DASAR-DASAR AKIDAH ISLAM

Tauhid dan Macamnya

Tauhid artinya mengesakan Allah dalam semua bentuk ibadah yang khusus dan wajib bagi-Nya.

Firman Allah  :

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. adz-Dzariyat:56)

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. ” (QS. an-Nisa’: 36)

Tauhid terdiri dari tiga macam: tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid asma wa sifat.

Pertama: Tauhid Rububiyyah

Yaitu mengimani keesaan Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam raya. Dia-lah Pemberi rezeki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, dan Yang Menguasai langit dan bumi.

Allah berfirman:

“Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan dari bumi Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia … “(QS.Fathir:3)

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” (QS. al-Mulk:l)

Kerajaan Allah adalah kerajaan yang universal meliputi seluruh jagat raya ini, dan Dia-lah Yang Mengaturnya sesuai dengan kehendak-Nya. Mengesakan Allah dalam mengatur alam ini adalah mengimani bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat Yang Mengatur makhluk-Nya.

Firman Allah:

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahhan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. ” (QS. al-A’raf: 54)

Tidak ada yang mengingkari tauhid rububiyyah ini kecuali segolongan kecil manusia. Sebenarnya mereka ini hanya mengingkari secara lahiriah, tetapi jiwa dan batin mereka mengakui adanya tauhid ini.

Firman Allah:

“« mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. ” (QS. an-Naml:14)

Kedua : Tauhid Uluhiyyah

Yaitu mengesakan Allah dalam segala macam bentuk ibadah dengan tidak menjadikan sesuatu pun yang disembah bersama-Nya. Karena tauhid inilah, Allah menciptakan makhluk-Nya.

Allah if berfirman :

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. adz- Dzariyat:56)

Dan juga karena tauhid ini, Allah §g mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya.

Allah berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum karnu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. al-Anbiya:25)

Bentuk tauhid inilah yang diingkari oleh kaum musyrikin ketika para rasul datang mengajak mereka untuk menyembah hanya kepada Allah saja.

Allah berfirman:

“Mereka berkata:”Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami….”(QS. al-A’raf:70)

Karena itu bentuk ibadah apa pun tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah, tidak kepada malaikat, nabi, orang saleh, atau makhluk yang lain. Karena ibadah itu tidak akan sah kecuali diikhlaskan hanya kepada Allah semata.

Ketiga: Tauhid Asma wa Sifat

Yaitu beriman kepada nama-nama Allah ig dan sifat-sifat-Nya, baik yang la tetapkan sendiri untuk-Nya maupun yang ditetapkan oleh Rasul-Nya. Mengimaninya dalam arti yang sebenarnya sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa tahnf (penyelewengan), ta’thil (penghapusan), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (penyerupaan).

Sebagai contoh, Allah menamakan diri-Nya dengan al-Hayyu al-Qayyiim, artinya Yang Maha Hidup dan terus-menerus Mengurus makhluk-Nya. Kita wajib mengimani bahwa al-Hayyu merupakan salah satu nama Allah $i dan mengimani sifat yang terkandung di dalamnya, yaitu kehidupan yang sempurna yang tidak diawali dengan ketiadaan dan diakhiri dengan kebinasaan. Begitu juga, Allah $i menamai diri-Nya dengan as-Sama’, artinya Yang Maha Mendengar. Kita wajib mengimani bahwa as-Sami’merupakan salah satu nama Allah dan as- Sam’u (mendengar) merupakan salah satu sifat-Nya dan la Maha Medengar.

Contoh lainnya, Allah berfirman :

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menqfkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (QS. al-Maidah:64).

Allah ig menetapkan bagi diri-Nya, “dua tangan yang terbuka dengan pemberian yang melimpah”. Oleh karena itu, kita wajib mengimani bahwa Allah ii memiliki dua tangan yang terbuka dengan segala anugerah dan kenikmatan, tetapi kita tidak boleh membayangkan dalam benak pikiran dan mengucapkan dengan lisan bentuk tangan Allah dan menyerupakannya dengan tangan makhluk-Nya. Karena Allah §s telah berfirman:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)

Kesimpulannya dalam masalah tauhid ini kita wajib menetapkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang la tetapkan bagi diri-Nya dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya menurut arti yang sebenarnya, tanpa tahrif (penyelewengan), tamtsil (penyerupaan), takyif (menanyakan bagaimana) dan ta ‘thil (penghapusan).

