Mandiri Seperti Rasulullah

Dalam momentum hijriyah di tahun 1434 ini, umat Islam masih dilanda banyak penyakit kronis. Salah satunya adalah ketergantungan yang tinggi terhadap musuh-musuh kaum Muslim sendiri. Padahal Islam mengajarkan semangat yang luar biasa untuk hidup mandiri.

Kalau mau jujur, kaum Muslim di negeri ini belum sepenuhnya mandiri, baik dari sisi ekonomi, teknologi, politik, militer, informasi, budaya, maupun pendidikan.

Betapa mirisnya kita menyaksikan umat Islam di negeri kita sendiri begitu mudah diperdaya oleh kapitalisme dunia.

Contoh nyata, dalam mengelola sumber daya alam, kita masih sangat tergantung kepada Barat. Lebih parah lagi dari sisi budaya, umat Islam telah dibuat tergantung kepada produk-produk budaya Barat, baik musik, tontonan, maupun fashion.

Sebagai Muslim tampaknya kita perlu berkaca, sudah sejauh mana kita menghayati dan mengamalkan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari? Ini akan menjadi tolak ukur untuk melihat kemandirian umat.
Namun, tentu saja makna kemandirian bukan berarti terlepas sama sekali dari kebutuhan untuk saling membantu dan bekerja sama.

Bukan Bergantung

Kalau kita simak al-Qur`an dan al-Hadits, kita tidak akan menemukan satu pun anjuran atau perintah kepada kaum Muslim untuk “mandiri”. Sama halnya, kita juga tidak menemukan larangan untuk “bergantung” kepada sesama.

Ini karena manusia diciptakan begitu lemah, sehingga di antara mereka harus terjalin interaksi yang saling membutuhkan.

Coba bayangkan! Ketika awal kelahirannya, manusia tak ada yang langsung bisa berdiri dan berjalan. Bebeda dengan binatang yang hanya dalam hitungan jam bisa segera berdiri, berjalan, bahkan berlari. Malah ada di antara mereka yang bisa langsung mencari makan di hari kelahirannya.

Tapi bayi manusia, jangankan mencari makan sendiri, sekadar makan saja masih harus disuapi. Begitu pula dalam urusan buang hajat, orang tualah yang masih memegang tanggung jawab penuh, karena bayi manusia tidak bisa melakukan apapun, kecuali menangis.

Jika kemandirian itu diartikan sebagai lepasnya manusia dari semua ketergantungan kepada sesamanya, maka sampai kapan pun hal itu tidak akan pernah terjadi. Sampai mati manusia tetap membutuhkan pertolongan orang lain. Sampai-sampai ada ungkapan, “Tak pernah ada mayat yang bisa berjalan sendiri ke kuburnya.”

Mari sejenak kita merenung! Saat kita makan, berapa tangan yang ikut bekerja sehingga makanan itu sampai ke meja makan kita? Di sana ada petani yang menanam padi, buruh sawah yang ikut mengolah, pengepul yang mengumpulkan hasil panen, pedagang yang berjualan, dan kuli panggul yang mengangkat barang-barang belanjaan kita. Tak lupa, ada pembantu rumah tangga yang memasak makanan. Itu baru nasi, belum lauk, sayur-mayur, atau buah-buahan.

Bisakah manusia hidup tanpa pertolongan dan bantuan orang lain? Itulah sebabnya al-Qur`an tidak menganjurkan, apalagi memerintahkan, kita mandiri. Sebaliknya, manusia harus tolong menolong.
Allah SWT berfirman:Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaaan, dan janganlah kamu tolong menolonglah dalam dosa dan permusuhan. (Al-Maidah [5]: 2)

Semangat Memberi

Yang dimaksudkan saling menolong pada ayat di atas adalah antar orang yang berkemampuan, bukan antara orang yang mampu dengan orang yang tidak mampu, atau antara orang yang kuat dengan orang yang lemah. Posisi keduanya harus seimbang dan setara.

Bukan termasuk saling menolong jika ada yang selalu meminta. Sebab, orang yang meminta pada dasarnya tidak berkemampuan. Hubungan keduanya tidak setara. Yang satu di atas, yang kedua di bawah.

Rasulullah SAW bersabda, “Tangan di atas itu lebih baik dari tangan di bawah.” (Riwayat Bukhari)
Maka kemadirian manusia haruslah diartikan sebagai kemampuan untuk menjadi “tangan di atas”, bukan “tangan di bawah”.

