Cara Membuat Kolam Renang Mini di Rumah: Mengelola Secara Praktis dan Ekonomis

Oleh  Akhir Matua Harahap

Olahraga renang merupakan salah satu bentuk olahraga yang yang menyehatkan, menyenangkan dan mampu membuat semua anggota keluarga bergembira ria. Keutamaan renang karena mampu  memberi  efek pada gerakan semua tubuh khususnya kaki, tangan dan leher/kepala. Gerakan leher/kepala ini sangat membantu menjaga keseimbangan sirkulasi darah/saraf dari tubuh ke otak/kepala melalui ‘bottle neck’ di leher. Kebiasaan kita membaca dan menulis apalagi dengan menggunakan computer berjam-jam dari dulu hingga nanti dapat memberi pengaruh pada kelenturan/kekakuan di leher/pundak. Mengatur keseimbangan antara kebiasaan kita dengan peranan renang dalam menjaga fungsi keseimbangan utamanya leher/pundak menjadi penting.

Persoalannya adalah keinginan untuk berenang kerap dihadapkan pada persoalan akses ke kolam renang: jauh dari rumah, repot, mahal (kalau rutin)—belum lagi mempertimbangkan kesehatan/kebersihan kolam renang dan privasi (terutama aurat). Untuk mengatasi kebutuhan soal berenang dan kendalanya tadi, membuat kolam renang sendiri adalah solusinya. Akan tetapi membuat kolam kerap terdengar atau terkesan mahal apalagi melalui konsultan atau kontraktor.  Tulisan ini coba menginformasikan bahwa membuat kolam renang dapat dilakukan sendiri dan justru murah. Murah karena kita dapat menyiasatinya. Yang dimaksud  kolam renang mini  adalah kolam yang ukurannya kira-kira seluas 5×2,5 meter dimana volume air sebanyak 10-15 kubik dengan kedalaman kolam bervariasi antara 80 cm hingga 180 cm.

Bagaimana memulainya?

Ada kebutuhan untuk berenang (kebugaran dan kesehatan) dan keinginan punya kolam renang sendiri dan memberi fasilitas bagi anak-anak atau keluarga di rumah untuk belajar renang, bergembira ria dan sebagainya.

  • Tersedia lahan dengan ruang terbuka minimal 6×3 meter baik disamping maupun belakang rumah. Jika hanya tersisa 3×3 meter yang terbuka dapat digabungkan dengan mengorbankan/substitusi atau komplemen dengan bagian rumah yang tertutup yang selama ini dipandang tidak efektif/kurang memuaskan. Jika ruang tertutup ingin tetap dimaksimalkan dengan kehadiran kolam, lantainya dapat ditinggikan dengan menggunakan dak atau lantai kayu. Sementara  diatasnya tetap dapat difungsikan sebagai ruang kerja/ruang baca, ruang instirahat atau gudang atau apa saja yang dipandang sesuai. Ini malah lebih menarik karena kolam sebagian berada di luar bangunan rumah dan sebagian ada di dalam rumah. Manfaat tambahan, jika hujan atau terik, berenang tetap bisa dilakukan. 

Biayanya berapa?

Membuat kolam renang sendiri jangan dibayangkan mahal, justru relatif murah. Biaya pembuatan kolam ini saya kira masih bisa dijangkau jika kita hubungkan dengan biaya rekreasi dan biaya kesehatan yang semakin mahal. Perkiraan kasarnya saya hitung hanya sekitar Rp 5 juta. Bagaimana bisa!

  • Konstruksi kolam. Biaya konstruksi beton cor sederhana termasuk upah tukang 3 juta, dan keramik 1 juta.
  • Peralatan  penyaringan/sirkulasi air yang meliputi wadah penyaringan (400 ribu), mesin penyedot, yang biasa digunakan untuk akuarium besar dua buah (satu untuk menarik air dari bak penampungan limpahan ke wadah penyaringan dengan harga 200 ribu dan satu lagi untuk menyedot endapan/kotoran dari dasar kolam yang seharga 100 ribu. Untuk bahan paralon, selang-selang dan serokan sekitar 100 ribu.
  • Bahan disinfektan, penjernih air (dan kecantikan air kolam) yang terdiri dari kaporit, tawas, soda api (dan terusi) 100 ribu.
  • Instalasi listrik yakni stop kontak ke mesin-mesin dan lampu-lampu sekitar kolam 100 ribu.