Makna La ilaha illallah

La ilaha illallah adalah dasar agama yang memiliki kedudukan yang amat besar dalam Islam, la merupakan rukun Islam yang pertama dan cabang iman yang paling tinggi. Penerimaan selnruh amal perbuatan tergantung kepada pengucapan kalimat ini dan pengamalan segala konsekuensinya.

Adapun maknanya yang benar dan tidak boleh dipalingkan darinya adalah la ma’buda bi haqqin illallah (tidak ada yang disembah dengan hak kecuali Allah). Kalimat ini tidak boleh diartikan dengan la ilaha illallah (tidak ada pencipta kecuali Allah), la qadira ‘ala al-ikhtira’ illallah (tidak ada yang kuasa menciptakan kecuali Allah),ataupun Id maujuda illalldh (tidak ada yang wujud kecuali Allah ).

Kalimat ini memiliki dua rukun: Pertama, nqfi (peniadaan), terdapat dalam kata Id ilaha (tidak ada sesembahan yang hak). Kata ini meniadakan yang disembah dari sesuatu apapun. Kedua, itsbdt (penetapan), terdapat dalam kata illalldh (kecuali Allah). Kata ini menetapkan yang disembah hanya Allah ii semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu, tidak ada yang disembah selain Allah 3g dan tidak boleh memalingkan segala bentuk ibadah kepada selain-Nya. Barangsiapa mengucapkan kalimat ini dengan memahami maknanya, mengamalkan konsekuensinya dengan meniadakan syirik, menetapkan keesaan Allah $g serta meyakini dengan mantap akan kandungannya dan mengamalkannya, maka dia adalah muslim sejati. Namun barangsiapa mengamalkan kalimat ini tanpa keyakinan, maka ia adalah orang munafik. Dan barangsiapa mengamalkan yang sebaliknya yaitu syirik, maka ia adalah orang musyrik lagi kafir sekalipun ia mengucapkan kalimat ini dengan lidahnya.

Keutamaan kalimat la ilaha illallah

Kalimat ini memiliki beberapa keutamaan dan

manfaat, di antaranya:

Mengeluarkan orang-orang bertauhid yang berhak masuk neraka agar tidak kekal di dalamnya, sebagaimana hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhdri danShahih Muslim, Rasulullah bersabda:

“Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan kalimat /d ildha illalldh dan di hatinya terdapat kebaikan seberat biji jewawut, orang yang mengucapkan kalimat Id ildha illalldh dan di hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum dan orang yang mengucapkan kalimat Id ildha illalldh dan di hatinya terdapat kebaikan seberat atom.”

2. Manusia dan jin diciptakan karena kalimat ini. Allah berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. ” (QS. adz-Dzariyat:56).

3. Diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab juga karena kalimat ini.

Allah  berfirman :

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. al-Anbiya:25).

4. Kalimat ini adalah kunci dakwah para rasul, mereka semua mengajak kepada kalimat ini dan menyerukannya kepada kaumnya :

“Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selain-Nya. ” (QS. al-A’raf:73).

5. Kalimat ini adalah kalimat zikir yang paling utama. Sebagaimana sabda Nabi > :

“Sebaik-baik yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah kalimat la ilaha illallah.” (HR. Malik dalam kitab al-Muwattha‘).

Syarat kalimat la ilaha illallah

Kalimat la ilaha illallah memiliki tujuh syarat yang ucapan kalimat itu tidak sah kecuali syarat-syarat tersebut terpenuhi. Dan seorang hamba harus berpegang teguh kepadanya tanpa menghilangkan salah satu dari tujuh syarat tersebut, yaitu:

1. Al- ‘Ilmu (pengetahuan)

Yaitu mengetahui makna kalimat Id ilaha illallah dari segi nafi (peniadaan) dan itsbdt (penetapan) dan mengetahui semua konsekuensinya. Jika seorang mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya zat yang berhak disembah dan mengetahui bahwa menyembah kepada selain-Nya adalah batil lalu ia mengamalkan pengetahuannya itu, berarti ia telah mengetahui makna kalimat tersebut.

