Chemistry Cinta Suami Isteri

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. ar-Rûm [30]: 21)

Mengenai ayat di atas Ibn Katsir berkata dalam tafsirnya, “Di antara tanda kebesaran-Nya yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, Dia menciptakan wanita yang menjadi pasangan kamu berasal dari jenis kamu sendiri sehingga kamu cenderung dan tenteram kepadanya. Andaikata Dia menjadikan semua Bani Adam (manusia) itu laki-laki dan menjadikan wanita dari jenis lain selain mereka, seperti bila berasal dari bangsa jin atau hewan, maka tentu tidak akan terjadi kesatuan hati di antara mereka dan pasangan (istri) mereka, bahkan sebaliknya membuat lari, bila pasangan tersebut berasal dari lain jenis. Kemudian, di antara kesempurnaan rahmat-Nya kepada Bani Adam, Dia menjadikan pasangan mereka dari jenis mereka sendiri dan menjadikan di antara sesama mereka rasa kasih(mawaddah), yakni cinta dan rasa sayang (rahmah),serta rasa kasihan. Sebab, bisa jadi seorang laki-laki mengikat wanita karena rasa cinta atau kasih terhadapnya hingga mendapat kan keturunan darinya atau ia (si wanita) butuh kepadanya dalam hal nafkah atau agar terjadi kedekatan hati di antara keduanya, dan lain sebagainya”

Sungguh, ternyata sejak awal penciptaan pasangan anak manusia memang didesain sebagai dua jiwa yang dapat dipersatukan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Cinta ditumbuhkan diantara mereka sebagai suatu fitrah dan fitrah adalah kebutuhan. Selanjutnya ajaran Islam pun hadir untuk meregulasi setiap fitrah yang ada sehingga menjadi tepat guna. Kenapa harus tepat guna? Karena ketika fitrah tidak diatur dan dikendalikan maka yang timbul bukanlah kebaikan tetapi masalah bahkan kerusakan. Sebagai seorang muslim saya pribadi sangat mempercayai hal itu.

Kenapa ada pasangan yang tidak merasa tenteram dan bahagia menjalani pernikahan ?

Awalnya ada cinta tapi tiba-tiba hambar lalu terasa menyiksa lama-lama seperti neraka. Ini kadang terjadi dalam hubungan suami isteri. Fitrah cinta yang seharusnya membawa kedamaian dan kasih sayang malah menjadi sebaliknya. Bukankah fitrah cinta suami isteri seharusnya membawa rasa sakinah (ketenangan)?

Bicara tentang fitrah, seperti halnya cinta, makan pun merupakan suatu fitrah. Fitrah makan diciptakan agar kita bisa bertahan hidup dan memiliki cukup energi dari makanan yang kita makan. Apa jadinya ketika kita makan tidak dengan aturan yang benar atau memakan makanan yang benar? Sudah tahukah Anda bahwa sebagian besar penyakit itu berawal dari perut tempat berkumpulnya makanan kita? Maka bisa dikatakan makan dengan cara yang tidak sesuai akan menimbulkan masalah kesehatan dan ini jelas sudah bergeser jauh dari tujuan awal fitrah makan. Lalu menurut Anda apa yang terjadi jika fitrah cinta diaplikasikan dengan cara yang salah ?

Ketika cinta tidak diaplikasikan dengan cara yang tepat maka tak heran akan muncul kisah isteri yang tidak mau tidur dengan suaminya, suami yang benci melihat wajah isterinya, atau suami isteri yang tidak saling menghormati satu sama lain.

Memupuk Cinta Agar Sakinah

Rasulullah s.a.w bersabda: apabila seorang suami memandang kepada isterinya dan isterinya memandang kepadanya, maka Allah akan memandang mereka dengan kasih sayang. Lalu bila suami memegang-megang tapak tangan isterinya, maka dosa-dosa mereka akan berguguran melalui jari jemari mereka.

(Hadith Shahih)

Rasul menyampaikan dalam hadist di atas betapa interaksi yang penuh dengan rasa cinta yang tulus dapat mendatangkan kasih sayang Allah dan menghapuskan dosa-dosa pasangan suami isteri. Ketika kasih sayang Allah meliputi sebuah pasangan suami isteri maka apakah lagi yang lebih indah dari itu. Allah yang menciptakan rasa cinta maka lihatlah bagaimana Allah mengajarkan cara memupuk dan mengajarkan cinta lewat teladan mulia. Tatapan dan sentuhan penuh cinta dan ketulusan adalah pupuk ajaib untuk menumbuhkan dan menguatkan cinta.

