Cinta Allah dan RasulNya

Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan tugas utama seorang pendidik muslim. Dengannya, anak didik akan ringan melaksanakan ibadah dan mengikuti sunnah. Ringan dalam menerima dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupannya, karena yang dituju dan dicari sudah jelas, yaitu cinta Allah dan Rasul-Nya.

Satu pelajaran lagi dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang masalah iman mengenai tanda cinta pada Allah. Beliau, Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyahrahimahullah mengatakan,

Cinta pada Allah dan Rasul-Nya telah ada dalam hati setiap orang beriman. Tidak mungkin seseorang menghilangkan rasa cinta tersebut jika memang ia adalah orang yang beriman. Tanda cinta pada Allah dan Rasul-Nya begitu nampak jika ada seseorang yang mencela Rasul dan menjelek-jelekkannya, atau ada orang yang mencaci maki Allah atau menyebut tentang Allah dengan sesuatu yang tidak pantas. Maka orang beriman akan benci dengan hal-hal tadi. Kebenciannya tersebut lebih besar dari kebenciannya ketika ayah atau ibunya dicacimaki (Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah).

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, beberapa orang Yahudi datang menemui beliau. Mereka berkata, “Kami mencintai Allah, akan tetapi kami tidak dapat mengikuti ajaranmu.” Kemudian Allah membantah dan membatilkan kecintaan mereka kepada-Nya dan menganggap pernyataan itu dusta. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

Ayat ini memberitahukan bahwa mencintai Allah ialah dengan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, menaati apa yang diperintahkannya, dan meninggalkan segala larangannya yang termaktub dalam hadits-hadits shahih yang telah beliau jelaskan kepada umat manusia. Cinta itu tidak terjadi dengan sekedar untaian kata-kata, tanpa mengamalkan petunjuk, perintah dan sunnah-sunnahnya.

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR. al-Bukhari).

Hadits shahih di atas memberitahukan kepada kita bahwa iman seorang muslim tidak sempurna hingga mencintai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam melebihi kecintaan kepada anak, orang tua dan manusia seluruhnya, serta bahkan melebihi cintanya kepada dirinya sendiri—sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits yang lain. Pengaruh cinta tersebut akan nampak ketika perintah-perintah dan larangan-larangan Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa Salam berseberangan dengan keinginan nafsu, keinginan istri dan anak-anak serta orang-orang uang berada di sekitarnya. Jika ia benar-benar mencintai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, niscaya ia mendahulukan perintah-perintahnya dan menyelisihi nafsunya, keluarganya, keinginannya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Jika ia dusta, berarti ia telah durhaka kepada Allah dan RasulNya serta menyelarasi setan dan hawa nafsunya.

Jika Anda bertanya kepada seorang muslim, “Apakah Anda mencintai Rasul Anda?” Maka ia menjawab kepada Anda, “Ya, tebusannya adalah jiwa dan hartaku.” Jika Anda bertanya kepadanya, “Mengapa Anda mencukur jenggot Anda dan menyelisihi perintahnya mengenai demikian dan demikian…serta Anda tidak menirunya dalam penampilan, akhlak dan tauhidnya?” Ia menjawab kepada Anda dengan ucapannya, “Cinta itu dalam hati, dan hatiku bersih.Alhamdulillah.” Kita katakan kepadanya: Seandainya hati Anda bersih, niscaya hal itu tampak pada tubuh Anda; berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Salam:

Ketahuilah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging; jika baik, maka semua tubuh menjadi baik dan jika rusak, menjadi semua tubuh menjadi rusak, yaitu jantung.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Suatu kali, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu bersilaturrahim kepada seorang dokter muslim, dan beliau  melihat foto-foto beberapa orang pria dan wanita tergantung di dinding. Ketika beliau menyebutkan kepadanya tentang larangan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam mengantung gambar-gambar, ia menolaknya dengan mengatakan, “Mereka adalah kawan-kawan priaku dan teman wanitaku di kampus.” Mengingat bahwa kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kafir, terutama kaum wanita yang memperlihatkan rambut dan perhiasan mereka di foto tersebut. Mereka semua berasal dari negeri-negeri komunis. Sementara dokter ini mencukur jenggotnya. Ketika beliau menasihatinya, ia malah bangga dengan dosa seraya mengatakan bahwa ia akan mati dalam keadaan mencukur jenggotnya. Anehnya dokter yang menyelisihi ajaran-ajaran Rasul ini mengklaim “cinta palsu”nya kepada Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, seraya mengatakan kepadaku, “Katakanlah, wahai Rasulullah, aku berada dalam perlindunganmu!” Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata dalam hati, “Anda menyelisihi perintahnya kemudian Anda masuk dalam perlindungannya. Apakah Rasul ridha dengan kesyirikan tersebut? Kita dan Rasul berada dalam perlindungan Allah semata.

Mencintai Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa Salam tidak dengan upacara-upacara seremonial, membuat hiasan-hiasan, menyenandungkan lagu-lagu yang tidak sunyi dari kemungkaran, bid’ah-bid’ah lainnya yang tiada asalnya dalam agama. Tetapi cinta ialah dengan mengikuti petunjuknya, berpegang dengan sunnahnya, dan menerapkan ajaran-ajarannya. Betapa indahnya ucapan seorang penyair:

Jika cintamu memang benar, niscaya kamu menaatinya

Sesungguhnya orang yang mencintai itu menaati siapa yang dicintainya.

Sesungguhnya para kekasih Allah pasti akan bersegera menggapai kecintaan Allah. Dia akan mengutamakannya atas yang lain. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam pernah mengabarkan bahwa Allah tersenyum pada tiga jenis manusia. Salah satunya adalah seorang laki-laki yang memiliki rasa cinta. Ia melakukan perjalanan bersama rombongan kafilah. Di tengah perjalanan mereka merasakan kelelahan. Ketika sahabatnya yang lain berhenti, mereka merebahkan tubuh mereka di atas tanah hingga tertidur. Adapun orang tadi, ia sama sekali tidak tidur. Ia bergegas mencari air dan mengambil wudlu. Ia lalu menghadap kiblat untuk shalat dan menangis. Ia berdoa dan bermunajat kepada Dzat yang Mahaesa.

Ini merupakan cerminan dari adanya rasa cinta. Kecintaan yang mendorong pemiliknya untuk melakukan apa saja agar mendapat keridlaan orang yang dicintainya.

Dikutip dari buku “Meniti dan Meneladani Golongan yang  Selamat

Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Penerbit : Pustaka At-Tibyan

Sumber: http://an-naba.com

Ketika Pendosa Berlimpah Kekayaan

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” (QS Al-An’am [6]: 44).

“Ustadz, mengapa ada orang atau keluarga yang tidak taat beragama; tidak shalat, tidak puasa, tapi rezekinya melimpah, usahanya sukses, kaya dan sekilas kelihatannya bahagia?” tanya seorang jamaah haji kepada saya. Pertanyaan ini tampaknya mewakili masyarakat yang penasaran melihat fenomena orang yang ahli ibadah tapi hidupnya serba kesulitan. Sementara di sisi lain, ada orang atau keluarga yang ahli maksiat, koruptor, dan tidak taat menjalankan agama, tapi hidup dengan bergelimang kekayaan. Rezeki mereka seperti banjir; mudah datangnya dan begitu melimpah.

Dalam konteks global, banyak negara dengan penduduk mayoritas Muslim dengan ribuan masjid tersebar di seantero negeri, sekian juta kali lantunan zikir dan doa, tapi mayoritas penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Sebaliknya, tidak sedikit negara yang kafir, yang penduduknya selalu tenggelam dalam beragam bentuk kemaksiatan dan kemungkaran–zina, khamr, judi, narkoba dan lain-lain–tapi tampaknya maju dalam banyak aspek kehidupan; ekonomi, militer, pendidikan, teknologi, informasi, dan sebagainya. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Ayat di atas menjawab pertanyaan tersebut dengan gamblang.

Ujian kesejahteraan hidup bagi pendosa

Ayat di atas bercerita tentang umat-umat terdahulu yang Allah mengutus kepada mereka para rasul, kemudian Allah siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan merendahkan diri. Namun, ketika siksaan Allah datang, mereka tidak melakukan hal itu. Hati mereka justru semakin keras, lalu atas bisikan setan mereka memandang indah perbuatan itu.

Maka, di tengah kedurhakaan mereka kepada Allah, Allah menguji mereka dengan kemakmuran dan kesejahteraan hidup. “Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka,” demikian penegasan Allah swt tentang berlimpahnya kesenangan yang diterima para pendosa tersebut. Menurut Imam Ibnu Katsir, “Maksudnya, Kami membukakan untuk mereka pintu-pintu rezeki dari segala hal (dalam semua aspek kehidupan) yang mereka pilih. Dan ini adalah istidraj (mengulur-ulur) dan imlaa’(penangguhan) dari Allah Ta’ala bagi mereka” (Tafsir Ibnu Katsir II/259).

Imam Malik menafsirkannya dengan kemakmuran dunia dan kemudahannya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/259).

Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya (IV/145) meriwayatkan hadits dari Uqbah bin ‘Aamir ra dari Nabi saw, “Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang Ia suka, maka ingatlah sesungguhnya hal itu adalah istidraj,”kemudian Rasulullah saw membaca ayat tersebut. Hadits ini oleh Imam As Suyuthi dinilai sebagai hadits hasan (Al Jaami’ Ash Shaghir I/97 no. 629).

Begitulah sunnatullah dalam kehidupan pendosa dan pelaku maksiat. Kadang-kadang Allah swt membukakan beragam pintu rezeki dan pintu kesejahteraan hidup serta kemajuan dalam banyak aspek kehidupan seperti termaktub dalam redaksi ayatnya, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka”; kemajuan di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, militer, kesehatan, kebudayaan, stabilitas keamanan dan lain sebagainya. Dan ini merupakan istidraj dan imlaa’ dari Allah bagi mereka sebagaimana firman Allah, “Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran), nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh” (QS Al Qalam [68]: 44-45).

Maka, ketika ada seseorang yang tidak shalat, tidak puasa Ramadhan, hobi bermaksiat, tapi hidupnya makmur dan sejahtera, ini adalah istidraj. Ketika ada keluarga yang jauh dari Allah dan mengelola rumah tangganya dengan nilai-nilai yang tidak islami, namun rezekinya melimpah dan hidupnya senang, ini pun termasuk istidraj.

Ketika ada ormas atau jamaah yang menghidupi organisasi dan jamaahnya dengan uang haram, tapi kelihatannya tambah maju, anggota dan pendukungnya banyaknya, dan pengaruhnya luas, ini juga termasuk istidraj. Ketika ada seseorang atau partai yang memenangkan pilkada dengan melanggar syarat-syarat kemenangan hakiki yang digariskan oleh Allah, baik dalam fund raising (pendanaannya) maupun dalam menarik dukungan menggunakan hal-hal yang haram dan menghalalkan segala cara, namun mendapatkan dukungan suara dan kursi yang sangat signifikan, maka ingatlah yang demikian pun adalahistidraj.

Hal ini juga berlaku bagi bangsa dan negara. Jika ada negara yang kufur, menghalalkan yang diharamkan oleh Allah, melegalkan beragam kemaksiatan, memerangi orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, membatasi atau melarang berbagai aktivitas dakwah dan hal-hal positif lainnya, namun secara fisik tampak maju, maka hal ini termasuk istidraj.

Mengapa? Tidak setiap orang, keluarga, komunitas, ormas, partai, bangsa atau negara yang dianugerahi rezeki, kesejahteraan hidup, kemajuan dan kemenangan, berarti Allah mencintainya dan mendukungnya. Tidak, karena Allah memberi rezeki orang yang mukmin dan kafir, yang baik dan jahat, bahkan bisa jadi Allah mengabulkan doa dan permintaaan mereka lalu memberi mereka apa yang mereka di dunia, namun di akhirat mereka tidak mendapatkan bagian (pahala) apa pun, bahkan nerakalah tempat mereka.

Mari renungkan firman Allah berikut, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, Kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali” (QS Al Baqarah [2]: 126).

Juga firman-Nya, “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh kami kepada mereka [Yakni: dengan memperpanjang umur mereka dan membiarkan mereka berbuat dosa sesuka hatinya] adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan” (QS Ali Imran [3]: 178).

Jadi, menurut Sayyid Quthb, sesungguhnya kemakmuran dan kesejahteraan hidup merupakan ujian lain sebagaimana ujian kesulitan dan kesengsaraan hidup. Bahkan, posisi ujian kesejahteraan lebih tinggi daripada ujian kesengsaraan. Dan Allah menguji hamba-Nya dengan kesejahteraan dan kesengsaraan, dengan kemudahan dan kesulitan. Dia swt menguji hamba-hamba-Nya yang taat dan maksiat (Fii Zhilal Al Qur’an II/1090). Bedanya, orang Mukmin tidak terpukau terhadap nikmat, namun justru menyikapinya dengan syukur dan sabar sehingga semua urusannya menjadi baik dan bernilai pahala. Rasulullah saw bersabda, “Ajaib atau unik urusan orang mukmin itu. Sebab, semua urusannya itu baik, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan (kemudahan) lalu bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan, namun bersabar, maka hal itu pun menjadi kebaikan baginya” (HR Muslim no. 5318).

 

Datangnya kebinasaan di puncak kesenangan

Setelah Allah mengulur-ulur (istidraj) dan memberi tangguh (imlaa‘) dengan membukakan pintu-pintu kesejahteraan, kemakmuran, dan kemenangan “Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Inilah yang harus selalu kita waspadai. Ternyata, kemakmuran dan kesejahteraan hidup di tengah tumpukan maksiat kepada Allah bukanlah nikmat yang hakiki, melainkan istidraj dan mukaddimah kepada siksa. Ternyata, kemajuan dalam banyak aspek dan kemenangan yang diraih dengan menghalalkan segala cara adalah kemajuan dan kemenangan semu, karena bisa jadi merupakan istidraj dan justru pengantar bagi kehancuran, kemunduran, dan kekalahan. Maka, waspadalah untuk berkomentar, “Saya tidak shalat  tapi banyak rezeki.” Atau “Pakai uang haram sedikit-sedikit kan tidak apa-apa untuk kemenangan dakwah yang lebih besar,” dan lain-lain.

Kini, masihkah ada di antara kita yang bangga dan terhipnotis oleh kemilau kemajuan negeri adidaya Amerika dan negara Barat lainnya? Masihkah, kita asyik masyuk dengan beragam kemaksiatan dan kemungkaran, toh masih merasa banyak kemudahan rezeki? Dan masihkah kita terus membiayai aktivitas rumah tangga, organisasi, atau partai kita dengan uang-uang haram, toh tetap saja keluarga atau simpatisan dan anggota kita tidak berkurang?

Ingat, kehancuran dan kebinasaan serta kekalahan itu datang secara tiba-tiba, bahkan bisa jadi datang pada puncak kebahagiaan, kemajuan, dan kemenangan.

Sumber: http://www.ummi-online.com

Tuntunan Menjenguk Orang Sakit

DOA DARI 70 RIBU MALAIKAT !!

Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya. (musnad ahmad 2/110, syaikh ahmad syakir mengatakan bahwa sanadnya shahih).

Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, ‘Shalawat malaikat bagi anak adam ialah dengan mendoakan agar mereka diberi rahmat dan maghfirah. Sedang yang dimaksud dengan ‘kapanpun di siang hari’ yakni waktu ia menjenguk. Jika ia menjenguknya di siang hari, maka malaikat mendoakannya hingga sore hari dan bila ia menjenguknya di malam hari, maka malaikat mendoakannya hingga pagi. Oleh karena itu, orang yang berniat hendaknya berangkat sepagi mungkin di awal siang, atau bersegera begitu malam menjelang, agar semakin banyak didoakan malaikat.

‘Siapa yang membesuk orang sakit di pagi hari akan diiring oleh 70.000 malaikat, semuanya memohonkan ampun untuknya hingga sore hari, dan ia mendapat taman di jannah. Jika ia membesuknya di sore hari, ia akan diiring oleh 70 ribu malaikat yang semuanya memintakan ampun untuknya hingga pagi, dan ia mendapat taman di jannah.’ (musnad ahmad 2/206, hadits 975. Syaikh ahmad syakir menilai hadits ini shahih)

AKU SAKIT, TETAPI KAMU TIDAK MENJENGUK-KU!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

‘Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’

Dia berkata. ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?!’

Dia berfirman, ‘Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.’

(diriwayatkan oleh Muslim, no. 2569)

HUKUM MENJENGUK ORANG SAKIT

Menjenguk orang sakit diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al Bara bin Azib radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Nabi menyuruh kita tujuh hal dan melarang kita tujuh hal. Beliau menyuruh kita untuk mengantarkan jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhiundangan, menolong orang yang teraniaya, melaksanakn sumpah, menjawab salam, dan mendoakan orang yang bersin. Dan beliau melarang kita memakai wadah (bejana) dari perak, cincin emas, kain sutera, dibaj (sutera halus), qasiy (sutera kasar), dan istibraq (sutera tebal). (Bukhari no.1239; Muslim no.2066)

Hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk menjenguk orang sakit, membuat Imam Bukhari membuat “bab Wujubi ‘Iyadatil-Maridh” (Bab Kewajiban Menjenguk Orang Sakit) di dalam kitab shahih nya.

Imam Ath Thabari menekankan bahwa menjenguk orang sakit merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan berkah (dari Allah datang lewat diri) nya, disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya, dan mubah bagi mereka.

Imam Nawawi mengutip kesepakatan ulama bahwa menjenguk orang sakit hukumnya bukan wajib, yakni wajib ‘ain, (melainkan wajib kifayah).

