmu,” jawab Abbas.

Abu Sufyan segera menuruti perintah Abbas. Sedangkan kedua temannya kembali ke Makkah.
Tak dinyana, Abu Sufyan tak diperlakukan selayaknya sebagai musuh oleh Rasulullah SAW. Kelembutan sang panglima tertinggi kaum Muslim ini meluluhkan hati Abu Sufyan. Ia pun menyatakan keislamannya.
Pasukan Islam kemudian bergerak menuju Makkah. Tanpa perlawanan berarti, Makkah berhasil diduduki pasukan Muslim.

annya menunjukkan jati diri Islam yang damai. Andaikan kaum Muslim saat itu ingin membalas sakit hati atas perlakuan keji penduduk Makkah yang menyiksa, memboikot, mengusir, menodai kaum Muslim dan keluarganya delapan tahun silam, pastilah orang-orang akan memakluminya. Namun, Rasulullah SAW justru memaafkan mereka.

Bahkan, Abu Sufyan, orang yang belum lama menyatakan keislamannya, justru diangkat namanya oleh Rasulullah SAW saat berpidato di hadapan penduduk Makkah. ”Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman. Siapa yang masuk ke Masjidil Haram, ia selamat. Antumuth thulaqaa (kalian semua bebas).”
Pembebasan Makkah berlangsung damai, tanpa dendam dan pertumpahan darah. Kaum Muslim tak mau merendahkan musuh yang kalah. Dan, sekitar 2 ribu penduduk Makkah langsung mengucap kalimat syahadat.

Kata ‘As-Salam’

Islam, yang menjadi nama din (agama) kita, berasal dari kata as-Salam, artinya keselamatan, atau mencari jalan damai. Islam dan as-Salam secara sinergis menciptakan ketenteraman, kedamaian, keamanan, dan ketenangan.

As-Salam adalah salah satu prinsip yang ditanamkan Islam dalam jiwa pemeluknya, agar menjadi bagian penting dari kepribadiannya. Kehadiran Islam menyucikan kehidupan pemeluknya.
Menurut Imam Asy-Syatibi, Islam hadir untuk menjaga dharuriyyatul khams (lima tujuan pokok) kehidupan: memelihara agama (din), jiwa, keturunan, harta, dan akal dari berbagai kontaminasi yang bisa merusaknya.
Imam Qarrafy menambahkan jumlah yang lima di atas menjadi enam yaitu ”memelihara kehormatan diri” (hifzhul ‘irdh).

Itulah sebabnya Islam mengharamkan menggunjing (ghibah) dan menuduh orang berbuat zina (qadzfuzzina). Dalam sabdanya, Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa orang Islam itu haram darahnya, harga dirinya, dan hartanya atas orang Islam yang lain.

Di sini harga diri disandingkan dengan darah dan didahulukan atas harta. Bahkan, bukanlah seseorang dikatakan berperilaku sebagai seorang Muslim jika orang lain tidak selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Dengan selalu mengucapkan salam kepada sesama dan ber-mushafahah (saling berjabatan tangan) di samping bisa merontokkan dosa pelakunya, juga bisa melunakkan dan menjinakkan hati.
Orang yang paling utama dan paling dekat kepada-Nya adalah orang yang apabila berjumpa dengan saudara Muslim yang dikenal maupun yang tidak dikenal, memulai dengan mengucapkan salam.
Di medan perang, jika seorang pasukan melontarkan kata “salam” dari lidahnya, perang wajib dihentikan terhadapnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia.. (An-Nisa [4] : 94).

Ketika Nabi SAW dan para sahabat pertama kali memasuki kota Madinah, beliau berkata, “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalinlah silaturrahim, shalat malam lah saat manusia sedang tidur, engkau akan masuk surga dengan damai.”
Penghormatan Allah SWT kepada orang-orang beriman adalah dengan salam.

Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. (Al-Ahzab [33] : 44)

Penghormatan Malaikat kepada manusia di hari akhirat juga dengan salam.

(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum” (salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada kalian atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (Ar-Ra’du [13]: 23-24)

Nama tempat tinggal orang-orang shaleh di surga adalah Darul Amn was Salam (tempat aman dan damai).

Bagi mereka (disediakan) darussalam (syurga) pada sisi Tuhannya dan dialah pelindung mereka disebabkan amal-amal shalih yang selalu mereka kerjakan. (Al-Anam [6] : 127)

Allah SWT menyeru manusia kepada Darus Salam (tempat tinggal yang penuh kedamaian). Ini sesuai firman Allah SWT:

Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus [10] : 25)

Para penduduk surga tidak pernah mendengar ucapan dan tidak berbicara selain salam (kedamaian). Allah SWT berfirman:

Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. Akan tetapi mereka mendengar Ucapan salam. (Al-Waqiah [56]: 25-26)

Berbagai pengulangan kata “salam” dalam ayat dan cerita di atas hendaknya bisa membangunkan jiwa, mencerdaskan pikiran, dan menggerakkan badan agar kita, kaum Muslim, bersemangat mewujudkan perdamaian di tengah-tengah kehidupan. Tak ada alasan untuk menolak hal ini.

Dan, fakta dalam sejarah menunjukkan, Islam sebagai agama dakwah (dinud da’wah wal intisyar) tersebar ke seluruh dunia lewat amal, akhlak, dan perilaku penyerunya yang membawa kedamaian.

Kalau pun kaum Muslim ketika masa Rasulullah SAW dan para sahabat kerap melakukan perang, itu bukanlah atas dasar kebencian dan permusuhan, namun lebih atas alasan pembebasan.

Sayangnya kini, dinding paling tebal yang membatasi Islam dengan masyarakat dunia adalah kaum Muslim itu sendiri. Keindahan Islam sebagai agama pembebas dan agama yang damai seolah-olah hanya berada dalam kitab-kitab sejarah.

Ambisi telah menenggelamkan makna damai dalam Islam. Justru yang tampak kini adalah keangkuhan demi memenuhi ambisi pribadi dan kelompok tadi.
Dan,orang-orang yang tak suka dengan Islam akan mencibir, “Mengapa kedamaian tak tampak pada pemeluk agama yang damai ini?”

Wallahu A’lam bish Shawab.***SUARA HIDAYATULLAH APRIL 2009

Sumber: http://majalah.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s