JIKA KAMU TAK MALU BERBUATLAH SESUKAMU

MALU AKHLAK MULIA YANG DITINGGALKAN

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

( إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَح فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ )

“Diantara ucapan kenabian terdahulu yang di dapati oleh manusia ialah: “Jika kamu tidak malu berbuatlah sekehendakmu”. (H.R Bukhori dari hadits Ibnu Mas’ud رضي الله عنه).

Artinya: Malu merupakan akhlaq yang senantiasa baik menurut syariat seluruh para nabi.

Rasa malu itu pula yang mencegah Abu Sufyan dari berkata dusta saat di tanya oleh kaisar romawi (Hiraklius) perihal nabi kita Muhammad صلى الله عليه و سلم padahal pada saat itu Abu Sufyan orang yang paling keras penentangan dan permusuhannya kepada islam.

Seperti yang diriwayatka oleh Imam Bukhori dalam shahihnya:

( قال : ( فَوَاللهِ لَوْلا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يؤثروا عَليَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ )

“Abu Sufyan berkata: “Demi Allah, kalau bukan karena aku malu jika nanti mereka mengutip kedustaan itu dariku pasti aku berdusta.”

Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga, ternyata “malu” mendorong orang berkata jujur meski kepada orang yang paling dibenci sekalipun.

Bahkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

( الحياء لا يأتي إلا بخير )

“Malu tidak datang kecuali dengan kebaikan” (Muttafaq ‘alaih dari hadits Imran bin Husain  رضي الله عنه ).

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

“Musa عليه السلام adalah seorang pemalu dan sangat rapat dalam menutupi diri hingga kulitnya tidak ada yang nampak karena rasa malu, sehingga sebagian bani israil menuduh, tidaklah seorang yang menutup dirinya serapat ini kecuali karena memiliki cacat dikulitnya…(H.R Bukhori dari hadits Abu Hurairah رضي الله عنه).

Nabi kita Muhammad صلى الله عليه و سلم sendiri lebih pemalu dari seorang gadis pingitan. (H.R Bukhori dari hadits Abu Hurairah)

KESIMPULAN:

  1. Perangai/akhlaq pemalu adalah akhlaq “manusia” yang “mulia” dan termulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Perangai/akhlaq pemalu adalah penyemangat seseorang untuk berbuat baik, baik menurut agama islam dan baik menurut norma di tengah-tengah masyarakat kita.
  3. Perangai/akhlaq pemalu menghalangi seseorang berbuat dosa dan perbuatan hina dan rendah.
  4. Seorang pemalu adalah seorang yang senantiasa taat kepada Rabbnya, karena dia malu jika meninggalkan apa yang diridhoi Rabbnya dan melakukan perbuatan yang dimurkai-Nya.
  5. Seorang yang tidak memiliki sara malu akan berbuat semau nafsunya, bagaikan binatang bahkan lebih hina daripada binatang.

Saudaraku, kita sekarang telah hidup di jaman yang pakaian malu telah di tanggalkan, sehingga manusia seperti yang Allah firmankan:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8)

Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun  Dan demi bukit Sinai, Dan demi kota (Mekah) Ini yang aman, Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya? (Q.S At Tien 1-8).

Dan seperti firman-Nya:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)

Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Q.S Al A’raf:179)

Sebagai penutup tulisan ini saya berwasiat untuk diri dan saudaraku sekalian dengan firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (5) إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ (6)

Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Q.S Fathir : 5-6).

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjuki kita kepada jalan-Nya yang lurus dan melindungi kita semua dari fitnah dunia yang fana ini serta fitnah Syaithan, musuh kita yag nyata, dan mewafatkan kita di atas agama-Nya yang mulia amien ya Rabbal ‘alamien.

Sumber: http://almubaarakah.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s