MANFAAT MENJENGUK ORANG SAKIT

Selain mendapat keutamaan sebagaimana hadits-hadits yang disebutkan diatas, menjenguk orang sakit memiliki beberapa manfaat, diantaranya:

Menjenguk orang sakit berpotensi memberi perasaan dan kesan kepadanya bahwa ia diperhatikan orang-orang disekitarnya, dicintai, dan diharapkan segera sembuh dari sakitnya. Hal ini dapat menentramkan hati si sakit.

Menjenguk orang sakit dapat menumbuhkan semangat, motivasi, dan sugesti dari pasien; hal ini dapat menjadi kekuatan khusus dari dalam jiwanya untuk melawan sakit yang dialaminya. Dalam dirinya ada energi hebat untuk sembuh.

mencari tahu apa yang diperlukan si sakit.

mengambil pelajaran dari penderitaan yang dialami si sakit.

mendoakan si sakit

melakukan ruqyah (membaca ayat-ayat tertentu dari Al Quran) yang syar’i.

MESKI SAKIT RINGAN, TETAP DIJENGUK!

Hadits-hadits yang ada, menyuruh dan mengajurkan untuk menjenguk orang sakit, baik yang sakit kecil maupun dewasa, anak-anak maupun orang tua, dari kaum laki-laki maupun wanita. Sakit ringan maupun berat. Yang sakit terpelajar atau bukan, orang kota maupun desa, pejabat maupun rakyat jelata, miskin maupun kaya, mengerti makna menjenguk orang sakit atau pun tidak.

Menjenguk orang sakit tetap dianjurkan, bahkan terkadang, dalam kondisi tertentun menjadi wajib, tanpa melihat bentuk penyakit tersebut, apakah tergolong parah atau ringan. Hal ini sudah mulai memudar di antara kita, bahkan seringkali sebagian kita hanya merasa perlu menjenguk teman, saudara, atau kenalan yang sakit; jika sudah masuk rumah sakit. Sekian lama terbaring di rumah, hanya sedikit yang menjenguknya. Apalagi jika penyakit tersebut digolongkan penyakit ringan. Padahal, nabi shallallahu alaihi wa sallam menjenguk salah seorang sahabatnya yang ‘hanya’ sakit mata. Sakit mata biasa, bukan sejenis kebutaan atau penyakit mata berat lainnya!

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, ‘mengenai menjenguk orang yang sakit mata, bahkan sudah ada hadits khusus yang membicarakannya, yaitu hadits Zaid bin Arqam, dia menceritakan, ‘Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjenguk saya karena saya sakit mata.’ (lihat adabul mufrad, no.532)

MENJENGUK LAWAN JENIS?

Wanita boleh menjenguk laki-laki yang sedang sakit, ataupun sebaliknya; meskipun bukan mahramnya. Akan tetapi, hal ini dengan syarat aman dari fitnah, menutup aurat, dan tidak terjadi khalwat (berduaan dengan lawan jenis).

Aisyah radhiyallahu anha meriwayatkan, Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam. Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, ‘Ayah, bagaimana keadaanmu?’ ‘Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?” (HR. Bukhari no.5654)

Ibnu Syihab meriwayatkan dari Abu Umamah bin Sahal bin Hanaif, ‘Bahwa dirinya diberitahu bahwasanya ada seorang wanita miskin yang sedang sakit. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun diberitahu tentang sakitnya wanita tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dahulu suka menjenguk orang-orang miskin dan menanyakan keadaan mereka.” (HR. Malik, Al Muwaththo’ no.531)

BOLEHKAN MENJENGUK ORANG MUSYRIK?

Menjenguk orang kafir oleh sabagian ulama dihukumi makruh. Hal ini dikarenakan: secara implisit (tidak langsung) merupakan penghormatan kepada mereka. (lihat At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 24/276).

Namun sebagia ulama yang lain berpendapat bolehnya menjenguk orang kafir apabila ada harapan untuk masuk islam. Pendapat ini lebih dekat kepada apa yang dilakukan oleh Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Anas bin Malik meriwayatkan, ‘Bahwasanya ada seorang anak muda Yahudi yang pernah menjadi pembantu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia sakit, lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menjenguknya. Kemudian beliau bersabda, ‘Masuklah Islam!” Maka dia pun masuk Islam.” (HR. Bukhari no.5657)

Sa’id bin Musayyib meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, ‘Ketika Abu Thalib hendak dijemput kematian. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatanginya seraya bersabda, ‘Ucapkanlah ‘Laa ilaaha illa Allah’ sebuah kalimat yang bisa aku jadikan sebagai hujjah untukmu di sisi Allah kelak.’ (HR. Bukhari no.6681)

KAPAN WAKTU MENJENGUK ORANG SAKIT?

Tidak ada keterangan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menerangkan waktu-waktu tertentu untuk menjenguk orang sakit. Oleh karena itu, dapat dilakukan kapan saja, selama tidak merepotkan si sakit dan keluarganya.

Salah satu alasan menjenguk orang sakit adalah meringankan penderitaan si sakit dan memberinya dukungan moral, sehingga sangat tidak bijaksana jika kedatangan kita malah merepotkan yang bersangkutan.

Waktu yang tepat untuk menjenguk berbeda-beda pada setiap keadaan. Berbeda-beda dari waktu ke waktu dan antara satu tempat dengan tempat lainnya. Oleh karena itu, kita harus jeli mencari waktu yang pas untuk menjenguk, mampu memperkirakan kondisi si sakit & keluarganya (sedang beristirahat atau tidak, sedang banyak tamu atau tidak, dan lain sabagainya).

PERSINGKAT WAKTU KUNJUNGAN!

Hendaknya kita memperhatikan waktu ketika menjenguk orang sakit. Jangan sampai terlalu lama, karena hal ini bisa membebani bahkan menambah penderitaan si sakit ataupun keluarganya.

Ibnu Thowuss mengatakan bahwa ayahnya pernah berkata, ‘Sebaik-baik kunjungan kepada orang sakit ialah yang paling singkat.’

Asy-Sya’bi mengatakan, ‘Kunjungan orang dungu lebih berat dirasakan oleh keluarga si sakit daripada sakitnya salah seorang angota keluarga mereka. Yaitu, orang yang datang menjenguk pada waktu yang tidak tepat dan duduk terlalu lama.’ (lihat At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 24/277)

Namun, apabila si sakit suka berlama-lama dengan penjenguknya, dan ingin dikunjungi sesering mungkin, maka sebaiknya keinginan tersebut dikabulkan oleh si penjenguk. Sebab, hal ini berarti memberikan kegembiraan dan dukungan moral kepada si sakit.

Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Sa’ad bin Mu’adz sewaktu ia menjadi korban perang Khandaq. Ketika itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar Sa’ad dibuatkan kemah di dalam masjid agar beliau bisa menjenguknya dari dekat. Sahabat mana yang tidak suka ditunggui oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan dikunjungi berulang kali? (lihat Bukhari no.463)

BERAPA KALI MENJENGUK SESEORANG?

Hal ini dikembalikan kepada kebiasaan, kondisi penjenguk, kondisi si sakit, berapa jauh hubungan yang bersangkutan dengan si sakit.

Orang yang lama jatuh sakit, maka dia dijenguk dari waktu ke waktu, dalam hal ini tidak ada batasan waktu tertentu.

MENJENGUK ORANG YANG PINGSAN ATAU KOMA

Orang sakit yang dapat merasakan kehadiran kita dan yang tidak dapat merasakan kehadiran kita (misalnya karena pingsan atau koma), sama-sama memiliki hak untuk dijenguk. Janganlah kita enggan menjenguknya, dengan alasan, toh…mereka tidak tahu dijenguk atau tidak…mereka tidak dapat merasakan kehadiran kita.

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, ‘Anjuran menjenguk orang sakit tidak hanya ditujukan agar si sakit mengetahui penjenguknya. Sebab, di balik kunjungan itu ada dukungan moral kepada keluarganya, harpaan mendapatkan berkah dari doa penjenguk, sentuhan tangannya kepada si sakit, meniupkan bacaan mu’awwidzat, dan lain-lain.’  (Fathul baari, 10/119)

DIMANA POSISI DUDUK PENJENGUK?

Orang yang menjenguk, dianjurkan duduk di dekat si sakit.

‘Adalah nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika menjenguk orang sakit, beliau duduk di sisi kepalanya.’ (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, no.536, hadits shahih)

Diantara manfaat duduk di sisi kepala si sakit: memberi rasa akrab kepada si sakit, dan memungkinkan bagi penjenguk untuk menyentuh si sakit, memanjatkan doa untuknya, meniupnya dengan ruqyah, dan lain sebagainya.

MENANYAKAN KEADAAAN SI SAKIT

Ada baiknya kita menanyakan keadaan si sakit, sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha,  Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam. Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, ‘Ayah, bagaimana keadaanmu?’ ‘Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?” (HR. Bukhari no.5654)

JANGAN PAKSA SI SAKIT BERCERITA PANJANG LEBAR!

Diantara maksud mengunjungi si sakit adalah untuk meringankan kan penderitaannya, oleh karena itu jangan sampai membebani bahkan menambah penderitaan si sakit ataupun keluarganya.

Satu hal yang dapat membebani si sakit atau keluarganya adalah pertanyaan kronologis musibah atau penyakit. Si sakit atau keluarga diminta untuk menceritakan kronologis kejadian yang cukup panjang; dan repotnya lagi, cerita ini harus diceritakan berulang kali karena hampir setiap pembesuk menanyakan, ‘awal mulanya bagaimana?’ ; ‘kejadiannya bagaimana?’ 1

HIBUR & BERIKAN HARAPAN SEMBUH!

Ada baiknya penjenguk menghibur si sakit atau keluarga si sakit dengan pahala-pahala yang akan di dapat mereka.

‘Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahannya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-daunnya.’ (HR. Muslim)

‘Cobaan itu akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya, ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.’  (HR. Tirmidzi)

‘Saat orang-orang tertimpa musibah diberi pahala di hari kiamat nanti, orang-orang yang selamat dari berbagai musibah tersebut berharap seandainya dahulu di dunia kulit mereka dikerat dengan gergaji besi…’ (HR. Tirmidzi)

Ada baiknya pula penjenguk memberikan harapan sembuh kepada si sakit. Misalnya dengan mengatakan.   ‘Tidak perlu kuatir, insya Allah Anda akan sembuh.’ atau ‘penyakit ini tidak berbahaya, Anda akan segera sembuh,insya Allah.’ atau kalimat-kalimat lain yang dapat menumbuhkan semangatnya untuk sembuh.

JANGAN MENAKUT-NAKUTI!

Apa yang kita sampaikan kepada si sakit maupun keluarganya, harus kita perhatikan benar-benar. Ucapkanlah kalimat-kalimat yang baik, yang dapat menumbuhkan motivasi atau meringankan musibah yang dialami mereka. Jangan sampai apa yang kita sampaikan malah menimbulkan rasa takut & cemas terhadap si sakit maupun keluarganya.

Diantara yang dapat menimbulkan rasa takut adalah cerita atau kabar bahwa seseorang mengalami hal yang sama, namun berakhir dengan cacat seumur hidup, dengan kematian….; kalau maksud yang bercerita adalah agar keluarga si sakit berhati-hati dan waspada terhadap musibah yang diderita si sakit, alangkah baiknya jika di kemas dengan kalimat-kalimat yang baik.2

MEMAHAMI KELUHAN SI SAKIT

Keluhan yang diucapkan si sakit ada dua kemungkinan:

Pertama, diucapkan sebagai ekspresi kekesalan dan kejengkelan. Hal ini tentnu saja dilarang oleh agama Islam, karena merupakan indikator lemahnya keyakinan dan tidak rela terhadap qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kita mendengar keluhan semacam ini, si sakit segera diingatkan, dinasehati dengan cara yang baik.

Kedua, diucapkan dalam rangka memberi informasi tentang dirinya tanpa mengharap belas kasih kepada makhluk dan tidak pula menggantungkan harapan kepada mereka. Hal ini tentu saja boleh dilakukan, bahkan didukung oleh dalil syari:

Ibnu Mas’ud meriwayatkan:

‘Aku pernah menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara beliau sedang menderita demam. Lalu aku menyentuhnya dengan tanganku, kemudian aku mengatakan, ‘Sungguh, Engkau menderita demam yang sangat berat.’ Beliau menjawab, ‘Ya, seperti layaknya demam yang diderita oleh dua orang dari kalian.’ ‘Engkau mendapat dua pahala?’ tanya Ibnu Mas’ud. Beliau menjawab ,’Ya. Tidaklah seorang muslim mengalami penderitaan -sakit dan sebagainya- melainkan Allah akan merontokkan keburukan-keburukannyaa sebagaimana pohon merontokkan daunnya.” (HR. Bukhari no.5667)

MENANGIS DI TEMPAT ORANG YANG SAKIT?

Yang nampak dari kita, hukumnya boleh. Sebab, Abdullah bin Umar meriwayatkan,

‘Sa’ad bin Ubadah pernah mengeluhkan sakit yang di deritanya, kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menjenguknya bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas’ud. Ketika beliau menemuinya, beliau mendapatinya sedang dikerumuni oleh keluarganya. Lalu beliau bertanya, ‘Apakah dia sudah meninggal?’ Mereka menjawab, ‘Tidak ya Rasulullah!’ Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menangis, dan ketika orang-orang melihat tangisan nabi, maka mereka pun menangis. Lalu beliau bersabda, ‘Tidakkah kalian mendengar, sesungguhnya Allah tidak mengadzab karena linangan air mata maupun kesedihan hati, melainkan mengadzab karena ini -dan beliau menunjuk ke arah lidahnya- atau Dia berbelas kasih. Dan sesungguhnya mayit itu akan disiksa karena tangisan keluarganya yang meratapi (kepergian) nya.’  (HR. Bukhori no.1304)

MENDOAKAN SI SAKIT

Orang yang menjenguk orang sakit hendaknya tidak berkata-kata kecuali sesuatu yang baik. Sebab para malaikat akan mengamini apa yang akan diucapkannya.

Dari Ummu Salamah, doa mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

‘Apabila kamu mendatangi orang sakit atau mayit, maka ucapkanlah kata-kata yang baik. Karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan.’ Kemudian, kata Ummu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku pun mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya mengatakan, ‘Ya Rasulullah, Abu Salamah sudah meninggal dunia.’ Beliau lantas bersabda, ‘Ucapkanlah: Ya Allah, ampunilah aku dan dia, dan berilah aku pengganti yang baik.‘ Ummu Salamah berkata, ‘Lalu aku mengatakannya. Kemudian Allah memberiku pengganti yang lebih baik bagiku daripada dia (Abu Salamah), yakni Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.’ (HR. Muslim no.919)

Orang yang menjenguk orang sakit dianjurkan berdoa agar si sakit diberikan rahmat, ampunan, kebersihan dari dosa, keselamatan, dan kebebasan dari penyakit. Diantara doa yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam:

1. Mengucapkan: “Laa ba’sa thohuurun in syaa’allooh.” ‘tidak mengapa, semoga dapat membersihkan kamu (dari dosa) insya Allah.’ (riwayat Bukhari dalam al fath: 10/118)

Kata ‘tidak mengapa’ maksudnya ialah bahwa sakit itu dapat menghapus kesalahan. Jika mendapat kesembuhan setelah sakit, maka berarti mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Dan jika tidak, maka akan mendapatkan keuntungan berpa penghapusan dosa.

2. Membaca doa: “ As alukalloohal-’azhiima, robbal ‘arsyil-’azhiimi, ayyasyfiyaka.” (7x) “Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Rabb ‘Arsy yang agung agar menyembuhkanmu.”

‘Tidak ada seorang muslim yang menjenguk seorang yang sedang sakit yang belum sampai kepada ajalnya, lalu dia membacakan doa As alukalloohal-’azhiima, robbal ‘arsyil-’azhiimi, ayyasyfiyaka tujuh kali, kecuali dia akan sembuh.’  (Shahih At Tirmidzi: 2/210)

RUQYAH KEPADA SI SAKIT

Orang yang menjenguk orang sakit dianjurkan untuk melakukan ruqyah terhadapnya. Terutama kalau si penjenguk termasuk orang yang bertakwa dan shalih. Karena ruqyah yang dilakukannya akan memberikan manfaat yang lebih besar daripada orang lain (karena faktor ketakwaan & keshalihannya tersebut).

Di antara ruqyah syariah yang ada:

1. Ruqyah dengan mu’awwidzatain (surat al ikhlas, al falaq, dan an naas)

‘adalah rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika salah satu dari keluarganya sakit, beliau meniup keluarganya dengan (bacaan) mu’awwidzat…’ (HR. Muslim no.2192)

2. Ruqyah dengan surat al fatihah

Hal ini pernah dilakukan oleh Abu Said al Khudri terhadap kepala suku yang tersengat serangga. (lihat HR. Muslim no.2201)

3. Ruqyah dengan doa

‘Adalah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika salah seorang dari kami mengeluh sakit, maka beliau mengusapnya dengan tangan kanannya, kemudian beliau mengucapkan: “Hilangkanlah penderitaan ini wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, karena Engkaulah yang Maha Menyembuhkan. Tiada kesembuhan melainkan kesembuhan-Mu. Kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Muslim no.2191)

KARANGAN BUNGA?

Ada sebagian orang yang ketika mengunjungi orang sakit selalu menyempatkan diri untuk membawa karangan bunga kepada si sakit. Ada pula yang menelipkan tulisan yang berisi ungkapan dan harapan agar lekas sembuh. Hal ini dilarang, karena:

tradisi semacam ini berasal dari agama lain, padahal kita dilarang untuk menyerupai perilaku mereka.

mengganti doa untuk si sakit agar diberikan kesucian, rahmat, ampunan, dan kesehatan dengan ungkapan-ungkapan kering dan harapan-harapan yang tidak bisa dimajukan atau diundur.

mengganti ruqyah yang syari melalui bacaan ayat-ayat al quran maupun hadits dengan karangan bunga yang barangkali akan layu sehari atau dua hari kemudian.