Sulitkah menatap dan menyentuh dengan penuh cinta kepada pasangan?
Pertanyaan aneh..!:) Apa susahnya melakukan dua hal tersebut. Kalau dalam keadaan normal tentu mudah melakukan dua hal tersebut, tapi bagaimana jika Anda sedang konflik dengan pasangan? Masih mudahkah? Jawabnya adalah “Sulit” kalau anda belum bisa meruntuhkan benteng keangkuhan karena merasa lebih benar atau lebih berkuasa. Biasanya suami memiliki benteng keangkuhannya lebih tinggi dibandingkan isteri (maaf ya para suami :) saya juga seorang suami kok). Maka tinggal pilih, meruntuhkan keangkuhan diri atau meruntuhkan mahligai rumah tangga. Kalau dua hal mudah ini sulit Anda lakukan begaimana dengan hal-hal yang lain? Memuji kecantikan, mengantar berbelanja, memberi hadiah, boncengan dan lain-lain sepertinya akan jadi mustahil dilakukan.

Bersikap lemah lembut tidak akan membuat seorang suami terlihat lemah di hadapan isterinya karena seorang pria yang gagah perkasa bahkan setan pun takut kepadanya suka sekali pada waktu tertentu bermanja-manja layaknya anak kecil dihadapan isterinya, itulah Umar bin Khattab.

Rasulullah sang teladan mulia pun memberikan banyak hal yang sangat patut ditiru oleh seluruh pasangan suami isteri.

Fase Kritis Cinta Suami Isteri
Sebuah penelitian menyebutkan adanya fase dalam pernikahan yang memunculkan resiko yang lebih besar bagi terjadinya sebuah perceraian. Fase ini disebut Fase Cooling Off. Di saat itu rasa cinta yang meluap-luap di awal hubungan mulai berkurang.Hal ini dikaitkan dengan kembali normalnya bahan kimia tertentu dalam otak.

Lalu pasangan suami isteri mulai bertanya-tanya apakah ia telah menikahi orang yang tepat karena kenyataan yang ada tentang figur pasangan berbeda dari kenyataan. Apakah harus diakhiri saja atau dilanjutkan dengan terus menahan nestapa. Kayaknya bete melihat suami yang semakin egois dan kasar atau jengah hidup dengan isteri yang terlalu banyak menuntut. Atau juga, lelah dengan konflik yang tak terselesaikan karena merasa dirinya paling benar sehingga terjadi tegangan tinggi yang siap menghanguskan hubungan. Menurut saya sih…fase ini menjadi berbahaya kalau tidak ditangani dengan cara yang benar. Konflik kecil akan menggelinding bak bola salju yang akan berubah menjadi bola salju raksasa siap menrjang apapun yang ada dihadapannya lalu menyisakan kerusakan.Namun ketika bisa ditangani dengan baik, fase ini akan mengarahkan Anda kepada hal-hal yang lebih besar dan lebih baik.

Lalui konflik di fase ini dengan cara yang tepat dan elegan. Tidak ada sama sekali harga diri yang turun atau kehinaan yang mengemuka ketika ada salah seorang dari pasangan yang memulai untuk mendinginkan konflik dan menyelesaikan. Kalau perlu akui kesalahan atau memberi maaf sebelum diminta. Mari kita lihat lagi contoh dari Rasul dalam menangani konflik rumah tangganya.
Rumah tangga Rasul pernah konflik juga ??
Tentu saja. Rasul kan manusia…dan Rasul ingin memberi teladan dari setiap kejadian dalam hidupnya.

Oke. Begini riwayatnya.
Sebuah permasalahan terjadi antara Rasulullah saw dan istri tercinta beliau Sayidah A’isyah ra, maka A’isyah meminta seorang penengah. Rasulullah saw berkata, “Bagaimana jika Abu Bakar (sebagai penengahnya)?” padahal Abu Bakar Ash-Shiddiq ra adalah ayahanda Aisyah ra. A’isyah menjawab, “Saya setuju, utuslah seseorang untuk memintanya datang.” Ketika Abu Bakr datang kepada keduanya, Rasulullah saw berkata kepadanya, “Kami memintamu datang supaya engkau menjadi penengah kami.” Kemudian Nabi menoleh pada A’isyah dan berkata, “Engkau yang terlebih dahulu berbicara atau aku?” Maka A’isyah menjawab: “Engkau yang terlebih dahulu berbicara, tapi jangan berbicara kecuali yang benar!” Maka Abu Bakar menampar wajahnya hingga bibirnya berdarah dan berkata, “Apakah Rasulullah saw pernah berbicara kecuali kebenaran wahai orang yang memusuhi dirinya sendiri!??”

A’isyah mencari perlindungan kepada Rasulullah saw dan duduk di belakang punggung beliau. Maka Rasulullah saw bersabda, “Kami tidak mengundangmu untuk melakukan ini (menampar), dan kami juga tidak ingin engkau berbuat seperti ini.” (Shahih Bukhari)

Contoh ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk menyelesaikan konflik suami isteri dibutuhkan obyektifitas sehingga kadang dibutuhkan seorang penengah yang bijak. Sikap emosional dalam menyelesaikan masalah sangat sulit untuk memberikan solusi. Dalam pertengkaran suami isteri tak jarang terjadi adu mulut yang di dalamnya ada terucap kata-kata yang menyepelekan, merendahkan bahkan menghina. Dalam riwayat ini Rasul amat tenang ketika isterinya berkata dengan penuh emosi tentang dirinya dan memberi teguran keras kepada Abu Bakr yang menjadi emosi karena Rasul yang dicintainya disepelekan sebegitu rupa oleh Aisyah.