Allah  berfirman:

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah. ” (QS. Muhammad: 1 9). Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa meninggal dunia dan ia mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang hak disembah kecuali Allah, maka ia masuk surga.” (HR. Muslim)

2. Al-Yaqin (keyakinan)

Yaitu mengucapkan kalimat Id ildha illalldh dengan keyakinan dan kemantapan hati, tanpa adanya keraguan yang dihembuskan setan, jin dan manusia. Bahkan ia harus mengucapkannya dengan keyakinan yang mantap dan meyakini konsekuensinya.

Allah berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu. ” (QS. al-Hujurat:15).

Rasulullah ^ bersabda :

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang hak disembah kecuali Allah dan aku (Muhammad) adalah utusan-Nya, tidaklah seorang hamba berjumpa Allah dengan dua kalimat ini tanpa ada keraguan melainkan ia akan masuk surga” (HR. Muslim)

3. Al-Qabul (penerimaan)

Yaitu menerima semua konsekuensi kalimat la ilaha illallah dengan hati dan lisan, membenarkan dan mempercayai semua yang disampaikan Rasulullahserta menerimanya tanpa penolakan sedikit pun.

Allah berfirman:

“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa):”Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (QS. al-Baqarah:285).

Termasuk ke dalam kategori menolak dan tidak menerima, jika seseorang menentang atau menolak sebagian hukum atau batasan syar’i, seperti orang-orang yang menentang hukum mencuri, zina, diperbolehkannya berpoligami, hukum waris dan lainnya.

Allah  berfirman :

tidakkah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. ” (QS. al-Ahzab:36).

4. Al-Inqiyad (tunduk)

Yaitu pasrah dan tunduk terhadap apa yang terkandung dalam kalimat ikhlas ini. Perbedaan antara inqiydd (tunduk) dengan qabul (penerimaan), yaitu bahwa qabul adalah pernyataan kebenaran makna kalimat dalam ucapan, sedang inqiydd adalah mengikutinya dengan tindakan. Jika seseorang telah mengetahui makna la ilaha illallah, meyakini dan menerimanya, namun ia tidak tunduk, pasrah dan mengamalkan konsekuensi pengetahuan-nya itu, maka hal ini tidak berguna baginya. Allah berfirman:

“Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). ” (QS. az-Zumar:54).

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. ” (QS. an-Nisa:65).

6. As-Shidqu (jujur)

Yaitu jujur kepada Allah |g, maksudnya jujur dalam keimanan dan akidahnya. Allah  berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. ” (QS. at-Taubat:l 19).

Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa mengucapkan kalimat lailahailallah dengan jujur dari dalam hatinya maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya).

Bila seseorang mengucapkan syahadat dengan lisannya tetapi hatinya mengingkarinya, maka hal ini tidak dapat menyelamatkannya, bahkan ia termasuk golongan orang-orang munafik. Termasuk tidak jujur, jika seseorang mendustai ajaran yang dibawa oleh Rasulullah  atau sebagiannya, karena Allah ii telah memerintahkan kita untuk menaatinya, membenarkannya dan menyertainya dengan ketaatan kepada-Nya. Allah ig berfinnan:

“Katakanlah:”Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul” (QS. an-Nur:54).

7. Al-Ikhlash (ikhlas)

Yaitu penyucian amal perbuatan manusia dengan niat yang baik dari segala noda syirik. Hal itu dengan cara mengikhlaskan semua perkataan dan perbuatan hanya untuk Allah $g dan demi mencari ridha-Nya. Di dalamnya tidak ada noda riya’ (ingin dipandang orang), sum’ah (ingin didengar orang), mendapatkan keuntungan dan karena kepentingan pribadi, nafsu zahir dan batin ataupun terdorong untuk beramal karena kecintaan terhadap seseorang, mazhab, atau golongan yang ia ikuti tanpa adanya petunjuk dari Allah. la berdakwah hanya karena mencari ridha Allah $i dan negeri akhirat. Hatinya tidak menoleh kepada seorang makhluk pun untuk mendapatkan balasan ataupun rasa terima kasih darinya.