MEMBACAKAN SURAT YASIN?

Ada sebagian orang yang membacakan surat yasin kepada orang yang sakit, terutama jika si sakit sudah sangat parah, koma, atau jika dalam keadaan menjemput ajal.

Mereka berdasarkan pada:

“Tidak seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan buatnya surat yasin, kecuali pasti diringankan/dimudahkan kematiannya.”

Keterangan:

hadits ini derajatnya “Maudhu/palsu”, diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalan Akhbar al Asbahan 1/188, di dalamnya ada seorang perowi yang suka memalsukan hadits yang bernama ‘Marwan bin Salim Al Jazari’. Imam Bukhori dan Muslim mengatakan bahwa Marwan bin Salim dalam meriwayatkan hadits tergolong ‘MUNGKARUL HADITS’ (lihat: Mizanul I’tidal 4/90). 3

“Bacakanlah surat Yasin untuk orang-orang yang akan mati di antara kamu.”(Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i. Derajat hadits Dhaif.)4

Karena hadits-hadits di atas adalah dhaif & maudhu/palsu, maka pembacaan surat yasin untuk orang-orang yang akan mati tidak dapat diamalkan. Hal ini sebagaimana keterangan para ulama bahwa hadits lemah tidak dapat dipakai sebagai dasar suatu amalam meskipun hanya fadhaail amal. Soal aqidah, ibadah, muamalah, maupun fadhaail amal harus berdasarkan dalil yang shahih. Di antara salah satu sebab munculnya bidah adalah karena pengamalan hadits-hadits lemah maupun palsu. Tidak dibenarkan menetapkan hukum syari, baik hukum mustahab (sunnat) atau hukum lainnya dengan hadits lemah. Inilah pendapat yang benar. Konsekuensinya, tidak ada perbedaan antara hadits tentang fadhaail amal dengan hadits tentang hukum. Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani, Imam Asy Syaukani, Al Allamah Shiddiq Hasan Khan dan Syaikh Muhammad Syakir serta lainnya.

PERLUKAH EUTHANASIA?

Terkadang, karena sakit yang diderita sangat berat, atau keluarga sudah tidak tega melihatnya; serta menurut ilmu medis, pasien tersebut tidak dapat sembuh, baginya kematian hanya soal waktu; seseorang disarankan atau meminta suntikan euthanasia, sehingga si sakit dapat segera terbebas dari penderitaan yang sering dialaminya selama ia masih hidup.

Euthanasia sebaiknya tidak dilakukan, hal ini karena: euthanasia menghalangi si sakit ataupun orang-orang di sekitar si sakit untuk mendapatkan manfaat dari status kehidupannya.

Dengan tetap hidup dengan kondisi semacam itu, si sakit akan dihapus catatan buruknya dan diangkat derajatnya, jika ia memiliki iman dan ihsan.

Dengan tetap hidup, yang bersangkutan terkadang mendapatkan doa yang baik dan diterima oleh Allah. Sehingga disembuhkan oleh Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, atau diampuni dosa-dosanya berkat doa sesama muslim yang ditujukan kepadanya.

Dengan tetap hidup, maka catatan buruk keluarganya yang dirundung kesedihan dan kegelisahan akan dihapus.

‘Tidaklah seorang muslim mengalami kepayahan, kesakitan, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya. ‘ (HR. Bukhari no.5642)

Dengan tetap hidup, maka kebajikannya akan tetap mengalir dan tidak terputus, terutama jika yang bersangkutan adalah seorang ayah atau ibu.

Dan dengan tetap hidup, maka pahala akan tetap melimpah kepada orang yang menjenguk dan mengunjungi si sakit. Penjenguk akan mendapatkan shalawat dari 70 ribu malaikat yang ditugaskna mendoakannya, insya Allah.

Semoga bermanfaat, Allahu A’lam

Diambil dari jilbab.or.id

Ghuraba Tapi Gaul

Mukadimah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing (gharib), dan akan kembali di anggap asing sebagaimana bermula. Maka beruntunglah orang-orang asing itu (ghuraba).”[1]

Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang yang asing.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Imam Thabrani dari Sahl radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamditanya, “Siapakah Ghuraba itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika orang-orang lain rusak.”

Dalam riwayat Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, maksud ghurabaadalah An Nuzza’ minal Qaba-il (Orang-orang yang memutuskan diri dari golongannya). Maksudnya tidak fanatik dengan golongannya.

Dalam riwayat Imam Baihaqy dan Imam Tirmidzi yang lain , maksud ghuraba adalah “Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.”

Dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani, maksud ghuraba adalah “Manusia shalih yang sedikit di antara manusia yang banyak. Orang yang menentang mereka lebih banyak di banding yang mentaati mereka.”

Syaikh Saad Al Ghamidi seorang Ikhwan, munsyid (penasyid), hafizh dan qari terkenal yangmurattalnya telah menyebar di negeri-negeri muslim, berkata dalam intro nasyid Arab yang sangat terkenal di kalangan aktifis harakah pada tahun 90-an berjudul Ghuraba yang dilantunkan oleh Syaikh Al Ghamidi sendiri dalam album Ad Damaam 2:

Bukanlah orang asing itu yang berpisah dari negerinya. Tetapi orang asing itu adalah orang yang melihat manusia di sekitarnya bermain-main, ia membangunkan manusia sekitarnya yang tertidur, dan ia di atas jalan kebaikan ketika manusia di sekitarnya terbawa kesesatan. Benarlah perkataan penyair, ketika ia berkata:

Seorang sahabat berkata, “Engkau terlihat asing.

Di antara manusia, engkau tidak memiliki kekasih”

Aku berkata: sekali-kali tidak, bahkan manusia itulah yang terasing

Aku berada pada duniaNya dan mendapat petunjuk di atas jalanNya

Demikianlah orang terasing. Orang terasing di sisi manusia ia laksana terpenjara, tetapi ia mulia di sisi Rabb mereka. Demikian Syaikh Al Ghamidi

Gharib Bukan ‘Uzlah

Ada perbedaan mendasar antara غريب (gharib – terasing) dengan عزلة  (‘uzlah – mengasingkan diri). Gharib dalam konteks ini adalah orang yang terasing karena masyarakatnya yang menganggapnya asing, walau ia hidup di tengah masyarakat dan bagian dari mereka, dan ia tidak menjauh dari masyarakat. Sedangkan uzlah adalah orang yang memisahkan diri (i’tizal) dari masyarakat, ia sendiri yang lari dari masyarakat, bukan masyarakat yang menjauh darinya.

Ya, jadilah ghuraba (orang-orang terasing), bukan karena kita pendatang baru di kampung halaman, melainkan karena kita memegang teguh prinsip-prinsip agama, di tengah masyarakat yang telah melupakan agama. Manusia yang memegang teguh sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di tengah masyarakat yang tidak kenal siapa sosok nabinya, bahkan istihza (memperolok-olok) sunahnya. Memegang teguh akhlak dan adab Islam, di tengah masyarakat yang terpukau dengan akhlak dan adab Barat yang sekuler dan liberal, atau akhlak dan adab timur yang sinkretisme. Memegang teguh solusi Islam di tengah masyarakat yang lebih mempercayai solusi Barat atau sebaliknya, ucapan para dukun dan penyihir timur. Memegang teguh fikrah Islam di tengah masyarakat yang terpesona fikrah filsafat. Kita terasing di kampung sendiri karena ini, terasing di kantor karena ini, terasing di parlemen karena ini, terasing di kampus karena ini, bahkan terasing di keluarga sendiri karena ini; karena apa? karena Islam yang kita bawa.

Bukan karena kita lari dari mereka. Bukan pula karena kita tidak mengenalkan diri. Mereka telah mengenal kita dan keluarga kita dengan baik, telah mengenal aqidah kita, keimanan, fikrah, akhlak dan adab, serta solusi yang kita bawa, justru karena itu kita dianggap asing. Apa yang kita bawa dan tanamkan, dianggapnya bertentangan dengan kebiasaan, adat, tradisi, kepentingan, dan hawa nafsu mereka. Terasing bukan karena kita menjauh, terasing karena nilai kebaikan yang kita bawa telah menjadi hal yang aneh dan ‘baru’ bagi mereka karena kemalasan mereka mengkaji agama, atau sikap apatis (cuek) dan apriori terhadap agama. Lebih dari itu, apa yang kita bawa menjadi ancaman bagi keadaan status quo mereka.

Kalau kita telah mengalami ini, di mana saja kita beraktifitas da’wah, lalu kita bersabar atas segala macam cobaan dan fitnah manusia, maka mudah-mudahan kita termasuk golongan ghuraba, bukan golongan yang kabur dari keadaan.

Berbaur Lebih Utama Dibanding Uzlah

Imam An Nawawi dalam kitabnya yang terkenal, Riyadhus Shalihin min Kalami Sayyidil Mursalin, membuat bab yang sangat panjang, “Keutamaan berbaur dengan manusia dan menghadiri perkumpulan dan jamaah mereka, menyaksikan kebaikan dan majlis dzikir bersama mereka, menjenguk orang sakit, dan mengurus jenazah mereka. Memenuhi kebutuhan mereka, membimbing kebodohan mereka, dan lain-lain berupa kemaslahatan bagi mereka, bagi siapa saja yang mampu untuk amar ma’ruf nahi munkar, dan menahan dirinya untuk menyakiti, serta bersabar ketika disakiti.”

Imam An Nawawi berkata, “Ketahuilah, bergaul dengan manusia dengan cara seperti yang saya sebutkan, adalah jalan yang dipilih oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan seluruh Nabi Shalawatullah qwa Salamuhu ‘Alaihim, demikian pula yang ditempuh oleh Khulafa’ur Rasyidin, dan orang-orang setelah mereka dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang setelah mereka dari kalangan ulama Islam dan orang-orang pilihannya. Inilah madzhab kebanyakan dari tabi’in dan orang-orang setelah mereka, ini pula pendapat Asy Syafi’i dan Ahmad, dan kebanyakan fuqaha radhiallahu ‘anhum ajma’in. Allah Ta’ala berfirman: “Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan” (QS. Al Maidah: 2) Ayat-ayat dengan makna seperti yang saya sebutkan sangat banyak dan telah diketahui.[2]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang mu’min yang bergaul dengan manusia dan sabar menghadapi gangguan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tak sabar menghadapi gangguan mereka. “(HR. Imam Bukhari dalam Adabul Al Mufrad, Imam At Tirmidzy, dan Imam Ahmad)

Keutamaan bergaul dengan masyarakat merupakan pilihan hidup dari para Imam, ini pula pandangan yang dianut oleh Said bin Al Musayyab, Qadhi Syuraih, Amr bin Asy Sya’bi, Abdullah bin Mubarak, dan lain-lain. Inilah pilihan para ulama masa kini, padahal zaman semakin rusak, namun mereka turun gunung untuk ikut memperbaiki keadaan. Bukan justru lari dari kenyataan.

Demikianlah, sifat ghuraba tidaklah menghalangi kita untuk tetap bergaul dan berda’wah di tengah masyarakat, dan bertahan dari fitnah dan kerusakan mereka, serta menahan diri untuk menyakiti mereka. Dan, makna ghuraba menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Sahl bin Saad as Saidi, adalah “Orang-orang yang melakukan perbaikan di tengah masyarakat yang rusak.”

Kapan ‘Uzlah lebih Utama?

Uzlah bisa lebih utama di banding bergaul dengan masyarakat jika kerusakan telah merata dan celah untuk melakukan perbaikan sangat sempit dan sulit. Justru yang terjadi adalah para da’i itu yang tertimpa fitnah, bencana, dan kerusakan. Sedangkan para da’i pun tidak mampu membendung itu semua. Inilah pandangan yang diikuti mayoritas ahli zuhud seperti Ibrahim bin Ad-ham, Sufyan ats Tsauri, Daud ath Tha’iy, Fudhail bin ‘Iyyadh, Bisyr Al Hafy, dan lain-lain. Imam An Nawawi pun membuat bab dalam Riyadhus Shalihin-nya berjudul, Dianjurkannya Uzlah ketika zaman telah rusak atau takut tertimpa fitnah dunia, hal-hal haram, syubhat, dan lain-lain.[3]

Hujjah (argumentasi) kelompok ini adalah Allah Ta’ala berfirman: “Maka bersegeralah kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz Dzariyat: 50)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, kaya (hati), dan tersembunyi.” (HR. Muslim)

Dari Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, bertanyalah seorang laki-laki, ‘Manusia apa yang paling utama ya Rasulullah?’, Beliau menjawab, “Mu’min yang berjihad dengan dirinya dan hartanya.” Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, “Seseorang yang uzlah menuju celah bukit lalu ia menyembah Rabbnya.” Dalam riwayat lain, “Ia meninggalkan manusia karena keburukannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Umar radhiallahu ;anhu berkata, “Ambil-lah bagian untuk kalian ber- ‘uzlah.”

Daud ath Tha’iy rahimahullah berkata, “Hindarilah manusia sebagaimana engkau lari dari singa.”

Saad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku ingin andai saja antara diriku dan manusia ada sebuah pintu besi, sehingga tak seorang pun berbicara denganku dan aku pun tidak bicara dengannya, hingga aku berjumpa dengan Allah.”

Manfaat Bergaul Dengan Manusia

Imam Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin menyebutkan beberapa kentungan bergaul dengan manusia:

1. Belajar dan mengajar

Ar Rubayyi bin Khaitsam berkata, “Belajarlah lalu uzlah-lah, karena ilmu itu merupakan dasar agama. Tidak ada kebaikan dalam uzlahnya orang-orang awam.”

Seorang ulama ditanya, “Apa pendapatmu tentang uzlahnya orang bodoh?”

Dia menjawab, “Itu sama dengan kehancuran dan bencana.”

Orang itubertanya lagi, “Lalu bagaimana dengan uzlahnya orang berilmu?”

Ulama tersebut menjawab, “Engkau tidak perlu peduli dengannya. Biarkan saja uzlahnya itu. Dia sendiri yang menanggung penderitaan dan kenistaannya. Dia menolak minum air segar, hanya minum dari daun-daun kering hingga berjumpa dengan Allah.”

Sedangkan mengajarkan ilmu adalah salah satu amal paling utama dalam Islam, sebagaimana mencari ilmu.

2. Mengambil dan Memberi Manfaat

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. “ (HR. Muslim)

Hadfits ini tidak bisa kita amalkan tanpa bergaul dengan manusia, dan Rasulullah sendiri menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (anfa’uhum linnas).

3. Melatih diri sendiri dan membimbing orang lain

Bergaul dengan manusia merupakan sarana berlatih kesabaran, menata jiwa dan emosi, serta menundukan hawa nafsu, karena ia harus menghadapi berbagai karakter manusia. Adapun membimbing manusia sama halnya dengan mengajarkan ilmu kepada mereka, dengan segala macam bentuk dan kendalanya.

4. Mendapat pahala dan Membuat orang lain mendapat pahala

Bergaul dengan manusia membuat anda dapat saling mengunjungi, menjenguk orang sakit, mengurus jenazah, memenuhi kebutuhan, mengundang jamuan makan atau mendatangi undangan. Ini semua tentu tidak syak lagi adalah ladang amal shalih yang memiliki ganjaran yang besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla bagi pelakunya atau orang lain.

5. Tawadhu

Sifat ini tidak akan muncul jika seorang menyendiri. Bisa jadi uzlah dilakukan karena kesombongan, merasa bersih, dan suci, sedangkan orang lain kotor dan rusak. Itulah yang membuatnya hilang ketawadhuan dan husnuzh zhan dengan manusia.

Terakhir, Imam Asy Syafi’i radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Mengisolir diri dari manusia bisa mendatangkan permusuhan dan membuka diri kepada manusia bisa mendatangkan keburukan. Tempatkan dirimu di antara mengisolir dan membuka diri. Siapa yang mencari selainnya maka dia tidak tepat, dia hanya mau tahu terhadfap dirinya semdiri dan dia tidak layak membuat ketetapan untuk orang lain.”

Wallahu A’lam walillahil ‘Izzah

 Ustadz Farid Nu’man Hasan

Blog

[1] HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah, juga dari Ibnu Umar namun tanpa kalimat “Beruntunglah orang-orang asing itu”. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, dan Anas. Imam Baihaqy dari Katsir bin Abdullah bin Auf, dari Ayahnya dari kakeknya. Imam Thabrani dari Salman, Sahl bin Saad as Saidi, dan Ibnu Abbas ridhwanullah ‘alaihim ajma’in

[2] Imam An Nawawi, Riyadhush Shalihin, hal. 182. tahqiq oleh Muhammad Ishamuddin Amin. Maktabatul Iman, Al Manshurah

[3] Ibid, hal. 181

Sumber: http://www.fimadani.com

Cinta Karena Allah

dakwatuna.com – Cinta adalah luapan perasaan suka, dengan segala ekspresinya, melalui ceria senyum wajahnya, dengan lembut dan baik lisannya, dengan kasih pelukan, dengan semangat sikap, dengan hati riang, dan selalu khusnudzan dalam pikirannya.

Cinta kepada sesama dalam Islam adalah perasaan yang memancar karena adanya ketaqwaan dan bermuara kepada pengendalian yang kokoh dengan taliNya (i’tisham bi hablillah).

Maka cinta seperti itu hanya akan tumbuh dengan subur dalam ikatan mulia yang bernama ukhuwah (persaudaraan) yang didasarkan sendi-sendi tersebut. Ikatan tersebut merupakan tujuan suci, cahaya rabbaniyah sekaligus merupakan nikmat Ilahiyah. Oleh sebab itu Allah hanya akan menuangkan cahaya dan nikmatnya pada hati dari setiap hambaNya yang mukhlis (ikhlas), mensucikan dan melindungi diri-mereka dengan akhlaq yang terpuji.