Biaya-biaya di atas adalah biaya minimal untuk pemilikan kolam renang dan olahraga renang murah tapi menyehatkan. Jika ingin kolam tambah luas, keramik yang harganya lebih mahal dan penambahan asesoris kolam atau pengintegrasian kolam dengan rumah tentu menjadi lebih mahal (itu soal pilihan). Hanya saja biaya-biaya untuk pokok kolam renang yakni alat penyaringan dan sirkulasi air serta kebutuhan bahan-bahan kimia untuk penjernihan air relatif tetap.

Untuk desain kolam renangnya sendiri sangat simpel. Setelah kolamnya sendiri selesai, disamping (salah satu sisi) kolam renang, buat bak penampungan air limpahan kolam dengan volume sekitar 0,25 kubik. Kemudian kolam dan bak dihubungkan oleh  satu atau dua lubang di dinding bagian atas kolam  (kira-kira 10-20 cm dari teras kolam yang merupakan saluran pembuangan air limpahan permukaan kolam ke bak penampungan. Selanjutnya, mesin sedot yang lebih besar diletakkan di dalam bak yang berfungsi untuk memompa air dari bak ke wadah penyaringan yang berada di teras kolam. Wadah penyeringan itu sendiri memiliki dua bagian yakni bagian penampungan air (ada ijuk) dan bagian tempat air bersih yang muncul ke permukaan wadah melalui sela-sela tumpukan pecahan batu gamping. Batu gamping dan ijuk termasuk satu paket dengan pembelian wadah penyaringan. Kemudian, air yang sudah bersih di dalam wadah dialirkan/disalurkan kembali ke kolam (dengan arah yang berlawanan dengan salurah menuju bak) melalui paralon yang ditanam di bawah teras kolam. Posisi arah berlawanan ini berguna agar air yang bersih mendorong air ke arah bak penampungan air permukaan)

 

Bagaimana treatment airnya?

Setelah semua konstruksi dan instalasi kolam renang selesai serta bahan sudah tersedia, maka anda mulai melakukan proses treatment awal terhadap air kolam renang.