Membangun Kecerdasan Sosial Memperkuat Chemistry

“Many Heads Can Be Better Than One… If They Belong to Women“, adalah sebuah tulisan yang menarik dari Heidi Grant Halvorson. Dia menuliskan sebuah penelitian tentang kecerdasan kolektif. Kecerdasan kolektif berarti kecerdasan yang muncul akibat sinergi dari dua atau lebih orang dalam sebuah tim. Dalam tim ada individu yang berbeda-beda kemampuannya. Sekumpulan orang cerdas yang berkumpul dalam satu tim belum tentu menghasilkan kecerdasan kolektif yang cemerlang, sedangkan sekumpulan orang biasa-biasa saja bisa jadi dapat menghasilkan kecerdasan kolektif yang memukau.

Mengapa hal di atas bisa terjadi ? Ternyata kecerdasan kolektif tim itu melampaui potensi-potensi individu para anggotanya hanya jika ada dinamika internal yang tepat. Para peneliti tersebut menemukan bahwa yang dibutuhkan oleh sebuah kelompok untuk menjadi “cerdas” itu adalah koordinasi dan komunikasi yang efektif,dan yang paling berpeluang adalah kelompok-kelompok yang para anggotanya memiliki kecerdasan sosial yang lebih tinggi.Catet“kecerdasan sosial.”

Bila suatu kelompok terdiri dari orang-orang yang pandai dalam mencerap dan menanggapi emosi anggota kelompok yang lain, maka kelompok ini akan menghasilkan kecerdasan kolektif yang lebih tinggi dan kinerja yang lebih unggul. Lebih tinggi daripada mereka hanya bekerja secara individu.
Sebaliknya, kelompok yang anggota-anggotanya saling bersaing untuk mendominasi percakapan dan pengambilan keputusan, atau memunculkan sikap ego dan tak mau mengalah maka secara kolektif mereka menjadi kurang cerdas dan kurang efektif.

Terus, bagaimana dong caranya kita bisa memastikan bahwa anggota tim kita memiliki kecerdasan sosial? Ini dia jawaban yang cukup menarik: libatkan lebih banyak wanita [yang “feminin”]. Ternyata dalam penelitian tersebut, tim-tim yang terdiri dari lebih banyak perempuan ternyata jelas-jelas lebih cerdas-sosial daripada tim-tim yang mayoritasnya laki-laki.

Suami isteri adalah pasangan dan juga tim. Mereka dijodohkan oleh Allah untuk mencapai satu tujuan pernikahan yang sangat mulia. Suami ataupun isteri harus membangun kecerdasan sosialnya ketika mereka berinteraksi satu sama lain. Potensi konflik akan selalu ada dan itu sangat wajar. Konflik menjadi tidak wajar ketika dibiarkan begitu saja karena suami isteri tersebut tidak memiliki kecerdasan sosial yang dimaksud di atas. Egoisme, keangkuhan, merasa benar sendiri adalah suatu bentuk kebodohan sosial yang akan memperbesar masalah.

Sesungguhnyaajaran Islam telah menagtisipasi hal ini sejak awal pernikahan. Ketika malam pertama sang mempelai pria di sunnahkan untuk membaca doa berikut ini: “Allahumma inni as’aluka min khairiha wa khairi ma jabaltuha ‘alaih, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma fiha wa syarri ma jabaltuha ‘alaih (Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada mu kebaikannya (isteri) dan kebaikan apa yang saya ambil dari padanya, serta aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang ada di dalamnya juga dari kejahatan dari apa yang aku ambil daripadanya” (HR. Abu Dawud, Nasai dan Ibn Majah).

Bagi Anda yang dulu lupa membaca do’a ini dan sudah terlanjur lama menikah, kenapa tidak Anda baca saja saat ini seraya mencium kening sang isteri seusai sholat berjamaah.

WARNING

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datang kepadanya seorang tentaranya lalu berkata: ‘Aku telah berbuat demikiandemikian.’ Iblis berkata: ‘Engkau belum berbuat sesuatu.’ Dan kemudian salah seorang dari mereka datang lalu berkata: ‘Aku tidak meninggalkan orang tersebut bersama istrinya melainkan aku pecah belah keduanya.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Lalu iblis mendekatkan prajurit itu kepadanya dan berkata: ‘Sebaik-baik pasukan adalah kamu.’ Al-A’masy berkata: ‘Aku kira, (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: ‘Lalu iblis memeluknya.” (HR. Muslim no. 5302)

Kalimat penutup dari saya, jangan biarkan Iblis berbangga hati gara-gara kita sebagai suami isteri tak mampu menyelesaikan konflik rumah tangga. Sungguh konflik rumah tangga yang berujung perceraian adalah sesuatu yang di benci Allah walaupun itu dibolehkan.

Semoga terinspirasi!!

Sumber: http://samarakita.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s