Untuk mengetahui segala-galanya tentang cinta, manusia perlu merujuk kepada pencipta cinta itu sendiri yakni Allah SWT. Tuhan menciptakan cinta, maka Dialah yang Maha Mengetahui sifat dan rahasianya. Cinta itu indah karena diciptakan oleh Allah Yang Maha Indah.   Rasulullah SAW bersabda,” Allah itu indah dan cintakan keindahan” Bukan saja indah, cinta yang diciptakan Allah itu bertujuan untuk menyelamatkan, menenteramkan dan membahagiakan manusia

Allah berfirman;

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mempunyai rasa cinta dengan para sahabat, di samping sifat kerasnya terhadap orang kafir. Dan ke dua sifat tersebut ada karena Allah semata, cinta dan keras/tegas karena Allah SWT.

Allah berfirman;

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿٩﴾

“Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-Hasyr: 9).

Perasaan bersaudara secara tulus inilah yang akan melahirkan pribadi mukmin yang mempunyai rasa kasih sayang dengan se jujur-jujurnya dan sebenar-benarnya serta perasaan ikhlas sejati. Yang akan selalu mengambil sikap positif dalam hal bercinta dan saling mengutamakan, kasih sayang dan saling memaafkan, serta dengan membantu dan saling melengkapi. Juga menghindari hal-hal negatif seperti menjauhkan diri dari segala yang menyebabkan mudarat (bahaya) dalam diri mereka, dalam harta mereka, dan dalam harga diri mereka.

Anas RA meriwayatkan dari Nabi saw. Beliau bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga perkara yang barangsiapa berada di dalamnya akan mendapatkan manisnya keimanan: Agar Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya. Agar ia mencintai seseorang atau membencinya karena Allah. Dan agar benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke neraka.” (Muttafaq Alaihi).

Oleh karena itu ukhuwah fillah merupakan sifat yang lazim dari konsekuensi keimanan, dan merupakan perangai yang cocok sebagai teman bagi ketaqwaan. (Konklusi nya) tidak ada persaudaraan sejati tanpa adanya iman, dan tidak ada iman tanpa adanya persaudaraan.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” QS Al Hujurat 10)

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi saw. Beliau bersabda;

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dilindungi Allah di hari yang tiada perlindungan selain perlindungan Allah: Pemimpin adil, pemuda yang tumbuh besar dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang hatinya terkait dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah, seseorang yang dipanggil seorang wanita (untuk berzina) yang mempunyai kedudukan dan kecantikan, ia mengatakan aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikan sedekahnya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah di kala sepi lalu berlinang air matanya.” (Muttafaq Alaihi).

 Jika kita mendapati suatu persaudaraan yang di belakangnya tidak didukung oleh keimanan maka kita akan dapat mengetahui bahwa persaudaraan semacam itu tidak akan membawa kemaslahatan dan manfaat yang saling timbal balik. Begitu juga bila kita dapati keimanan yang tidak didukung oleh persaudaraan maka bisa kita simpulkan betapa rendah kadar keimanan itu.

Abu Hurairah RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda,

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencinta. Maukah aku tunjukkan kepada kalian kepada sesuatu yang jika kalian lakukan akan saling mencinta; sebarkan salam di antara kalian.” (Muslim).

Abu Hurairah RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda;

أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لَا غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ

“Bahwa seseorang sedang mengunjungi saudaranya di sebuah desa dan Allah mengutus seorang malaikat untuk memantau jalannya. Sesampainya di tempat itu ia berkata, ‘Hendak ke mana kamu?’ Ia menjawab, ‘Aku hendak menemui seorang saudara di negeri ini.’ Ia bertanya, ‘Apakah ada kenikmatan yang kamu inginkan darinya?’ Ia menjawab, ‘Tidak, hanya karena aku mencintainya karena Allah Azza wa Jalla.’ Ia (malaikat) berkata, ‘Ketahuilah bahwa aku ini utusan Allah, (untuk memberitakan kepadamu) bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya karena-Nya.”

Al-Barra’ bin ‘Azib RA meriwayatkan dari Nabi saw, Beliau bersabda tentang orang-orang Anshar,

لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ فَمَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ

“Tidak ada yang mencintai mereka selain orang mukmin dan tidak ada yang membenci mereka selain orang munafiq. Siapa mencintai mereka Allah akan mencintainya dan siapa membencinya Allah akan murka kepadanya.” (Muttafaq Alaih).

Muadz meriwayatkan, aku mendengar Rasulullah saw bersabda;

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ

“Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Bagi orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku mimbar-mimbar dari cahaya dari cahaya yang membuat iri para nabi dan syuhada.” (Tirmidzi, hadits hasan).

Dr Yusuf Qaradhawi dalam bukunya Al Mujtama’ Al Islami mengatakan bahwa ukhuwah Islamiyah yang bercita-cita luhur itu mampu melahirkan al-ikhaa’ul Islami. Dan tujuan terpenting dari padanya adalah persamaan hak (al musaawah), saling membantu (at-ta’aawun), dan cinta kasih karena Allah (al hubb fillah)

Abu Idris Al-Khaulani RA bercerita;

دَخَلْتُ مَسْجِدَ دِمَشْقَ فَإِذَا فَتًى شَابٌّ بَرَّاقُ الثَّنَايَا وَإِذَا النَّاسُ مَعَهُ إِذَا اخْتَلَفُوا فِي شَيْءٍ أَسْنَدُوا إِلَيْهِ وَصَدَرُوا عَنْ قَوْلِهِ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَقِيلَ هَذَا مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ هَجَّرْتُ فَوَجَدْتُهُ قَدْ سَبَقَنِي بِالتَّهْجِيرِ وَوَجَدْتُهُ يُصَلِّي قَالَ فَانْتَظَرْتُهُ حَتَّى قَضَى صَلَاتَهُ ثُمَّ جِئْتُهُ مِنْ قِبَلِ وَجْهِهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ ثُمَّ قُلْتُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِلَّهِ فَقَالَ أَللَّهِ فَقُلْتُ أَللَّهِ فَقَالَ أَللَّهِ فَقُلْتُ أَللَّهِ فَقَالَ أَللَّهِ فَقُلْتُ أَللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِحُبْوَةِ رِدَائِي فَجَبَذَنِي إِلَيْهِ وَقَالَ أَبْشِرْ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ

“Aku pernah memasuki masjid Damaskus, ternyata di sana terdapat seorang pemuda dengan gigi yang putih dan orang-orang bersamanya. Jika mereka memperselisihkan sesuatu mereka mengandalkannya dan mengembalikannya kepada pendapatnya. Aku pun bertanya tentangnya dan dijawabnya bahwa dia Muadz bin Jabal. Esok harinya aku berangkat (ke masjid) pagi-pagi, ternyata ia telah mendahuluiku. Aku mendapatinya melakukan shalat. Ia mengatakan, aku pun menunggunya sampai ia menyelesaikan shalatnya. Setelah itu aku menemuinya dari depannya dan aku ucapkan salam kepadanya dan aku katakan, ‘Demi Allah, aku mencintaimu karena Allah’ Ia mengatakan, ‘Allah.’ Aku katakan, ‘Allah.’ Ia katakan, ‘Allah?’ Aku katakan, ‘Allah,’ Lalu ia memegang dada jubahku dan menarikku kepadanya dan berkata, ‘Berbahagialah karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Alah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Orang-orang yang saling mencinta karena-Ku pasti mendapatkan kecintaan-Ku, yang bergaul karena-Ku, yang saling mengunjungi karena-Ku, dan yang saling berkorban karena-Ku.” (Hadits shahih riwayat Malik di Al-Muwattha’ dengan sanad shahih).

Abu Karimah Al-Miqdad bin Ma’di Karib RA meriwayatkan Nabi saw Beliau bersabda,

إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ

“Jika seseorang mencintai saudaranya hendaknya ia memberitahukan kepadanya bahwa dia mencintainya.”(Tirmidzi dan Abu Dawud, hadits hasan shahih).

Muadz RA. Meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memegang tangannya seraya bersabda,

يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Hai Muadz, demi Allah, aku mencintaimu karena Allah. Lalu aku berwasiat kepadamu, ya Muadz, jangan sampai –setiap kali usai shalat- kamu tidak mengucapkan, ‘Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (Abu Dawud dan Nasa’i dengan sanad shahih).

Anas RA meriwayatkan bahwa,

أَنَّ رَجُلًا كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّ هَذَا فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمْتَهُ قَالَ لَا قَالَ أَعْلِمْهُ قَالَ فَلَحِقَهُ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ فَقَالَ أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ

“Seseorang berada di sisi Nabi SAW. Kemudian seseorang lewat dan berkata, ‘Ya Rasulullah, aku mencintai orang ini.’ Nabi bersabda kepadanya, ‘Apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya?’ (Anas) berkata, lalu ia menyusulnya dan mengatakan, ‘Aku mencintaimu karena Allah.’ Orang itu menjawab, ‘Mudah-mudahan Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintaiku karena-Nya.” (Abu Dawud dengan sanad shahih).

Berikut ini ada beberapa cara praktis sebagai panduan untuk tercapainya kekokohan ruh cinta karena Allah, yaitu:

  1. Memberi tahu kepada al akh (saudara) yang dicintai. Rasulullah bersabda: “Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah ia memberi tahu kepadanya “ (HR Abu Daud dan Turmudzi)
  2. Memanjatkan doa untuknya dari kejauhan ketika mereka saling berpisah. Diriwayatkan dari Umar Bin Khathab RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku minta izin (pamit) kepada Rasulullah untuk melaksanakan umrah”. Kemudian Rasulullah mengizinkan dan berkata ” Jangan lupa doa kan kami ” Lalu beliau mengatakan suatu kalimat yang menggembirakan ku bahwa aku mempunyai kebahagiaan dengan kalimat tersebut di dunia. Dalam suatu riwayat beliau berkata: “Kami mengiringi do’a wahai saudaraku”
  3. Bila berjumpa dengan al akh lain maka tunjukkanlah senyum kegembiraan dan muka manis. Rasulullah bersabda “Janganlah engkau meremehkan kebaikan apa saja (yang datangnya dari saudaramu). Dan jika engkau berjumpa saudaramu maka berikanlah dia senyum kegembiraan” (HR Muslim)
  4. Berjabat tangan bila bertemu. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya bila bertemu dengan saudara-saudaranya agar cepat-cepatlah berjabat tangan. Hal di atas berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Daud dari Barra, Bersabda Rasulullah SAW: “Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah”.
  5. Menyempatkan diri untuk mengunjungi saudaranya. Dalam kitabnya Al Muwathta, Imam Malik meriwayatkan: Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa, “Allah berfirman: Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, dimana keduanya saling berkunjung karena Aku dan saling memberi karena Aku”.
  6. Menyampaikan ucapan selamat yang berkenaan dengan sukses yang dicapai saudaranya. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mengucapkan selamat kepada saudaranya ketika saudaranya mendapat kebahagiaan niscaya Allah menggembirakannya pada hari kiamat”. (HR Thabrani dalam Ma’jamush Shaghir)
    Contoh yang pernah diajarkan oleh Rasul adalah:
    a. Berkenaan dengan kelahiran anak
    b. Ketika datang dari medan jihad
    c. Apabila kembali dari menunaikan haji
    d. Bila ada yang menikah
    e. Saat Iedul fitri
  7. Memberikan hadiah yang bersifat insidental. Iman Dailami meriwayatkan dari Anas dan Marfu’ bahwa Rasulullah SAW bersabda “Hendaklah kalian saling memberikan hadiah karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati”.
  8. Menaruh perhatian terhadap keperluan saudaranya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang meringankan beban penderitaan seorang mukmin di dunia pasti Allah akan meringankan beban penderitaannya di akhirat kelak. Siapa yang memudahkan orang yang dalam keadaan susah pasti Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim pasti Allah akan menutupi (aib nya) di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim)
  9. Menegakkan hak-hak ukhuwah saudaranya. Dalam rangka mempererat ukhuwah maka adalah wajib bagi al akh untuk menunaikan hak-hak yang dimiliki al akh lain, seperti menjenguk saudaranya yang lain bila sakit, mendo’akan bila bersin, dan menolong bila teraniaya (dizhalimi).

Allah SWT tidak mengaruniakan rasa cinta semata-mata, tetapi Allah juga mengaruniakan ‘hukum’ cinta yang mesti dipatuhi demi mencapai maksud penciptaannya. Dengan ‘hukum’ itu, Allah mengatur agar cinta senantiasa selamat dan menyelamatkan. Begitulah cinta dalam Islam, ia mempunyai kaidah dan peraturan demi menjaga kemurnian dan kesuciannya.

Tentang Cinta itu sendiri, Rasulullah dalam sabdanya menegaskan bahwa tidak beriman seseorang sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya. Al Ghazali berkata: “Cinta adalah inti keberagamaan. Ia adalah awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalaupun ada maqam yang harus dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah pengantar ke arah cinta dan bila ada maqam-maqam sesudah cinta, maqam itu hanyalah akibat dari cinta saja.”

– Selesai

(hdn)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Cara Membuat Kolam Renang Mini di Rumah: Mengelola Secara Praktis dan Ekonomis

Oleh  Akhir Matua Harahap

Olahraga renang merupakan salah satu bentuk olahraga yang yang menyehatkan, menyenangkan dan mampu membuat semua anggota keluarga bergembira ria. Keutamaan renang karena mampu  memberi  efek pada gerakan semua tubuh khususnya kaki, tangan dan leher/kepala. Gerakan leher/kepala ini sangat membantu menjaga keseimbangan sirkulasi darah/saraf dari tubuh ke otak/kepala melalui ‘bottle neck’ di leher. Kebiasaan kita membaca dan menulis apalagi dengan menggunakan computer berjam-jam dari dulu hingga nanti dapat memberi pengaruh pada kelenturan/kekakuan di leher/pundak. Mengatur keseimbangan antara kebiasaan kita dengan peranan renang dalam menjaga fungsi keseimbangan utamanya leher/pundak menjadi penting.

Persoalannya adalah keinginan untuk berenang kerap dihadapkan pada persoalan akses ke kolam renang: jauh dari rumah, repot, mahal (kalau rutin)—belum lagi mempertimbangkan kesehatan/kebersihan kolam renang dan privasi (terutama aurat). Untuk mengatasi kebutuhan soal berenang dan kendalanya tadi, membuat kolam renang sendiri adalah solusinya. Akan tetapi membuat kolam kerap terdengar atau terkesan mahal apalagi melalui konsultan atau kontraktor.  Tulisan ini coba menginformasikan bahwa membuat kolam renang dapat dilakukan sendiri dan justru murah. Murah karena kita dapat menyiasatinya. Yang dimaksud  kolam renang mini  adalah kolam yang ukurannya kira-kira seluas 5×2,5 meter dimana volume air sebanyak 10-15 kubik dengan kedalaman kolam bervariasi antara 80 cm hingga 180 cm.

Bagaimana memulainya?

Ada kebutuhan untuk berenang (kebugaran dan kesehatan) dan keinginan punya kolam renang sendiri dan memberi fasilitas bagi anak-anak atau keluarga di rumah untuk belajar renang, bergembira ria dan sebagainya.

  • Tersedia lahan dengan ruang terbuka minimal 6×3 meter baik disamping maupun belakang rumah. Jika hanya tersisa 3×3 meter yang terbuka dapat digabungkan dengan mengorbankan/substitusi atau komplemen dengan bagian rumah yang tertutup yang selama ini dipandang tidak efektif/kurang memuaskan. Jika ruang tertutup ingin tetap dimaksimalkan dengan kehadiran kolam, lantainya dapat ditinggikan dengan menggunakan dak atau lantai kayu. Sementara  diatasnya tetap dapat difungsikan sebagai ruang kerja/ruang baca, ruang instirahat atau gudang atau apa saja yang dipandang sesuai. Ini malah lebih menarik karena kolam sebagian berada di luar bangunan rumah dan sebagian ada di dalam rumah. Manfaat tambahan, jika hujan atau terik, berenang tetap bisa dilakukan. 

Biayanya berapa?

Membuat kolam renang sendiri jangan dibayangkan mahal, justru relatif murah. Biaya pembuatan kolam ini saya kira masih bisa dijangkau jika kita hubungkan dengan biaya rekreasi dan biaya kesehatan yang semakin mahal. Perkiraan kasarnya saya hitung hanya sekitar Rp 5 juta. Bagaimana bisa!

  • Konstruksi kolam. Biaya konstruksi beton cor sederhana termasuk upah tukang 3 juta, dan keramik 1 juta.
  • Peralatan  penyaringan/sirkulasi air yang meliputi wadah penyaringan (400 ribu), mesin penyedot, yang biasa digunakan untuk akuarium besar dua buah (satu untuk menarik air dari bak penampungan limpahan ke wadah penyaringan dengan harga 200 ribu dan satu lagi untuk menyedot endapan/kotoran dari dasar kolam yang seharga 100 ribu. Untuk bahan paralon, selang-selang dan serokan sekitar 100 ribu.
  • Bahan disinfektan, penjernih air (dan kecantikan air kolam) yang terdiri dari kaporit, tawas, soda api (dan terusi) 100 ribu.
  • Instalasi listrik yakni stop kontak ke mesin-mesin dan lampu-lampu sekitar kolam 100 ribu.