Orang yang mandiri tak pernah rela menjadikan dirinya berada dalam posisi “tangan di bawah”. Ia selalu ingin bisa memberi, bukan meminta; membantu, bukan dibantu; menolong, bukan ditolong; menjadi subyek, bukan obyek; menjadi orang berdaya, bukan yang tak berdaya; menjadi orang yang mampu, bukan lemah; dan menjadi orang yang mulia, bukan hina.

Suatu kali di zaman Sahabat, ada seorang laki-laki yang baru datang dari melaksanakan ibadah haji. Ia tampak senang karena selama di Tanah Suci ia dapat menemani seorang alim lagi zahid.

Begitu senangnya hingga laki-laki itu bercerita kepada semua orang tentang pengalamannya.Menurutnya, orang alim itu sangat taat beribadah. Tiada waktu lowong kecuali diisi dengan zikir. Begitu ada waktu sedikit kosong, pasti digunakan untuk menggelar sajadah dan shalat sunnah.

Suatu ketika salah seorang Sahabat Rasulullah SAW ikut mendengar cerita laki-laki tersebut. Ia kemudian bertanya kepada laki-laki itu, “Siapa yang mengurus barang-barang orang alim tersebut?”
Laki-laki tadi menjawab, “Kamilah yang mengurus semuanya. Sebab, ia tidak memikirkan hal-hal sepele seperti itu.”

Sahabat itu kemudian berkata, “Engkau lebih mulia dari orang yang engkau muliakan tersebut.”

Teladan Kemandirian

Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk hidup mandiri. Kalau kita menelusuri jejak hidup beliau, akan kita temukan betapa beliau seorang yang sangat mandiri. Beliau tak segan mengerjakan pekerjaan kasar sebagaimana dikerjakan orang kebanyakan. Beliau sering menambal sendiri jubahnya, menjahit sepatunya, dan melakukan setumpuk pekerjaan rumah. Bagi beliau, pekerjaan kasar tidak mengurangi sedikit pun kemualiaannya sebagai Utusan Allah.

Suatu hari Nabi SAW dan para Sahabat melakukan sebuah perjalanan dan perlu berkemah. Ketika hendak mengolah makanan, mereka berebut untuk ambil bagian.

Salah seorang Sahabat berkata, “Aku yang menyembelih kambingnya.” Yang lain menyahut, “Aku yang mengulitinya.”

Rasulullah SAW tidak mau kalah. Beliau berkata, “Aku yang mencari kayu bakarnya.”

Mendengar inisiatif Rasulullah SAW tersebut, para Sahabat kemudian berkata, “Biarkan kami saja yang mengerjakan semuanya. Lebih baik Engkau beristirahat saja.”

Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Aku tahu, kalian pasti tidak menghendaki aku mengerjakan hal ini, tapi Allah tidak suka melihatku mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini. Setelah itu, beliua meninggalkan para Sahabat menuju padang pasir untuk mengumpulkan kayu bakar.

Bagi sebagian pemimpin, mengerjakan pekerjaan kasar seperti mencari kayu bakar akandianggap hina, atau setidaknya mengurangi gengsi. Akan tetapi bagi Rasulullah SAW, pekerjaan apapun yang dikerjakan secara jujur, professional, dan bermanfaat untuk sesama, maka pekerjaan itu adalah mulia. Kemuliaan dan kehormatannya tidak berkurang sedikit pun hanya karena beliau mengerjakan pekerjaan kasar. Sebaliknya, beliau merasa bangga dan mulia jika bisa mengerjakan sendiri tugasnya, termasuk tugas kerumahtanggaan.

Rasulullah SAW juga pernah pergi ke pasar dan pulangnya membawa beberapa keranjang barang. Melihat Rasulullah SAW keberatan membawa barang-barangnya, para Sahabat berinisiatif membawakannya. Namun, Rasululah SAW segera menolaknya. Beliau bersabda, “Kamilah pemilik barang ini, maka kamilah yang paling berhak membawanya.”

Kemandirian yang ditekankan syariat adalah kemauan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dengan bekerja keras agar terhindar dari sikap meminta-minta. Dalam ajaran Islam, meminta-minta adalah pekerjaan hina yang harus dijauhi, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa.

Islam tidak melarang kaum Muslim menerima pemberian orang lain, akan tetapi menjadi pemberi jauh lebih baik dan mulia. Kita semua dianjurkan untuk memberi dan menjadi “tangan di atas”. SUARA HIDAYATULLAH JANUARI 2012
Wallahu a’lam bish-shwab.***

Sumber: http://majalah.hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s