Belajar Menjadi Suami Sholeh

Suami sholeh adalah suami yang menjadi teladan dalam ketaqwaan kepada Allah, dicintai dan dikagumi istri dan anak-anaknya, kadang ia menjadi imam dengan kemuliaan akhlak, guru kharismatik, orang tua pelindung yang bijak, pangeran yang gagah, pacar yang genit, teman sejati, eh… kadang kekanak-kanakan juga lhoo, suka bercanda dan manja sekali pada istrinya.

Ia pun memaksimalkan ikhtiar dan doa di penghujung malamnya, untuk keselamatan keluarganya dari fitnah dunia dan akhirat. Keluarga baginya pertama tetapi umat baginya utama, Subhanallah….

Pojok Arifin Ilham. Republika.co.id

Sungguh, tulisan singkat dari Ust. Arifin Ilham sudah cukup menggambarkan karakter seorang suami sholeh membuat saya mikiir terus. Saya kayak gitu nggak ya :)

Training yang Menyadarkan
Beberapa tahun yang lalu saya dan isteri mengikuti sebuah pelatihan yang dibimbing oleh Ustadz Cahyadi Takariawan (wonderful-family.web.id)di Bogor. Ustadz Cah begitu beliau dipanggil adalah seorang konsultan dan pakar dalam masalah rumah tangga sehingga kerap memberikan inspirasi bagi klien, pembaca buku, dan murid-muridnya.

Pada sebuah sesi, beliau meminta peserta untuk menuliskan sebanyak mungkin hal-hal positif dari pasangannya masing-masing dalam waktu 3 menit. Segera saja kami berkonsentarsi mengingat kebaikan pasangan. Muncullah poin demi poin kebaikan sang Isteri tercinta…dia sangat keibuan, lebih dewasa cara berfikirnya dari saya, penuh cinta dan kasih sayang…dll. Waktu habis dan kertas dikumpulkan kembali.
Ustad Cah kemudian mengajukan pertanyaan siapakah yang menuliskan lebih dari 20 poin….namun tidak ada peserta yang mengacungkan tangan. Lalu siapakah yang menuliskan lebih dari 15 poin….aduh istriku ngacung gak ya (ngerep mode on)…dan ternyata dia nggak ngacung (ngarep mode off). Hanya ada dua orang dari 100-an peserta yang mengacung satu dari wanita dan satu dari pria. Luar biasa…jangan-jangan kalau dikasih waktu 4 menit bisa lebih dari 20 poin :) . Lalu ia pun memaparkan satu demi satu kelebihan suaminya dihadapan peserta. Para suami hanya bisa mesem-mesem mendengarnya karena banyak dari kelebihan tersebut yang mungkin tidak ada pada diri mereka.

Suami dari si wanita adalah teman dekat saya. Seusia dengan saya dan teman seperjuangan sejak bangku SMU tapi dia lebih sholeh, lebih kalem, katanya sih lebih ganteng (kalau ini relatif lah), lebih teratur, lebih cerdas, dan lebih dapat diandalkan. Pantesan ajjaaa… ;P

Pada pelatihan di tempat yang lain Ustad Cah menuliskan dalam blognya (cek disini) tentang reaksi seorang peserta. Beliau menuliskan sebagai berikut:

“Tolong bacakan 16 poin kebaikan suami tersebut”, pinta saya.

“Pertama, suami saya rajin ibadah. Kedua, ia ganteng. Ketiga, sangat romantis. Keempat, setiap hari selalu ada kata sayang untuk saya…..” jawab wanita tersebut terbata-bata.

“Terus?” tanya saya. Ia tidak mampu meneruskan. Matanya berkaca-kaca.

“Biar saya yang membacanya”, ungkap saya. Iapun memberikan kertas kerjanya.

“….Kelima, senang memijit isteri. Keenam, senang membantu pekerjaan isteri. Ketujuh, pandai mendidik anak-anak. Kedelapan, suami saya sangat sabar. Kesembilan, menghormati orang tua dan mertua. Kesepuluh, tidak rewel dalam urusan makan…..” dan seterusnya. Saya membacakan enambelas poin kebaikan suami yang ia tuliskan.

Luar biasa. Sangat jarang kami temukan peserta yang mampu menulis kebaikan pasangan dalam waktu sesingkat itu. Hanya tiga menit saja, namun ia mampu menuliskan enambelas poin kebaikan pasangan. Saya segera mengapresiasi dengan memberikan hadiah kepadanya. Saya katakan di forum, “Bersyukurlah suami yang isterinya mampu melihat sangat banyak kebaikan suami. Bersyukurlah isteri yang suaminya mampu melihat sangat banyak kebaikan isteri”.

Lagi-lagi saya dibuat iri atas kelebihan si suami yang disebut isterinya di atas tadi. Tapi kalimat terakhir Ustadz Cah memberikan sedikit ketenangan karena sesunguhnya isteri yang banyak bersyukur akan mempersepsikan banyak hal positif pula dari suaminya… :) . Terlepas dari itu sebagai suami saya tersadarkan akan pentingnya perbaikan diri untuk menjadi suami yang semakin ideal.