Biaya-biaya di atas adalah biaya minimal untuk pemilikan kolam renang dan olahraga renang murah tapi menyehatkan. Jika ingin kolam tambah luas, keramik yang harganya lebih mahal dan penambahan asesoris kolam atau pengintegrasian kolam dengan rumah tentu menjadi lebih mahal (itu soal pilihan). Hanya saja biaya-biaya untuk pokok kolam renang yakni alat penyaringan dan sirkulasi air serta kebutuhan bahan-bahan kimia untuk penjernihan air relatif tetap.

Untuk desain kolam renangnya sendiri sangat simpel. Setelah kolamnya sendiri selesai, disamping (salah satu sisi) kolam renang, buat bak penampungan air limpahan kolam dengan volume sekitar 0,25 kubik. Kemudian kolam dan bak dihubungkan oleh  satu atau dua lubang di dinding bagian atas kolam  (kira-kira 10-20 cm dari teras kolam yang merupakan saluran pembuangan air limpahan permukaan kolam ke bak penampungan. Selanjutnya, mesin sedot yang lebih besar diletakkan di dalam bak yang berfungsi untuk memompa air dari bak ke wadah penyaringan yang berada di teras kolam. Wadah penyeringan itu sendiri memiliki dua bagian yakni bagian penampungan air (ada ijuk) dan bagian tempat air bersih yang muncul ke permukaan wadah melalui sela-sela tumpukan pecahan batu gamping. Batu gamping dan ijuk termasuk satu paket dengan pembelian wadah penyaringan. Kemudian, air yang sudah bersih di dalam wadah dialirkan/disalurkan kembali ke kolam (dengan arah yang berlawanan dengan salurah menuju bak) melalui paralon yang ditanam di bawah teras kolam. Posisi arah berlawanan ini berguna agar air yang bersih mendorong air ke arah bak penampungan air permukaan)

 

Bagaimana treatment airnya?

Setelah semua konstruksi dan instalasi kolam renang selesai serta bahan sudah tersedia, maka anda mulai melakukan proses treatment awal terhadap air kolam renang.

  • Isi air kolam sampai  penuh hingga pada batas bawah saluran menuju bak limpahan air permukaan. Kalau takut tetangga marah, air dapat dibeli pada pemasok air isi ulang sebanyak 3 tangki yang harganya per tangki 300 ribu. Tapi itu cukup mahal bukan?. Cara lain, harus bersabar, mengambil air melalui mesin pompa sedikit demi sedikit, nyalakan sejam stop dua jam, nyalakan lagi sejam, stop lagi hingga sekitar 10 kali dalam rentang waktu dua hari. Aman dan murah bukan?
  • Langkah selanjutnya adalah taburkan kaporit sekitar sekilo yang harganya 20 ribu. Esok harinya, efek dari kaporit ini pada air kolam adalah air kolam tampak kuning/kehijau-hijauan. Anda jangan kaget. Ini disebut proses pengejutan air kolam, dimana alga, lumut dan bakteri hangus atau mati oleh kaporit tetapi masih tercampur atau larut dalam air. Berikutnya adalah memasukkan soda api setengah kilo dan tawas 3-4 kilo. Soda api  untuk membersihkan kotoran dari dinding kolam dan tawas untuk mengikat kotoran (proses koagulasi) yang kemudian gravitasi/jatuh dan mengendap ke dasar kolam. Soda api dalam bentuk bubuk cukup ditaburkan ke dalam kolam, sedangkan tawas yang bentuknya berupa bongkahan dapat dipecah-pecah atau digiling kasar dan untuk mudahnya ditaruh di bawah keran wadah alat penyaring. Kemudian alat penyaringan dinyalakan dan larutan atau air tawas yang timbul dari proses pelarutan di bawah keran wadah akan teralirkan dengan sendirinya ke kolam. Tawas harganya 6 ribu perkilo dan soda api 20 ribu per kilo.
  • Setelah proses koagulasi ini dianggap sudah selesai dimana air dalam kolam akan tampak bersih, bening dan biru (usahakan keramik dinding dan dasar kolam warna putih) sementara di bawah dasar kolam tampak endapan berwarna coklat. Endapan ini dibersihkan dengan alat sedot-yang rangkaiannya dirakit sendiri. Endapan ini sesungguhnya sangat halus tetapi terikat (koagulasi) sehingga mudah disedot. Jika endapat tersebut relatif  tebal atau banyak gelap, endapan berupa kotoran/lumpur halus ini disedot dan dialirkan langsung ke saluran pembuangan (selokan). Jika sedotan tampak tipis atau sedikit dapat dialirkan ke wadah penyaringan, tetapi ijuk wadah penyaringan harus segera dibersihkan melalui keran dibagian bawah wadah sambil disiram (backwash).
  • Jika air kolam sudah jernih (setelah beberapa saat penyedotan endapan) dan semua endapan di dalam kolam sudah dibersihkan, maka air kolam yang tampak biru, sesungguhnya kolam sudah bisa digunakan. Namuu jika anda ingin warna biru air kolam lebih gelap dan mengkilap, dapat ditambahkan terusi satu genggam setiap 3-4 hari. Satu kilo terusi yang kira-kira 10 gengam harganya 25 ribu. Selanjutnya tindakan terakhir dalam proses penjernihan air atau pembersihan kolam adalah melakukan sirkulasi air selama 6-8 jam. Proses sirkulasi adalah menyedot air dari bak oleh mesin yang diteruskan ke wadah lalu hasilnya dialirkan kembali ke kolam. Setelah melakukan sirkulasi 6-8 jam, matikan alat sirkulasi (melalui stop kontak) dan angkat rangkaian penyedot endapan dari kolam, maka anda langsung saja cebur ke kolam. Eureka!
  • Untuk setiap  kolam renang anda selesai  digunakan, mungkin air kolamnya  berkurang karena terbuang ke luar  maka tambahkan air dari air pompa langsung ke dalam kolam atau melalui bak. Usahakan terlebih dahulu keseimbangan permukaan air dalam kolam dan bak agar air mengalir secara proporsional. Jika sudah konstan maka nyalakan mesin sirkulasi selama 6-8 jam dan tugas anda hari itu selesai biarkan proses sirkulasi berjalan sendirinya. Satu hal lagi, untuk menjaga stabilitas air dan menghalangi pertumbuhan alga/lumut taburkan kaporit sebanyak 1-2 genggam setiap 3-4 hari. Proses sirkulasi ada baiknya dilakukan tiap hari (ketika kolam tidak digunakan) selama 6-8 jam untuk tetap mempertahankan kebersihan kolam. Arus listrik alat sedot/sirkulasi sebenarnya tidak terlalu ng besar hanya kira-kira sebanyak penggunaan lampu pijar (lupa saya berapa watt).

Supaya memudahkan impian anda, bahan-bahan dan peralatan pembuatan kolam renang dapat dibeli di toko-toko material (besi dan keramik, kaporit, tawas dan soda api, serta paralon dan selang), toko akuarium (dapat dibeli wadah penyaring, mesin sedot air dan serokan). Toko akuarium di Kota Depok saya temukan di Jalan Margonda Raya seberang Hotel Bumi Wiyata. Sedangkan untuk terusi mungkin hanya dapat dibeli di toko kolam renang– yang paling dekat dari Depok alamatnya di Jalan Ampera Raya—seberang Lembaga Administrasi Negara. Sebagai tambahan, untuk besi pengaman di atas pagar kolam yang berada di dalam rumah dapat dibeli/digunakan besi krom (tapi bisa berkarat dalam air) 20 ribu semeter dan holdernya 15 ribu satu set dan tinggal di bor/fischer. Tetapi untuk besi pengaman di dalam kolam sebaiknya digunakan besi dan holder yang steinless. Di Depok toko besi steinless terdekat dari kampus adalah yang alamatnya dekat halte jelang UI dari arah Jakarta atau dipertokoaan di Kenari, Kampus Salemba/Jakarta.   Bagi anda yang tertarik silahkan mencoba dan melakukan sendiri. Jika ada kesulitan dalam pemikiran awal saya bersedia mendiskusikannya untuk bertukar pikiran via email. Oleh karena bukunya sedang saya susun, maka hasil diskusi pembuatan seputar kolam renang mini ini sudah barang tentu akan dapat membuat lebih rinsi isi buku tersebut. Selamat mencoba sendiri.

Tanya Jawab Seputar Kolam Renang Mini

Artikel tentang kolam renang yang pernah saya posting di blog detik.com dan staff.blog.ui.ac.id dengan judul ”Cara Membuat Kolam Renang Mini di Rumah: Mengelola Secara Praktis dan Ekonomis” mendapat respon dari sejumlah pembaca di tanah air. Selain memberikan respon yang positif, beberapa diantaranya bertanya dan berdiskusi secara langsung maupun via email dan telpon yang pada prinsipnya ingin tahu lebih detail sebelum mereka memulainya membuat kolam renang sendiri. Umumnya mereka tertarik membaca dan mengikuti cara pembuatan kolam renang tersebut karena mereka membandingkannya dengan harga yang ditawarkan konsultan maupun pengembang. Artikel tersebut kiranya telah membantu masalah mereka.

Untuk sekadar diketahui, kolam renang mini tersebut sudah saya gunakan dalam setahun terakhir yang merupakan hasil pemikiran dan rancangan sendiri. Sejauh ini, kolam tersebut bebas dari bocor, airnya belum pernah dikuras dan kebersihan dan kejernihannya tetap terjaga. Dengan kata lain hasilnya cukup memuaskan saya. Saya sendiri bukanlah ahli, saya hanya seorang amatir saja–seorang awam yang berhasrat punya kolam renang. Saya berharap juga suatu saat penulisan buku tentang kolam renang mini  yang tengah dikerjakan dapat terselesaikan agar nantinya lebih luas jangkauan ceritanya.

Beberapa pertanyaan dan diskusi dengan sejumlah pembaca yang terjadi dalam satu tahun terakhir ini saya coba sajikan untuk mengantisipasi pertanyaan dari pembaca yang lain. Saya berharap beberapa jawaban yang saya rangkum pada artikel ini dapat melengkapi atau memperjelas isi artikel terdahulu (dapat dilihat pada kategori ’kolam renang’).

Q1.Apakah kolam dicor semua, termasuk dasar dan dinding? Berapa ukuran ketebalan cor untuk dasar dan dinding?

A1. Sebaiknya dicor semua baik lantai maupun dinding. Pilihan lainnya adalah lantai harusnya dicor sedangkan dinding bisa dengan susunan bata. Tapi pasangan bata dan cor biayanya kurang lebih sama. Jadi, saya sarankan semuanya dicor. Untuk lantai harus dicor karena dengan cor lebih mampu menahan beban air sedangkan dinding tidak terlalu berat untuk menahan air. Keutamaan dicor semua, karena lantai dan dinding saling terikat oleh besi tulangannya dan lebih kokoh. Ketebalan lantai dan dinding cukup dengan ketebalan antara 8-10 cm dengan menggunakan besi 8 mm (satu lapis saja, tengah-tengah cor). Untuk keperluan mengecor dinding ada baiknya dengan menggunakan tripleks biar lebih cepat dan lebih rapih. Dua lembar tripleks sudah cukup (disesuaikan dengan ketinggian tahapan pengecoran), bisa digunakan beberapa kali secara bertahap.

Q2.Campuran cor, apakah menggunakan molen atau cukup dicampur atau diaduk  secara manual?

A2.Adukan cor dilakukan dengan cara biasa (tanpa molen). Dengan tukang hanya dua orang, maka pengerjaannya, mereka dapat lakukan secara bertahap saja (sebanyak ukuran dua triplek tadi yang dimulai dari dinding bagian bawah dan besoknya triplek dilepas digunakan lagi untuk bagian dinding atas. Jangan lupa untuk  saluran samping tidak perlu dicor (cukup dengan adukan semen ketika saluran limpahan air itu dikeramik).

Q3.Bagaimana caranya untuk meminimalkan bocor atau rembesan?

A3.Sebelum memasang keramik dinding dan lantai lebih dahulu dinding dan lantai diaci (lapisan semen secara merata). Setelah kering atau setengah kering aciannya baru pasang keramik. Ada kalannya ketika memasang keramik dinding perlu ditahan sementara dengan paku. Ketika pakunya dicabut pastikan bekas paku tadi diaci lagi (ditutup). Proses ini penting diperhatikan tukang agar dapat lebih memperkuat dinding maupun lantai dari kemungkinan bocor. Soal rembesan mungkin tidak terhindarkan tapi itu tidak masalah, toh juga rembesan itu masuk ke dalam tanah (lantai maupun dinding). Tapi kalau kolamnya di atas rumah (dak) itu bisa masalah. Untuk itu, cornya harus tebal dan lebih tebal dari lantai dak umumnya.

Q4.Saluran drain/penyedot, apakah perlu membuat saluran pembuangan didasar kolam? atau cukup dengan saluran samping saja?

A4.Tidak perlu saluran didasar kolam, cukup lewat samping atas. Sebab kita tidak perlu menguras air. Karena hanya sekali air kolam kita isi. Jika seandainya perlu dikuras karena sebab-sebab tertentu, karena anak-anak tak sengaja buang hajat atau tikus mati sampai membusuk bisa kita sedot buang ke selokan dengan meenggunakan sementara mesin sedot yang ada di dalam bak penampungan. Kalau dibuat saluran pembuangan untuk drainase di adasar kolam malah nantinya bisa menimbulkan dampak yang mengakibatkan kolam jadi bocor.

Q5.Bagaimana cara menyedot kotoron atau lumpur yang mengendap di dasar kolam?

A5.Disedot dengan alat sedot buatan sendiri saja (biar murah). Cara merakitnya sederhana saja. Mesin sedot lumpur di dasar kolam sama dengan mesin sedot air dari bak penampungan ke wadah penyaringan. Cuma ukurannya satu tingkat lebih kecil (kira-kira 35 watt). Pertama mesin itu kita ikat pada ujung paralon (stick) yang dibantu ikat dengan kawat dan diperkuat dengan tali karet bekas ban motor). Kemudian kabel listriknya kita sambung dengan kabel tambahan agar bisa menjangkau arus listrik yang terdekat. Selanjutnya pada mesin: saluran penyedot (input) kita sambung dengan selang sepanjang 30-40 cm yang dibuat bengkok (setengah lingkaran) yang berfungsi untuk menyedot endapan dari lantai kolam. Kemudian saluran pembuangannya (output) kita sambung dengan selang yang cukup panjang agar cukup menjangkau wadah penyaringan.

Q6.Warna keramik yang digunakan sebaiknya bagaimana?

A6.Sebaiknya warna apa saja yang polos. Tapi saya sarankan warna putih polos saja. Karena kelihatan lebih bersih dan warna biru air kolam tampak lebih memantul dan menjadi lebih mengkilap.

Q7.Ukuran keramik yang baik ukuran berapa ya?

A7.Bebas saja. Ukuran 20, 25, 30 bahkan 40 atau lebih dapat digunakan. Yang perlu diperhatikan adalah ukuran keramik lantai sebaiknya kotak atau empat persegi. Ini maksudnya agar lebar keramik dinding semua sisi bisa sesuai. Untuk tinggi atau panjang keramik dinding tidak harus sama dengan lebarnya. Tapi semua tinggi atau panjang keramik dinding untu semua sisi sama.

Q8. Air tanah di rumah saya berbau tanah apakah baik untuk air kolam?

A8.Saya kira tidak masalah. Karena air yang berbau tanah itu sebenarnya bersumber dari tanah mungkin. Kalau dalam proses penjernihan air nantinya yang didahului kaparit (membunuh alga atau bakteri) yang kemudian diendapkan dengan tawas, maka endapan ini kita sedot ke luar. Dengan begitu bau air tanah akan hilang. Lagi pula adanya campuran kaporit dan tawas di dalam kolam akan membuat bau air kolam lebih wangi.

Q9.Untuk mempertahankan kejernihan air, bagaimana?

A9.Secara teratur menaburkan kaporit sebanyak satu genggam pertiga hari. Ada baiknya jika habis hujan lansung diberi kaporit dengan takaran yang sama dan selanjutnya mengikuti interval pemberian kaporitnya. Sebaiknya gunakan kaporit granular (impor) karena lebih efektif tidak banyak sampahnya.

Sumber: http://staff.blog.ui.ac.id

Jangan Galau, Allah Selalu Menyertaimu!

MENGELUH, hampir menjadi fenomena di negeri mayoritas Muslim ini. Ironisnya mengeluh itu menimpa hampir semua tingkatan usia; mulai remaja sampai dewasa juga pria dan wanita. Akibatnya tidak banyak yang bisa dilakukan oleh mereka yang suka mengeluh, kecuali hal-hal yang akan semakin membuat jiwa dan akalnya terus melemah. Sehari-hari waktu yang dilalui hanya diisi curhat dari satu orang ke orang lain dengan memaparkan beragam masalah yang sedang membelitnya.

Padahal waktu dan kesempatan datang setiap hari. Bahkan sekiranya mereka mau membaca firman Allah (Al-Qur’an) tentu mereka akan dapati jawaban atas setiap masalah yang dihadapinya. Ketika didorong untuk membaca Al-Qur’an jawabnya tidak mengerti bahasa Arab. Loh bukannya kini sudah sangat banyak Al-Qur’an terjemah. Mengapa tidak dibaca juga?

Sementara Allah dengan tegas berfirman;

بِهِ مِنَ الأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَـكِنَّ

“Karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur’an itu. Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS. Huud [11]: 17).

Dalam ayat lain Allah SWT juga tegaskan bahwa Al-Qur’an itu kitab suci yang tidak ada keragu-raguan di dalamnya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah [2]: 2).

