Mari Nomorsatukan Allah!

Jika kita memiliki empat hal berturut-turut, yakni isteri tersayang, harta melimpah, kesehatan prima, dan yang terakhir, iman yang kokoh, lalu kita terpaksa melepaskan satu di antaranya, kira-kira mana yang dengan rela hati akan kita lepaskan?

Sebagian besar orang akan sulit menjawab pertanyaan itu. Sebab, keempatnya dianggap sama penting. Namun, jika kondisinya sangat memaksa dan kita harus mengambil satu pilihan, masing-masing orang akan punya pilihan yang berbeda.

Boleh jadi ada di antara kita yang memilih melepaskan harta, asal masih diberi kesehatan prima, isteri yang setia, dan iman yang melekat di dada. Barangkali ada juga yang memilih melepaskan kesehatan, asal masih kaya.

Tak tertutup kemungkinan jika ada yang memilih melepaskan isteri, asal masih kaya dan sehat. Bisa jadi juga ada yang hendak melepaskan imannya asal tidak jatuh miskin, tidak sakit-sakitan, dan masih memiliki pendamping setia.

Pilihan Hakiki

Bagi orang yang sehat akal dan hatinya, pasti tak bingung menjawab pertanyaan di atas. Dia tentu akan memprioritaskan iman ketimbang yang lain. Iman harus ia pertahankan sampai tetes darah penghabisan. Yang lain boleh hilang, iman harus tetap dijaga.

Iman adalah milik kita yang paling berharga di dunia dan di akhirat. Iman adalah sesuatu yang teramat penting, jauh lebih penting dari yang lain.

Uang memang kita perlukan. Tanpa uang, banyak hal yang tidak bisa kita dapatkan. Dengan uang kita bisa melakukan apa saja.

Namun, uang bukan segala-galanya. Uang tidak bisa membeli nyawa, tidak bisa memperpanjang umur, juga tidak bisa membeli bahagia dan cinta. Bahkan, uang bisa ludes dalam sekejap. Hari ini kaya raya, besok bisa miskin papa.

Kesehatan juga penting. Untuk apa punya harta melimpah jika sakit-sakitan. Sehat merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya.

Tapi, buat apa sehat jika hidup tak memiliki kehormatan sedikitpun. Buat apa sehat jika tak memiliki sahabat.
Dan, sehat juga ada batasnya. Saat umur sudah tua, penyakit datang bertubi-tubi. Awalnya sakit ringan, lama-lama mematikan.

Jadi jelas harta dan kesehatan bukan paling penting dalam kehidupan kita. Allah Ta’ala jauh lebih penting. Dia yang menciptakan kita. Dia menciptakan hidup dan mati. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita kembali.
Dialah yang menjadikan kita sehat, kaya, terhormat, dan memiliki keluarga. Hanya dengan Dia, semua menjadi ada.

Namun, tanyakanlah pada hati kecil kita, apakah selama ini kita telah menjadikan Allah Ta’ala nomor satu dalam hidup kita? Apakah ketika Dia memanggil, maka panggilan itulah yang pertama kita penuhi?
Apakah jika Dia memerintah, maka perintah-Nya-lah yang pertama kita patuhi. Jika Dia membuat larangan, apakah larangan Dia-lah yang pertama kita hindari? Sudahkah seperti itu?

Padahal seorang mukmin tidak punya pilihan lain jika Allah Ta’ala sudah menetapkan sesuatu.
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab [33]: 36)

Tak Ada Pilihan Lain

Ketika kita telah menetapkan Allah Ta’ala sebagai pilihan nomor satu, maka sikap kita terhadap semua ketentuan-Nya adalah “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami taat).

Kita boleh bersikap kritis, akan tetapi jika ketentuan itu datangnya dari Allah Ta’ala maka akal, pikiran, perasaan, dan diri kita semuanya harus sujud, tunduk dan patuh kepada-Nya.“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nuur [24]: 51)

Ketika Allah Ta’ala telah kita jadikan prioritas teratas, maka beribadah kepada-Nya menjadi pekerjaan utama dalam hidup kita. Ridha Allah Ta’ala berada di atas segala-galanya. Itulah tujuan hidupnya yang tertinggi.
Meski demikian, bukan berarti mereka tidak membutuhkan ridha manusia. Seperti manusia lainnya, mereka juga ingin mendapat simpati, dukungan, dan keridhaan masyarakat. Akan tetapi jika harus memilih satu di antara keduanya, kita tetap memilih ridha Allah Ta’ala.

Apalah artinya simpati dan dukungan umat jika mengakibatkan datangnya kebencian dan murka Allah Ta’ala. Dukungan masyarakat tidak akan mendatangkan apa-apa kecuali kehormatan dan penghargaan sesaat saja. Akan tetapi keridhaan Allah Ta’ala akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat.
Demikian halnya dengan kebencian manusia, sama sekali tidak akan mendatangkan bahaya sedikit pun kecuali jika telah dikehendaki Allah Ta’ala.

Bahkan, sekalipun seluruh manusia membenci dan murka kepadanya, lalu merencanakan untuk mendatangkan bahaya kepadanya, jika Allah Ta’ala belum mengizinkan, tak sedikitpun bahaya itu akan menimpanya.
Sebaliknya, jika Allah Ta’ala sudah menetapkan suatu musibah kepada seseorang, sekalipun semua makhluk saling tolong-menolong untuk mencegahnya, musibah dan bencana itu pasti akan tetap datang jua. Tak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa mencegahnya.

Cinta Tertinggi

Demikian pula dengan cinta, kita wajib memberikan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya lebih dari yang lain. Memang, tak ada larangan menyintai orang tua, anak, dan isteri. Namun, cinta kepada Allah Ta’ala harus di atas semua itu.

Cinta kita kepada isteri tidak boleh menghalangi cinta kita kepada Allah Ta’ala. Bahkan sebaliknya, cinta kepada isteri harus menambah kecintaan kita kepada-Nya. Untuk apa kita memiliki istri atau suami jika malah mengurangi cinta kita kepada Allah Ta’ala.

Begitu juga cinta kita kepada anak, harus dalam rangka cinta kepada Allah Ta’ala. Mencintai anak memang dorongan naluriah setiap makhluk, lebih-lebih manusia. Namun tidak boleh berlebihan.

Cinta kepada anak harus ada batasnya. Batasnya adalah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya itu sendiri. Jika Allah Ta’ala mengizinkan, ya jalan. Jika Dia melarang, ya stop. Begitu praktis dan sederhana.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, ”Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaan manusia, maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia.” (Riwayat Ath-Thabrani)
Mereka yang benar dalam memposisikan cintanya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya digambarkan dalam al-Qur`an sebagai berikut,”Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Al-Baqarah [2]: 165)

Cinta kita kepada selain Allah Ta’ala harus dibingkai dan dimotivasi karena kecintaan kita kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Persahabatan harus didasarkan karena Allah Ta’ala (lillah). Begitu pula perkongsian bisnis, harus dilandasi cinta kepada Allah Ta’ala (lillah).

Apalagi koalisi politik, tidak boleh hanya didasarkan pada kesamaan pandangan, terlebih sekadar kalkulasi untung rugi. Koalisi politik harus didasarkan karena Allah Ta’ala.

Rasulullah SAW bersabda, ”Paling kuat tali hubungan keimanan adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (Riwayat Ath-Thabrani)

Karena itu kita diwajibkan memilih mana yang prioritas, mana yang tidak. Kita harus menentukan mana yang utama dan mana yang tidak utama, mana yang pokok, mana pula yang ranting.
Jadi, jangan salah memilih. Jadikan Allah Ta’ala sebagai pilihan nomor satu.
Wallahu a’lam bish-shawab.***

Sumber: SUARA HIDAYATULLAH, OKTOBER 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s