  • Isi air kolam sampai  penuh hingga pada batas bawah saluran menuju bak limpahan air permukaan. Kalau takut tetangga marah, air dapat dibeli pada pemasok air isi ulang sebanyak 3 tangki yang harganya per tangki 300 ribu. Tapi itu cukup mahal bukan?. Cara lain, harus bersabar, mengambil air melalui mesin pompa sedikit demi sedikit, nyalakan sejam stop dua jam, nyalakan lagi sejam, stop lagi hingga sekitar 10 kali dalam rentang waktu dua hari. Aman dan murah bukan?
  • Langkah selanjutnya adalah taburkan kaporit sekitar sekilo yang harganya 20 ribu. Esok harinya, efek dari kaporit ini pada air kolam adalah air kolam tampak kuning/kehijau-hijauan. Anda jangan kaget. Ini disebut proses pengejutan air kolam, dimana alga, lumut dan bakteri hangus atau mati oleh kaporit tetapi masih tercampur atau larut dalam air. Berikutnya adalah memasukkan soda api setengah kilo dan tawas 3-4 kilo. Soda api  untuk membersihkan kotoran dari dinding kolam dan tawas untuk mengikat kotoran (proses koagulasi) yang kemudian gravitasi/jatuh dan mengendap ke dasar kolam. Soda api dalam bentuk bubuk cukup ditaburkan ke dalam kolam, sedangkan tawas yang bentuknya berupa bongkahan dapat dipecah-pecah atau digiling kasar dan untuk mudahnya ditaruh di bawah keran wadah alat penyaring. Kemudian alat penyaringan dinyalakan dan larutan atau air tawas yang timbul dari proses pelarutan di bawah keran wadah akan teralirkan dengan sendirinya ke kolam. Tawas harganya 6 ribu perkilo dan soda api 20 ribu per kilo.
  • Setelah proses koagulasi ini dianggap sudah selesai dimana air dalam kolam akan tampak bersih, bening dan biru (usahakan keramik dinding dan dasar kolam warna putih) sementara di bawah dasar kolam tampak endapan berwarna coklat. Endapan ini dibersihkan dengan alat sedot-yang rangkaiannya dirakit sendiri. Endapan ini sesungguhnya sangat halus tetapi terikat (koagulasi) sehingga mudah disedot. Jika endapat tersebut relatif  tebal atau banyak gelap, endapan berupa kotoran/lumpur halus ini disedot dan dialirkan langsung ke saluran pembuangan (selokan). Jika sedotan tampak tipis atau sedikit dapat dialirkan ke wadah penyaringan, tetapi ijuk wadah penyaringan harus segera dibersihkan melalui keran dibagian bawah wadah sambil disiram (backwash).
  • Jika air kolam sudah jernih (setelah beberapa saat penyedotan endapan) dan semua endapan di dalam kolam sudah dibersihkan, maka air kolam yang tampak biru, sesungguhnya kolam sudah bisa digunakan. Namuu jika anda ingin warna biru air kolam lebih gelap dan mengkilap, dapat ditambahkan terusi satu genggam setiap 3-4 hari. Satu kilo terusi yang kira-kira 10 gengam harganya 25 ribu. Selanjutnya tindakan terakhir dalam proses penjernihan air atau pembersihan kolam adalah melakukan sirkulasi air selama 6-8 jam. Proses sirkulasi adalah menyedot air dari bak oleh mesin yang diteruskan ke wadah lalu hasilnya dialirkan kembali ke kolam. Setelah melakukan sirkulasi 6-8 jam, matikan alat sirkulasi (melalui stop kontak) dan angkat rangkaian penyedot endapan dari kolam, maka anda langsung saja cebur ke kolam. Eureka!
  • Untuk setiap  kolam renang anda selesai  digunakan, mungkin air kolamnya  berkurang karena terbuang ke luar  maka tambahkan air dari air pompa langsung ke dalam kolam atau melalui bak. Usahakan terlebih dahulu keseimbangan permukaan air dalam kolam dan bak agar air mengalir secara proporsional. Jika sudah konstan maka nyalakan mesin sirkulasi selama 6-8 jam dan tugas anda hari itu selesai biarkan proses sirkulasi berjalan sendirinya. Satu hal lagi, untuk menjaga stabilitas air dan menghalangi pertumbuhan alga/lumut taburkan kaporit sebanyak 1-2 genggam setiap 3-4 hari. Proses sirkulasi ada baiknya dilakukan tiap hari (ketika kolam tidak digunakan) selama 6-8 jam untuk tetap mempertahankan kebersihan kolam. Arus listrik alat sedot/sirkulasi sebenarnya tidak terlalu ng besar hanya kira-kira sebanyak penggunaan lampu pijar (lupa saya berapa watt).

Supaya memudahkan impian anda, bahan-bahan dan peralatan pembuatan kolam renang dapat dibeli di toko-toko material (besi dan keramik, kaporit, tawas dan soda api, serta paralon dan selang), toko akuarium (dapat dibeli wadah penyaring, mesin sedot air dan serokan). Toko akuarium di Kota Depok saya temukan di Jalan Margonda Raya seberang Hotel Bumi Wiyata. Sedangkan untuk terusi mungkin hanya dapat dibeli di toko kolam renang– yang paling dekat dari Depok alamatnya di Jalan Ampera Raya—seberang Lembaga Administrasi Negara. Sebagai tambahan, untuk besi pengaman di atas pagar kolam yang berada di dalam rumah dapat dibeli/digunakan besi krom (tapi bisa berkarat dalam air) 20 ribu semeter dan holdernya 15 ribu satu set dan tinggal di bor/fischer. Tetapi untuk besi pengaman di dalam kolam sebaiknya digunakan besi dan holder yang steinless. Di Depok toko besi steinless terdekat dari kampus adalah yang alamatnya dekat halte jelang UI dari arah Jakarta atau dipertokoaan di Kenari, Kampus Salemba/Jakarta.   Bagi anda yang tertarik silahkan mencoba dan melakukan sendiri. Jika ada kesulitan dalam pemikiran awal saya bersedia mendiskusikannya untuk bertukar pikiran via email. Oleh karena bukunya sedang saya susun, maka hasil diskusi pembuatan seputar kolam renang mini ini sudah barang tentu akan dapat membuat lebih rinsi isi buku tersebut. Selamat mencoba sendiri.