Jadi sebenarnya sederhana sekali, masalah apapun yang kita hadapi solusinya ada di dalam Al-Qur’an. Ibarat manusia ini robot maka Al-Qur’an ini adalah petunjuk manual bagaimana mengoperasikan robot itu. Bagaimana tanda-tanda robot yang kekurangan baterai (iman) misalnya. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengisi dayanya kembali. Bagaimana jika ada robot yang mati (semangatnya). Apa yang harus dilakukan. Jawaban semua itu ada di dalam buku manual tadi (Al-Qur’an).

Mari perhatikan pernyataan Nabi Ibrahim di depan orang-orang kafir ketika menjelaskan siapa Allah SWT. ketika itu Nabi Ibrahim sedang memberi peringatan kepada penyembah berhala bahwa apa yang mereka anggap tuhan itu adalah keliru (sesat). Lalu Nabi Ibrahim menjelaskan perihal Allah SWT yang sebenar-benarnya Tuhan yang harus disembah.

Ibrahim berkata;“(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku. Dan Yang akan mematikan aku. Kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS. As Syu’ara [26] : 78 – 82).

Ayat tadi menggambarkan secara gamblang bagaimana Allah benar-benar mengerti segala kebutuhan, keresahan, kerisauan, kegalauan, dan seluruh suasana hati setiap manusia. Hanya saja Allah akan mendatangi jiwa-jiwa yang diliputi keimanan kuat dan mengabaikan jiwa manusia yang kerdil lagi tidak pernah memohon kepada-Nya.

Kepada mereka yang imannya kuat Allah berikan satu jaminan agar tidak takut dan bersedih hati.

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran [3]: 139).

Jadi mari kita kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Sungguh Allah menjawab setiap masalah kita.

Ketika kita mengeluh, maka akan selalu ada jawaban dari Allah SWT untuk kita. Misalnya, “Rasanya aku tidak mampu menghadapi masalah seperti ini, berat terasa oleh ku. Sungguh aku tak sanggup lagi.” Sungguh Allah menjawab;

“Jika Allah menghendaki sesuatu, Allah cukup berkata jadi maka jadilah” (QS. 36 : 82).

Ketika kita mengeluh, “Aku terlalu lelah” Allah menjawab, “Aku ciptakan tidurmu untuk istirahatmu.” (QS. 78 : 9).

Ketika kita mengeluh, “Aku tak sanggup lagi, aku tak mampu lagi, semua sudah tidak mungkin kuhadapi” Allah menjawab, “Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya, melainkan sesuai kemampuannya” (QS. Al Baqarah [2] : 286).

Ketika kita mengeluh, “Berbagai upaya sudah saya lakukan tapi hasilnya nihil. Saya benar-benar stress dibuatnya” Allah menjawab;

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Hanya dengan mengingat Aku maka hati menjadi tenang.” (QS. 13 : 28).

Bahkan ketika kita mengeluh, “Aku sudah tidak ada gunanya lagi, untuk apa aku hidup” sungguh Allah telah menjawab;

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. 99 : 7).

Jika demikian untuk apa kita mengeluh, bukankah Allah telah menjawab semua bakal keluhan umat manusia. Maka dari itu biasakanlah diri untuk benar-benar mempelajari Al-Qur’an dengan baik. Sungguh Al-Qur’an itu menjawab setiap masalah. Maka ambillah obat atau madu darinya.

Sebenarnya mengeluh atau tidak itu adalah pilihan hati. Hati yang senantiasa dihiasi dengan bacaan Al-Qur’an insya Allah terhindar dari sikap kerdil, lemah, lesu, letih, lunglai, dan tak berdaya. Sementara hati yang sepi dari bacaan Al-Qur’an akan sangat mudah terganggu oleh dinamika kehidupan sehingga sulit menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur.

Terhadap orang yang pandai bersyukur Allah berjanji akan menambah terus-menerus kenikmatan yang diberi dan bagi yang kufur (tidak mau bersyukur) Allah sediakan siksa yang pedih.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Se- sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS.ar Ra’d [14] : 7).

Jadi selagi masih ada kesempatan mari berusaha untuk memahami ayat-ayat Allah dengan sebaik-baiknya. Sungguh apabila hati kita telah diterangi oleh Al-Qur’an akan muncul semangat, gairah, optimisme, dan keyakinan kuat bahwa Allah selalu menyertai kita dan karena itu akan muncul usaha maksimal dari dalam diri kita.

Apabila itu benar-benar dapat kita raih sungguh kebahagiaan, kemenangan dan kesuksesan sejati telah berada di tangan kita. Sebab Allah telah berjanji akan memberi jalan-jalan kepada hamba-hamba-Nya yang bermujahadah (bersungguh-sungguh tidak mengeluh) dan senantiasa berbuat kebaikan.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 29 : 69).

Jika sedemikian rupa Allah telah memberi jawaban atas keluhan setiap hamba-Nya, masihkah kita akan menjadi manusia kerdil? Sungguh keluhan itu adalah sesuatu yang mesti kita enyahkan dalam akal dan jiwa kita. Allah dan Rasul-Nya hanya berpesan satu hal, berjihadlah, bersungguh-sungguhlah, kelak engkau pasti akan menang. Jadi mari kita ucapkan,

“Selamat tinggal keluhan, selamat datang harapan”!. */Imam Nawawi

Sumber: Hidayatullah.com

Keluarga Sakinah, Modal Untuk Reuni Di Surga

Oleh: Shalih Hasyim

MAHA SUCI Allah Subhanahu Wata’ala yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Berjenis laki-laki dan perempuan. Ada kutub positif dan kutub negatif. Ada siang dan malam. Suka dan duka. Sedih dan gembira. Jika bisa dikelola dengan baik, perputaran dan pergiliran dua keadaan yang saling kontradiktif, kehidupan manusia menjadi dinamis dan romantis.

Allah Subhanahu Wata’ala juga telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yasin (36) : 36)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Di antara tanda-tanda keagungan Allah ialah, Dia menciptakan bagimu, dari jenismu sendiri, pasangan-pasangannya, supaya kamu hidup tenteram bersamanya, dan dijadikan Allah bagimu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berfikir.” (QS. Ar Rum (30) : 20-21).

Mitsaqan Ghalizha

Ayat ini ditempatkan Allah Subhanahu Wata’ala pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaranNYA di alam semesta –  tegaknya langit, terhamparnya bumi, turunnya air hujan, gemuruhnya suara halilintar, dan keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat di atas Allah Subhanahu Wata’ala ingin menegaskan dan mengajarkan kepada kita betapa Ia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan/pendamping setia hidup manusia.

Diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala bumi dengan segala yang ada di atasnya – samudera luas, bukit tinggi, rimba belantara – untuk kebahagiaan manusia. Diedarkan Allah Subhanahu Wata’ala mentari, rembulan, gugusan bintang-gemintang, dijatuhkan-Nya hujan, ditumbuhkan-Nya pepohonan, dan disirami-Nya tetanaman, semua karunia itu untuk kebahagiaan manusia.

Tetapi, Allah Subhanahu Wata’ala Yang Maha Mengetahui memberikan lebih daripada itu. Diketahui-Nya getar dada kerinduan hati. Yaitu bersanding sehidup semati dengan si jantung hati. Betapa sering kita memerlukan seseorang yang mau mendengar bukan saja kata yang diucapkan, melainkan juga jeritan hati yang tidak terungkapkan, yang bersedia menerima segala perasaan – tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu diciptkan-Nya seorang kekasih. Allah Subhanahu Wata’ala tahu, pada saat kita diharu biru, diempas ombak, diguncang badai, dan dilanda duka, kita memerlukan seseorang yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh yang lemah, dan memperkuat hati – tanpa pura-pura, prasamgka, dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih. Allah Subhanahu Wata’ala tahu, kadang-kadang kita berdiri sendirian lantaran keyakinan atau mengejar impian. Kita memerlukan seseorang yang bersedia berdiri di samping kita tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih.

Supaya hubungan antara pencinta dan kekasihnya itu menyuburkan ketentraman, cinta, dan kasih sayang, Allah Subhanahu Wata’ala menetapkan suatu ikatan suci, yaitu aqad nikah. Dengan ijab (penyerahan) danqobul (penerimaan) terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang masiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Nafsu pun berubah menjadi cinta (mawaddah) dan kasih (rahmah) dan ulfah (hubungan yang jinak).

Begitu besarnya perubahan itu sehingga Al Quran menyebut aqad nikah sebagai mitsaqan ghalizha(perjanjian yang berat). Hanya tiga kali kata ini disebut di dalam Al Quran.

Pertama, ketika Allah Subhanahu Wata’ala membuat perjanjian dengan para Nabi – Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad saw.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, musa, dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat.” (QS: Al Ahzab (33): 7).

Kedua, ketika Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat Bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيثَاقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُواْ الْبَابَ سُجَّداً وَقُلْنَا لَهُمْ لاَ تَعْدُواْ فِي السَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

“Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina karena (mengingkari) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka : Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka : Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat.” (QS: An Nisa (4) : 154).

Ketiga, ketika Allah Subhanahu Wata’ala menyatakan hubungan pernikahan (QS. An Nisa (4) : 21).

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Mitsaqan ghalizha berarti kita sepakat untuk menegakkan dinul islam dalam rumah, sepakat untuk membina rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah serta ulfah. Sepakat meninggalkan masiat. Sepakat saling mencintai karena Allah Subhanahu Wata’ala. Menghormati dan menghargai. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saling menguatkan keimanan. Saling menasihati dalam menetapi kebenaran dan saling memberi nasihat dengan kasih sayang. Saling setia dalam suka dan duka, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat.

Pernikahan juga bermakna sepakat meniti hari demi hari dengan kebersamaan. Sepakat untuk saling melindungi dan menjaga. Saling memberikan rasa aman. Saling mempercayai dan menutup aib. Saling mencurahkan dan menerima keluhan dan perasaan. Saling berlomba dalam beramal. Saling memaafkan kesalahan. Saling menyimpan dendam dan amarah.

Pernikahan berarti pula sepakat untuk tidak melakukan penyimpangan. Tidak saling menyakiti perasaan dan pisik. Juga sepakat untuk mengedepankan sikap lemah lembut dalam ucapan, santun dalam pergaulan, indah dalam penampilan, mesra dalam mengungkapkan keinginan.

Ijab Qabul, Bukan Peristiwa Kecil

Karena itu peristiwa aqad nikah bukanlah kejadian kecil di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Akad nikah sama tingginya dengan perjanjian para rasul, sama dahsyatnya dengan perjanjian bani Israil di bawah bukit Thursina yang bergantung diatas kepala mereka.

Peristiwa aqad nikah tidak saja disaksikan oleh kedua orangtua, sudara-saudara, dan sahabat-sahabat, sanak famili, handai taulan, tetangga, tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi, dan terutama sekali disaksikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala Penguasa alam semesta.

Bila perjanjian ini disia-siakan, diceraikan ikatan tali hubungan yang sudah terbuhul, diputuskan janji setia yang telah terpatri, kita tidak saja harus bertanggung jawab kepada semua yang hadir menyaksikan peristiwa yang berkesan itu, tetapi juga bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala Swt.

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلىَ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا (رواه البخاري ومسلم)

“Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.” (HR. Bukhari Muslim).

Kata Rasulullah, “Yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik dan paling lembut terhadap keluarganya.” (Al Hadits).

Mengapa Kita Memelihara Ikatan Itu ?

Mengapa Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya mewasiatkan agar kita memelihara aqad nikah yang sakral ini? Mengapa kebaikan manusia diukur dari cara dia memperlakukan keluarganya? Mengapa suami dan isteri harus mempertanggungjawabkan peran yang dilaksanakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala?

Jawabannya sederhana: Karena Allah Subhanahu Wata’ala Maha Mengetahui bahwa kebahagiaan dan penderitaan manusia sangat tergantung pada hubungan mereka dengan orang-orang yang dicintai mereka, yakni dengan keluarganya. Bila di dunia ini ada surga, kata Marie von Ebner Eschenbach, surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi, bila di dunia ini ada neraka, neraka itu adalah pernikahan yang gagal. Para psikolog menyebutkan persoalan rumah tangga sebagai penyebab stress yang paling besar dalam kehidupan manusia.

Karena itulah, Islam dengan penuh perhatian mengatur urusan rumah tangga. Sebuah ayat pernah diturunkan dari langit hanya untuk mengatur urusan pernikahan antara Zainab dan Zaid bin Haritsah. Sebuah surat turun untuk mengatur urusan rumah tangga seluruh kaum muslimin. Ribuan tahun yang silam, di Padang Arafah, di hadapan ratusan ribu ummat islam yang pertama, Rasulullah saw. menyampaikan khotbah perpisahan.

اَيُّهَا النَّاسُ فَا تَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَاِنَّكُمْ اَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْكُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ , اِنَّ لَكُمْ عَلىَ نِسَائِكُمْ حَقًّا , وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَاِنَّهُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ , لاَ يَمْلِكُنَّ ِلاَنْفُسِهِنَّ شَيْئًا وَلَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلاً

“Wahai manusia, takutlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai istri dengan amanat Allah Subhanahu Wata’ala. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah Subhanahu Wata’ala. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atasmu. Ketahuilah, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya, dan kamu pun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya terhadap mereka.” (HR. Muslim dan Turmudzi).

Menjadi Imam Yang Adil

Saudaraku, dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala jualah Anda sampai pada saat yang paling indah, paling bahagia, tetapi juga paling mendebarkan dalam kehidupan Anda. Saat paling indah, sebab mulai sejak sekarang cinta tidak lagi berbentuk khayalan dan impian. Saat yang paling bahagia, sebab akhirnya Anda berhasil mendampingi wanita yang Anda cintai. Saat yang paling mendebarkan, sebab mulai saat ini Anda memikul amanat untuk menjadi pemimpin (qowwam) keluarga.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah Subhanahu Wata’ala telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu maka wanita yang salehah, ialah yang taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala lagi memelihara diri [tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah Subhanahu Wata’ala telah memelihara (mereka) [mempergauli istrinya dengan baik]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya [meninggalkan rumah tanpa izin suami], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. An Nisa (4) : 34)

Menyusahkannya, maksudnya  untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Kalau pada saat ini dada Anda berguncang, darah Anda berdebur, dan suara Anda bergetar, itu adalah pertanda Anda tengah memasuki babak baru dalam kehidupan Anda. Dahulu Anda adalah manusia bebas yang boleh pergi sesuka Anda. Tetapi sejak hari ini Anda belum juga pulang setelah larut malam, di rumah Anda ada seorang wanita yang tidak bisa tidur karena mencemaskan Anda. Kini, bila berhari-hari Anda tidak pulang tanpa berita, di kamar Anda ada seorang perempuan lembut yang akan membasahi bantalnya dengan linangan air mata. Dahulu bila Anda mendapat musibah, Anda hanya mendapat ucapan ‘turut berduka cita’ dari sahabat-sahabat Anda. Tetapi kini, seorang istri akan bersedia mengorbankan apa saja agar Anda meraih kembali kebahagiaan Anda. Anda sekarang mempunyai kekasih yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala untuk berbagi suka dan duka, berbagi rasa dan empati dengan Anda.

Saudaraku, wanita yang duduk di samping Anda bukanlah segumpal daging yang dapat Anda kerat dengan tidak semena-mena, dan bukan pula budakm belian yang dapat Anda perlakukan sewenang-wenang. Ia adalah wanita yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala untuk membuat hidup Anda lebih indah dan lebih bermakna. Ia adalah amanat Allah Subhanahu Wata’ala yang akan Anda pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

اِثْنَانِ يُعَجِّلُهُمَا اللهُ فِي الدُّنْيَا اَلْبَغْيُ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ

“Ada dua dosa yang akan didahulukan Allah Subhanahu Wata’ala siksanya di dunia ini juga, yaitu al baghyu dan durhaka kepada orangtua.” (HR. Turmudzi, Bukhari dan Thabrani).

Al baghyu adalah berbuat sewenang-sewenang, berbuat zalim dan menganiaya orang lain. Dan al-baghyu yang paling dimurkai Allah Subhanahu Wata’ala ialah berbuat zalim terhadap istri sendiri. Termasuk al-baghyu ialah menterlantarkan istri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama Anda. Karena itulah Rasulullah Saw. mengukur tinggi rendahnya martabat seorang laki-laki dilihat dari cara ia bergaul dengan istrinya.

مَا أَكْرَمَ النِّسَاءَ اِلاَّ كَرِيْمٌ وَمَاأَهَانَهُنَّ اِلاَّ لَئِيْمٌ

“Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.”

“Laki-laki yang tidak sukses dalam mengendalikan keluarganya, membiarkannya berbuat maksiat, ia termasuk dayyus (bencong). Tidak akan masuk surga orang yang bencong (la yadkhulul jannata dayyusan).”(al-Hadits).

Rasulullah Muhammad adalah manusia yang paling mulia. Ia melayani keperluan istrinya, memasak, menyapu lantai, memerah susu, dan membersihkan pakaian, cerita Aisyah. Dia memanggil istrinya dengan gelaran yang baik. Ya humaira (wahai yang memiliki pipi kemerah-merahan).

Sepeninggal Rasulullah ada beberapa orang menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan perilaku Rasulullah saw. Aisyah sesaat tidak menjawab pertanyaan itu. Air matanya berderai, kemudian dengan nafas panjang, Ia berkata :

كَانَ كُلُّ أَمْرِهِ عَجَبًا

(semua perilakunya mengagumkan).

Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Rasul yang paling mempesona, Aisyah kemudian mengisahkan bagaimana Rasulullah yang mulia bangun di tengah malam dan meminta izin kepada Aisyah untuk shalat malam. Izinkan aku menyembah Tuhanku, ujar Rasulullah kepada Aisyah. Bayangkan, sampai shalat malam saja diperlukan izin istrinya. Disitu terhimpun kemesraan, kesucian, kesetiaan dan penghormatan.