Allah  berfirman:

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). ” (QS. az Zumar:3).

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus” (QS. al-Bayyinah:5).

Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits ‘Utban, bahwa Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan kalimat Id ilaha illalldh karena mencari ridha Allah.”

8. Al-Mahabbah (kecintaan)

Yaitu mencintai kalimat yang agung ini, tuntunan dan petunjuknya. la mencintai Allah dan Rasul-Nya. Cintanya kepada keduanya melebihi segala cinta. Dia juga harus memenuhi syarat-syarat kecintaan dan kewajibannya, yaitu mencintai Allah dengan memuliakan, mengagungkan, takut dan berharap kepada-Nya serta mencintai segala sesuatu yang dicintai-Nya, seperti tempat-tempat tertentu seperti Mekkah, Madinah dan masjid-masjid pada umumnya, waktu-waktu tertentu seperti bulan Ramadhan, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan lain-lain, sosok-sosok tertentu seperti para nabi, rasul, malaikat, orang-orang jujur, para syuhada dan orang-orang saleh, perbuatan-perbuatan tertentu seperti shalat, zakat, puasa dan haji, ucapan-ucapan tertentu seperti zikir dan bacaan al-Qur’an.

Termasuk mencintai Allah adalah mendahulukan segala yang dicintai Allah atas segala sesuatu yang dicintai, dihasrati dan diinginkan dirinya, serta membenci segala sesuatu yang dibenci Allah, seperti orang-orang kafir, kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.

Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kqfir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela”. (QS. al-Maidah:54).

Makna kalimat Muhammadur rasulullah.

Maknanya adalah mengakui secara lahir dan batin bahwa muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya (yang diutus) kepada seluruh manusia dan mengamalkan segala konsekuensinya, yaitu menaati perintahnya, membenarkan semua yang disampaikannya, menjauhi larangannya dan tidak menyembah Allah kecuali sesuai dengan yang disyariatkannya. Kesaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah memiliki dua rukun, yaitu: Abduhu (hamba-Nya) dan Rasuluhu (utusan-Nya). Kedua sifat ini menafikan sikap berlebihan dan pengabaian terhadap pribadi Rasulullah 0. Beliau adalah hamba dan rasul-Nya dan makhluk yang paling sempurna dengan kedua sifat mulia ini.

Kata al- ‘Abdu di sini berarti seorang hamba yang loyal. Artinya, beliau adalah seorang manusia biasa yang diciptakan seperti lazimnya manusia lainnya.

Allah SWT. berfirman :

“Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu… ” (QS. al-Kahfi:l 10).

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya” (QS. al-Kahfi:l).

Sedangkan makna ar-Rasul adalah yang diutus kepada seluruh manusia untuk mengajak mereka ke jalan Allah dengan membawa kabar gembira sekaligus peringatan. Bersaksi kepada Rasulullah &> dengan kedua sifat ini mengandung penafian sikap ifrath (berlebihan) dan tafrith (pengabaian) terhadap pribadi beliau. Sebab, banyak manusia yang mengaku sebagai umatnya tapi bersikap berlebihan dan melampaui batas. Mereka menempatkan beliau melebihi tingkat seorang hamba. Bahkan beliau sampai disembah selain Allah. Mereka memohon pertolongan kepada beliau dan meminta sesuatu yang tidak dapat dipenuhi kecuali oleh Allah. Seperti memenuhi segala kebutuhan dan menghilangkan segala kesulitan. Sementara sebagian manusia mengingkari kerasulan Muhammad atau tidak mau mengikutinya, dan sebaliknya berpedoman pada ucapan-ucapan yang bertentangan dengan risalahnya.

Rukun iman

Dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunah menjelaskan bahwa perkataan dan perbuatan yang diterima adalah yang berdasarkan akidah yang benar. Apabila akidah tidak benar maka seluruh amal perbuatan menjadi sia-sia.

Allah berfirman:

“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam). Maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. “(QS. al-Maidah:5).