Tanya Jawab Seputar Kolam Renang Mini

Artikel tentang kolam renang yang pernah saya posting di blog detik.com dan staff.blog.ui.ac.id dengan judul ”Cara Membuat Kolam Renang Mini di Rumah: Mengelola Secara Praktis dan Ekonomis” mendapat respon dari sejumlah pembaca di tanah air. Selain memberikan respon yang positif, beberapa diantaranya bertanya dan berdiskusi secara langsung maupun via email dan telpon yang pada prinsipnya ingin tahu lebih detail sebelum mereka memulainya membuat kolam renang sendiri. Umumnya mereka tertarik membaca dan mengikuti cara pembuatan kolam renang tersebut karena mereka membandingkannya dengan harga yang ditawarkan konsultan maupun pengembang. Artikel tersebut kiranya telah membantu masalah mereka.

Untuk sekadar diketahui, kolam renang mini tersebut sudah saya gunakan dalam setahun terakhir yang merupakan hasil pemikiran dan rancangan sendiri. Sejauh ini, kolam tersebut bebas dari bocor, airnya belum pernah dikuras dan kebersihan dan kejernihannya tetap terjaga. Dengan kata lain hasilnya cukup memuaskan saya. Saya sendiri bukanlah ahli, saya hanya seorang amatir saja–seorang awam yang berhasrat punya kolam renang. Saya berharap juga suatu saat penulisan buku tentang kolam renang mini  yang tengah dikerjakan dapat terselesaikan agar nantinya lebih luas jangkauan ceritanya.

Beberapa pertanyaan dan diskusi dengan sejumlah pembaca yang terjadi dalam satu tahun terakhir ini saya coba sajikan untuk mengantisipasi pertanyaan dari pembaca yang lain. Saya berharap beberapa jawaban yang saya rangkum pada artikel ini dapat melengkapi atau memperjelas isi artikel terdahulu (dapat dilihat pada kategori ’kolam renang’).

Q1.Apakah kolam dicor semua, termasuk dasar dan dinding? Berapa ukuran ketebalan cor untuk dasar dan dinding?

A1. Sebaiknya dicor semua baik lantai maupun dinding. Pilihan lainnya adalah lantai harusnya dicor sedangkan dinding bisa dengan susunan bata. Tapi pasangan bata dan cor biayanya kurang lebih sama. Jadi, saya sarankan semuanya dicor. Untuk lantai harus dicor karena dengan cor lebih mampu menahan beban air sedangkan dinding tidak terlalu berat untuk menahan air. Keutamaan dicor semua, karena lantai dan dinding saling terikat oleh besi tulangannya dan lebih kokoh. Ketebalan lantai dan dinding cukup dengan ketebalan antara 8-10 cm dengan menggunakan besi 8 mm (satu lapis saja, tengah-tengah cor). Untuk keperluan mengecor dinding ada baiknya dengan menggunakan tripleks biar lebih cepat dan lebih rapih. Dua lembar tripleks sudah cukup (disesuaikan dengan ketinggian tahapan pengecoran), bisa digunakan beberapa kali secara bertahap.

Q2.Campuran cor, apakah menggunakan molen atau cukup dicampur atau diaduk  secara manual?

A2.Adukan cor dilakukan dengan cara biasa (tanpa molen). Dengan tukang hanya dua orang, maka pengerjaannya, mereka dapat lakukan secara bertahap saja (sebanyak ukuran dua triplek tadi yang dimulai dari dinding bagian bawah dan besoknya triplek dilepas digunakan lagi untuk bagian dinding atas. Jangan lupa untuk  saluran samping tidak perlu dicor (cukup dengan adukan semen ketika saluran limpahan air itu dikeramik).

Q3.Bagaimana caranya untuk meminimalkan bocor atau rembesan?