Muliakan istri saudara sedemikian rupa sehingga kelak, bila Allah Subhanahu Wata’ala menakdirkan Anda meninggal dahulu, lalu kami tanyai istri Anda tentang perilaku Anda, ia akan menjawab seperti Aisyah : Ah ………… semua perilakunya indah, mengagumkan.

Menjadi Makmum Yang Taat

Saudariku, Rasulullah saw pernah bersabda :

وَلَوْ كُنْتُ اَ مِرًا اَحَدًا اَنْ يَسْجُدَ ِلاَحَدٍ لَاَمَرْتُ النِّسَاءَ اَنْ يَسْجُدْنَ لِاَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ

“Seandainya aku boleh memerintahkan manusia bersujud kepada manusia lain, akan aku perintahkan istri untu bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala atas mereka.” (HR. Abu Daud, Al Hakim, dan At Turmudzi)

Banyak istri yang menuntut agar suaminya membahagiakan mereka. Jarang terpikirkan bagaimana ia berupaya membahagiakan suami. Mawaddah dan rahmah tumbuh berkembang dalam suasana memberi bukan mengambil. Cinta adalah sharing – saling berbagi.

Saudariku, Anda boleh memberi apa saja yang Anda miliki kepada pasangan Anda. Tetapi, bagi suami, tiada suatu pemberian istri yang paling membahagiakan selain hati yang selalu siap berbagi rasa, berbagi kesenangan dan penderitaan.

Di luar rumah ia menemukan wajah-wajah tegar, mata-mata tajam, ucapan kasar, pergumulan hidup yang berat, digoncangkan dengan berbagai kesulitan. Ia ingin kembali ke rumah, disitu ditemukan wajah yang ceria, penerimaan yang tulus, ucapan yang lembut, pAndangan mata yang sejuk, yang bersumber dari keteduhan kasih sayang Anda. Suami saudari ingin mencairkan seluruh beban jiwanya dengan kehangatan air mata yang keluar dari telaga kasih sayang Anda.

خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِيْ اِذَا نَظَرْتَ اِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَاِذَا اَمَرْتَهَا اَطَاعَتْكَ وَاِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Istri yang paling baik ialah yang membahagiakanmu bila kamu memandangnya, yang mematuhimu bila kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan hartamu bila kamu tidak ada.” (HR. Thabrani).

Allah Subhanahu Wata’ala membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah Subhanahu Wata’ala; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS. At-Tahrim (66) : 10).

Artinya, nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah Subhanahu Wata’ala apabila mereka menentang agama.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

“Dan Allah Subhanahu Wata’ala membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim. Dan (Ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim (66) : 11-12).

Surga itu terletak di bawah telapak kaki kaum ibu, kata Rasulullah. Apakah rumah tangga yang Anda bangun hari ini akan menjadi surga dan neraka tergantung Anda sebagai ratu rumah tangga (rabbatul bait). Rumah tangga akan menjadi surga (baitii jannatii) bila di dalamnya ada hiasan kesabaran, kesetiaan dan kesucian.

“(Wahai kaum wanita), ingatlah ayat-ayat Allah Subhanahu Wata’ala dan al-hikmah yang dibacakan di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala Maha Penyayang dan Maha Mengetahui.”(QS. Al Ahzab (33) : 34).

Saudariku, kelak bila perahu rumah tangga Anda bertubrukan dengan kerikil tajam, bila impian ketika remaja menjelma menjadi kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit pulau idaman di guncang badai, kami ingin melihat Anda tetap teguh, tegar di samping suami Anda. Anda tetap tersenyum walaupun langit berawan tebal. Sedotlah haul dan kekuatan Allah Subhanahu Wata’ala, dengan bangun malam. Jika pada saat yang bersamaan suami Anda mengaminkan doa yang Anda panjatkan, insya Allah Subhanahu Wata’ala harapan Anda akan segera dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala Swt. Tiada pemAndangan yang terindah bagi suami Anda kecuali Anda berdoa dengan suara lirih untuk kebahagiaannya.

Aisyah pernah cemburu kepada kepada Khadijah, dan berkata :

مَا غِرْتُ مِنِ امْرَاَةٍ مَا غِرْتُ مِنْ خَدِ يْجَةَ

“Aku tidak pernah menaruh cemburu terhadap seorang perempuan sebagaimana aku cemburu terhadap Khadijah.” Rasulullah senantiasa terkenang dengan istri pertamanya itu, sekalipun secara fisik telah berpisah. Beliau bersabda :

اَمَنَتْ بِيْ اِذْ كَذِبَنِي النَّاسُ , وَوَاسَتْنِيْ بِمَا لِهَا اِذَ حَرَمَنِي النَّاسُ

“Khadijah beriman kepadaku pada saat orang mendustakan daku. Dan Khadijah membantuku dengan harta kekayaannya pada saat orang menghentikan pertolongan kepadaku.”

Saudariku, seandainya ditakdirkan Allah Subhanahu Wata’ala Anda meninggal dunia lebih dahulu, lalu kami menemui suami Anda dan kami tawarkan pengganti Anda, pada saat itu suami Anda akan marah seperti Rasulullah yang mulia berkata, ketika Aisyah merasa cemburu dengan Khadijah. Ia berkata: “Demi Allah Subhanahu Wata’ala, tidak ada yang dapat menggantikan dia. Dia yang memperkuat hatiku ketika aku hampir berputus asa. Dia mempercayaiku ketiak semua orang menjauhiku. Dia memberikan ketulusan hati ketika semua orang mengkhianatiku.”

اَيُّمَا امْرَاَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتْ اَلْجَنَّةَ

“Bila seorang wanita meninggal dunia, sedangkan suaminya ridha sekali dengan tingkah lakunya ketika ia masih hidup, maka wanita itu masuk surga.”

Jika suami dalam keluarga berhasil menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, disupport dengan sami’na wa ‘atha’na istri (sendiko dhawuh), dan diteladani oleh anak keturunannya, mereka akan reuni di surga, kelak.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thur (52) : 21)

Alhasil,  anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah Subhanahu Wata’ala derajatnya sebagai derajat bapak- bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka dalam surga. Itulah sebaik-baiknya reuni di surga.

Marilah arahkan pasangan kita atau kita antarkan pernikahan kita untuk mengayuh kapal rumah tangga dengan bekal taqwa. Semoga dengan tiket dari Allah Subhanahu Wata’ala ini akan menyelamatkan keduanya dari gelombang yang akan menerpa dinding-dinding kapal (QS. Al Baqoroh : 197).

Selamat berlabuh untuk menempuh batera kehidupan baru, semoga selamat dan bahagia sampai pulau idaman.*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

HADIS TENTANG KEUTAMAAN SHALAT BAGI PEREMPUAN DI RUMAH DAN PEREMPUAN SHALAT BERJAMAAH DI MASJID (FATWA PP TARJIH MUHAMMADIYAH)

Ada dua masalah yang seakan-akan bertentangan yaitu tentang ”Lebih afdhal perempuan salat di rumah” dan ”tentang perempuan salat di masjid” . Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut kami sampaikan beberapa hadis dan bagaimana sebenarnya pemahaman hadis-hadis tersebut:
Pertama, hadis tentang  salat perempuan di rumah lebih afdhal (utama).

1-    حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى أَنَّ عَمْرَو بْنَ عَاصِمٍ حَدَّثَهُمْ قَالَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُوَرِّقٍ عَنْ أَبِى الأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا ».     (رواه أبو داود:الصلاة: التشديد فى ذلك:482)
Artinya:Ibnu al-Musanna telah menceritakan kepada kami bahwa Amr bin ‘Ashim telah menceritakan kepada mereka, ia berkata; Hammam telah menceritakan kepada kami, diriwayatkan dari Qatadah, diriwayatkan dari Muwarriq, diriwayatkan dari Abu al-Ahwash, diriwayatkan dari Abdullah, dari Nabi saw. Beliau bersabda:”salat perempuan di rumahnya lebih utama daripada salat perempuan dikamar (pribadi)-nya  lebih utama daripada (ruangan lain) di rumahnya.” (HR Abu Dawud; kitab as-Salat, bab at-Tasydid fi Dzalik. Hadis no. 482)

Abu Thayyib Muhammad Syams al-Haq al-Azim A-bady  dalam kitab Aun al-Ma’bub syarah sunan Abu Dawud menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan  kalimat صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا   adalah shalat perempuan di rumahnya, karena kesempurnaan hijab/ lebih tertutup dan lebih terhindar dari fitnah, dan maksud kalimat  أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا  adalah lebih utama dari salatnya  yang dilakukan  dikamar yang ada di dalam rumah, sedang maksud kalimat     وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا  adalah salatnya perempuan yang dilakukan di kamar kecil yang berada di dalam rumahnya yang besar dan berguna untuk menjaga barang-barang yang berharga.

2-    عن السائب مولى أم سلمة عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم: عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: خير مساجد النساء قعر بيوتهن (صحيح ابن خزيمة: اختيار صلاة المرأة قي بيتها:3: 92: حديث:,  1687. ومسند أحمد)
Artinya:Diriwayatkan dari as-Sa-id tuannya Umu Salamah, diriwayatkan dari Umu Salamah isteri Nabi saw. diriwayatkan dari Nabi saw. beliau bersabda: “sebaik-baiknya tempat salat perempuan adalah di dalam rumah-rumah mereka”. (HR Ibnu Khuzaimah, bab; Ikhtiyar salat al-Mar-ah fi baitiha, juz 3 hal 92, hadis no 1678, dan Musnad Ahmad, jilid 6, hal. 301)
Dari kedua hadis di atas dan yang semakna dengannya, para ulama berpendapat bahwa salat perempuan di dalam rumahnya lebih utama daripada salatnya di masjid. Musthafa al-A-dawy di dalam kitab Jami Ahkam an-Nisa (at-Thaharah wa as-Salat wa al-Janazah), juz 1. Hal. 299 menjelaskan bahwa hadis Umu Salamah merupakan tambahan dari hadis yang menjelaskan salat perempuan di rumahnya lebih utama daripada salatnya di masjid. Selajutnya beliau (al-A-dawy) menjelaskan bahwa dengan terkumpulnya hadis-hadis tersebut dan yang semakna dengannya menunjukkan bahwa salat perempuan di rumahnya lebih utama dan baik daripada salatnya mereka di masjid.
Kedua, hadis-hadis yang menjelaskan tentang perempuan salat berjamaah di masjid diantaranya sebagai berikut;
1-    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَابْنُ إِدْرِيسَ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ (رواه مسلم:الصلاة:خروج النساء إلى المسجد إذا لم يترتب عليه فتنة:668)
Artinya: Muhammad bin Abdullah bin Nuamair telah menceritaka kepada kami, ayahku dan Ibnu Idris telah menceritakan kepada kami, keduanya berkata; ‘Ubaidullah telah menveritakan kepada kami, diriwayatkan dari Nafi, diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda; “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah dari masjd-masjid Allah”. (HR Muslim, kitab; as-Salat, bab; Khuruj an-Nisa ila al-masjid iza lam yatarattab ‘alaihi fitnah, hadis no. 668)
2-    حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا الْعَوَّامُ بْنُ حَوْشَبٍ حَدَّثَنِى حَبِيبُ بْنُ أَبِى ثَابِتٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ ».(أبو داود:ماجاء فى خروج النساء إلى المسجد:567: الجلد 1: 222)
Artinya:Usman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami, al-‘Awwam bin Hausyab telah mengkhabarkan kepada kami, Habib bin Abi Sabit  telah menceritakan kepadaku, diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah saw bersabda; “Janganlah kalian melarang isteri-isterimu (mendatangi) masjd-masjid , sedang(salat di) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”. (HR Abu Dawud, bab Maa Ja-a fi  khuruj an-Nisa-I ilaa al-masajid, hadis no. 567, jilid 1, hal.222)

3-    حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلَاتٌ (أبو داود: الصلاة: ماجاء فى خروج النساء إلى المسجد:478)
Artinya: Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami, Hammad telah menceritakan kepada kami, diriwayatkan dari Muhammad bin ‘Amr, diriwayatkan dari Abu Salamah, diriwayatkan dari Abu Huraerah, sungguh Rasulullah saw bersabda; Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah (menghadiri)  masjd-masjid Allah,akan tetapi hendaklah mereka keluar dengan tanpa memakai wangi-wangian”. (HR Abu Dawud, kitab; as-Salat, bab; Maa Ja-a fii khuruj an-Nisa ilaa al-Masjid, hadis no. 478)
4-    حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ لَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْفَجْرَ فَيَشْهَدُ مَعَهُ نِسَاءٌ مِنْ الْمُؤْمِنَاتِ مُتَلَفِّعَاتٍ فِي مُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَرْجِعْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ مَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ  (البخارى:الصلاة: فى كم تصلى المرأة فى الثياب:259)
Artinya:”Abu al-Yaman telah menceritakan kepada kami, Syu’aib telah mengkhabarkjan kepada kami, diriwayatkan dari al-Zuhri ia berkata;’Urwah telah mengkhabarkan kepadaku bahwa Aisyah berkata;  sungguh Rasulullah saw mendirikan salat fajar (shubuh), maka perempuan-perempuan mukmin ikut menghadiri salat bersama Rasulullah saw dengan menutup kepala dan mereka kembali ke rumah-rumah mereka tanpa seorangpun melihatnya”.(HR al-Bukhari, kitab; as-Salah, bab; fii kam tushallii al-mar-ah fi as-siyab, hadis no. 259)
5-    حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ حَنْظَلَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ (البخارى: الأذان: خروج النساء الى المسجد بالليل والغلس:818)
Artinya:’Ubaidullah bin Musa telah menceritakan kepada kami, diriwayatkan dari Hanthalah, diriwayatkan dari Salim bin Abdullah, diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda; apabila isteri-isterimu meminta izin kepadamu untuk pergi ke masjid-masjid, maka izinkanlah mereka”. (HR al-Bukhari, kitab; al-Azan, bab; Khuruj an-Nisa-I ilaa al-masjid bi allail wa al-ghalas, hadis no.818)

Penjelasan:
1.    Dari hadis riwayat Muslim dari sahabat Ibnu Umar dapat dipahami  bahwa kaum laki-laki dilarang untuk menghalang-halangi perempuan pergi ke masjid untuk melakukan salat berjamaah. Imam an-Nawawi dalam kitab Syarah sahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini dan hadis-hadis yang semakna dengannya menunjukkan bahwa perempuan tidak dilarang untuk mendatangi  masjid (untuk melakukan salat) akan tetapi dengan memperhatikan beberapa syarat yang telah disdebutkan oleh para ulama yang diambil dari beberapa hadis  seperti hadis no 3 dan 4  di atas dan hadis lainnya, misalnya mereka tidak memakai wangi-wangian, menggunakan pakaian yang menutup aurat, tidak ikhtilat dengan kaum pria, tidak menimbulkan kerusakan di jalan yang akan dilaluinya,
2.    Hadis riwayat Abu Dawud dari sahabat Abu Huraerah menjelaskan bahwa kaum laki-laki dilarang menghalang-halangi kaum perempuan mengahadiri masjid untuk melakukan salat, dan lebih ditegaskan bahwa salat perempuan di rumah lebih baik daripada salat di  masjid.
Kata “al-Talaffu” dalam hadis di atas  menurut Al-Ashma’y artinya adalah perempuan menggunakan pakaian sehingga menutup badannya. Sedang Ibnu Habib dalam syarah al-Muaththa menjelaskan bahwa kata ‘al-Talaffu’”   artinya menutup kepalanya.

3.    Hadis no.4 riwayat al-Bukhari  dari Urwah menjelaskan bahwa perempuan mukmin pada masa Rasulullah sudah biasa mengadiri salat jamaah bersama Rasulullah seperti salat subuh. Mereka menggunakan pakaian yang menutup aurat sampai tidak dikenal oleh para sahabat. Ad-Da-wady menjelaskan bahwa maksud kata  مَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ   tidak ada sorang jamaah yang dapat mengtahui secara pasti perempuan-perempuan yang menghadiri salat bersama Rasulullah, sampai mereka (sahabat) tidak bisa membedakan antara  Khadijah dan zanab.
4.    Hadis no.5 riwayat al-Bukhari  dari Ibnu Umar  menjelaskan bahwa apabila para perempuan (istri) minta izin untuk melakukan salat di masjid, maka para laki-laki (suami) hendaklah mengizinkannya.
Dari beberapa hadis dan penjleasan di atas dapat kami pahami bahwa hadis hadis tersebut baik yang menjelaskan salat perempuan di rumah lebih utama daripada salat di masjid dan hadis tentang larangan bagi laki-laki untuk mencegah perempuan ke masjid dalam rangka salat berjamaah semuanya dapat ditrima sebagai dalil dan tidak bertentantangan satu sama lainnya. Yaitu dengan mnggunakan kaidah fikih yang menyebutkan:
“I’mal ad-Dalilain aula min ihmal  ahadihima bi al-kulliyyah” (mengamalkan kedua dalil adalah lebih utama daripada meninggalkan satu dalil scara keselurihan). Dengan demikian dapat disimpulkan :
1.    Hukumnya boleh bagi wanita yang ingin melakukan salat berjamaah di masjid dengan memperhatikan hal-hal yang dilarang.
2.    Yang lebih utama shalat bagi perempuan adalah salat di rumah.

Sumber : fatwa PP Tarjih Muhammadiyah

ditampilkan di: http://www.smuha-yog.sch.id/?pujek=mimbar&aksi=lihat&id=112

Bercermin Pada Kepemimpinan Dua Umar

Saat itu tengah malam di kota Madinah. Kebanyakan warga kota sudah tidur. Umar bin Khatab r.a. berjalan menyelusuri jalan-jalan di kota. Dia coba untuk tidak melewatkan satupun dari pengamatannya. Menjelang dini hari, pria ini lelah dan memutuskan untuk beristirahat. Tanpa sengaja, terdengarlah olehnya percakapan antara ibu dan anak perempuannya dari dalam rumah dekat dia beristirahat.

“Nak, campurkanlah susu yang engkau perah tadi dengan air,” kata sang ibu.

“Jangan ibu. Amirul mukminin sudah membuat peraturan untuk tidak menjual susu yang dicampur air,” jawab sang anak.

“Tapi banyak orang melakukannya Nak, campurlah sedikit saja. Tho insyaallah Amirul Mukminin tidak mengetahuinya,” kata sang ibu mencoba meyakinkan anaknya.

“Ibu, Amirul Mukminin mungkin tidak mengetahuinya. Tapi, Rab dari Amirul Mukminin pasti melihatnya,” tegas si anak menolak.

Mendengar percakapan ini, berurailah air mata pria ini. Karena subuh menjelang, bersegeralah dia ke masjid untuk memimpin shalat Subuh. Sesampai di rumah, dipanggilah anaknya untuk menghadap dan berkata, “Wahai Ashim putra Umar bin Khattab. Sesungguhnya tadi malam saya mendengar percakapan istimewa. Pergilah kamu ke rumah si anu dan selidikilah keluarganya.”

Ashim bin Umar bin Khattab melaksanakan perintah ayahandanya yang tak lain memang Umar bin Khattab, Khalifah kedua yang bergelar Amirul Mukminin. Sekembalinya dari penyelidikan, dia menghadap ayahnya dan mendengar ayahnya berkata,

“Pergi dan temuilah mereka. Lamarlah anak gadisnya itu untuk menjadi isterimu. Aku lihat insyaallah ia akan memberi berkah kepadamu dan anak keturunanmu. Mudah-mudahan pula ia dapat memberi keturunan yang akan menjadi pemimpin bangsa.”

Begitulah, menikahlah Ashim bin Umar bin Khattab dengan anak gadis tersebut. Dari pernikahan ini, Umar bin Khattab dikaruniai cucu perempuan bernama Laila, yang nantinya dikenal dengan Ummi Ashim. Suatu malam setelah itu, Umar bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda ini memimpin umat Islam seperti dia memimpin umat Islam. Mimpi ini diceritakan hanya kepada keluarganya saja. Saat Umar meninggal, cerita ini tetap terpendam di antara keluarganya.

Pada saat kakeknya Amirul Mukminin Umar bin Khattab terbunuh pada tahun 644 Masehi, Ummi Ashim turut menghadiri pemakamannya. Kemudian Ummi Ashim menjalani 12 tahun kekhalifahan Ustman bin Affan sampai terbunuh pada tahun 656 Maserhi. Setelah itu, Ummi Ashim juga ikut menyaksikan 5 tahun kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Hingga akhirnya Muawiyah berkuasa dan mendirikan Dinasti Umayyah.

Pergantian sistem kekhalifahan ke sistem dinasti ini sangat berdampak pada Negara Islam saat itu. Penguasa mulai memerintah dalam kemewahan. Setelah penguasa yang mewah, penyakit-penyakit yang lain mulai tumbuh dan bersemi. Ambisi kekuasaan dan kekuatan, penumpukan kekayaan, dan korupsi mewarnai sejarah Islam dalam Dinasti Umayyah. Negara bertambah luas, penduduk bertambah banyak, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, tapi orang-orang semakin merindukan ukhuwah persaudaraan, keadilan dan kesahajaan Ali, Utsman, Umar, dan Abu Bakar. Status kaya-miskin mulai terlihat jelas, posisi pejabat-rakyat mulai terasa. Kafir dhimni pun mengeluhkan resahnya, “Sesungguhnya kami merindukan Umar, dia datang ke sini menanyakan kabar dan bisnis kami. Dia tanyakan juga apakah ada hukum-hukumnya yang merugikan kami. Kami ikhlas membayar pajak berapapun yang dia minta. Sekarang, kami membayar pajak karena takut.”

Kemudian Muawiyah membaiat anaknya Yazid bin Muawiyah menjadi penggantinya. Tindakan Muawiyah ini adalah awal malapetaka dinasti Umayyah yang dia buat sendiri. Yazid bukanlah seorang amir yang semestinya. Kezaliman dilegalkan dan tindakannya yang paling disesali adalah membunuh sahabat-sahabat Rasul serta cucunya Husein bin Ali bin Abi Thalib. Yazid mati menggenaskan tiga hari setelah dia membunuh Husein.

Akan tetapi, putra Yazid, Muawiyah bin Yazid, adalah seorang ahli ibadah. Dia menyadari kesalahan kakeknya dan ayahnya dan menolak menggantikan ayahnya. Dia memilih pergi dan singgasana dinasti Umayah kosong. Terjadilah rebutan kekuasaan dikalangan bani Umayah. Abdullah bin Zubeir, seorang sahabat utama Rasulullah dicalonkan untuk menjadi amirul mukminin. Namun, kelicikan mengantarkan Marwan bin Hakam, bani Umayah dari keluarga Hakam, untuk mengisi posisi kosong itu dan meneruskan sistem dinasti. Marwan bin Hakam memimpin selama sepuluh tahun lebih dan lebih zalim daripada Yazid.

Kelahiran Umar bin Abdul Aziz

Saat itu, Ummi Ashim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Abdul Aziz adalah Gubernur Mesir di era khalifah Abdul Malik bin Marwan (685 – 705 M) yang merupakan kakaknya. Abdul Mallik bin Marwan adalah seorang shaleh, ahli fiqh dan tafsir, serta raja yang baik terlepas dari permasalahan ummat yang diwarisi oleh ayahnya (Marwan bin Hakam) saat itu.

Dari perkawinan itu, lahirlah Umar bin Abdul Aziz. Beliau dilahirkan di Halawan, kampung yang terletak di Mesir, pada tahun 61 Hijrah. Umar kecil hidup dalam lingkungan istana dan mewah. Saat masih kecil Umar mendapat kecelakaan. Tanpa sengaja seekor kuda jantan menendangnya sehingga keningnya robek hingga tulang keningnya terlihat. Semua orang panik dan menangis, kecuali Abdul Aziz seketika tersentak dan tersenyum. Seraya mengobati luka Umar kecil, dia berujar,

“Bergembiralah engkau wahai Ummi Ashim. Mimpi Umar bin Khattab insyaallah terwujud, dialah anak dari keturunan Umayyah yang akan memperbaiki bangsa ini.“

Umar bin Abdul Aziz menuntut ilmu sejak beliau masih kecil. Beliau sentiasa berada di dalam majlis ilmu bersama-sama dengan orang-orang yang pakar di dalam bidang fikih dan juga ulama-ulama. Beliau telah menghafaz al-Quran sejak masih kecil. Merantau ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau telah berguru dengan beberapa tokoh terkemuka spt Imam Malik b. Anas, Urwah b. Zubair, Abdullah b. Jaafar, Yusuf b. Abdullah dan sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir.

Semasa Khalifah Walid bin Abdul Malik memerintah, beliau memegang jawatan gabernur Madinah/Hijaz dan berjaya mentadbir wilayah itu dengan baik. Ketika itu usianya lebih kurang 28 tahun. Pada zaman Sulaiman bin Abdul Malik memerintah, beliau dilantik menjadi menteri kanan dan penasihat utama khalifah. Pada masa itu usianya 33 tahun.

Umar bin Abdul Aziz mempersunting Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan sebagai istrinya. Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan adalah putri dari khalifah Abdul Malik bin Marwan. Demikian juga, keempat saudaranya pun semua khalifah, yaitu Al Walid Sulaiman, Al Yazid, dan Hisyam. Ketika Fatimah dipinang untuk Umar bin Abdul Aziz, pada waktu itu Umar masih layaknya orang kebanyakan bukan sebagai calon pemangku jabatan khalifah.

Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz

Atas wasiat yang dikeluarkan oleh khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada usianya 37 tahun. Beliau dilantik menjadi Khalifah selepas kematian Sulaiman bin Abdul Malik tetapi beliau tidak suka kepada pelantikan tersebut. Lalu beliau memerintahkan supaya memanggil orang ramai untuk mendirikan sembahyang. Selepas itu orang ramai mula berpusu-pusu pergi ke masjid. Apabila mereka semua telah berkumpul, beliau bangun menyampaikan ucapan. Lantas beliau mengucapkan puji-pujian kepada Allah dan berselawat kepada Nabi s.a.w kemudian beliau berkata:

“Wahai sekalian umat manusia! Aku telah diuji untuk memegang tugas ini tanpa meminta pandangan daripada aku terlebih dahulu dan bukan juga permintaan daripada aku serta tidak dibincangkan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiah yang kamu berikan kepada aku dan pilihlah seorang Khalifah yang kamu reda”.

Tiba-tiba orang ramai serentak berkata:

“Kami telah memilih kamu wahai Amirul Mukminin dan kami juga reda kepada kamu. Oleh yang demikian perintahlah kami dengan kebaikan dan keberkatan”.

Lalu beliau berpesan kepada orang ramai supaya bertakwa, zuhud kepada kekayaan dunia dan mendorong mereka supaya cintakan akhirat kemudian beliau berkata pula kepada mereka: “Wahai sekalian umat manusia! Sesiapa yang taat kepada Allah, dia wajib ditaati dan sesiapa yang tidak taat kepada Allah, dia tidak wajib ditaati oleh sesiapapun. Wahai sekalian umat manusia! Taatlah kamu kepada aku selagi aku taat kepada Allah di dalam memimpin kamu dan sekiranya aku tidak taat kepada Allah, janganlah sesiapa mentaati aku”. Setelah itu beliau turun dari mimbar.

Umar rahimahullah pernah menghimpunkan sekumpulan ahli fekah dan ulama kemudian beliau berkata kepada mereka: “Aku menghimpunkan kamu semua untuk bertanya pendapat tentang perkara yang berkaitan dengan barangan yang diambil secara zalim yang masih berada bersama-sama dengan keluarga aku?” Lalu mereka menjawab: “Wahai Amirul Mukminin! perkara tersebut berlaku bukan pada masa pemerintahan kamu dan dosa kezaliman tersebut ditanggung oleh orang yang mencerobohnya.” Walau bagaimanapun Umar tidak puas hati dengan jawapan tersebut sebaliknya beliau menerima pendapat daripada kumpulan yang lain termasuk anak beliau sendiri Abdul Malik yang berkata kepada beliau: “Aku berpendapat bahawa ia hendaklah dikembalikan kepada pemilik asalnya selagi kamu mengetahuinya. Sekiranya kamu tidak mengembalikannya, kamu akan menanggung dosa bersama-sama dengan orang yang mengambilnya secara zalim.” Umar berpuas hati mendengar pendapat tersebut lalu beliau mengembalikan semula barangan yang diambil secara zalim kepada pemilik asalnya.

Sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah, isteri tercinta.

Umar berkata kepadanya, “Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua.”

Fatimah bertanya kepada suaminya, “Memilih apa, kakanda?”

Umar bin Abdul Azz menerangkan, “Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai dengan Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu.”

Kata Fatimah, “Demi Allah, Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku.”

Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, kas Negara kaum muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit.

Setelah menjadi khalifah, beliau mengubah beberapa perkara yang lebih mirip kepada sistem feodal. Di antara perubahan awal yang dilakukannya ialah :

1) menghapuskan cacian terhadap Saidina Ali b Abu Thalib dan keluarganya yang disebut dalam khutbah-khutbah Jumaat dan digantikan dengan beberapa potongan ayat suci al-Quran

2) merampas kembali harta-harta yang disalahgunakan oleh keluarga Khalifah dan mengembalikannya ke Baitulmal

3) memecat pegawai-pegawai yang tidak cekap, menyalahgunakan kuasa dan pegawai yang tidak layak yang dilantik atas pengaruh keluarga Khalifah

4) menghapuskan pegawai pribadi bagi Khalifah sebagaimana yang diamalkan oleh Khalifah terdahulu. Ini membolehkan beliau bebas bergaul dengan rakyat jelata tanpa sekatan tidak seperti khalifah dahulu yang mempunyai pengawal peribadi dan askar-askar yang mengawal istana yang menyebabkan rakyat sukar berjumpa.

Selain daripada itu, beliau amat menitilberatkan tentang kebajikan rakyat miskin di mana beliau juga telah menaikkan gaji buruh sehingga ada yang menyamai gaji pegawai kerajaan.

Beliau juga amat menitikberatkan penghayatan agama di kalangan rakyatnya yang telah lalai dengan kemewahan dunia. Khalifah umar telah memerintahkan umatnya mendirikan solat secara berjammah dan masjid-masjid dijadikan tempat untuk mempelajari hukum Allah sebegaimana yang berlaku di zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa’ Ar-Rasyidin. Baginda turut mengarahkan Muhammad b Abu Bakar Al-Hazni di Mekah agar mengumpul dan menyusun hadith-hadith Raulullah SAW. Beliau juga meriwayatkan hadis dari sejumlah tabiin lain dan banyak pula ulama hadis yang meriwayatkan hadis daripada beliau.

Dalam bidang ilmu pula, beliau telah mengarahkan cendikawan Islam supaya menterjemahkan buku-buku kedoktoran dan pelbagai bidang ilmu dari bahasa Greek, Latin dan Siryani ke dalam bahasa Arab supaya senang dipelajari oleh umat Islam.

Dalam mengukuhkan lagi dakwah Islamiyah, beliau telah menghantar 10 orang pakar hukum Islam ke Afrika Utara serta menghantar beberapa orang pendakwah kepada raja-raja India, Turki dan Barbar di Afrika Utara untuk mengajak mereka kepada Islam. Di samping itu juga beliau telah menghapuskan bayaran Jizyah yang dikenakan ke atas orang yang bukan Islam dengan harapan ramai yang akan memeluk Islam.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan keadilannya telah menjadikan keadilan sebagai keutamaan pemerintahannya. Beliau ingin semua rakyat dilayani dengan adil tidak memandang keturunan dan pangkat supaya keadilan dapat berjalan dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangan adalah menyamai keadilan di zaman kakeknya, Khalifah Umar Al-Khatab.

Pada masa pemerintahan beliau, kerajaan Umaiyyah semakin kuat tiada pemberontakan dalaman, kurang berlaku penyelewengan, rakyat mendapat layanan yang sewajarnya dan menjadi kaya-raya hinggakan Baitulmal penuh dengan harta zakat kerana tiada lagi orang yang mahu menerima zakat. Rakyat umumnya sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya mau berdikari sendiri. Pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra, pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Pada waktu itu kekausaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada di bawah kekuasaannya.

Kematian Beliau

Beliau wafat pada tahun 101 Hijrah ketika berusia 39 tahun. Beliau memerintah hanya selama 2 tahun 5 bulan saja. Setelah beliau wafat, kekhalifahan digantikan oleh iparnya, Yazid bin Abdul Malik.

Muhammad bin Ali bin Al-Husin rahimahullah berkata tentang beliau: “Kamu telah sedia maklum bahwa setiap kaum mempunyai seorang tokoh yang menonjol dan tokoh yang menonjol dari kalangan Bani Umaiyyah ialah Umar bin Abdul Aziz, beliau akan dibangkitkan di hari kiamat kelak seolah-olah beliau satu umat yang berasingan.”

Terdapat banyak riwayat dan athar para sahabat yang menceritakan tentang keluruhan budinya. Di antaranya ialah :

1) At-Tirmizi meriwayatkan bahwa Umar Al-Khatab telah berkata : “Dari anakku (zuriatku) akan lahir seorang lelaki yang menyerupainya dari segi keberaniannya dan akan memenuhkan dunia dengan keadilan”

2) Dari Zaid bin Aslam bahawa Anas bin Malik telah berkata : “Aku tidak pernah menjadi makmum di belakang imam selepas wafatnya Rasulullah SAW yang mana solat imam tersebut menyamai solat Rasulullah SAW melainkan daripada Umar bin Abdul Aziz dan beliau pada masa itu adalah Gabenor Madinah”

3) Al-Walid bin Muslim menceritakan bahawa seorang lelaki dari Khurasan telah berkata : “Aku telah beberapa kali mendengar suara datang dalam mimpiku yang berbunyi : “Jika seorang yang berani dari Bani Marwan dilantik menjadi Khalifah, maka berilah baiah kepadanya kerana dia adalah pemimpin yang adil”.” Lalu aku menanti-nanti sehinggalah Umar b. Abdul Aziz menjadi Khalifah, akupun mendapatkannya dan memberi baiah kepadanya”.

4) Qais bin Jabir berkata : “Perbandingan Umar b Abdul Aziz di sisi Bani Ummaiyyah seperti orang yang beriman di kalangan keluarga Firaun”

5) Hassan al-Qishab telah berkata :”Aku melihat serigala diternak bersama dengan sekumpulan kambing di zaman Khalifah Umar Ibnu Aziz”

6) Umar b Asid telah berkata :”Demi Allah, Umar Ibnu Aziz tidak meninggal dunia sehingga datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada orang ramai :”Ambillah hartaku ini sebanyak mana yang kamu mahu”. Tetapi tiada yang mahu menerimanya (kerana semua sudah kaya) dan sesungguhnya Umar telah menjadikan rakyatnya kaya-raya”

7) ‘Atha’ telah berkata : “Umar Abdul Aziz mengumpulkan para fuqaha’ setiap malam. Mereka saling ingat memperingati di antara satu sama lain tentang mati dan hari qiamat, kemudian mereka sama-sama menangis kerana takut kepada azab Allah seolah-olah ada jenayah di antara mereka.”

Wallahu a’lam…

Sumber: medifitrah.wordpress.com