“Daw sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. ” (QS. az-Zumar:65)

Al-Qur’an dan as-Sunah menjelaskan bahwa akidah yang benar secara ringkas terhimpun di dalam enam hal, yaitu: beriman kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para malaikat, hari akhir dan beriman kepada semua ketentuan-Nya, baik dan buruknya. Keenam hal ini adalah dasar akidah yang benar yang dengannya al-Qur’an diturunkan dan Rasulullah diutus. Inilah yang disebut dengan rukun iman.

Pertama: Beriman kepada Allah

Beriman kepada Allah artinya beriman bahwa Dia-lah Tuhan yang benar dan yang berhak disembah, bukan selain-Nya. Karena, Dia-lah Pencipta manusia sebagai hamba-Nya, Yang melimpahkan segala kebaikan kepada mereka, Mengatur rezeki mereka, Mengetahui urusan mereka yang tersembunyi dan yang nampak, dan Dia-lah yang memberi pahala kepada hamba-Nya yang taat dan menimpakan siksa kepada yang durhaka. Oleh karena itu, jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Firman Allah:

“Dan ^4^w ft’dafc menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki’ supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. adz-Dzariyat:56-58)

Allah 3$ telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci untuk menjelaskan hakikat kebenaran, mendakwahkannya dan memperingatkan hal-hal yang menyelisihinya.

Allah SWT. berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul padatiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). ” (QS. an-Nahl:36)

Hakikat ibadah ini adalah mengesakan Allah dengan semua bentuk ibadah, seperti doa, takut, mengharap, shalat, puasa, berkurban, nazar, dan lain-lainnya yang dilakukan dengan rasa tunduk, harap dan cemas, serta dengan sepenuh rasa cinta dan kerendahan diri atas keagungan-Nya. Sebagian besar kandungan al-Qur’an membicarakan dasar yang agung ini, seperti firman Allah fii:

“sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. az-Zumar:2)

” Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia” (QS.al-Isra1:23)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kaflr tidak menyukai(nya).” (QS. Ghafir:14)

Termasuk beriman kepada Allah adalah beriman dengan seluruh kewajiban yang la perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu beriman dengan kelima rukun Islam. Diantaranya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, pergi haji bagi yang mampu dan kewajiban-kewajiban lainnya. Rukun Islam yang utama adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Termasuk beriman kepada Allah adalah beriman bahwa Allah adalah Pencipta alam, Yang mengatur seluruh urusan mereka dengan ilmu dan qudrat-Nya menurut kehendak-Nya. Dialah Penguasa dunia dan akhirat, Rabb seluruh alam yang tidak ada rabb selain-Nya. Dia-lah yang mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab untuk kebaikan manusia dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat. Dan, tidak ada seorang pun yang menyekutukan-Nya dalam hal ini. Allah $g berfirman:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. ” (QS. az-Zumar:62)

Termasuk beriman kepada Allah adalah mengimani nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur, yang terdapat di dalam al-Qur’an al-Karim dan sunah Rasul-Nya yang terpercaya, tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtstl, serta mengimani makna agung yang terkandung di dalam nama-nama tersebut, yang merupakan sifat-sifat AllahM. Wajib menetapkan semua sifat tersebut bagi Allah sesuai dengan (keagungan-Nya), tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya. Firman Allah ^g:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura:l 1)

Kedua : Beriman kepada malaikat.

Beriman kepada malaikat mencakup keimanan secara global dan terperinci. Seorang muslim (wajib) beriman (secara global) bahwa Allah memiliki para malaikat yang diciptakan untuk berbuat taat kepada-Nya. Mereka terdiri atas beberapa kelompok, diantaranya ada yang ditugasi memikul ‘Arsy, menjadi penjaga surga dan neraka, serta yang ditugasi untuk mencatat perbuatan hamba-hamba-Nya. Beriman kepada malaikat secara rinci adalah beriman kepada seluruh malaikat yang telah disebutkan nama-namanya oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu Jibril, Mikail, Malik (penjaga neraka) dan Israfil (peniup sangkakala).

Aisyah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah telah bersabda:

“Malaikat diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari kobaran api, dan manusia diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepadamu. ” (HR. Muslim)

Ketlga : Beriman kepada kitab.