Cara Menjadi Suami Sholeh

Rasul mencontohkan bagaimana sosok suami ideal dalam tulisan saya sebelumnya Meneladani Romantisme Rasulullah 1 dan 2. Selanjutnya, kalau Anda googling dengan kata kunci “cara jadi suami sholeh” dengan mudahnya akan ditemukan cara dan ciri suami yang sholeh. Artinya wacana tentang suami sholeh memang sudah banyak di bahas dan Anda tinggal membacanya dengan hati, walaupun kadang isinya normatif. Kenapa normatif? Hal-hal baik dan indah tentang suami sholeh tersebut tidak cukup memberikan kita step by step untuk mencapai sifat-sifat kesholehan tersebut. Contoh, Jika anda melihat kekurangan istri anda, tegur dengan lemah lembut! Kekuatan apa yang menyebabkan seorang lelaki atau suami bisa tetap menjaga kelemahlembutannya di saat dia marah atau kecewa atas kekurangan isteri ? Atau apakah hal yang mendasari Anda sehingga Anda mau Berdandan untuk istri anda, selalu bersih dan wangi.

Maka untuk menjadi suami yang sholeh yang harus Anda miliki adalah:

    1. Fikrah yang tepat

Fikrah tepat akan mempengaruhi sikap dan tindakan sehingga menjadi ideal pula. Seorang suami sholeh harus memiliki ini. Dia harus banyak belajar dan menyerap kebijakan dari sumber manapun khususnya dari Al-qur’an dan Al Hadist. Akan sangat baik jika dia mempunyai seseorang untuk dijadikan suri teladan sesudah Rasulullah SAW.

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”(Q. S. An-Nisa: 19).

    1. Keimanan yang terjaga

Iman adalah sumber energi terbesar untuk membuat kita mampu memberi. Menjadi suami sholeh berarti memberi banyak hal bagi sang isteri bukan hanya kebutuhan jasadiyah namun juga ruhiyah. Iman yang kuat akan mampu memberikan rasa aman yang begitu dalam karena kedekatan dengan Sang Penguasa Segala Sesuatu yang begitu terasa. Iman yang kuat pun merupakan indikator yang dimiliki oleh para suami sholeh seperti dalam hadist berikut,

“Sesungguhnya mukmin yang sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah kalian yang baik terhadap istri-istri kalian(H. R. Timidzi).”

    1. Kepemimpinan yang Kuat

Suami adalah pemimpin dalam keluarga dan secara fitrah Allah memberikan potensi kepemimpinan tersebut untuk bekal memimpin isteri dan anak-anaknya. Suami juga merupakan manajer tertinggi yang bertanggungjawab menghantarkan seluruh anggota keluarganya mencapai tujuan hidupnya. Bukan hal yang main-main, karena sebelum dia mendapatkan amanah sebagai suami (pemimpin) sebelumnya dia harus membuat sebuah perjanjian yang berat (mitsaqan ghaliza) sehingga sang wanita yang kemudian menjadi isterinya berada sepenuhnya (dunia dan akhirat) dalam tanggung jawab. Ironisnya banyak lelaki yang menganggap enteng proses akad sebagai ucapan formal belaka sebagai syarat sahnya pernikahan tanpa tahu konsekuensinya. Sehingga ketika selesai mengucapkan akad nikah ucapan yang keluar dari mulutnya adalah, “Yess!!” Dan bangga kalau berhasil mengucapkan akad tanpa harus mengulanginya.

    1. Materi yang Cukup

Mohon maaf untuk poin yang satu ini memang agak subyektif. Materi memang bukan segalanya tapi dengan materi banyak hal yang menjadi lebih mudah dilakukan. Jangan pakai istilah sepiring berdua atau biar miskin yang penting cinta. Tapi pikir gizi anak, sekolah anak, pakaian isteri, fasilitas rumah tangga yang memadai dan lain-lain. Memberi hadiah yang romantis untuk isteri akan lebih susah kalau tidak punya uang, tersenyum kepada isteri jadi lebih susah kalau pundi-pundi dapur kritis, menafkahi keluarga gak cukup-cukup karena memang tiap bulan materi selalu kurang, dan banyak kasus rusaknya harmonisme suami isteri gara-gara masalah materi. Jadi sebagai wujud tanggung jawab, suami sholeh punya tugas juga untuk menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga dan jangan sekali-kali mengekspor isterinya untuk jadi TKI.

    1. Sehat Fisik

Sebenarnya yang saya maksud adalah sehat secara jasmani dan ruhani, namun kesehatan ruhani sudah terwakilkan oleh poin ke-2 di atas. Maka sehat secara fisik menjadi titik tekan disini. Lemahnya fisik
menjadi salah satu faktor penyebab rumah tangga menjadi tidak bahagia. Begitu juga jika sekiranya tidak mampu untuk bekerja karena penyakit dan sebagainya akan menjadikan laki-laki tersebut tidak dapat memberikan nafkah dan tanggung jawab lainnya kepada keluarganya.

Menjadi suami sholeh adalah dambaan para isteri membuat saya teringat perkataan Habiburrahman El Shirazy dalam Ketika Cinta Berbuah Surga, katanya:

“Carilah seorang teman yang baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga. Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tetapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu karena Allah. Dengan dasar itu, kau pun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan; karena Allah. Kekuatan cinta tersebut akan melahirkan kekuatan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk ke surga.”

Sumber: http://samarakita.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s