A3.Sebelum memasang keramik dinding dan lantai lebih dahulu dinding dan lantai diaci (lapisan semen secara merata). Setelah kering atau setengah kering aciannya baru pasang keramik. Ada kalannya ketika memasang keramik dinding perlu ditahan sementara dengan paku. Ketika pakunya dicabut pastikan bekas paku tadi diaci lagi (ditutup). Proses ini penting diperhatikan tukang agar dapat lebih memperkuat dinding maupun lantai dari kemungkinan bocor. Soal rembesan mungkin tidak terhindarkan tapi itu tidak masalah, toh juga rembesan itu masuk ke dalam tanah (lantai maupun dinding). Tapi kalau kolamnya di atas rumah (dak) itu bisa masalah. Untuk itu, cornya harus tebal dan lebih tebal dari lantai dak umumnya.

Q4.Saluran drain/penyedot, apakah perlu membuat saluran pembuangan didasar kolam? atau cukup dengan saluran samping saja?

A4.Tidak perlu saluran didasar kolam, cukup lewat samping atas. Sebab kita tidak perlu menguras air. Karena hanya sekali air kolam kita isi. Jika seandainya perlu dikuras karena sebab-sebab tertentu, karena anak-anak tak sengaja buang hajat atau tikus mati sampai membusuk bisa kita sedot buang ke selokan dengan meenggunakan sementara mesin sedot yang ada di dalam bak penampungan. Kalau dibuat saluran pembuangan untuk drainase di adasar kolam malah nantinya bisa menimbulkan dampak yang mengakibatkan kolam jadi bocor.

Q5.Bagaimana cara menyedot kotoron atau lumpur yang mengendap di dasar kolam?

A5.Disedot dengan alat sedot buatan sendiri saja (biar murah). Cara merakitnya sederhana saja. Mesin sedot lumpur di dasar kolam sama dengan mesin sedot air dari bak penampungan ke wadah penyaringan. Cuma ukurannya satu tingkat lebih kecil (kira-kira 35 watt). Pertama mesin itu kita ikat pada ujung paralon (stick) yang dibantu ikat dengan kawat dan diperkuat dengan tali karet bekas ban motor). Kemudian kabel listriknya kita sambung dengan kabel tambahan agar bisa menjangkau arus listrik yang terdekat. Selanjutnya pada mesin: saluran penyedot (input) kita sambung dengan selang sepanjang 30-40 cm yang dibuat bengkok (setengah lingkaran) yang berfungsi untuk menyedot endapan dari lantai kolam. Kemudian saluran pembuangannya (output) kita sambung dengan selang yang cukup panjang agar cukup menjangkau wadah penyaringan.

Q6.Warna keramik yang digunakan sebaiknya bagaimana?

A6.Sebaiknya warna apa saja yang polos. Tapi saya sarankan warna putih polos saja. Karena kelihatan lebih bersih dan warna biru air kolam tampak lebih memantul dan menjadi lebih mengkilap.

Q7.Ukuran keramik yang baik ukuran berapa ya?

A7.Bebas saja. Ukuran 20, 25, 30 bahkan 40 atau lebih dapat digunakan. Yang perlu diperhatikan adalah ukuran keramik lantai sebaiknya kotak atau empat persegi. Ini maksudnya agar lebar keramik dinding semua sisi bisa sesuai. Untuk tinggi atau panjang keramik dinding tidak harus sama dengan lebarnya. Tapi semua tinggi atau panjang keramik dinding untu semua sisi sama.

Q8. Air tanah di rumah saya berbau tanah apakah baik untuk air kolam?

A8.Saya kira tidak masalah. Karena air yang berbau tanah itu sebenarnya bersumber dari tanah mungkin. Kalau dalam proses penjernihan air nantinya yang didahului kaparit (membunuh alga atau bakteri) yang kemudian diendapkan dengan tawas, maka endapan ini kita sedot ke luar. Dengan begitu bau air tanah akan hilang. Lagi pula adanya campuran kaporit dan tawas di dalam kolam akan membuat bau air kolam lebih wangi.

Q9.Untuk mempertahankan kejernihan air, bagaimana?

A9.Secara teratur menaburkan kaporit sebanyak satu genggam pertiga hari. Ada baiknya jika habis hujan lansung diberi kaporit dengan takaran yang sama dan selanjutnya mengikuti interval pemberian kaporitnya. Sebaiknya gunakan kaporit granular (impor) karena lebih efektif tidak banyak sampahnya.

Sumber: http://staff.blog.ui.ac.id

About these ads

12 thoughts on “Cara Membuat Kolam Renang Mini di Rumah: Mengelola Secara Praktis dan Ekonomis

  1. thaahcorp

    Syeikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu juga berkata:

    “Alhamdulillah, nasehat saya untuk saudara-saudaraku, janganlah kalian mengizinkan wanita-wanita kalian mengikuti klub-klub renang dan olahraga, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa ‘aalihi wa sallam telah mendorong wanita supaya tetap berada di rumahnya, beliau telah bersabda tentang wanita yang mendatangi masjid yang merupakan tempat ibadah dan ilmu syar’i:“Janganlah kalian larang hamba-hamba wanita Allah dari masjid-masjid Allah, dan rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka”, dan ini adalah perwujudan dari firman Allah (yang artinya): “Dan tetaplah kalian berada di rumah-rumah kalian”, kemudian seorang wanita apabila sudah terbiasa melakukan yang demikian maka hatinya akan senantiasa tergantung dengannya karena kuatnya perasaan seorang wanita, ketika sudah demikian maka dia akan tersibukkan dari tugas-tugasnya baik tugas-tugas yang berhubungan dengan agama atau dunia, dan jadilah perkara tersebut terbayang-bayang dalam hatinya dan menjadi bahan pembicaraan dalam perkumulan-perkumpulan. Demikian pula seorang wanita apabila melakukan aktifitas seperti itu maka akan menjadi sebab hilangnya rasa malu pada dirinya, jika sudah hilang rasa malu maka jangan tanya akibatnya, kecuali Allah memberi karunia dengan istiqamah yang mengembalikan rasa malu pada dirinya, yang malu ini merupakan fitrah seorang wanita.

    Reply
  2. Jaja Derra Kuswandi

    Bagaimana jika membuat kolam renang, tapi saya punya sumber mata airnya langsung dimasukan ke kolam renang dan terus dibuang airnya (air terus mengalir), masalahnya lama lama banyak lumutnya. Apakah sebaiknya pengisian cukup sekali aja. Solusinya gimana gan, agar saya tidak usah memakai pompa karena air mengalir sekitar paralon 1 inchi, mohon pencerahannya

    Reply
  3. romli

    Saya punya kolam renang kecil, ukuran 3x8x1,50 meter. lantainya saya cor dialasi dengan pagar kawat anyam yang tidak terpakai / biasanya kawat anyam tsb, digunakan untuk membuat Dam atau istilah namanya~ Beronjong~, dan biayanya juga cukup murah serta lebih kuat hasil corannya. saya plester dindingnya hingga kering, tanpa diaci. Setelah itu pasang keramik dimana setiap keramik yang hendak dipasang diberi aci/adukan semen yang tebal tanpa pasir. hasilnya sekarang lumayan bagus, tidak bocor ataupun merembes.

    Reply
  4. yopi

    saya sangat tertarik…mohon penjelasan detil cara mendesain penempatan filter air, mesin penyedot endapan, letak pompa air, letak bak limpahan…
    kalo bisa dalam bentuk visual/lay-out…
    terima kasih, boleh balas ke email saya pak…..

    Reply
  5. Herry

    Saya sedang mencoba membuat kolam renang sendiri,
    Saya mengharapkan bantuan penjelasan detil gambar desain penempatan filter air, mesin penyedot endapan, letak pompa air, letak bak limpahan…serta jenis pompa pompa nya (ukuran, watt serta merk).

    Terima kasih banyak.

    Saya tunggu email nya.

    Reply
      1. yana sofyana

        Saya sudah memiliki kolam renang buatan sendiri dengan ukuran 15 mx10 m kedalaman 180 cm sudah dipakai selama 2 tahun, saya merasa bosan karna setiap 2 minggu sekali harus ganti air, saya mohon penjelasan secara detil cara mendesain penempatan filter air, mesin penyedot endapan, letak pompa air, letak bak limpahan…
        kalo bisa dalam bentuk visual/lay-out…mudah2han bisa membantu trims.

  6. diway

    Bapak, boleh saya tau lebih detail ttg konstruksinya? Saya mau biqin yang ukuran 2,5 x 5 m saja.tp saya takut gagal di konstruksinya.boleh kirim via email saja pak.terima kasih

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s