DI BALIK 1000 WAJAH LUPUS

DI BALIK 1000 WAJAH LUPUS

Saya lega waktu dokter bilang saya sakit lupus, kata Mutiara (23). Kedengarannya aneh, divonis mengidap penyakit kronis, kok, malah lega. Ternyata, hal yang membuat Aya –panggilan akrab Mutiara– lega, keputusan dokter tersebut membebaskan dirinya dari kesimpangsiuran penyakit yang dideritanya sejak lima tahun lalu.

“Sebelumnya, saya pernah didiagnosis terkena tifus dan demam berdarah. Setelah diobati, penyakit saya bukannya sembuh, justru makin parah. Setelah dinyatakan positif lupus, barulah saya bisa menjalani pengobatan yang tepat,” katanya.

Dalam banyak kasus, penyakit lupus memang sulit terdeteksi. Gejalanya yang mirip dengan banyak penyakit lain, menyebabkan lupus dijuluki ‘penyakit seribu wajah’. Yang memprihatinkan, lupus ternyata juga banyak menyerang wanita usia produktif (15-40 tahun).

Meningkat 17% per tahun 
Pemerhati lupus dari Klinik Pusat Rematik Indonesia, dr. Cecilia Padang Ph.D., FACR, mengatakan, “Lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit inflamasi (peradangan) kronis yang menyerang berbagai bagian tubuh, terutama kulit, persendian, darah, dan ginjal.”

Normalnya, sistem imunitas tubuh menghasilkan protein yang disebut antibodi. Fungsi antibodi untuk membentengi tubuh terhadap serangan virus, dan bakteri (disebut antigen). Jika fungsi membentengi diri sendiri (otoimun) ini terganggu, maka sistem imunitas tubuh kehilangan kemampuan membedakan antara antigen dengan jaringan/sel tubuh sendiri. Inilah yang terjadi pada penderita lupus.

Selanjutnya, sistem imunitas tubuh membentuk otoantibodi, sebutan untuk jenis antibodi yang justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Otoantibodi inilah yang kemudian membentuk sistem imun kompleks, yaitu sistem yang mengakibatkan inflamasi, luka, atau infeksi pada jaringan dan sel, serta menimbulkan rasa sakit pada penderitanya. “Pendek kata, bila dibandingkan dengan penyakit HIV/AIDS yang mengakibatkan penurunan kekebalan tubuh, maka pada penderita lupus, sistem kekebalan tubuh justru menjadi liar dan menyerang diri sendiri,” papar dr. Cecilia.

Sayangnya, banyak orang menganggap lupus sebagai penyakit langka. Yang benar, jumlah penderita makin hari makin banyak. Apalagi, menurut data dari Yayasan Lupus Indonesia, beberapa tahun belakangan ini terus terjadi peningkatan jumlah odapus (orang dengan lupus). Peningkatannya sekitar 17% setiap tahunnya.

Jika tidak dideteksi sejak dini, penyakit ini sama bahayanya seper-ti kanker, jantung koroner, dan AIDS. Sulitnya, penyebab penyakit ini belum dapat diketahui pasti. Sehingga, cara mencegahnya pun belum diketahui. Menurut dr. Cecilia, hingga kini para ahli masih mencari tahu penyebab munculnya lupus.

Meski wanita yang memiliki riwayat keluarga mengidap penyakit lupus berisiko lebih tinggi mengalami penyakit sama, nyatanya lupus tidak selalu bisa dikatakan sebagai penyakit keturunan. Hingga kini, tingkat prevalensi penderita lupus akibat faktor genetis hanya mencapai 10%. Faktor yang diduga amat berperan adalah kondisi lingkungan, seperti paparan sinar matahari, stres, efek beberapa jenis obat, dan virus.

Kendati ada anggapan penyakit ini dipicu karena gaya hidup yang salah, termasuk makan makanan tak sehat, dr. Cecilia mengaku kurang yakin akan kebenarannya. Aya pun sependapat. ”Sebelum saya didiagnosis, gaya hidup saya cukup sehat, kok. Bahkan, saya jarang mengonsumsi junk food,” ujarnya.

Lantas, mengapa penderitanya lebih banyak wanita? Menurut dr. Cecilia, penyakit lupus juga berkaitan dengan hormon estrogen yang dominan pada wanita. Sama halnya dengan stres, produksi estrogen yang berlebihan juga memengaruhi kerja sel-sel kekebalan tubuh.

Akibatnya, sel-sel kekebalan tubuh bertindak superaktif. Bukan hanya ’benda asing’ seperti virus dan kuman, sel-sel tubuh pun ikut diserang. “Wanita terus memproduksi estrogen hingga menopause. Jadi, kemungkinan terkena lupus sangatlah besar,” tegasnya.

Ketika tubuh mengalami demam tinggi dan terdapat ruam kulit serta bercak-bercak merah di wajah, dugaan pertama Anda mungkin pertanda penyakit demam berdarah. Padahal, belum tentu demikian. Karena, penyakit lupus pun memiliki gejala yang hampir sama.

Untuk membedakannya dengan penyakit lain, kalangan medis yang tergabung dalam America Rematology Association menetapkan kriteria sebagai acuan untuk mendiagnosis adanya lupus. “Bila Anda mengalami 4 saja dari ke-11 gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter pemerhati lupus, seperti dokter spesialis penyakit dalam, konsultan hematologi, rematologi, ginjal, hipertensi, dan alergi imunologi,” dr. Cecilia menyarankan.

Makin cepat lupus terdeteksi, makin baik. Sebab, bila sudah telanjur parah, berarti bisa jadi sudah terjadi peradangan berkepanjangan yang merusak organ vital tubuh. Dampak terparah, antara lain, timbulnya aterosklerosis (faktor pencetus serangan jantung dan stroke). Selain itu, peradangan berkelanjutan juga dapat merusak ginjal, sehingga untuk mengatasinya perlu diobati dengan terapi dialysis (cuci darah) secara rutin.

Bisa dikendalikan
Bila odapus sudah terserang lupus, sepanjang hidupnya ia akan berdampingan dengan penyakit ini. Namun, kini lupus sudah bisa dikendalikan, asalkan pasien sabar dan rutin mengonsumsi obat. Sikap sabar diperlukan agar sel-sel kekebalan tubuh kembali normal dan gejala lupus tak muncul lagi. Telaten mengonsumsi obat juga jadi penentu agar odapus bisa segera sembuh,” kata dr. Cecilia.

Yang penting, tambahnya, kenali dulu tipe lupus yang diderita. Caranya dengan mengamati gejala yang timbul dan organ tubuh yang terkena. Untuk memastikannya, perlu dilakukan tes darah. Karena, beda organ tubuh yang diserang, beda pula penanganannya. Misalnya, jika ginjal yang diserang, maka orang tersebut akan ditangani sebagai penderita ginjal.

”Lupus menyerang saya lewat darah yang mengalir dalam tubuh. Karena terlambat didiagnosis dokter, saya sempat bolak-balik dirawat di rumah sakit. Karena telat diagnosis pula, maka saya harus menjalani pengobatan yang lama dan menyakitkan. Bayangkan, setiap hari pusar saya harus disuntik dengan obat tertentu selama 10 hari berturut-turut. Saya juga harus minum obat sampai 10 butir sekali minum. Tapi, seiring membaiknya kondisi saya, beratnya pengobatan pun berkurang. Sekarang, saya sudah ‘berdamai’ dengan lupus,” kata Aya.

Yang terjadi pada Aya sebenarnya bisa dihindari atau diminimalkan andai lupus terdeteksi sebelum terjadi komplikasi. Seperti yang dialami Lusiawaty (31). Ketika menyadari sakit sendi yang dideritanya mirip seperti yang dialami ibunya –yang mengidap lupus–; ia sudah menduga penyakit yang sama juga menyerang tubuhnya.

”Kedua kaki saya juga sempat terus-menerus membengkak. Sama seperti yang pernah dialami Ibu. Jadi, saya segera memeriksakan diri ke dokter. Ternyata benar, sel lupus menyerang persendian saya. Untungnya, meski efek obat cukup menyakitkan, karena cepat terdeteksi, dampak buruk –seperti komplikasi organ– tidak saya alami. Bahkan, kini saya sudah bisa lepas dari obat-obatan dan bisa beraktivitas kembali,” paparnya.

Selain obat-obatan, kestabilan kondisi emosi juga ikut mengendalikan penyakit lupus. Artinya, perubahan emosi secara drastis bisa memicu aktivasi sel-sel lupus. Jika terjadi stres, lupus akan lebih giat menyerang sehingga odapus tidak bisa beraktivitas normal.

Masalahnya, odapus biasanya mengalami perubahan fisik, misalnya jemari tangan dan betis yang membengkak, wajah membulat (moon-face), nyeri hebat di tangan. Semua itu membuat banyak odapus putus asa. Akibatnya, emosi mudah meledak-ledak, sehingga sel-sel lupus pun terus aktif.

”Karena itu, sebagai odapus, saya harus selalu mengendalikan emosi, mengelola stres dengan baik, dan selalu berpikir positif. Dukungan orang-orang terdekat juga bisa jadi obat mujarab. Karena, saya jadi tidak merasa sendirian. Bergabung dan sharing dengan odapus lainnya di Yayasan Lupus Indonesia juga membuat saya makin yakin bisa mengusir penyakit ini,” ujar Aya, optimistis.

Hal senada juga dilontarkan Lusi. ”Selain mengontrol stres, saya juga harus peka terhadap perubahan kondisi fisik tubuh. Bila saya lelah, saya langsung beristirahat. Saya memang harus mengenali ’alarm’ tubuh sendiri, untuk mengetahui kapan perlu istirahat,” tambahnya.

Memang, saat ini pengobatan lupus sudah makin maju. “Tetapi, tetap saja harus rutin kontrol ke dokter, memelihara gaya hidup sehat, dan mengelola emosi dengan baik. Hanya dengan cara-cara itulah Anda bisa bersahabat dengan lupus,” dr. Cecilia menganjurkan.

 

Sumber: Femina.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s