Wajib beriman secara global bahwa Allah $6 telah menurunkan beberapa kitab kepada para nabi dan rasul untuk menjelaskan kebenaran-Nya dan untuk berdakwah kepada-Nya. Dan wajib pula beriman secara rinci kepada nama-nama kitab yang Allah turunkan, yaitu Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab yang lebih utama dan penutup semua kitab. Al-Qur’an merupakan pengawas dan pembenar terhadap kitab-kitab terdahulu. Al-Qur’an adalah kitab yang wajib diikuti oleh seluruh umat dan dijadikan sebagai pedoman untuk memutuskan segala persoalan bersama-sama dengan sunah Rasulullah yang sahih. Hal itu, karena Allah telah mengutus Muhammad & sebagai rasul kepada jin dan manusia, dan menurunkan kepadanya al-Qur’an agar ia memutuskan semua urusan manusia dengannya. Dan, al-Qur’an adalah obat bagi hati, penjelas semua persoalan, hidayah dan rahmat bagi manusia.

Allah  berfirman:

“Dan al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS. al-An’am:155)

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri. ” (QS. an-Nahl:89)

Keempat : Beriman kapada para rasul.

Beriman kepada para rasul secara global dan terperinci adalah wajib. Maka, kita harus mempercayai bahwa Allah telah mengutus para rasul kepada hamba-hamba-Nya sebagai pembawa kabar gembira, pemberi peringatan dan penyeru kebenaran. Barangsiapa yang mengikuti mereka, maka ia akan memperoleh kebahagiaan. Dan barangsiapa yang menentang mereka, maka ia akan merugi dan menyesal. Sedang nabi yang terakhir sekaligus yang paling mulia adalah Muhammad.

Firman Allah

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul padatiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu” (QS. an-Nahl:36).

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. al-Ahzab:40)

Dan, siapa pun nabi yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, kita wajib mem-percayainya secara terperinci, seperti Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim dan nabi kita Muhammad — Semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan atas mereka semua.

Kelima : Beriman kepada hari akhir.

Termasuk beriman kepada hari akhir, adalah beriman dengan semua yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya tentang apa yang akan terjadi setelah kematian, seperti fitnah kubur, siksa dan kenikmatannya, goncangan dan kedahsyatan hari kiamat, shidrat (titian), timbangan dan perhitungan amal, pembagian catatan amal manusia; ada yang menerima dengan tangan kanannya dan ada yang menerima dengan tangan kiri atau dari belakang punggungnya. Begitu pula beriman dengan telaga yang akan diberikan kepada nabi Muhammad, beriman dengan surga dan neraka, beriman bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Allah dan bahwa Allah akan berbicara dengan mereka, dan beriman dengan hal-hal lain yang dijelaskan di dalam al-Qur’an dan as-Sunah yang sahih. Semua hal tersebut wajib diimani dan dipercayai seperti apa yang dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Keenam: Beriman kepada qadha dan qadar.

Beriman kepada qadha dan qadar meliputi empat hal:

1. Beriman bahwa Allah telah mengetahui semua yang telah dan akan terjadi, mengetahui keadaan semua makluk-Nya, mengetahui rezeki, ajal, amal dan semua persoalan mereka, tanpa ada sesuatu pun yang luput dari-Nya.

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. at-Taubah:l 15)

2. Beriman bahwa Allah telah menulis semua ketetapan-Nya.

Allah  berfrman:

segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). ” (QS . Yasin: 12) 3. Beriman bahwa kehendak Allah adalah mutlak, apa yang la kehendaki akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi. Firman Allah SWT:

“Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. (QS. AH Imran:40)

4. Beriman bahwa Allah $g Pencipta semua yang ada di alam raya, dan tidak ada pecipta selain-Nya.

Allah  berfirman:

“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. ” (QS. al-An’am:102)

Hal-hal yang membatalkan keislaman.

Seseorang bisa keluar dari agama Islam (murtad) karena melakukan hal-hal yang dapat membatalkan keislamannya. Di antaranya ada sepuluh hal yang sering terjadi.

1 . Menyekutukan Allah.

Allah  berfirman:

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. ” (QS. al-Maidah:72)

Di antara bentuk menyekutukan Allah adalah berdoa kepada orang yang telah mati, meminta pertolongan kepada mereka, bernazar dan menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada mereka.

2. Orang yang menjadikan perantara antara dirinya dan Allah dengan berdoa, memohon pertolongan dan berserah diri kepada mereka, maka ia telah kafir. Allah |g berfirman:

“Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. al-Jin:18)

3. Orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, meragukan kekafiran mereka, dan membenarkan keyakinan mereka, maka ia telah kafir.

4. Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk dan hukum yang disampaikan oleh Rasulullah li lebih sempurna atau lebih baik, maka ia telah kafir. Seperti meyakini undang-undang dan hukum yang dibuat oleh manusia lebih baik dari syariat Islam, atau meyakini syariat Islam sudah tidak layak untuk diterapkan pada masa sekarang ini, atau ia menjadi faktor kemunduran umat Islam, atau meyakini bahwa hukum Islam hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya tanpa mengatur urusan kehidupan lain, atau memandang bahwa pelaksanaan hukum Allah dalam memotong tangan bagi pencuri dan raj am bagi orang yang melakukan perzinahan tidak sejalan dengan perkembangan zaman.

Tennasuk dalam hal ini, meyakini diperbolehkannya penerapan selain hukum Islam dalam bidang mu’dmalah (hukum-hukum yang mengatur transaksi antara manusia, seperti jual-beli, sewa-menyewa, gadai dan lainnya) atau hudiid (hukum-hukum yang balasannya telah ditetapkan Allah seperti hukum perzinaan, pencurian dan lainnya), atau yang lainnya. Meskipun tidak meyakini bahwa hukum tersebut lebih baik daripada hukum Islam, karena hal ini termasuk menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah. Dan, ini termasuk kafir.

5. Barangsiapa membenci apa yang disampai-kan oleh Rasulullah, maka ia telah kafir sekalipun ia mengamalkannya. Allah SWT. berfirman:

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka bend kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. ” (QS. Muhammad:9)

6. Barangsiapayangmemperolok-olok sebagian ajar an Islam yang disampaikan oleh Rasulullah $i, baik yang menyangkut pahala maupun ancaman, maka ia telah kafir. Allah swt. berfirman:

“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? “Tiddk usah kamu minta maaf, karena kamu kafir -sesudah beriman… “(QS. at-Taubah:65-66)

7. Sihir. Barangsiapa yang melakukan perbuatan sihir, atau rela dengannya, maka ia telah kafir.

Allah SWT. berfirman:

“Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengata-kan:”Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir” (QS. al-Baqarah:102)

8. Membantu orang-orang musyrik dan menolong mereka dalam memerangi kaum muslimin. Allah SWT. berfirman:

“Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(QS. al-Maidah:51)

9. Barangsiapa yang meyakini bahwa sebagian manusia dapat terbebas dari hukum Allah, maka ia kafir.

Allah SWT. berfirman:

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. ” (QS. Ali Imran:85)

Hal tersebut karena seseorang yang telah mengetahui ajaran yang dibawa oleh Rasulullah  tidak boleh mengikuti agama lain, atau meyakini bahwa mengikuti agama lain selain agama yang disampaikan oleh Rasulullah §g dapat menyelamat-kannya.

1 0. Berpaling dari agama Allah dengan tidak mau mempelajari dan mengamalkannya.

Allah SWT. berfirman:

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling dari padanya Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. ” (QS. as-Sajdah:22)

Yang demikian itu, dengan cara berpaling dari mempelajari dasar-dasar agama yangmenjadikan seseorang dapat disebut sebagai seorang muslim, dan bukan berpaling dari mempelajari rincian ajaran Islam. Seluruh hal ini dapat membatalkan keislaman seseorang, baik dilakukan dengan sungguh-sungguh maupun bercanda. Kecuali, bagi orang yang dipaksa untuk melakukannya, maka ia tidak berdosa.

Sumber: http://www.nouralislam.org/indonesian/indofiles/aqidah/dasardasaraqidahislam.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers

%d bloggers like this: